Don'T Call Me Pigy

Don'T Call Me Pigy
Berulah Lagi



Sebulan telah berlalu, usai sudah masa hukuman Shopia. Ia akan kembali berkuliah bertemu dengan Eli dan yang lainnya. Namun, ada hal yang begitu mengganggu. Wajahnya yang memerah dan terlihat lebih buruk karena perawatan untuk menghilangkan jerawat.


"Bagaimana ini, Bu! Mereka pasti akan mengejekku," ucap Shopia sembari menatap pantulan wajahnya yang mengerikan di cermin.


Ayunda tersenyum seraya mengusap kedua bahu anaknya. Itu hanya masalah sepele, mereka berdua sudah berkali-kali menghadapi masalah lebih besar dari pada yang terjadi sekarang.


"Setahu Ibu, anak Ibu dulu tidak selemah itu. Dia selalu percaya diri dalam kondisi apapun. Masalah ini hanyalah masalah kecil yang bisa ditutupi dengan selembar kain kecil saja," ujar sang ibu sembari mengeluarkan sebuah masker untuk menutupi wajah Shopia.


Mendengar itu, Shopia tercenung. Dia hampir saja melupakan masa lalu yang membuatnya kuat sehingga mampu bertahan sampai detik itu. Senyum mengembang di bibirnya, ia mendongak menatap wajah teduh sang ibunda. Lalu, meraih masker yang diberikan Ayunda padanya.


"Terima kasih karena sudah mengingatkan aku, Ibu," tuturnya penuh syukur.


Kehidupan yang saat ini hampir saja membuatnya hanyut dan menjadikannya sosok gadis manja yang tak bisa menghadapi masalah sepele. Tidak! Itu bukanlah Shopia. Shopia selalu percaya diri menghadapi masalah apapun. Bahkan, Ayunda tidak pernah tahu tentang apapun yang menimpa padanya.


Dengan mengenakan masker pemberian sang ibu, Shopia berangkat ke sekolah. Dia mengingatkan diri sendiri di dalam hati untuk tidak berkonflik dengan Alisa karena siapapun yang bersalah, gadis itu akan dimenangkan oleh semua pihak.


"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Meli saat melihat wajah Shopia yang dipenuhi rasa cemas.


Ia yang tengah merenung, menatap sang pelatih dari spion. Kemudian, tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Aku hanya berpikir apakah aku bisa melampaui Alisa sebelum waktunya tiba?" ucap Shopia diakhiri helaan napas panjang yang ia hembuskan.


"Semua itu mudah saja, Nona. Anda hanya tinggal membuka identitas Anda sebagai cucu pemilik tempat tersebut, dan semuanya akan selesai," saran Meli ikut tersenyum licik.


Namun, Shopia justru menggelengkan kepala, merasa ide itu bukanlah yang terbaik.


"Itu memang ide yang bagus, tapi aku tidak yakin mereka akan berhenti menindasku. Justru aku berpikir, mereka semua akan memanfaatkan keadaan itu. Aku ingin mengalahkan Alisa dengan hal lain tanpa membawa nama Nenek," ucap Shopia dengan tegas.


Meli mengangguk setuju, apa yang diucapkan Shopia memanglah benar. Jika identitasnya sebagai cucu pemilik yayasan terbuka, maka semua orang akan mendekatinya hanya untuk suatu tujuan. Shopia tidak menginginkan hal itu, hanya Eli yang saat ini berteman tulus dengannya tanpa memandang siapa dia.


"Aku tidak masalah jika saat ini hanya memiliki satu teman saja. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup. Dia tidak pernah merendahkan aku, menjadi temanku satu-satunya yang tulus dan apa adanya. Aku sudah merasa cukup," lanjut Shopia sembari membayangkan wajah Eli yang selalu tersenyum padanya.


Gadis itu juga tidak pernah merasa gengsi ketika bergaul dengannya di rumah kumuh Shopia yang lama. Dulu, Eli juga termasuk orang kaya sebelum ayahnya kehilangan pekerjaan dan menjadi pengangguran.


Meli mengerti, ia mengangguk dan tidak berkata apapun lagi. Seperti permintaan Shopia, mobil itu selalu berhenti di jarak yang cukup jauh dari wilayah kampus. Shopia tidak ingin terlihat mencolok, apalagi jika Alisa melihat sudah pasti dia akan menjadi bahan ejekan lagi.


"Jemputlah seperti biasa," ucap Shopia sebelum keluar dari mobil dan berjalan menuju kampus.


