ELBRASTA

ELBRASTA
Part 5. Awas Bola!



Jangan lupa tersenyum :)


. . .


Elang melepaskan pelukannya pada tubuh Lisa, ia kembali duduk di posisi semula diikuti Lisa yang berada di belakangnya.


"Ini cewek lebih aneh dari gue," batin Elang, ia merasa bingung dengan sikap Lisa.


"Lo ada masalah besar?" tanya Elang dengan wajah datarnya.


Lisa ikut duduk di samping Elang, gadis itu kembali mengembangkan senyumnya.


"Gak ada," jawab Lisa yang kini malah cengengesan.


"Terus?" tanya Elang lagi sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Gue kayak gitu ... buat narik perhatian lo aja," ucap Lisa jujur tanpa malu-malu.


"Sinting!"


Elang membaringkan tubuhnya tanpa memperdulikan Lisa yang mulai mengoceh, cowok tersebut juga menutup matanya, tidurnya pagi ini benar-benar terganggu dengan kehadiran Lisa.


"Elang, gue yakin lo cowok yang baik. Gue siap jadi teman lo, Lang, jangan sungkan-sungkan ya kalau mau cerita sama gue. Elang! Lo pasti dengerin gue kan, jangan pura-pura tidur ihh."


"BERISIK! ENYAH LO DARI SINI!"


Kali ini Lisa terkejut, bentakan keras dari Elang membuat nyali Lisa menciut, Lisa tidak biasa dengan bentakan keras seperti itu. Tangan Lisa gemetar, keringat mulai bercucuran di pelipisnya, gadis itu berusaha mungkin menahan air mata yang sebentar lagi akan lolos.


"Ma-maaf Elang," ucap Lisa sambil bangkit dari duduknya.


Lisa berlari kecil menuju pintu keluar, air mata gadis itu lolos seketika ia benar-benar terkejut dan takut saat ini, padahal ia hanya ingin berteman dengan Elang, salahkah?


Kepergian Lisa membuat Elang terdiam di tempat, jujur ia sangat merasa bersalah sekarang. Elang tidak bermaksud membentak keras Lisa, ia hanya tidak bisa mengontrol emosi pada dirinya. Seperti itulah Elang, ia sendiri juga bingung dengan suasana hatinya.


"**** **** ****, lo ****, Lang! Cowok **** kayak lo semakin gak pantas berteman dengan Lisa!" gumam Elang sambil memukul-mukul kepalanya.


Entah mengapa ia merasa sangat sakit ketika melihat wajah ketakutan Lisa, apalagi saat air mata gadis itu lolos keluar, perasaan bersalah semakin menghinggapi dirinya.


"Lo harus minta maaf ****!"


"Arrgghhhh," teriak Elang frustasi.


                            🦅🦅🦅


Teriknya matahari membuat siswi-siswi XII IPA-1 meringis kepanasan, jam olahraga kali ini membuat mereka tak bersemangat, pasalnya mereka melaksanakan jam olahraga di jam 9, di mana matahari sedang terik-teriknya.


Berbeda dengan para cewek yang mengeluh kepanasan dan langsung duduk di pinggir lapangan, para murid cowok begitu semangat bermain bola voli.


Sorakan semangat terus Echa lontarkan, teman sekelas Lisa ini tampak girang menyaksikan sang pacar yang tengah bermain voli.


"BIMAAA, CEMUNGUTTTT!"


"Buset Cha, mulut lo," ucap Tina yang terganggu dengan suara melengking Acha.


"Apaan sih Tina, sirik amat. Echa kan lagi nyemangati pacar Echa."


"Serah lo deh," pasrah Tina dan mendapat kekehan dari siswi lainnya.


Lisa menggeleng kecil melihat tingkah Echa, kalau dilihat-lihat Echa dan Bima benar-benar pasangan yang serasi. Teriakkan melengking Echa tidak ada yang Bima kacangin, sedari Echa bersorak menyemangati Bima membalas dengan memperlihatkan tangan yang ia bentuk seperti gambar hati. Lisa benar-benar takjub dengan kedua pasangan di kelasnya ini.


Sudah dua hari semenjak kejadian Elang yang membentaknya, laki-laki itu belum juga meminta maaf kepada Lisa. Padahal Lisa sangat berharap Elang meminta maaf kepadanya dan mengakui kesalahan cowok itu.


Setelah beranjak dari rooftop kemarin, Lisa tidak melihat keberadaan Elang lagi hingga saat ini. Cowok tersebut hilang bak di telan bumi.


"Mikirin apa, Lis?" tanya Dira, merasa kepo karena sikap Lisa dua hari ini yang banyak diamnya.


"Ehh, gak ada kok, Ra," jawab Lisa disertai senyumnya. Dira mengangguk saja.


"Guys, gue ke kelas bentar ya," pamit Lisa sambil beranjak dari duduknya.


"Gak usah Rin, cuman sebentar kok," tolak Lisa halus.


