Don'T Call Me Pigy

Don'T Call Me Pigy
Penawaran Yang Sulit



Shopia menegang, menatap Alisa dengan tajam. Hatinya memberontak, meronta, dan meraung-raung keras. Ingin rasanya berteriak dan mengatakan dengan lantang siapa dirinya yang sekarang. Namun, kembali lagi pada kenyataan, tidak akan ada yang percaya padanya. Bahkan, Eli pun meragukan dirinya.


"Untuk makan sana ibumu harus banting tulang, apalagi membayar tunggakan temanmu ini. Kau sendiri saja dapat bersekolah hanya dengan mengandalkan bea siswa yang kau dapatkan itu. Sudahlah, jangan terlalu tinggi berkhayal karena rasanya akan sangat sakit bila kau jatuh," lanjut Alisa sembari mencibir Shopia.


Gadis bertubuh subur itu mengepalkan tangan kuat-kuat, menahan gejolak amarah yang membakar jiwa. Hanya saja dia sadar diri, saat ini belum mampu melawan kekuatan Alisa, apalagi merobohkan kesombongannya itu.


Ia melirik Eli yang menunduk, raut putus asa jelas tergaris di wajahnya. Shopia tidak menyukai itu, Eli adalah tipe gadis yang periang, jarang mengeluh, dan tidak mudah ditindas. Sekarang, dia tak berdaya di hadapan Alisa dan kawan-kawannya. Sungguh, ini bukanlah hal yang diinginkan Shopia.


"Eli, kali ini jangan dengarkan dia. Cukup percaya saja padaku," bisik Shopia menguatkan hati Eli.


"Percaya pada apa? Pada tubuhmu yang mirip b*b* itu?" Alisa dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak, mereka begitu senang menghina Shopia dengan sebutan seperti itu.


"Aku akan membuktikan pada kalian jika aku sanggup melakukanya," ujar Shopia dengan tegas dan lantang sembari menatap sengit ke arah Alisa.


Tawa mereka berhenti seketika, tapi itu hanya sesaat sebelum akhirnya kembali menggelegak.


"Membuktikan? Kau ingin membuktikan apa kepada kami? Dengan cara seperti apa kau akan membuktikannya, hah?" Alisa berkacak pinggang angkuh, kembali tertawa membuat Shopia semakin geram.


"Aku-"


"Sudahlah, Shopia. Yang dikatakan mereka benar. Untuk makan saja ibumu begitu kesulitan, apalagi harus membayarkan tunggakanku. Jangan terlalu memaksakan diri, itu hanya akan menyulitkan kau dan ibumu saja. Aku tidak apa-apa, aku akan berhenti," pangkas Eli dengan nada putus asa yang begitu kentara.


Shopia menggelengkan kepala, tak rela jika sahabatnya itu harus memutuskan pendidikan di tengah jalan.


"Tidak, Eli. Kita sudah berjanji akan lulus bersama, kau tidak bisa berhenti di sini." Shopia memegang tangan Eli, berharap sahabatnya itu akan percaya padanya.


Namun, Eli melepaskan tangannya, dan menggelengkan kepala. Sungguh, dari sorot matanya saja tidak ada kepercayaan untuk apa yang dikatakan Shopia. Alisa mengangkat bahu tak acuh, mencibir kedua sahabat yang saling menguatkan satu sama lain itu.


"Aku bisa membantumu," ucap Alisa tiba-tiba.


Eli dan Shopia mengangkat wajah, menatap Alisa dengan tak senang. Seperti yang mereka tahu, jika kalimat itu terlontar dari mulutnya sudah pasti akan ada imbalan yang tak mudah di akhirnya.


"Kenapa? Kalian tidak percaya? Aku bisa membantumu membayar tunggakan, dan kau akan tetap bisa kuliah. Kemudian, kalian bisa lulus bersama-sama seperti yang kalian janjikan. Uh, so sweet!" Alisa tertawa disambut teman-temannya.


Eli menunduk, dalam hatinya tersadar bahwa memang hanya Alisa yang mampu membantunya.


"Kau itu licik, Alisa. Aku tahu apa yang ada di dalam otakmu. Kau tidak akan memberi bantuan dengan cuma-cuma," sambar Shopia dengan berani. Tak ada lagi Shopia yang lemah dan penakut seperti dulu, hal tersebut membuat Alisa tak senang.


"Sepertinya, Pigy yang satu ini sekarang lebih banyak bicara, ya. Apa kau juga ingin keluar dari sekolah ini? Aku bisa melakukannya, dan aku pastikan kau tidak akan dapat bersekolah lagi di manapun." Alisa mengancam, itulah yang selalu dia katakan pada setiap siswa yang ditindasnya.


"Sudahlah, Shopia. Tidak apa-apa, kau jangan terlalu memaksakan diri."


Shopia geram, Eli benar-benar tidak mempercayainya.


