
"Nyo-nyonya, apa yang Anda lakukan?" ucap sang manager dengan lirih sembari memegangi pipinya yang merah akibat tamparan sang pemilik salon.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan pada Nona Shopia?! Kau tahu siapa dia? Kau tahu siapa!" Pemilik salon tak kalah garang, jelas dia terlihat kesal dan begitu marah pada bawahannya itu.
Wajah wanita itu menegang, melirik Shopia yang tampak tenang dan tersenyum melihat ke arahnya. Tak ada yang bisa dia gambarkan dari sosok Shopia, dia hanya percaya pada Alisa bahwa gadis gendut itu hanyalah seorang rendahan.
"Minta maaf padanya jika kau masih ingin tetap bekerja di sini!" titah sang pemilik salon dengan tegas. Nada kerasnya tak menginginkan bantahan, sorot matanya begitu tajam bagai sebilah pedang yang siap menghujam.
Ia melirik, terlihat enggan melakukan apa yang diperintahkan sang atasan. Namun, meski demikian, dia tetap membungkukkan tubuh di hadapan Shopia dan meminta maaf atas semua perlakuan yang sudah terjadi.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Hanya saja Nenek berpesan untuk merekrut karyawan yang memiliki sikap baik dan sopan agar tempat usaha Anda ini tetap berlangsung dan semakin maju," ujar Shopia menatap pemilik salon yang seketika menegang.
Ucapan yang dilontarkan Shopia terdengar seperti sebuah ancaman yang tidak main-main. Hatinya bergetar, bibirnya terbuka, matanya sedikit membesar. Sungguh, dia berada dalam dilema karena ulah bawahannya.
"B-baik, Nona. Sa-saya akan mengingat pesan Nyonya," ucap sang pemilik bergetar.
Ia melirik manager dan menatapnya dengan nyalang seolah-olah ingin melahap habis dan menghilangkan sosoknya dari muka bumi ini. Wanita itu pun ikut merasa gelisah, dan bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya Shopia?
"Mari, Nona. Kami akan melayani Anda dengan baik di sini sesuai yang diinginkan Nyonya." Pemilik salon tersebut membawa Shopia ke sebuah ruangan istimewa yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu saja. Bahkan, Alisa sendiri pun tidak pernah memasuki ruangan tersebut.
Setelah mengantar Shopia, pemilik salon kembali ke tempat di mana manager berada. Wanita itu masih di sana, dengan tubuh kaku memikirkan tentang siapa sosok Shopia yang begitu dihormati bahkan ditakuti oleh atasannya itu.
"Kali ini kau sudah keterlaluan, apa seperti ini sikapmu terhadap para pelanggan yang datang ke sini? Katakan padaku, kenapa kau melakukan itu terhadap nona Shopia?" hardik pemilik salon dengan geram meski harus menekan suaranya.
"Nyo-nyonya, sa-saya sungguh tidak tahu. Nona Alisa mengatakan jika gadis itu hanyalah seorang rendahan yang suka mencuri. Jadi, saya berniat mengusirnya dari sini karena takut ada yang hilang," kilah manager membela diri.
Namun, hal tersebut tidak membuat hati pemilik salon senang. Dia justru bertambah geram dan kesal karena karyawannya itu terlalu mempercayai orang lain.
"Bodoh! Ingat, aku tidak ingin ada kejadian seperti ini lagi. Kau pasti mendengar apa yang dikatakan nona Shopia tadi. Ya, perlu kau tahu, nona Shopia adalah cucu dari Nyonya Wijaya!"
Mendengar itu dada sang manager bergemuruh hebat, siapa yang tidak mengenal nama besar itu. Dia begitu ketakutan, dan berjanji akan bersikap baik terhadap Shopia.
****
Beberapa hari setelah kejadian di salon, Shopia kembali ke sekolah. Bersama dengan Eli yang keadaannya sudah jauh lebih baik. Alisa mengepalkan tangannya ketika melihat mereka berdua di lorong, masih tidak bisa menerima kekalahan dari masalah yang menimpa Eli.
Ia berjalan bersama dua temannya, menghampiri Shopia dan menjagal langkah mereka. Kedua tangan bersilang di dada, menatap rendah sosok Shopia yang berdiri di hadapannya.
"Pahlawan kita sudah datang rupanya. Kau begitu bangga bisa membantu temanmu meski uang yang kau dapatkan hanyalah dari mencuri," ujar Alisa sekonyong-konyong memfitnah Shopia tanpa bukti.
Kening gadis bertubuh subur itu mengkerut, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Alisa. Siapa yang dituduhnya mencuri?
"Apa maksudmu?" tanya Shopia dengan berani.
