Don'T Call Me Pigy

Don'T Call Me Pigy
Salon Kecantikan



"Apa?" Alisa memekik setelah mendengar kabar tentang Eli yang sudah kembali berkuliah.


"Tidak mungkin! Siapa yang membantunya? Bukankah dia sudah setuju dengan persyaratanku?" Dia kembali memekik tidak terima, tangan kanannya terkepal berikut rahang yang ikut mengeras seolah-olah bersiap untuk mencabik mangsanya.


"Kudengar Shopia yang membantu, ternyata yang kemarin dia katakan itu bukanlah bualan semata. Dia benar-benar membantunya," sahut teman Alisa dengan raut tak percaya.


"Kita harus memastikan berita ini, Shopia tidak mungkin melakukan itu. Kita tahu sendiri seperti apa kehidupannya," ucap Alisa dengan nada geram yang kentara.


Mereka berjalan dengan wajah yang merah padam, mencari keberadaan gadis gemuk yang sering mereka bully. Langkah jenjang mereka terhenti ketika tiba di lorong kampus yang menghubungkan langsung ke taman. Di sana, dua orang gadis duduk sambil bercengkerama menikmati cemilan yang disimpan di antara mereka.


"Kau lihat, sepertinya kabar itu memang benar." Teman Alisa berbisik memprovokasi.


"Sial! Bagaimana caranya b*b* gendut itu melunasi tunggakan Eli?" Alisa semakin terbakar, panas bergejolak rasa hatinya.


"Mungkin dia meminjam uang atau mencuri? Kita tidak tahu, bukan?" Seorang teman Alisa berujar sambil menghendikan bahu mencibir.


"Ah, kau benar. Mencuri, itulah yang dilakukan b*b* bau itu. Kita harus memberitahu Eli tentang ini." Alisa tersenyum miring, penuh kelicikan. Otak kecilnya benar-benar terisi dengan hal-hal jahat saja.


Mereka berjalan mendekati bangku di mana Shopia dan Eli berada.


"Shopia, apa kau tahu? Aku bersyukur karena kemarin ayahku mendapat pekerjaan sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan terbesar di kota ini. Aku benar-benar beruntung," ucap Eli, dan Shopia hanya tersenyum saja.


Ia tahu, ayah Eli ditarik Nenek untuk bekerja di sana atas permintaan Shopia sendiri. Sekarang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi dari keadaan keluarga Eli. Mereka akan baik-baik saja mulia hari ini.


"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya," timpal Shopia penuh syukur.


"Sepertinya ada pahlawan kesiangan di kampus kita ini. Tepatnya, pahlawan yang dipaksakan. Kudengar dia sampai mencuri hanya untuk membantu temannya," ucap Alisa disusul tawa yang menggelegak dari kelompoknya.


Shopia menoleh, tapi ia tidak terlihat marah. Justru sebaliknya, senyum di bibir Shopia muncul merekah melihat kedatangan mereka.


"Jika sudah tidak mampu, janganlah memaksakan diri. Sadari saja bahwa kau tidak mampu, kau banyak merugikan orang lain," lanjut teman Alisa sambil tertawa kecil melihat Shopia.


Semua kalimat yang dilontarkan mereka disambut helaan napas oleh Shopia. Ia melirik Eli yang terlihat cemas, dan keragu-raguan mulai timbul di matanya. Shopia menyentuh tangan sahabatnya, berharap kali ini dia tidak termakan ucapan Alisa.


"Ngomong-ngomong siapa yang aku rugikan? Aku tidak merugikan siapapun di sini. Aku hanya membantu temanku agar terbebas dari segala masalah. Maaf, Alisa, bantuanmu sudah tidak dibutuhkan lagi karena Eli sudah terbebas dari tunggakan," ucap Shopia seraya berdiri dari duduk sambil menarik tangan Eli.


"Ayo, Eli, kita pergi dari sini. Mungkin mereka ingin menempati bangku ini," ajak Shopia tak acuh pada tatapan berang Alisa dan kelompoknya.


"Kurang ajar kau, Shopia!" pekik Alisa kembali memanas.


"Sudahlah, Alisa. Akui saja kekalahanmu, itu tidak akan membuat kecantikanmu hilang," sahut Shopia yang terus berlalu meninggalkan mereka.


Alisa menggeram, kebencian terhadap Shopia semakin nyata terasa. Dia tidak akan melepaskan gadis itu.


****


"Shopia, ikut Nenek! Nenek ingin menunjukkan sesuatu padamu," pinta Nenek yang melongok di pintu kamar Shopia.


Gadis yang baru saja membersihkan dirinya itu segera menoleh dan mengangguk. Ia mengenakan baju dengan cepat dan keluar mengikuti sang Nenek pergi ke lantai puncak rumah mereka.


