Don'T Call Me Pigy

Don'T Call Me Pigy
Bab 4



"Dia Nenekmu, wanita yang telah melahirkan Ibu, Nak," beritahu ibu Shopia ketika mereka sudah berada di dalam rumah mewah tersebut.


Shopia masih terpaku pada keterkejutannya, menatap sang ibu dengan rasa tak percaya. Pasalnya, selama ini wanita itu tidak pernah bercerita bahwa ia masih memiliki anggota keluarga lain selain mereka berdua.


"Tapi Ibu tidak bercerita tentang ini, bagaimana mungkin Ibu menyembunyikan fakta penting selama ini?" protes Shopia.


Sang ibu menghela napas, menunduk untuk beberapa waktu. Berpikir apa sudah waktunya ia harus bercerita tentang semua? Tentang pernikahannya yang tak direstui, dan tentang laki-laki penghianat yang ia perjuangkan.


"Sudahlah, ini semua salah Nenek. Jangan seperti itu pada ibumu. Nenek yang terlambat menemukan kalian sehingga harus hidup seperti ini," ujar sang nenek mencoba membuat Shopia untuk mengerti.


Shopia berpaling pada wanita tua yang berpenampilan elegan di sampingnya. Menyipitkan pandangan, menelisik sebuah rahasia kelam yang terjadi di masa lalu.


"Shopia sudah dewasa, Nek. Bukan anak kecil yang tak perlu tahu tentang masalah orang tua. Jika selama ini Shopia memiliki seorang Nenek kaya raya, mengapa Shopia harus hidup serba kekurangan? Sampai-sampai Shopia harus menerima ... ah, sudahlah!"


Shopia memalingkan wajah dari tatapan sang nenek, ingin dia mengatakan jika selama ini dirinya terus dibully karena keadaan yang miskin. Tak seperti mereka yang memiliki kulit putih nan bersih, pakaian bagus dan mewah. Rupanya, uang membuat seseorang dihormati dan dihargai.


Sang nenek dan ibu Shopia saling memandang satu sama lain. memberikan kode untuk mengkisahkan kejadian di masa lalu. Wanita paruh baya itu menghela napas, beringsut mendekati Shopia. Mengusap punggung anak tercinta, dan menggenggam tangannya lembut.


"Ini semua terjadi karena kesalahan Ibu. Dulu, Ibu tak mendengar nasihat Nenek untuk tidak pergi dari rumah ini. Akan tetapi, karena Ibu tergila-gila pada ayahmu waktu itu. Ibu meninggalkan semua yang ada, pergi dari rumah dan kehidupan mewah Ibu. Lalu, hidup sederhana bersama ayahmu. Namun, pada akhirnya, kau tahu sendiri apa yang terjadi, bukan?"


Shopia yang menunduk, mengangkat wajah perlahan. Menatap butiran bening yang menggenang di kedua sudut mata wanita hebat di depannya. Ada banyak derita yang ia saksikan sendiri, begitu banyak luka yang ditorehkan laki-laki bergelar ayah untuknya itu. Mengapa?


Shopia mengusap sudut mata sang ibu, mencegahnya dari tangisan. Dia sudah rela mengorbankan semuanya, tapi laki-laki itu sungguh tidak tahu diri. Pergi meninggalkan mereka hanya untuk dapat hidup dengan mewah bersama wanita selingkuhannya.


"Maaf, Shopia tidak tahu. Ibu juga tidak pernah bercerita tentang ini," ucap Shopia lirih.


Rasa sakit sang ibu dapat ia rasakan jua. Seperti apa kuatnya dia menahan tangis waktu itu. Shopia tahu.


"Itu karena Ibu takut jika bercerita kau ingin bertemu Nenek, sedangkan Nenek belum bisa menerima kita. Kau tahu seperti apa kehidupan kita selama ini, bukan? Tidak mudah untuk diterima di tengah masyarakat," ungkap sang ibu sejujurnya.


Nenek mendengus kesal, bagaimanapun kesalnya orang tua tetap saja rasa cinta di hati untuk sang anak jauh lebih besar.


"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Hanya karena Ibu membiarkanmu pergi waktu itu? Sebenarnya Ibu tak rela, tapi lelaki itu begitu sombong dan Ibu hanya ingin bukti dari semua ucapannya. Itu saja, tapi ternyata ...." Nenek menghela napas.


"Maafkan aku, Bu."


"Ah, sudahlah!" Nenek mengibaskan tangan, mengusap kedua mata yang berair sebelum tersenyum. Ia memeluk Shopia, menerima dengan sepenuh hati satu-satunya cucu yang dimiliki.


****


"Kenapa kau masih mengenakan pakaian seperti itu! Bukankah banyak pilihan di lemarimu?" Tatapan Nenek menyelidik ketika melihat Shopia yang mengenakan pakaian sederhana di pagi hari.


