ELBRASTA

ELBRASTA
Chapter 7 (Tragedi)



Menangis lah, kalau itu sakit :)


. . .


"Lisa berangkat sekolah dulu ya Ma, Pa, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati sayang!"


Lisa mencium pipi dan punggung tangan Mama Papanya bergantian, setelah mengucapkan salam, gadis itu langsung keluar dari rumah dan berjalan menuju halte yang hanya berjarak beberapa meter saja dari rumahnya.


Sembari menunggu bus, Lisa mengambil buku sejarahnya, mengulang-ulang lagi pembahasan materi yang tadi malam sudah ia bahas. Lisa larut dalam membaca, tanpa sadar seorang cowok bersama motornya tengah berhenti di hadapan Lisa.


"Lisa," panggil Elang setelah membuka helmnya.


"Hai Lang," setelah menyadari kehadiran Elang, barulah Lisa menutup kembali bukunya.


"Bareng gue?" tanya Elang.


"Boleh," jawab Lisa antusias dan langsung memasukkan bukunya ke dalam tas.


"Gue udah bawa helm dua, buat jaga-jaga kalau lo gak dijemput," ucap Elang sambil menyodorkan helm yang sudah ia lepaskan dari penyangga motornya.


"Makasih Elang," sahut Lisa tersenyum hangat dan menerima helm yang diberi Elang.


Lisa tampak kesusahan mengaitkan pengait di helm, lalu sebuah tangan kekar menurunkan tangannya dari leher, kemudian menggantikan tangan Lisa untuk mengkaitkan pengait helm.


"Lain kali kalau gak bisa bilang, Lisa."


Lisa menyengir lebar, setelah itu Elang melepaskan jaketnya lalu mengikatkan jaket tersebut ke pinggang Lisa.


                           🦅🦅🦅


Murid SMA Jaya Tama kembali terheran dengan kehadiran Elang dan Lisa yang terlihat akrab. Jika kemarin keduanya terlihat pulang bareng, kali ini Elang dan Lisa malah terlihat pergi ke sekolah bareng. Banyak diantara mereka yang kepo dengan hubungan Lisa dan Elang yang sebenarnya, namun diantara mereka pun tidak ada yang berani untuk bertanya langsung dengan kedua sosok tersebut.


"Mereka perhatiin kita mulu, Lis," gumam Elang namun masih bisa Lisa dengar.


"Hahaha, gak apa-apa Elang, cuekin aja ihh," ucap Lisa disertai tawa merdunya.


"Hm, oke."


"Lang, lo ke kelas duluan aja, gue mau ke perpustakaan bawah dulu," cetus Lisa disertai senyumnya.


"Mau gue temenin?"


"Gak usah Elang, lo duluan aja. And BTW, lo lebih gantengan kayak gini," seru Lisa sambil tertawa kecil.


Elang menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia jadi salah tingkah sendiri dengan ucapan Lisa.


Saat sampai di parkiran sekolah, Lisa memaksa Elang untuk memasukkan bajunya ke dalam celan dan juga mengancingkan kancing atas bajunya. Cewek tersebut juga memakaikan Elang dasi serta minyak rambut agar penampilan Elang semakin rapi.


Elang yang semulanya menolak langsung kicep setelah ekspresi Lisa berubah menjadi sedih. Hal yang dilakukan keduanya pun tidak luput dari perhatian murid-murid yang berada di parkiran, mereka semakin bertanya-tanya mengapa Elang dan Lisa bisa sedekat itu. Dua makhluk yang berbanding terbalik bagaikan langit dan bumi.


"Yaudah gue ke sana dulu ya Lang, lo langsung masuk kelas lah loh ya, awas aja kalau bolos lagi."


Setelah mengatakan hal itu disertai senyumannya, Lisa melangkah kakinya bersebrangan dengan Elang.


Tanpa Lisa sadari, seorang murid yang berada di lantai tiga sedang menyiram bunga gantung, dan tiba-tiba saja bunga gantung yang berada tepat di atas kepala Lisa tersebut terlepas dari penyangganya.


Elang yang menyadari Lisa dalam bahaya, langsung berlari menghampiri Lisa saat tidak sengaja melihat bunga gantung yang akan terjatuh dari atas. Elang berlari sekencang mungkin sebelum bunga gantung tersebut jatuh mengenai Lisa. Sesampainya di tempat Lisa berdiri, Elang langsung memeluk tubuh Lisa, melindungi gadis tersebut dari timpahan bunga gantung itu.


Elang berhasil menyelamatkan Lisa, namun sayang pot bunga gantung tersebut jatuh mengenai bahunya. Elang melepaskan pelukannya, ia terlihat kesakitan sambil memegangi bahunya.


"Yaampun lang, lo gak apa-apa?" tanya Lisa khawatir.


Seluruh murid SMA Jaya Tama yang melihat kejadian tersebut berteriak histeris dan terkejut. Untuk pertama kalinya seorang Elang rela terluka demi melindungi orang lain. Jika dulunya ia bodo amat saat ada orang lain yang celaka di hadapannya, kali ini berbeda, cowok itu terlihat panik dan sangat gantel melindungi Lisa.


"Lo gak apa-apa Lis? Gak ada yang luka kan?" tanya Elang balik tanpa menjawab pertanyaan Lisa.


