
"Shopia, kenapa rambutmu berantakan begini?" tanya sang ibu ketika Shopia tiba di rumah. Raut kekhawatiran jelas terlihat di wajah yang sama kusam seperti dirinya.
Shopia tersenyum, kemudian terkekeh untuk menutupi kesedihan hati. Tak akan mungkin dia mengatakan apa yang terjadi di kampus kepada ibunya.
"Aku kurang berhati-hati, Bu. Aku terpeleset di toilet karena terburu-buru," kilah Shopia sambil memasang wajah menggemaskan.
Sang ibu menggelengkan kepala meski hatinya ingin kembali mencecar Shopia dengan pertanyaan. Ia menepuk lembut bahu anaknya, mengusap rambut berantakan tersebut.
"Ya sudah. Mandilah, lain kali kau harus berhati-hati." Suara lembut saat menasihati Shopia terdengar seperti kidung merdu yang mengalun dan menenangkan.
Shopia mengangguk, melangkah sambil mendekap buku-buku di dada. Berjalan menunduk, mengusap air mata diam-diam, dan masuk ke dalam kamar. Di ambang pintu, sang ibu terus memperhatikan punggung gadis bertubuh bongsor itu.
Ia tahu ada sesuatu yang terjadi pada anaknya, tapi apalah daya. Ia takut Shopia akan semakin menjadi bahan ejekan di sekolah ketika muncul di sana.
"Kau harus bersabar, sayang." Hanya bisa bergumam sambil menahan nyeri di dalam dada. Seandainya ayah Shopia masih ada dan mau bertanggungjawab, mungkin kehidupan mereka tak akan sesulit sekarang.
Sayang, laki-laki itu pergi dan memilih wanita lain hanya karena ingin hidup enak. Meninggalkan dirinya dan Shopia yang saat itu akan lulus dari sekolah dasar. Ia menggelengkan kepala, menepis semua kenangan tentang laki-laki yang pernah menabur cinta sekaligus benci di hatinya.
Menyiapkan makan untuk Shopia selalu berhasil mengalihkan perasaannya dari rasa sakit karena ditinggalkan.
"Laki-laki itu tidak baik untukmu, percaya pada ibu." Peringatan dari sang ibu, nenek Shopia, selalu terngiang-ngiang di telinga ketika teringat padanya.
"Ibu benar, dia memang laki-laki yang tidak baik untukku. Dia pergi karena tidak bisa hidup miskin denganku, tapi menyesal pun tiada guna sekarang. Mungkin sudah nasibku seperti ini." Selalu kalimat itu yang terlintas di dalam benak untuk menghibur keadaan hatinya.
Dia mulai meracik sayur, ikan, dan lainnya yang dibeli setelah lelah berjualan. Yang terpenting baginya, Shopia bisa makan dan bersekolah. Sesekali akan menyeka air mata meski bibir mengukir senyum. Keceriaan dan kebahagiaan Shopia saat menyantap masakannya menjadi obat pelipur lara.
****
Keesokan harinya, Shopia berangkat ke kampus setelah membantu sang ibu menyiapkan jualan. Seolah-olah tak pernah terjadi apapun, dia pergi dengan ceria. Bertemu dengan Eli, sahabatnya. Bermain, bercengkrama, dan makan bersama. Hanya gadis berambut pendek itu yang mau menjadi temannya.
Namun, Shopia mendesah kecewa saat tiba di kelas dan duduk, Eli tak kunjung menempati bangkunya.
Kau tidak masuk kelas lagi?
Shopia mengirim pesan padanya.
Tidak. Maafkan aku, Shopia. Aku masih tidak enak badan. Jaga dirimu, jangan melakukan hal bodoh karena aku tak ada di sana.
Pesan balasan yang dikirim Eli sukses membuat bibir Shopia tersenyum getir.
Iya. Cepat sembuh, aku tak ada teman di sini.
Shopia menutup ponsel dan menyimpannya ke dalam saku. Mendesah sekali lagi, menunduk di atas meja. Kelas masih belum terlalu ramai. Teringat kejadian kemarin, rasanya Shopia tak ingin pergi belajar. Namun, bila teringat wajah wanita paruh baya di rumahnya, semua yang terjadi bukanlah apa-apa.
Bunyi derap langkah yang tak asing membuat tubuh Shopia menegang dengan sendirinya. Tak berani mengangkat wajah, menahan degup di dada. Ia kepalkan tangan, bersiap menerima perlakuan kasar yang kerap mereka lakukan.
"Selamat pagi!"
Shopia mendesah lega ketika suara dosen mendahului aksi mereka. Alisa dan temannya mendesah kecewa, lantas duduk di bangku mereka. Melirik sinis pada Shopia yang tak menggubris kehadirannya. Pelajaran dimulai, Shopia begitu tekun memperhatikan apa yang diberikan dosen mereka.
"Tomi? Kali ini apa alasanmu?" Dosen bersedekap dada, melayangkan tatapan penuh intimidasi pada idola kampus itu.
Tatapan memuja yang dilayangkan para gadis di kelas menjadikan Tomi sebagai sosok yang angkuh. Merasa di atas awan, dan selalu bersikap menentang.