Bukannya tidak mau, hanya saja ia ke kelas cuman untuk mengambil uang yang tertinggal di tas, tidak perlu repot-repot jika dua orang yang mengambil. Lagi pula, kelasnya tidak terlalu jauh.


Karin mengangguk lagi, ia tidak pernah memaksa Lisa, ia mengerti kalau teman barunya ini merupakan gadis yang mandiri.


Lisa berjalan melewati kumpulan teman sekelasnya yang sedang bermain voli. Tanpa ia sadari bola voli yang di layangkan Elsen melayang ke arahnya.


Begitu cepat terjadi sampai tidak bisa dielak, bola tersebut langsung mengenai kepala Lisa membuat ia pingsan seketika di pinggir lapangan.


Murid IPA-1 langsung berlarian menghampiri Lisa yang sudah tergeletak di lantai.


"Lisa, bangun Lis!" Karin menempatkan kepala Lisa di pangkuannya, ia juga menepuk-nepuk pelan pipi Lisa.


Tidak ada pergerakan yang ditunjukkan Lisa, gadis itu masih dalam keadaan pingsan.


"Buruan bawa ke UKS!" seru Dira panik.


Bima, Deren dan Danu langsung bersigap menggotong tubuh Lisa, namun sebuah tangan kekar menghempaskan tangan ketiganya yang ingin menyentuh tubuh Lisa.


"Biar gue aja," ucap Elang dingin lalu membopong tubuh Lisa ala bridal style.


Semua murid terpana dengan apa yang mereka lihat sekarang, termasuk para cowok-cowok yang menciut ketika mendapat tatapan tajam dari Elang.


Beberapa murid IPA-1 mengikuti Elang yang membawa Lisa ke UKS, beberapa juga tetap di lapangan sambil menebak-nebak hubungan apa yang Lisa dan Elang jalin.


Wajah Elang itu tampak sedang menahan emosi, dan di balik wajah dingin tersebut mereka dapat melihat kekhawatiran di dalamnya.


Elang membaringkan tubuh Lisa dengan hati-hati, kedatangan ia membopong tubuh Lisa menjadi pertanyaan besar bagi anggota PMR yang sedang berjaga di UKS.


Salah satu anggota PMR ingin memberikan minyak angin ke hidung Lisa, namun dengan cepat botol minyak angin tersebut di rampas Elang.


"Biar gue aja, pergi sana!" usir Elang dengan sadis, anggota PMR tersebut menelan salivanya saat ditatap tajam oleh Elang.


"I-iya kak," ucap salah satu anggota PMR lain kemudian menarik tangan temannya yang ingin memberikan minyak angin tadi.


Setelah kedua anggota PMR tersebut keluar dari UKS Elang menutup dan mengunci pintu rapat-rapat tanpa memperdulikan ocehan-ocehan yang dilontarkan teman-teman Lisa di luar.


Elang mengoleskan minyak angin ke hidung Lisa dengan lembut, setelah itu ia mengambil air hangat dari termos yang tersedia di UKS.


Belum ada pergerakan sama sekali, Elang menghembuskan nafas kasar. Ingin sekali menghajar orang yang sudah membuat Lisa pingsan, namun ia sadar siapa dirinya, beberapa hari lalu ia juga menyakiti perasaan Lisa, dialah seharusnya yang pantas dihajar.


Elang meraih tangan Lisa dan menggenggamnya dengan erat, perasaan bersalah semakin menghinggapi dirinya. Setelah kejadian di rooftop ia tidak bisa memaafkan dirinya, sampai-sampai ia tidak berani lagi untuk bertemu dengan Lisa.


Namun, perasaan aneh itu kembali datang, setiap kali mengingat tentang Lisa, debaran jantung Elang tidak terkendali. Ia sudah berusaha menyingkirkan perasaan aneh itu, namun sayang jantungnya semakin berdebar.


"Lisa, gue mau jadi teman lo. Teman hidup lo, Lis." Batin Elang berseru, ia menerka-nerka apakah Lisa masih mau mengajaknya untuk berteman, kelebihan Elang selalu ditutupi kekurangannya. Itu sebabnya tidak ada satu pun murid di SMA Jaya Tama yang mau berteman dengannya.


Namun berbeda dengan Lisa, murid baru tersebut selalu menampilkan senyum ramah pada dirinya, bahkan cewek yang sedang terbaring lemah di brankar tersebut dengan berani mengajak Elang untuk berteman.


Disaat semua orang berlomba-lomba untuk menjauhinya, Lisa datang dengan senyuman meminta dirinya untuk berteman dengannya, namun Elang menyia-nyiakan kesempatan itu hingga melukai hati Lisa dengan perkataannya.


. . .


Apakah masih terasa sakit hatimu?


Iya, terkadang.


Setiap ingatan itu mendadak muncul kepermukaan .


Setiap pengandaian itu mencabik kenyataan.


Tapi iya, aku baik-baik saja.


Sakitnya tak sekencang dulu saat pertama kali terluka.


~Elang🦅