"Gak ada Elang, justru gue yang khawatir. Pot itu nimpa bahu lo, pasti sakit kan, kita ke UKS sekarang, pasti ada yang luka di bahu lo."


Lisa menarik tangan Elang, namun langkahnya terhenti saat Elang masih diam di posisinya.


"Nggak usah Lis, gue temenin lo ke perpustakaan, ayo!"


Elang beralih menarik tangan Lisa, menuntut gadis itu ke perpustakaan.


"Kak Lisa sama kak Elang cocok ya."


"Hubungan mereka sebenarnya apa sih?"


"Elang bisa so sweet juga ternyata."


"Beruntung banget Lisa."


"Kak Lisa baik, kak Elang juga ganteng. Mereka berdua cocok ya."


"Elang gak sefreak yang gue kira."


"Lisa emang pantas dapatin Elang."


"Gue mendadak jadi fans hubungan mereka *****, so sweet bener."


"Gue dukung hubungan Lisa sama Elang."


Lisa dan Elang cuek bebek saat para murid secara terang-terangan melontarkan pendapat dan asumsi mereka. Namun sesekali Lisa tersenyum ramah kepada para murid, berbeda dengan yang dilakukan Lisa. Elang selalu menampilkan ekspresi dinginnya.


                          🦅🦅🦅


Cahaya lampu belajar menemani malam Lisa, saat ini ia tengah mengerjakan tugas matematika dan kimia karena besok kedua tugas tersebut harus di kumpul.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun mata Lisa tetap melek dengan sempurna, rasa kantuk tidak menyerangnya kali ini.


Keseriusan Lisa menjawab soal-soal membuat ia larut dalam tulisannya, hingga handphone yang berada di samping tangannya bergetar menampilkan nama Elang. Lisa langsung meraih handphone tersebut dan kemudian menggeser tombol hijau.


"Assalamualaikum Elang."


"Waalaikumsalam, belum selesai juga ngerjain tugasnya?" tanya Elang di seberang telfon.


Sebelumnya Elang sudah menelfon Lisa saat gadis itu selesai makan, namun hanya beberapa menit saja karena Lisa teringat akan tugas-tugas yang belum ia kerjakan.


"Gue tungguin ya, mau sambil dengerin gue nyanyi gak?"


"Boleh."


Di apartemennya, Elang mulai memetik senar gitar. Alunan suara gitar yang dipetik membuat Lisa tersenyum senang di balik telefon.


Lisa menekan tombol rekam, selama Elang bernyanyi ia akan merekamnya.


All I need is a little love in my life


All I need is a little love in the dark


A little but I'm hoping it might kick start


Me and my broken heart


I need a little loving tonight


Hold me so I'm not falling apart


A little but I'm hoping it might kick start


Me and my broken heart


Yeah


Shotgun, aimed at my heart, you got one


Tear me apart in this song


How do we call this love


I tried, to run away but your eyes


Tell me to stay oh why


Why do we call this love


It seems like we've been losing control


So bad it don't mean I'm not alone


When I say


All I need is a little love in my life


All I need is a little love in the dark


A little but I'm hoping it might kick start


Me and my broken heart


I need a little loving tonight


Hold me so I'm not falling apart


A little but I'm hoping it might kick start


Me and my broken heart


Elang mengakhiri lagunya, tanpa Lisa ketahui bulir air mata menetes membasahi pipi Elang, cowok itu tengah menangis.


"Sura lo bagus Lang," ucap Lisa diseberang telfon, tidak ada sahutan dari Elang membuat Lisa mengecek sambungan telfonnya apakah sudah terputus.


"Elang, lo dengar gue kan?"


"Iya dengar Lis."


Lisa bernafas lega, ia kira Elang sudah memutuskan sambungan telefonnya.


"Lagu ini ngingetin gue dengan kedua orang tua gue, setiap kali mereka menancapkan luka di hati gue, gue selalu dengerin lagu ini Lis. Mereka jahat, mereka telantarkan gue Lis, mereka, mereka gak anggap keberadaan gue."


"Lang," Lisa merasa bersalah, Dari ucapan Elang barusan ia dapat menyimpulkan penyebab kehancuran hidup Elang.


"Sorry ya Lis, gue ke bawa suasana."


"Gak apa-apa kok lang."


Keduanya saling diam beberapa menit.


"Elang, gue teman lo kan Lang?"


"Iya Lis."


"Janji ya Lang, kalau lo ada masalah ceritain ke gue, gue siap dengerin keluh kesah lo Lang."


"Enggak Lis, gue gak mau melibatkan lo di kehancuran hidup gue."


"Tapi gue gak bisa jadi teman senang lo aja Lang, gue juga pengen jadi teman duka lo."


"Gue udah ngantuk Lis, gue tidur duluan ya. Lo jangan tidur larut malam, goodnight Lisa."


"Tunggu la-"


Tuutttttt


Sambungan telefon dimatikan sepihak oleh Elang.


Lisa menghembuskan nafasnya kasar, mengapa Elang seperti itu? Apa Lisa tidak bisa sepenuhnya tau tentang kehidupan Elang?


Aku gak sedih


Aku gak sedih


Aku gak sakit


Tapi kenapa air mataku terus mengalir?