Don'T Call Me Pigy

Don'T Call Me Pigy
Kejadian Menjengkelkan



"Kenapa tempat elit seperti ini menerima tamu dari kalangan bawah seperti dia? Sungguh sangat merusak citra tempat ini," ujar Alisa sembari bersedekap dada angkuh.


Shopia menghela napas, tak peduli apapun yang dikatakan Alisa tentangnya. Namun, orang yang datang dengan Shopia, tidak dapat menahan diri mendengar anak majikannya dihina seperti itu.


"Nona, jaga ucapan Anda! Anda tidak tahu siapa-"


Kalimat Meli terpotong ketika tangan Shopia terangkat memintanya untuk tidak berkata apapun. Wanita itu tersentak bingung, menatap Shopia tak percaya. Hatinya bertanya-tanya kenapa gadis ini membiarkan orang lain mengolok-olok dirinya.


"Nona, dia sudah keterlaluan!" ucap Meli geram.


Shopia menganggukkan kepala, dan Meli pun mengerti. Ia menebak mungkin gadis itu yang selama ini merendahkan Shopia.


"Siapa yang tidak tahu tentangnya? Semua orang tahu gadis gendut ini seorang miskin yang suka mencuri," sahut Alisa sambil menelisik manager salon yang datang setelah mendapat laporan tentang kedatangan seorang tamu.


"Mencuri? Siapa yang kau tuduh mencuri?" Shopia mengernyitkan dahi, menatap Alisa penuh api kebencian. Akan tetapi, ia tetap sabar dan menunggu saat yang tepat untuk melakukan pembalasan.


"Kau mencuri, bukan? Jika tidak mencuri mana mungkin kau bisa mendapatkan uang untuk membayar tunggakan temanmu itu," dengus Alisa membuat kesabaran Meli terkikis habis.


"Nona, saya tidak tahu dari keluarga mana Anda berasal, tapi saya ingatkan kepada Anda jangan pernah merendahkan Nona Shopia apalagi menuduhnya seperti tadi jika Anda tidak ingin menyesal di kemudian hari." Meli mengancam dengan serius, tapi Alisa justru mengangkat Alisa merasa apa yang diucapkan Meli hanyalah sebuah banyolan belaka.


"Beraninya kau mengancam keturunan keluarga Adinata! Apa kau tidak tahu siapa teman kami ini?" sentak teman Alisa menunjukkan siapa Alisa. Gadis itu tersenyum bangga ketika nama keluarganya disebut.


Setiap siswa yang mendengar, dan siapapun yang mendengar pastilah akan merasa takjub juga takut ketika membuat masalah dengannya. Namun, tidak dengan Meli, wanita itu tahu siapa keluarga Adinata. Shopia mengernyit, ia pun tahu seberapa berpengaruhnya keluarga Alisa di kota ini. Ayahnya merupakan seorang pengusaha sukses, dan mereka adalah orang terkaya ketiga di kota itu.


"Huh, hanya dari kalangan rendah saja kalian berani menghina Nona Muda kami-"


Lagi-lagi kalimat Meli harus terpotong ketika tangan Shopia meraih jemarinya dan menggenggam dengan kuat.


"Nona?" Meli menoleh, Shopia menggelengkan kepala meminta sang pelatih untuk tidak mengatakan apapun lagi karena semua rasanya percuma dan mereka tidak akan pernah mendengar.


"Nona Muda? Waw! Aku terkejut karena si gendut ini ternyata adalah seorang nona muda yang hilang dan terdampar di lembah kemiskinan. Ini terdengar seperti kisah fiksi belaka di mana seorang Cinderella memimpikan menikah dengan putra raja." Alisa tertawa disambut gelegak teman-temannya.


Shopia marah, tapi ia tetap bertahan dalam ketenangan. Jika pemilik salon tiba, mereka akan tahu siapa dirinya.


"Hai, apa kalian akan membiarkan pencuri ini terus berada di sini? Kalian tidak takut kehilangan benda berharga? Aku sarankan untuk mengusir mereka sebelum kalian menyesal nantinya," ujar Alisa memprovokasi manager salon agar mengusir Shopia dari tempat tersebut.


Sang manager tampak geram, tatapan matanya dipenuhi kecurigaan terhadap dua orang tersebut. Ada banyak benda berharga yang dipajang salon mereka, dan itu bernilai tinggi jika dijual oleh orang rendahan seperti Shopia. Kira-kira seperti itu isi otaknya.


"Kami akan mengurusnya, Nona. Apakah Anda ingin melakukan perawatan seperti biasa?" ucap manager toko dengan lembut dan sopan kepada Alisa.


