Don'T Call Me Pigy

Don'T Call Me Pigy
Bab 5



Shopia tercenung di dalam kamarnya yang besar. Tak seperti dulu saat mereka harus hidup di sebuah kontrakan kecil nan sempit. Berguling di atas ranjang yang berukuran besar, menatap langit-langit kamar bernuansa pastel yang menenangkan.


Ia menghela napas, teringat kejadian kemarin di mana dia menantang Alisa dalam kompetisi kecantikan tahun ini. Sebuah ajang yang amat dihindari Shopia karena menyadari dirinya yang tak pantas berada di panggung tersebut.


"Apa aku harus mengatakannya kepada Nenek, ya? Meminta sarannya untuk merubah diriku yang buruk rupa ini," gumam Shopia seraya menggigit bibir gelisah.


Hanya Nenek satu-satunya harapan yang dapat membantunya mengubah diri sendiri. Ibu? Dia tidak akan suka jika Shopia makan hanya sedikit.


Katanya, "Kita orang tak punya jika kau terlihat kurus maka orang-orang akan semakin mengejekmu karena Ibu tidak mampu memberimu makan."


Lagi-lagi helaan napas Shopia terhembus, teringat pada kehidupannya dulu. Dengan makan, ia dapat melampiaskan segala emosi di dalam dirinya. Meluapkan amarah yang tak dapat tumpah karena ketidakberdayaan.


"Shopia!"


Suara panggilan beriringan dengan ketukan pintu mengalihkan perhatian Shopia dari kompetisi yang tengah ia pikirkan.


"Iya, Bu!" Shopia bangkit dan duduk di tepi ranjang. Rasanya malas untuk keluar apalagi harus pergi ke kampus di mana dia hanya akan mendapatkan bulian.


"Sarapan, sayang. Ini sudah siang, kau tidak pergi ke kampus?"


Pintu terbuka, sosok wanita bersahaja masuk sambil tersenyum. Mendekati Shopia yang terlihat lesu pagi itu. Pemandangan yang sering terlihat, Shopia masih sama seperti dulu.


"Kenapa, sayang? Ada masalah lagi?" Ibu mengusap kepala Shopia, bibirnya masih tersenyum manis sebagai penyalur semangat untuk sang anak.


Shopia menggelengkan kepala, menatap sang ibu dengan sendu. Dari dulu, ia tak pernah mengatakan masalahnya kepada wanita ini.


"Lalu, kenapa kau terlihat murung pagi ini? Ceritalah pada Ibu, kita cari solusinya bersama-sama," pinta Ibu menggenggam hangat tangan Shopia.


Gadis bertubuh subur itu menghela napas, menunduk untuk beberapa saat. Berpikir alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan sang ibu. Eli?


"Eli, Bu. Satu-satunya sahabat Shopia dia tidak masuk kelas sudah beberapa hari. Shopia merasa cemas," ucap Shopia. Tentu saja itu jujur, ia memang tengah merasa cemas terhadap temannya itu.


"Kau sudah menghubunginya? Atau datang ke rumahnya barangkali?" tanya sang ibu.


"Shopi sudah menghubunginya, tapi ia tidak menjawab apapun. Ke rumahnya? Shopia tidak tahu, Bu. Dia mengatakan jika sudah pindah tempat tinggal."


Ibu mengangguk-angguk, mengerti permasalahan yang tengah dihadapi sang anak. Ia dengan lembut menepuk-nepuk permukaan tangan Shopia sambil berpikir apa yang bisa menghiburnya.


"Ya sudah, sekarang kau bersiaplah. Entah kenapa Ibu yakin hari ini Eli akan datang ke sekolah. Nenek sudah menunggu di ruang makan," ucap sang ibu seraya tersenyum ketika Shopia menoleh.


Hati gadis itu selalu percaya pada apa yang dirasakan ibunya. Ia tersenyum dan mengangguk. Bangkit menuju lemari memilih pakaian yang akan dikenakan.


****


Shopia berjalan gontai di lorong kampus dengan kepala tertunduk menatap kedua kaki yang bergantian maju dan mundur. Helaan napasnya terdengar berat, seolah-olah tak ada gairah untuk pergi belajar.


Tepat ketika ia mengangkat wajah, sosok yang ditunggunya melangkah gontai menuruni tangga. Shopia berbinar, senyumnya terkembang sempurna. Eli berjalan tertunduk tak memperhatikan sekitar.


"Eli!" seru Shopia seraya berlari. Tubuhnya yang gembil bergerak lambat meski ia rasa sudah berlari cukup cepat.


Eli mengangkat wajah, memaksakan bibir untuk tersenyum. Ia merasa lega karena Shopia baik-baik saja tanpa dirinya beberapa hari ini. Kedua sahabat itu saling berpelukan, berbagi rasa rindu.


