
Dia, Shopia Atma Wijaya, gadis 20 tahun bertubuh subur, berkulit kusam, serta berjerawat. Merupakan seorang mahasiswi di sebuah kampus ternama di kota tempatnya tinggal.
Ia berjalan sambil mengukir senyum penuh arti dan sesekali akan memandangi bunga mawar di tangan yang akan diberikannya kepada seorang mahasiswa populer di kampus tempatnya menimba ilmu tersebut.
Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat teringat sesuatu tentang dirinya. Ia tertegun, tercenung sambil menatap nanar bunga di tangan. Rasa bimbang datang menghampiri, hampir menyurutkan langkahnya yang semula menggebu.
"Bagaimana jika dia menolak? Bukankah selama ini dia begitu membenciku?" gumamnya ragu. Shopia menggigit bibir, gusar. Tanya dalam hati kian menambah keraguan, perlukah ia lanjutkan? Atau berhenti mengejar saja? Semua yang dia lakukan percuma, tapi Shopia amat mengaguminya.
"Apa salahnya mencoba? Kau juga pantas untuk dicintai, Shopia." Ucapan seorang sahabat mengiang di telinga, membangkitkan semangat Shopia yang sempat meredup tertelan rasa ragu.
Senyum yang sempat hilang dari bibir merah muda itu, kembali terbit sempurna. Keragu-raguan di hati berangsur-angsur pergi berganti harapan yang entah apakah akan mendapat jawaban.
Shopia melanjutkan langkah, berlenggak lenggok meski tubuh subur yang dimilikinya terkadang menghambat gerak.
"Semoga saja dia bisa membuka hati setelah melihat kesungguhanku." Dia kembali bergumam, di sepanjang lorong kampus menuju lapangan basket.
Berdegup-degup jantung di dalam dada, membuat peluh berlomba menuruni tempatnya. Membasahi kulit pipi sampai merembes ke sekitar punggung. Kemeja yang ia kenakan perlahan mulai basah, sebisa mungkin Shopia menepis rasa gugup yang melanda.
Langkahnya kembali terayun pasti, menelusuri lorong kampus yang sepi. Semua siswa tengah berada di tepi lapangan basket, menonton idola mereka yang sedang bertanding. Riuh rendah suara para pendukung mulai terdengar, seirama dengan degup jantungnya yang kembali berpacu.
"Tomi! Tomi! Tomi!" Teriakan demi teriakan menggema, memenuhi lorong dan seluruh bangunan.
Senyum di bibir Shopia terukir gugup, ia takut dipermalukan di tengah lapangan. Terlebih jika ada Alisa dan gang ada di sana. Mereka tidak akan pernah membiarkan Shopia mendekati sang idola.
"Lisa! Coba kau lihat di sana! Untuk apa si Pigy itu membawa bunga?" tegur salah satu teman Lisa.
Lisa, sang primadona kampus yang memiliki kecantikan paripurna tiada tanding. Anak seorang konglomerat yang disanjung seluruh pemuda. Ia menoleh, menatap Shopia dengan dahi berkerut tak senang.
"Kau lihat senyumnya ... astaga, menjijikkan sekali!" cibir yang lain.
Alisa melipat kedua tangan di perut, mereka berada di tempat paling tinggi sehingga dapat melihat sosok Shopia yang sedang berjalan memasuki arena lapangan.
"Apa kau akan membiarkannya begitu saja? Dia bisa merusak semuanya." Ucapan temannya membuat kaki jenjang Alisa berayun meninggalkan tempat.
Kedatangan Shopia dengan segala tingkah memalukannya adalah sebuah musibah yang akan merusak reputasi kampus mereka. Begitulah isi pikiran semua orang karena postur tubuhnya yang berbeda dari semua siswa. Hanya Shopia yang memiliki berat berlebih.
Mata Shopia berbinar ketika lapangan sudah sangat dekat dengannya. Ingin dia berjingkrak saja, jika lupa pada bobot tubuhnya yang berlebih. Namun, sebuah tarikan pada rambut membuat langkah Shopia tak hanya berhenti, tapi kembali mundur ke belakang.
"Argh! Sakit ... si-siapa yang menarik rambutku?" pekik Shopia merintih kesakitan sambil memegangi rambutnya.
Ia memejamkan mata merasakan perih pada pangkal kepala seolah rambut-rambut itu akan terlepas dari tempatnya.
"Lepaskan! Sakit!" rintih Shopia memohon agar dilepaskan.