"Itu benar. Dengar, jika kau setuju aku akan membuatmu bisa berkuliah lagi di sini. Bahkan, aku akan pastikan kau mendapat bea siswa seperti yang didapatkan si Pigy ini. Bagaimana?" Alisa bersilang tangan, menatap Eli sembari memainkan alisnya naik dan turun.


Hati Eli berbinar, sampai-sampai terpancar di kedua matanya. Hal tersebut membuat Alisa senang, ia tertawa kecil karena merasa sudah mendapatkan hati Eli.


"Benarkah?" tanya Eli antusias.


"Eli!" Seruan Shopia tak digubris Eli, ia bahkan melepaskan genggaman tangan Shopia dan memilih mendekati Alisa.


"Tentu saja! Apa yang tidak bisa aku lakukan? Aku bukanlah Pigy yang hanya membual," sindir Alisa meremehkan Shopia.


"Eli, apa kau tahu apa yang kau lakukan?" pekik Shopia tidak percaya.


"Diamlah, Shopia. Hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa lulus kuliah dan mendapat pekerjaan," sergah Eli menolak nasihat Shopia.


"Bagus! Dalam waktu tiga hari ini, aku akan membayar semua tunggakanmu dan juga mengajukan bea siswa untukmu. Setelah itu, kau harus menjadi pembantuku selama dua bulan penuh. Kau hanya mendengar padaku, apapun yang aku perintahkan, apapun yang aku inginkan, kau tidak boleh menolak!" ujar Alisa menatap tegas pada Eli.


"Kau gila, Alisa! Itu sama saja kau merenggut kebebasan orang lain!" sentak Shopia tidak terima.


"Baiklah, aku akan melakukannya!"


"Eli?" Shopia tak percaya, menatap kecewa pada sahabatnya itu. Alisa memindai wajah itu, kemudian tersenyum penuh kemenangan.


Eli tak lagi mendengarnya, dia lebih percaya kepada Alisa daripada Shopia yang sudah bersahabat sejak lama. Ia berbalik dan pergi meninggalkan Eli bersama kelompok Alisa membawa kekecewaan yang mendalam di hatinya. Satu-satunya teman yang dia miliki di sekolah itu, kini sudah berubah haluan dan berpindah tempat.


****


"Aku tidak rela Eli harus menjadi kacung perempuan itu, tapi bagaimana caranya agar Eli terbebas dari cengkraman harimau jahat itu?" Shopia bergumam sambil menggigit kukunya.


Ditepuknya bantal dengan kesal ketika terbayang adegan siang tadi di kampus. Ia larut dalam lamunan sampai-sampai tak mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Nenek mengernyit melihat raut suram di wajah sang cucu. Ia menghampiri Shopia, duduk di tepi dan mengelus kepalanya.


"Kelihatannya, cucu Nenek ini sedang ada masalah. Cerita pada Nenek, siapa tahu wanita tua ini dapat membantu," ucap sang Nenek dengan lembut.


Shopia menghela napas, menunduk sambil menimbang-nimbang di dalam hati apakah harus menceritakannya kepada Nenek? Lalu, Shopia memutuskan untuk bercerita pada wanita tua itu. Dengan saksama dan tanpa memotong cerita sang cucu, Nenek terus mendengarkan sampai tuntas.


"Begitu, Nek." Shopia menurunkan bahunya lesu.


"Hmmm ... Keterlaluan! Sudah kau tenang saja, Nenek akan menyelesaikan semuanya. Besok masalah sahabatmu itu Nenek pastikan akan selesai," ujar sang Nenek sambil tersenyum ketika Shopia menoleh padanya.


"Bener, Nek!" Shopia berhambur memeluk sang Nenek ketika kepalanya mengangguk yakin.


"Terima kasih banyak, Nek!"


"Sama-sama."


****


Eli begitu terkejut ketika ia mendapat panggilan dari kampus. Bantuan yang dijanjikan Alisa masih dua hari lagi, tapi pihak kampus sudah memanggilnya untuk datang.


"Benarkah? Sa-saya sudah bisa mengikuti kegiatan lagi di kampus ini?" pekik Eli begitu mendengar apa yang disampaikan oleh pihak kampus.


"Benar, tunggakanmu sudah selesai. Kau juga bisa berkuliah secara gratis di sini sampai lulus, tapi ingat kau harus menggunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin," jawab pihak kampus dengan tegas.


Eli mengangguk yakin, tapi kemudian dia bertanya tentang siapa yang sudah melunasi tunggakannya itu.


"Itu, dia di sana!" Tangan perempuan dewasa itu menunjuk ke sebuah arah, di mana satu sosok tengah berdiri sambil tersenyum.


"Shopia!" Eli memekik tak percaya. Sungguh, dia tidak pernah menyangka bahwa Shopia bersungguh-sungguh dalam ucapannya kemarin.


"Shopia?"


Gadis bertubuh subur itu mengangguk sambil tersenyum.