Gadis bertubuh subur itu melirik sang ibu, anggukan kepalanya membuat Shopia harus kembali ke kamar dengan malas. Mengganti pakaian yang tersedia di dalam lemari. Sejak kapan lemari itu dipenuhi pakaian yang sesuai ukurannya?


"Shopia berangkat dulu," ucapnya.


Ia tertegun ketika seseorang membukakan pintu mobil. Apakah dia memiliki mobil sendiri sekarang? Supir pula? Shopia menoleh, sang nenek menganggukkan kepala.


"Pergilah, dan berhati-hati!" Shopia tersenyum dan berlari masuk ke dalam mobil.


Semua kemewahan ini dapat ia rasakan juga. Apakah dia harus mengatakan pada semua orang bahwa sekarang Shopia bukan lagi seorang gadis miskin, tapi cucu dari seorang konglomerat. Ya, agar dia tidak lagi dibully. Namun, ketika mobil hendak memasuki gerbang kampus, Shopia berbuah pikiran.


"Berhenti sebelum gerbang, aku tidak ingin kedatanganku menggunakan mobil menjadi sorotan banyak orang," titah Shopia lesu, ia menghela napas. Biarlah, untuk saat ini identitas aslinya disembunyikan.


Shopia membenarkan letak kacamata sebelum turun dari mobil, menghela napas saat menatap gerbang yang di dalamnya berisi cemoohan dan ejekan dari Alisa serta seluruh siswa.


Namun, dengan identitas barunya itu, Shopia meyakinkan hati untuk percaya pada diri sendiri. Dia tidak sendirian sekarang, dan memiliki Nenek dengan identitas luar biasa. Shopia melangkah penuh percaya diri, memasuki gerbang kampus dengan senyum di bibir.


Kaki melangkah pasti menyusuri lorong menuju kelas. Berharap Eli akan datang dan mendengar ceritanya. Namun, sebuah dorongan membuat tubuh Shopia terhuyung keluar lorong dan nyaris menabrak tong sampah. Di sana, Alisa dan kelompoknya tertawa melihat tubuh Shopia yang hampir menyamai besarnya tong sampah.


"Wow, Pigy! Coba lihat dirimu, apa bedanya dengan tong sampah itu?" ejek Alisa mengundang gelak tawa dari semua siswa yang ada.


Shopia melirik, hatinya meringis. Benar, meskipun dia memiliki identitas yang hebat, tapi bentuk tubuhnya tetap tak bisa dipungkiri. Shopia menghela napas, meyakinkan hati bahwa dia selama ini tidak selemah itu.


"Memangnya kenapa jika tubuhku besar? Apa itu bermasalah untuk kehidupanmu?" sentak Shopia dengan berani. Bahkan, tak ada lagi wajah menyedihkan yang biasa terpasang di sana.


Alisa tertegun sesaat, alisnya terangkat. Cukup terkejut dengan keberanian yang dimiliki Shopia sekarang. Lalu, tertawa hambar sambil mendekat.


"Masalah? Tentu saja! Kehadiranmu di kampus ini sangat bermasalah. Bukan hanya bagiku, tapi bagi seluruh siswa di sini. Kau lihat di cermin sana! Seperti apa dirimu! Kumal, jerawatan, jelek, dan yang lebih nyata tubuhmu besar seperti tong sampah ini. Itu masalah karena hanya dirimu yang berpenampilan buruk di sini. Tidakkah kau mengerti, Pigy!"


Tawa kembali menggema setelah ucapan Alisa selesai, disusul ungkapan-ungkapan mencibir dari beberapa siswa yang datang menonton. Shopia terdiam, mengepalkan kedua tangan menahan gejolak emosi di dalam jiwa. Ingin dia mendekat dan mencakar wajah cantik Alisa, membuatnya hancur dan jelek.


Shopia mengedarkan pandangan, menatap semua siswa yang masih tertawa dan mencemooh dirinya. Tak sengaja netra Shopia melihat sebuah papan pengumuman. Sebuah ajang kecantikan yang setiap tahun diadakan kampus.


Aku yakin, Nenek bisa membantuku untuk menjadi cantik seperti Alisa.


"Jika aku memang seperti yang kau katakan tadi, tentu kau tidak takut untuk berkompetisi di ajang itu!" Telunjuk Shopia lurus ke arah pengumuman tersebut. Semua orang menoleh, hening sesaat sebelum tawa kembali menggelegak.


"Kau pikir siapa menantang Alisa ratu kecantikan kampus, hah? Memang sudah buruk rupa, tidak sadar diri pula!"


Cibiran demi cibiran Shopia dapatkan, tapi ia tidak peduli. Pandangannya terpaku pada Alisa yang mengangkat salah satu sudut bibir.


"Kau pikir mampu melawanku?"


"Kita lihat saja nanti!"