Namun, tarikan rambut yang kian menguat itu memaksa kakinya mengikuti ke mana dia dibawa pergi. Toilet.
Brugh!
"Argh!" Shopia meringis sambil memegangi kepala serta bokongnya yang menghantam dinding kamar mandi.
Tiga orang merangsek masuk dan salah satunya mengunci pintu. Shopia mengangkat pandangan, melihat Alisa yang berjalan mendekat sambil menyimpulkan kedua tangan di perut.
"K-kau ... kenapa?" tanya Shopia terbata dan ragu. Ia beringsut semakin menempel pada dinding. Mencari perlindungan.
Alisa berjongkok, salah satu sudut bibirnya terangkat selalu berhasil membuat Shopia mengkerut ketakutan. Pandang mereka bertemu nyaris tak berjarak.
Secepat kilat, tangan Alisa menyambar rahang Shopia dan mencengkeramnya dengan kuat. Senyum licik yang diukir bibir merah itu semakin memperlihatkan kebencian yang tiada batas.
"Kenapa kau tanyakan lagi, Pigy? Kau tidak sadar juga apa yang telah kau lakukan? Kau masih saja mencoba merayu Tomi, padahal tubuhmu saja tidak pantas berada di hadapannya." Cengkeraman tangan Alisa semakin menguat seiring rahangnya mengeras.
"Harusnya kau tahu diri, Pigy! Kau itu jelek, kulitmu kusam, rambutmu ... iuh, menjijikkan." Salah satu teman Alisa mencibirkan bibir. Bahkan, dia memperagakan sikap seolah-olah ingin memuntahkan isi perut.
Sementara Shopia menatap mereka dengan mata memanas. Ingin berteriak bahwa dia memiliki nama, tapi apa daya dia terlalu lemah untuk melawan.
"Kau dengar! Kau itu menjijikkan. Kau tidak pantas berada di kampus ini. Seharusnya kau ada di jalanan bersama mereka, mengais sampah untuk mencari sesuap nasi. Sadarlah, Pigy! Kau itu si buruk rupa!" Alisa menghempaskan tangannya hingga kepala Shopia membentur dinding.
Ia bangkit sembari menepuk-nepuk tangan dan mengelapnya menggunakan tissu. Shopia mengepalkan kedua tangan, perlahan dia bangkit berdiri menatap berang punggung Alisa.
"Jangan memanggilku Pigy! Namaku Shopia! Shopia! Kau dengar itu? Namaku Shopia!" teriak Shopia sambil bercucuran air mata.
Alisa tertegun, kemudikan tertawa terbahak. Ia berbalik menghadap Shopia sambil berkacak pinggang meremehkan. Memicing pada sosok yang tengah dilanda gejolak emosi.
"Beri dia pelajaran!" titahnya pada dua rekan yang tersenyum merendahkan Shopia.
Shopia membelalak, keberaniannya raib seketika berganti dengan rasa takut.
"M-mau apa kalian?" tanyanya terbata. Ia menatap kian kemari mencari sesuatu untuk dijadikan senjata. Sayang, tak ada apapun yang mendukung Shopia saat ini.
Kedua teman Alisa terus merangsek mendekati Shopia, semakin mengikis jarak antara mereka. Shopia menyilangkan kedua tangan di wajah melindungi diri sendiri. Namun, tak dinyana mereka menarik kedua tangan Shopia dengan kuat. Membuka pintu toilet dan mendorong Shopia ke dalam.
"Kau harus diberi pelajaran agar sadar seperti apa dirimu. Pigy, Pigy, Pigy ... itulah namamu. Shopia terlalu bagus untuk kau gunakan melihat postur tubuhmu yang layak disebut Pigy. Pigy ... oh, Pigy!"
Mereka tertawa terbahak, sedangkan Shopia menangis tergugu. Ia hendak bangkit melawan, tapi satu tendangan tepat mengenai perutnya. Shopia terpental menabrak toilet. Tak sempat meringis karena sakit, satu tangan menekan kepalanya ke dalam toilet tersebut.
"Makan ini! Kau pantas mendapatkan ini!"
Tawa membahana memenuhi seisi toilet sampai mereka puas dan Shopia kepayahan, barulah Alisa menyudahi permainan. Mereka meninggalkan Shopia sendiri dalam keadaan tragis. Ada memar di wajah serta rambut yang basah oleh air toilet. Dia menangis tergugu sendirian.