Tak ada sosok lemah yang dulu selalu tertunduk di hadapan primadona kampus itu. Kini, Shopia selalu mengangkat wajah menatap dengan berani kedua manik yang selalu memandang rendah padanya itu.
"Maksudku? Kau masih bertanya tentang maksudku? Jangan berpura-pura tidak mengerti, kau pasti mencuri uang untuk bisa menjadi pahlawan, bukan? Hah, rendahan!" Alisa berpaling sembari mencibir.
"Mencuri? Aku?" Shopia tertawa sambil menggelengkan kepala tak percaya. Lalu, kembali menatap Alisa dengan tatapan menantang.
"Coba katakan padaku uang siapa yang aku curi? Adakah di antara kalian yang merasa kehilangan uang? Bisakah kalian membuktikan tuduhan itu?" Ia menatap kedua teman Alisa, menantang mereka untuk membuktikan tuduhan.
Mereka terdiam, tentu saja karena ketiganya tidak memiliki bukti apa-apa atas tuduhan yang mereka buat.
"Kami memang tidak memiliki bukti, tapi kehidupanmu sudah menjadi bukti nyata bahwa sebenarnya kau tidak mampu melakukan itu. Atau kau memanfaatkan ibumu yang kesepian itu untuk memeras laki-laki!" Alisa tertawa mencibir, begitu pula dengan kedua temannya dan sebagian siswa yang berada di sana.
Mendengar tuduhan Alisa yang semakin keterlaluan, Shopia geram.
"Jaga mulutmu, Alisa! Kau tidak berhak mengatakan hal buruk terhadap ibuku! Kau tidak tahu apa-apa tentang kami!" bentak Shopia sembari menuding Alisa dengan lurus.
Alisa mengangkat sebelah alis, tetap merendahkan Shopia.
"Semua orang tahu bagaimana kehidupan kalian, Pigy. Tidak perlu lagi menyembunyikannya. Bahkan, kita semua tahu bahwa ibumu adalah wanita kesepian," bisik Alisa di ujung kalimat. Menyusul tawa yang menggelegak semakin membuat amarah Shopia memuncak.
"Kau sungguh keterlaluan, Alisa! Menghina Shopia dan ibunya, sedangkan kau tidak tahu apapun tentang mereka!" bela Eli yang ikut merasa geram dengan sikap Alisa.
Gadis angkuh itu menghentikan tawa, melirik Eli tak senang.
"Siapa kau berani berbicara denganku? Tidak ada yang mau mendengar ucapan orang rendah sepertimu. Kau dan dia sama saja, kalian sama-sama rendahan. Aku yakin, jika bukan karena ibunya yang menjual diri dia tidak akan mampu membantumu," ucap Alisa semakin menyulut api yang sudah menyala.
"Keterlaluan kau, Alisa! Kau tidak hanya merendahkanku, tapi juga menghina ibuku!" geram Shopia sembari berhambur mendekat, dan lantas menjambak rambut Alisa dengan kuat.
"Ah, sialan kau, b*b* gendut!" Alisa balas menjambak. Terjadilah saling tarik menarik, dan saling memaki di antara mereka. Para siswa yang menonton bersorak seolah-olah sedang melihat sebuah pertunjukan.
Namun, Eli dengan sigap berlari ke ruang dosen, dan memberitahu kejadian tersebut.
****
Di sanalah mereka berada, di ruang sidang berhadapan dengan seorang dosen menunggu kedatangan orang tua mereka. Ibu Shopia datang tergesa setelah menerima telpon dari pihak kampus.
Dengan penampilan yang jauh berbeda dari pada sebelumnya, juga kulit wajah dan tubuh yang tak lagi kusam. Dia datang dengan sejuta kecemasan di wajahnya.
"Shopia!" Ia membuka pintu ruangan begitu tiba, melihat ke arah Shopia yang nampak berantakan. Menyusul, seorang wanita paruh baya memasuki ruangan dengan gayanya yang elegan.
"Ibu!" Shopia berhambur memeluk ibunya, tapi Alisa terlihat biasa saja. Tak ada sambutan hangat seperti yang diberikan ibu Shopia.
"Apa gadis miskin ini yang sudah membuat kekacauan? Tentunya bukan anakku, bukan? Dia adalah anak yang baik dan sopan," ucap wanita tersebut sambil mengelus kepala Alisa dan menatap dosen yang duduk di kursi.
Shopia menatap berang dan menjelaskan, "Dia yang memulai. Dia menghina Ibuku dan merendahkannya!"
Namun, sungguh percuma, karena dosen tersebut lebih mempercayai orang tua Alisa daripada Shopia. Itu karena mereka adalah seorang donatur di kampus tersebut. Pada akhirnya, Shopia yang harus menerima hukuman tidak diizinkan belajar di kampus selama satu bulan lamanya.