"Tentu saja, aku akan menghabiskan uangku di sini. Ah, aku lupa, uangku tidak akan pernah habis." Alisa melirik Shopia sembari tersenyum miring merendahkan.


Shopia mendengus, balas mencibir kata-kata Alisa.


Gadis angkuh itu mengibaskan rambut, sekali lagi mencibir Shopia sebelum melangkah mengikuti seorang karyawan yang membawa mereka ke sebuah ruangan VIP. Shopia mendengus, kesal lantaran tidak dilayani dan malah dicurigai.


"Pelayanan di salon ini sangat buruk," celetuk Meli sambil menggelengkan kepala.


Sang manager yang mendengar itu, merasa geram. Ia melangkah mendekati Shopia dan Meli, memindai dari atas hingga bawah. Meski penampilan mereka tidak terlihat sederhana, tapi apa yang dikatakan Alisa sudah meracuni otaknya.


"Kami tidak bisa menerima pelanggan yang dicurigai seperti kalian. Sebaiknya kalian pergi dari sini dan jangan menimbulkan masalah apapun. Kami meminta secara baik-baik karena kehadiran kalian mengganggu pelanggan yang lain," ucap sang manager tanpa ragu.


Meli geram, melangkah maju mendekati wanita tersebut. Tubuhnya tegap menantang, bersiap memberi pelajaran. Namun, Shopia dengan lembut menyentuh tangannya agar menjauh dan tidak membuat keributan lebih.


"Maafkan kami, tapi kami sudah membuat janji dengan pemilik salon ini. Jika Anda tidak keberatan, tolong panggilkan pemilik salon ini," beritahu Shopia tetap dengan sikapnya yang tenang.


Dahi sang manager mengernyit, rasa tak percaya jika mereka membuat janji langsung dengan pemilik salon. Ia pun tertawa mencibir, seolah-olah apa yang diucapkan Shopia hanya sebuah lelucon.


"Sayangnya, pemilik salon sedang pergi dan tanggung jawab di tempat ini menjadi tugasku. Tugasku juga untuk menertibkan pelanggan yang menimbulkan keributan di sini. Jadi, selagi aku meminta baik-baik kepada kalian, sebaiknya kalian tidak melawan," ucapnya sambil menunjukkan pintu keluar salon.


"Jaga sikap Anda! Anda hanya seorang manager di tempat ini. Jika Nyonya kami tahu, jangankan memecat Anda menutup tempat ini saja bisa dilakukannya!" ancam Meli benar-benar sudah diambang batas kesabaran.


Sang manager mengangkat alis, masih tidak percaya pada penjelasan Meli.


"Memangnya siapa Anda berani mengancamku! Orang rendahan seperti Anda memang tidak pantas diperlakukan secara baik-baik!" ujarnya lebih tegas dan keras.


"Ah, begini saja. Biarkan kami menunggu pemilik salon datang, dia akan memberitahumu siapa kami dan kenapa sampai bisa ada di sini. Jadi, kami tidak akan pergi dari tempat ini sampai pemilik datang karena Nenek sudah membuat janji dengannya," ucap Shopia sambil tersenyum.


Sang manager yang wajahnya sudah memerah menahan marah, menatap tajam pada Shopia. Dia tidak ingin kedua orang itu ada di sini, apalagi jika pemilik salon melihat dan tahu siapa latar belakang keduanya.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya kalian membuat janji dengan pemilik salon ini, tapi aku tidak bisa membiarkan kalian tetap berada di sini sampai dia datang. Jadi, sebaiknya kalian pergi atau aku akan memanggil petugas keamanan untuk mengusir kalian dari sini," ucap sang manager tetap keukeuh pada keputusannya mengusir Shopia.


"Nona muda kami sudah mengatakan dia akan menunggu di sini sampai pemilik salon datang. Jadi, sesuai keputusannya kami akan tetap di sini menunggu," balas Meli dengan tegas dan tanpa takut sedikitpun.


"Kalian ...."


"Ada apa ini?"


Suara seorang wanita dewasa menyeruak masuk menghentikan tindakan sang manager yang hendak mengusir mereka.


"Ah, Nyonya!" Ia berhambur mendekat. "Mereka berdua membuat keributan di sini, saya berniat mengusir mereka, tapi keduanya tidak mau pergi." Dia mengadu.


Sang pemilik salon yang berwajah cantik meski usia sudah menyamai ibu Shopia itu memindai kedua orang yang ditunjukkan sang manager. Ia mengernyitkan dahi, dan membuka ponselnya. Mata berbulu lentik itu membelalak, kemudian sebuah tamparan melayang di pipi sang manager.