"Jalanan macet, Pak." Ia mengedipkan sebelah mata ketika menatap Alisa. Satu kecupan jauh menjadi balasan, membuat Shopia berkecil hati.
Gadis bertubuh subur itu menunduk, mengalihkan perhatian pada buku di hadapan. Akhirnya, Tomi bebas dari cercaan dosen, berjalan pelan melewati Shopia, meliriknya untuk beberapa saat. Lalu, duduk di samping Alisa.
****
Jam istirahat tiba, semua siswa berhamburan pergi ke kantin. Akan tetapi, Shopia memilih pergi ke taman karena tak ada Eli bersamanya. Membuka tas bekal, dan makan dengan tenang.
"Seandainya aku dari keturunan orang kaya, mungkin perlakuan mereka akan berbeda. Sayang, bahkan ayahku saja pergi meninggalkan ibu karena tak ingin hidup susah. Miris sekali!" gumam Shopia bergetar bila mengingat hari di mana sang ayah pergi dengan begitu tega.
Tak berselera, Shopia menutup kembali bekal yang baru sedikit dimakannya. Mengeluarkan pensil dan sebuah buku, menyalurkan hobinya menggambar. Pada kesempatan itu, ia melirik ke lapangan membayangkan adanya Tomi sedang bermain.
Dengan garis bibir terangkat, Shopia mulai menorehkan garis demi garis pada kertas membentuk rupa rupawan milik sang idola. Hanya itu yang dapat ia lakukan, memendam rasa cinta tanpa bisa mengungkapkan.
"Lis, coba lihat, sedangkan apa si Pigy di sana?" Kelompok Alisa keluar dari kantin yang tak jauh dari taman tempat Shopia duduk menggambar.
Tanpa menjawab, Alisa membawa langkah angkuhnya mendekati Shopia. Melirik sambil mencibir, tapi seketika hatinya mencelos setelah melihat apa yang digambar Shopia. Direbutnya buku tersebut membuat Shopia memekik.
"Hei! Apa yang kau lakukan ... Alisa?" Shopia bangkit dengan wajah memerah.
Alisa memperhatikan gambar tersebut, begitu serupa dengan Tomi. Melirik Shopia dengan rahang mengeras, meremas gambar tersebut. Ia mendekat, tanpa instruksi menarik rambut Shopia dengan kuat.
"Sudah aku katakan kau harusnya bercermin, Pigy! Kau tidak pantas untuk Tomi. Bahkan, tidak untuk mengagumi walaupun secara diam-diam." Alisa menggertak tepat di dekat telinga Shopia.
"Argh! Sakit ... lepaskan, Alisa!" rintih Shopia sambil meringis memegangi tangan Alisa yang begitu kuat. Air matanya jatuh tanpa komando, terulang lagi.
Alisa menghempaskan tangannya membuat Shopia jatuh tersungkur. Lalu, menatap sekumpulan siswa yang mengerubungi tempat tersebut. Diangkatnya kertas di tangan, menunjukkan pada semua.
"Kalian lihat! Diam-diam dia mencintai idola kalian. Melukis wajahnya dengan penuh perasaan cinta tanpa tahu diri. Dia tidak bercermin, atau mungkin tidak memiliki cermin. Dia hanya akan membuat malu Tomi jika terus-menerus seperti ini. Apa kalian mau idola kita malu karena dikejar-kejar si Pigy ini!" Suara Alisa membumbung lantang.
Sorakan demi sorakan membuat Shopia semakin menangis. Malu, sudah jelas ia sangat malu karena tak satu pun orang tahu tentang perasaannya terhadap Tomi. Bahkan, laki-laki itu sendiri.
Tomi merebut kertas tersebut, melihat dengan geram lukisan wajahnya meski sedikit mengagumi. Rahangnya mengeras, kembali meremas benda itu dan menatap nyalang pada Shopia.
"Aku tidak tahu kau mendapat keberanian dari mana sehingga tanpa tahu malu mencintai aku, tapi aku tidak menyalahkan dirimu karena hampir semua siswa memang mengagumiku." Sedikit harapan terbesit di hati Shopia, ia mengangkat wajah menatap Tomi dengan perasaan yang ... entah.
"Semuanya kecuali ... dirimu seorang. Aku tidak sudi memiliki pengagum bertubuh besar seperti b*bi. Apa kau tidak bercermin? Kau hanya akan membuatku malu. Berhenti di sini sebelum aku melakukan tindakan kasar terhadapmu!" ancam Tomi seraya melemparkan kertas tersebut ke arah Shopia dan berlalu pergi bersamaan dengan harapan yang sempat timbul di hatinya.
Shopia kembali menunduk, tapi kali ini tidak menangis. Ia meremas rumput hingga tercabut beberapa helai. Hatinya mendendam, rasa kagum berubah menjadi benci. Dia malu ketika sorakan semua siswa kembali menggema.
Alisa memungut kertas itu lagi, mengeluarkan pemantik, dan membakarnya sambil tertawa. Kertas tersebut menjadi abu. Shopia menatapnya dengan nanar, tak terisak meski air terus jatuh dari pelupuk.
Akan aku ingat perlakuan kalian, akan aku ingat wajah kalian. Akan aku ingat semuanya!