"Kenapa kita ke sini, Nek?" tanya Shopia saat mereka menapaki anak tangga.


Nenek tidak menjawab, melainkan terus mengajak Shopia untuk masuk lebih dalam ke lantai puncak tersebut. Shopia belum pernah menginjakkan kaki di lantai itu, dia tidak tahu apa isi di dalamnya. Mata gadis itu membelalak ketika tiba di sebuah ruangan yang berisi alat olahraga di dalamnya.


Nenek mengajak Shopia mendekati seorang wanita yang berpakaian serba hitam.


Perempuan yang usianya tak jauh beda dengan ibu Shopia itu, tersenyum dan mengangguk sopan.


"Nama saya Meli, saya akan membantu Nona selama proses diet berlangsung. Saya harap Nona bersedia untuk bekerjasama dengan saya," ucap perempuan itu sambil mengenalkan dirinya.


Shopia tersenyum, menyambut uluran tangannya tanpa segan.


"Ke depannya, mohon bimbingan dari pelatih," sambut Shopia antusias.


Kemudian, Shopia mulai diajak berkeliling dan dikenalkan dengan metode pelatihan yang akan dia jalankan. Berkali-kali gadis tersebut meneguk saliva, merasa berat meski hanya baru mendengar saja.


"Tidak ada makanan ringan, tidak ada makanan yang digoreng, minuman soda dan lain-lain yang bisa menggagalkan semua latihan ini," ujar pelatih tersebut sembari menatap Shopia dengan serius.


"Nenek, sepertinya aku tidak ingin diet. Aku ingin seperti saja, semua ini terdengar seperti siksaan di telingaku," bisik Shopia mengiba.


Wajahnya memucat, padahal latihan belum dimulai. Sang nenek tertawa mendengar itu, apalagi jika melihat reaksi wajahnya yang begitu ketakutan.


"Apa kau lupa apa tujuanmu melakukan semua ini? Ingat, Nak, ada kompetisi yang sedang menunggumu," ucap Nenek sembari mencolek hidung Shopia.


Mendengar itu, Shopia tercenung. Mengingat-ingat kembali apa yang sudah terjadi sampai dia harus berakhir dalam program penyiksaan diri itu. Kemudian, Shopia menatap langit-langit, tangannya terkepal penuh tekad.


"Baiklah, aku tidak akan menyerah!" tegasnya dengan yakin.


Nenek mengangguk puas, dia harus mengawasi pelatihan Shopia sampai dirasa cukup dan memenuhi syarat untuk dapat berjalan di red karpet kecantikan.


"Yah, bagus! Sekarang, bersiaplah dan pergi ke salon. Meli akan mengawalmu, dia yang akan mengatur perawatan apa yang harus kau jalani," ucap Nenek sambil menepuk bahu Shopia.


Gadis itu mengangguk, dan kembali ke kamarnya. Lalu, pergi ke salon kecantikan bersama pelatih yang sekaligus merangkap sebagai penjaga untuk Shopia.


"Meli, kau yakin semua ini akan berhasil merubah tubuhku?" tanya Shopia meragukan metode yang akan ia gunakan, "bukan apa-apa, aku pernah melakukannya, tapi gagal," lanjut Shopia diakhiri helaan napasnya.


"Tenang saja, Nona. Jika Anda bersungguh-sungguh, saya pastikan ini akan berhasil," jawab Meli sambil tersenyum penuh arti.


Shopia membalas senyumnya, berharap dalam hati ia akan berhasil menurunkan berat badan.


"Kita sudah tiba, Nona."


Meli bergegas turun dan membukakan pintu untuk Shopia. Ungkapan terima kasih tak lupa diucapkan gadis itu karena kebaikan Meli. Ia dituntun untuk masuk, tapi hatinya ragu sebab seumur hidup belum pernah menginjakkan kaki di tempat tersebut.


"Selamat datang!" sambut resepsionis tempat tersebut.


Meli mengatakan tujuannya datang, meminta pelayanan terbaik untuk Shopia. Ada banyak pasang mata memindai gadis bertubuh subur itu, membuat Shopia risih dan tak nyaman. Namun, ia terus mencoba untuk bersikap tenang, dan menunggu Meli selesai.


Di saat itulah pintu salon terbuka, dan sekelompok wanita masuk dengan sikap mereka yang angkuh. Alisa mengernyit saat mengenali sosok besar yang memunggungi mereka.


"Pigy!"


Shopia tersentak, sontak menoleh dengan raut terkejut. Alisa mengangkat sebelah alis, tatapan matanya penuh dengan tanya.


"Untuk apa orang rendahan sepertimu datang ke tempat seperti ini?"


Tubuh Meli menegang seketika seperti tersengat aliran listrik. Amarah bergejolak, ia menoleh dan menatap Alisa dengan nyalang.


"Mereka ..."