
Meraung, menangis, menyesal, sungguh tiada guna baginya. Shopia masih menatap nanar abu di atas rumput, tak satu pun orang yang merasa iba padanya. Ia mengangkat wajah, menatap punggung-punggung manusia yang selama ini selalu menindasnya.
Pandangan lembut Shopia perlahan menajam, kobaran api menjilat-jilat menaburkan dendam. Hatinya mengeras, dia bersumpah bila ada kesempatan membalas, akan membalas semua perlakuan mereka.
"Jika Tuhan berbaik hati padaku, Dia tidak akan membiarkan aku tetap dalam keadaan seperti ini. Besok atau lusa, mungkin aku akan mendapat kesempatan membalas perbuatan mereka. Atau, melihat mereka hancur satu per satu meski bukan karena aku."
Suara lirih itu hanya dapat didengar telinganya sendiri. Shopia menurunkan pandangan, menatap buku yang sempat dirampas Alisa. Beruntung, hanya lembar itu saja yang dirobek dan dibakar olehnya. Diraihnya buku tersebut, seraya bangkit dari rumput.
Sekali lagi, matanya memindai penuh dendam pada sekelompok orang yang pergi dengan angkuh dan kemenangan mereka. Shopia berbalik pergi meninggalkan kampus. Tak berniat lagi melanjutkan kelas. Biarlah, dia pasrah. Jikapun beasiswa harus dicabut dan dia dikeluarkan, Shopia akan menerimanya. Mungkin lebih baik dia mencari pekerjaan untuk membantu sang ibu.
"Kenapa aku diperlakukan seperti ini, Tuhan? Apa memang aku ditakdirkan untuk menjadi begini?" Shopia mendesah, air mata yang jatuh segera disapunya. Tak ingin lagi menangis, tapi apalah daya memang dia yang terlalu cengeng.
Berjalan menyusuri trotoar, sesekali akan menendang kerikil mengusir rasa bosan. Bukan tak memiliki uang untuk sekedar naik angkutan umum, tapi ia mengulur waktu agar sang ibu tak merasa kecewa karena pergi meninggalkan belajar.
"Kita lakukan sekarang?" Sebuah suara laki-laki dari dalam mobil hitam yang terparkir di belakang Shopia.
"Apa benar, kita harus menculiknya? Sepertinya suasana hati gadis itu sedang tidak baik," tanya yang lain merasa khawatir.
"Kita hanya melakukan tugas sesuai perintah bos. Ingat, kita hanya perlu melakukannya jika ingin uang. Kau menginginkan uang, bukan?"
Mereka mengangguk serentak. Siapa yang tidak tergiur dengan tawaran uang besar. Apapun akan mereka lakukan untuk mendapatkannya sekalipun menculik Shopia yang tak bersalah.
Mobil hitam itu perlahan melaju, mengekor di belakang Shopia. Mencari waktu dan lokasi yang tepat untuk menjalankan aksi penculikan terhadap gadis malang tersebut.
"Di depan sana, aku kira jalanan akan sepi. Kita lakukan di sana saja," ujar salah seorang memberitahu lokasi yang tepat.
Dua orang bersiap turun, mengenakan penutup wajah agar tidak dikenali. Satu orang berjaga di pintu mobil, bertugas membuka dan menutupnya. Shopia berjalan tertunduk, merenungi perjalan hidup yang dirasanya amat berliku.
Sejak sang ayah pergi meninggalkan kehidupan mereka, tak ada lagi senyum kebahagiaan yang ia jumpai. Hidup sederhana yang membahagiakan raib begitu saja berganti dengan tangis dan penderitaan. Seandainya lelaki itu masih ada, mungkin hidupnya tak akan semenyedihkan ini.
"Semua laki-laki memang sama. Berengsek, mereka hanya memandang fisik dan harta saja. Rasanya aku tidak ingin mengenal makhluk yang bernama laki-laki. Mereka memuakkan, menyebalkan."
Shopia menggeram, rahangnya ikut mengeras mengingat sang ayah dan juga Tomi. Keduanya sama-sama menyebalkan. Shopia menghentikan langkah dengan sikap waspada ketika sebuah mobil berhenti tiba-tiba di dekatnya.
Mau apa mobil ini? Kenapa tiba-tiba berhenti di dekatku?
Hati Shopia bergumam, tapi kakinya memutuskan untuk kembali melangkah dan tak mengacuhkan benda hitam aneh tersebut.
Namun, baru beberapa langkah saja, tiba-tiba Shopia merasa kedua lengannya dicekal kuat. Cepat-cepat ia menoleh ke kanan dan kiri, seketika hatinya berdegup takut.
"Mau apa kalian? Lepaskan!" jeritnya sembari meronta. Dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan meski tubuhnya subur sekalipun.