Seperti itulah yang dia lakukan setiap hari meski sekarang mudah saja baginya untuk memamerkan kehidupan. Namun, Shopia tidak menginginkan hal itu. Dia bukan Alisa yang gila akan sanjungan.


"Shopia!"


Sebuah panggilan yang begitu akrab, membuatnya menoleh. Senyum di bibir terbit melihat Eli yang melambaikan tangan sambil berlari ke arahnya.


"Aku tadi menjemputmu ke rumah, tapi kata pemilik kontrakan kalian sudah pindah. Kenapa kau tidak mengatakannya padaku," ucap Eli memberengut kesal.


"Maaf, aku lupa memberitahumu. Kau berangkat dengan siapa?" tanya Shopia.


"Dengan ayahku, kantor memberikan sebuah mobil untuk ayah pulang dan pergi bekerja. Aku ingin pamer padamu, tapi ternyata ...." Eli menghela napas, kecewa karena tujuannya tidak tercapai.


"Ah, sudahlah. Lain waktu kita akan berangkat bersama-sama," ucap Shopia disambut anggukan kepala Eli.


Lain waktu, aku yang akan menjemputmu, Eli.


Shopia bergumam di dalam hati, sembari membayangkan jika waktunya sudah tiba dia akan memberitahu Eli segalanya. Kedua sahabat itu melangkah sambil bercengkrama, tersenyum dan bercerita banyak hal. Terutama tentang kegiatan Shopia selama masa hukuman.


"Aku berlatih menurunkan berat badan, kau tahu persiapan untuk acara lomba nanti."


Eli mengangguk-anggukkan kepala, semua siswa tahu bahwa Shopia menantang Alisa dalam kompetisi kecantikan tahun ini. Eli menceritakan tentang persiapan penyambutan pemilik yayasan yang akan dilaksanakan pada hari lomba itu juga.


Shopia mengerutkan alis, pasalnya dia tidak pernah tahu bahwa sang nenek akan turut hadir dalam acara tersebut. Kenapa Nenek tidak mengatakannya padaku?


"Kenapa pemilik yayasan datang dalam acara tersebut? Seingatku dia tidak pernah hadir, bukan?" tanya Shopia dengan bingung.


Eli menghela napas, menghendikan bahu sambil menjawab, "Itulah ... kudengar beliau datang untuk acara peresmian gedung baru."


Shopia membulatkan bibir, menganggukkan kepala. Di kejauhan, Alisa dan kelompoknya menatap tak senang dua sahabat itu. Dendam dari kekalahan masih menumpuk di hatinya dan itu ingin membuat Alisa lebih menyakiti Shopia.


"Kau lihat, untuk apa si Pigy itu mengenakan masker?" ucap salah satu teman Alisa mulai memprovokasi.


"Mungkin wajahnya jauh lebih buruk dari sebelumnya, dan dia tidak ingin semua orang tahu," sahut yang lain sambil mencibir.


Alisa tersenyum jahat, tanpa berkata-kata dia berjalan meninggalkan tempat duduknya. Mendekati arah datangnya Shopia, dan tanpa diduga menarik masker yang menutupi sebagian wajah gadis itu.


Seketika, tawa menggelegak dari mereka. Melihat wajah Shopia yang memerah dan buruk, Alisa dan teman-temannya langsung menjadikan gadis itu buli-bulian.


"Kukira kau memakai ini karena wajahmu yang berubah cantik, tapi ternyata ... ck, ck, ck!" Alisa berkacak pinggang, menggelengkan kepala mencibir Shopia.


"Kenapa kau melakukan ini, Alisa? Kenapa kau terus menerus menggangguku? Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain selain menggangguku?!" hardik Shopia penuh emosi.


Kedua tangannya terkepal menahan gejolak amarah, dia sudah menghindari masalah, tapi masalah itu seolah-olah datang dan terus mengganggunya.


"Ugh! Lihat, Pigy ini marah. Jangan marah, Pigy kecil. Aku hanya penasaran saja kenapa kau memakai masker ke kampus, itu tidak biasanya." Alisa menghendikan bahu, membuang masker ke lantai begitu saja.


Desas-desus memenuhi telinga Shopia, membuat darahnya mendidih seketika. Ingin rasanya mencakar wajah Alisa, tapi kejadian kemarin masih terlalu hangat untuk dilupakan. Shopia memilih pergi tanpa ingin menanggapi. Sudah cukup rasanya dia menjadi bahan ejekan dan tertawaan semua orang.


Lihat saja, Alisa. Pada waktunya nanti kau akan menyesali semua yang telah kau lakukan!