Eli membenarkan rambut Shopia, menelisik wajah sahabatnya itu yang tampak lain. Dahinya mengernyit, mencari apa yang beda dari sosok gadis bertubuh subur itu.


"Kau terlihat lain, tapi apa yang berbeda?" gumam Eli dengan pandangan menyipit masih mencari-cari sesuatu yang berbeda.


Ingin rasanya memberitahu Eli tentang siapa dan bagaimana dirinya saat ini. Akan tetapi, Shopia memilih merahasiakan itu. Belum waktunya dia bercerita tentang pertemuan dengan sang nenek.


"Tak ada yang beda. Ayo, ceritakan padaku kenapa kau tidak datang ke kampus beberapa hari ini?" Shopia menarik tangan Eli untuk duduk di sebuah bangku.


Menunggu sang sahabat bercerita tentang alasannya tak datang ke kampus. Eli menghela napas, menatap lalu lalang mahasiswa di sekitar tempat tersebut.


"Sepertinya aku tidak akan pernah bisa datang lagi ke kampus, Shopia." Ia menoleh, tersenyum getir karena keadaannya yang tidak baik.


"Jangan bercanda! Kau tidak boleh pergi dari kampus. Kau tahu hanya kau yang mau berteman denganku, Eli. Jika kau tak ada, aku akan sendirian di sini," sahut Shopia terkejut mendengar pernyataan Eli.


Sudah dapat ia bayangkan bagaimana kehidupannya di kampus jika Eli tak ada. Alisa dan teman-temannya akan semakin gencar merundung Shopia karena tak ada yang membela.


"Aku dikeluarkan, Shopi. Aku tidak sanggup membayar tunggakan. Jadi, aku akan berhenti kuliah dan mencari pekerjaan saja membantu orang tuaku. Kau tidak boleh menjadi gadis lemah," ungkap Eli semakin membuat hati Shopia bergetar.


Ia tak rela satu-satunya teman di sekolah itu pergi meninggalkannya. Shopia menggenggam tangan Eli, dalam hati berpikir akan meminta bantuan sang nenek untuk menolong sahabatnya itu.


"Jangan berhenti. Aku akan membantumu membayar tunggakan, kau tenang saja. Kumohon, jangan tinggalkan aku, Eli. Besok aku akan melunasi tunggakanmu, aku janji!" ucap Shopia bersungguh-sungguh.


Eli tertawa getir, dia tahu betul seperti apa kehidupan Shopia. Sama seperti dirinya, untuk makan saja begitu terasa sulit.


"Jangan merepotkan dirimu sendiri, Shopia, apalagi ibumu. Aku tidak apa-apa, kau harus tetap bertahan di sini demi cita-citamu. Jangan pikirkan aku!" Eli terenyuh dengan kesungguhan Shopia. Ia hanya tidak tahu seperti apa kehidupan Shopia sekarang.


"Tidak! Kita memiliki cita-cita yang sama. Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kau harus tetap di sini, kita kejar cita-cita kita. Aku berjanji, besok kau sudah bisa kembali kuliah. Jangan pikirkan soal biaya, aku akan membantumu."


Shopia tersenyum meyakinkan Eli, tapi meski terlihat bersungguh-sungguh tetap saja Eli tidak tega melihatnya harus bersusah payah mencari uang.


"Tapi-"


Prok-prok-prok!


Sebuah tepukan tangan menggema menghentikan perbincangan mereka. Sosok Alisa muncul bersama dua temannya sambil tersenyum mencibir. Mereka mendengar percakapan dua sahabat itu tentang saling berbagi rasa susah.


"Hebat! Persahabatan kalian memang patut diacungi jempol. Yang satu benalu, yang satu tukang halu. Jangan bermimpi terlalu tinggi, Shopia. Aku takut di saat kau jatuh karena sebuah kenyataan, itu rasanya akan sangat menyakitkan."


Alisa tersenyum, mencibir Shopia secara terang-terangan.


"Selain miskin, kau juga ternyata suka berkhayal. Jangankan membayar tunggakannya, untuk makan saja ibumu harus memeras keringat dulu mati-matian."


Mereka tertawa terbahak, puas sekali melihat Shopia tak dapat membantah setiap ucapan mereka.


"Mereka benar, Shopia. Jangan menyusahkan dirimu sendiri hanya karena aku." Eli tertunduk, sadar betul dengan keadaan yang sedang mereka hadapi.


"Tidak, Eli. Akan aku buktikan jika aku memang mampu membantumu. Aku tidak berbohong, percaya padaku!" Shopia menggenggam erat tangan Eli, meyakinkan sahabatnya itu untuk percaya padanya.


"Sudahlah. Tidak akan ada yang percaya kepadamu, Pigy!" Tawa mereka kembali menggelegak, memenuhi lorong sepi tersebut. Shopia tertunduk, ia sadar meski memberitahu mereka tentang dirinya, tak satupun akan percaya.