Tak ada jawaban, kedua orang bertopeng itu menyeret paksa Shopia untuk masuk ke dalam mobil mereka.
"Mau dibawa ke mana aku? Tidak! Lepaskan! Tolong!" Semakin kuat jeritan Shopia berharap ada orang yang akan menolongnya.
"Tidak! Ibu, tolong aku!" Air mata Shopia bercucuran, meronta dan memberontak dari cekalan kedua orang tadi. Sayang, sekuat apapun dia mencoba melepaskan diri, semua itu percuma.
Brugh!
"Aw!" Shopia merintih dan meringis tatkala dimasukkan secara paksa oleh mereka ke dalam mobil. Ia mengangkat wajah, menatap keadaan di dalam benda tersebut. Hanya ada laki-laki berseragam hitam, tanpa ekspresi, kaku dan dingin.
Shopia mengkerut ketakutan, dia diapit dua orang laki-laki yang terdiam kaku. Ekor matanya tak henti melirik ke kanan dan kiri, hati terus bertanya-tanya siapa mereka.
Namun, ada yang aneh. Tak satu pun dari mereka yang mengarahkan pandangan padanya. Satu hal yang Shopia takutkan adalah, dia akan dilecehkan. Mobil terus melaju meninggalkan jalanan sepi hingga tiba di sebuah rumah mewah yang membuat jantung Shopia kembali berpacu kuat.
Tidak! Rumah siapa ini? Apa aku akan dijual di sini? Tuhan, selamatkan aku!
Air mata Shopia kembali berlinang, memanggil-manggil sang ibu lewat sanubari yang tak terdengar. Sungguh, dia ketakutan saat ini. Pintu mobil dibuka, dua orang tadi turun dan membuka jalan untuknya. Tak satu pun dari mereka yang menyentuh Shopia kecuali dua orang yang menculiknya.
"Silahkan, Nona!" ucap salah satu dari mereka sambil menunduk sopan.
"Tidak! Aku tidak ingin turun. Kembalikan aku ke rumahku, aku ingin kembali pada ibuku!" jerit Shopia dengan lelehan air mata yang tak usai.
"Nyonya sudah menunggu Anda di dalam," ucap mereka mereka lagi tanpa peduli pada jerit tangis Shopia yang bergetar.
"Tidak! Kembalikan aku ke rumahku!" Suara jeritan Shopia menggema hingga masuk ke dalam rumah megah tersebut.
Dari balik pintu besar berdaun dua itu, muncul seorang wanita tua dengan gaya yang elegan. Disusul seorang wanita paruh baya yang mengekor di belakangnya.
"Pulangkan aku pada ibuku! Pulangkan aku! Ibu, tolong aku!" Shopia menjerit sekali lagi, tangisannya semakin terdengar histeris. Mendengar itu, wanita yang berada di belakang wanita tua tadi memilih untuk berjalan mendekati mobil.
Ia tersenyum melihat Shopia yang menangis tertunduk.
"Shopia!" Panggilan lembut suaranya berhasil menghentikan tangis Shopia. Gadis itu mengangkat wajahnya yang merah dan basah, tercengang melihat wanita yang memiliki senyum menyejukkan di luar mobil.
"Ibu!" lirih Shopia kembali menangis.
"Kemari, sayang. Ibu sudah menunggumu," pintanya sambil merentangkan kedua tangan menyambut kedatangan sang anak.
Shopia melirik orang-orang yang telah menculiknya, mereka semua tertunduk hormat di hadapan sang ibu membuat Shopia kebingungan.
"Ibu ...."
"Kemarilah! Kita temui nenekmu. Nanti Ibu jelaskan di dalam," sela sang ibu masih dengan senyum yang manis.
"Nenek?" Wanita itu menganggukkan kepala mendengar ulangan kata sang anak.
Shopia beranjak dan turun, berhambur ke pelukan sang ibu. Melihat itu, wanita tua di teras tersenyum penuh haru. Setelah sekian lama berpisah, akhirnya mereka dapat berkumpul kembali.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Bu?" tanya Shopia usai mengangkat wajah dan menatap sang ibu.
Disapunya rambut berantakan Shopia dengan senyum yang sama.
"Temui nenekmu dulu, semua akan jelas saat kau duduk di dalam." Shopia menganggukkan kepala meski bingung dan mengikuti langkah sang ibu mendekati teras rumah di mana seorang wanita tua berdiri sambil tersenyum.
"Cucuku!" Sebuah pelukan hangat diterima Shopia begitu tiba di hadapannya. "Sudah lama sekali Nenek ingin memelukmu. Maafkan Nenek, Nak, karena terlambat menyadari kau harus hidup menderita."
Ungkapan tersebut membuat Shopia semakin linglung.