Don'T Call Me Pigy

Don'T Call Me Pigy
Rencana Nenek



"Apa?" Wanita tua yang semula duduk di kursi dengan tenang sontak saja berdiri setelah mendengar kabar yang disampaikan seseorang padanya. Wajahnya memerah dipenuhi api amarah, sorot matanya ikut menajam seolah-olah ingin melahap habis siapa saja yang dianggap sebagai mangsa.


"Mereka bahkan menghukum nona Shopia karena kejadian itu, Nyonya," lanjut sang pelapor semakin menyulut emosi di dalam hati tuanya.


"Kurang ajar mereka! Berani-beraninya berbuat seperti itu terhadap cucuku!" geram Nenek menatap nyalang kekosongan di depan mata.


"Itu semua karena mereka tidak tahu siapa sebenarnya nona," ucap pelapor itu lagi. Kali ini, bola mata Nenek berpindah padanya.


Benar, semua ini karena status Shopia yang masih tersembunyi sebagai cucu pemilik tempat tersebut. Ia menghela napas, kembali duduk sambil termenung memikirkan sebuah rencana.


"Kapan peresmian gedung baru akan diadakan?" tanya Nenek setelah berhasil menenangkan hatinya.


"Saat lomba dimulai, Nyonya," ucap pelapor tersebut.


"Sampaikan pada mereka jika kali ini aku sendiri yang akan datang," titah Nenek.


Pelapor tersebut mendongak, menatap Nenek dengan ekspresi heran di wajah karena selama ini ia hanya memerintahkan asistennya yang datang dan tidak pernah menampakkan diri secara langsung.


"Baik, Nyonya!"


Nenek mengibaskan tangan, memintanya untuk pergi. Ia tidak dapat melakukan pembelaan untuk sekarang karena Shopia sendiri yang meminta disembunyikan identitasnya. Helaan napas panjang berkali-kali berhembus demi mengurai sesak di dalam dada.


Menunggu kedatangan anak dan cucu dengan cemas sambil berpikir hukuman apa yang pantas untuk sang kepala yayasan atas kesalahannya menggertak Shopia.


"Aku harus mengambil tindakan karena jika tidak, mereka terus akan semena-mena terhadap siswa. Memang mereka pikir siapa Adinata itu? Sampai-sampai harus tunduk dan patuh padanya. Lihat, apa yang bisa aku lakukan pada mereka?" gumam sang Nenek sembari membayangkan sebuah perusahaan.


Ia tidak pernah tahu wajah-wajah mereka, hanya mendengar laporan dari asisten yang selalu menggantikan dirinya setiap kali pertemuan. Yang ia tahu, Adinata adalah salah satu orang berpengaruh di kota itu.


Beberapa saat menunggu, Shopia dan ibunya tiba di rumah. Keadaan wajah mereka kusut, terutama Shopia yang harus menerima hukuman skorsing selama satu bulan lebih. Ia hanya berdiam diri di rumah menunggu waktu hukuman habis.


"Kalian tidak apa-apa?" Nenek berhambur mendekat, langsung memeriksa keadaan tubuh sang cucu.


Shopia menggelengkan kepala lesu, ambruk di sofa melepaskan lelah yang menggelayuti tubuhnya.


"Nenek sudah mendengar semuanya, manfaatkan waktumu untuk memulai pelatihan, Shopia. Agar saat hukumanmu selesai, kau sudah berhasil merubah dirimu," ujar sang nenek penuh perhatian. Ia mengusap rambut Shopia dengan lembut, memberinya dukungan meski di dalam hati amarah kembali memuncak.


Shopia tercenung, kemudian menganggukkan kepala pasti. Awalnya dia bingung harus apa, tapi setelah mendengar saran dari Nenek ia menjadi bersemangat menghabiskan masa hukumannya.


"Baik, Nek. Shopia akan melakukan yang terbaik," ujarnya dengan yakin.


Nenek tersenyum puas, ia melirik Ayunda, ibunya Shopia yang hanya terdiam setelah tiba di rumah. Hal seperti ini sering terjadi pada Shopia, tapi kali ini berbeda. Biasanya, sang anak tidak pernah terlibat pertengkaran dengan siapapun, apalagi siswa yang bernama Alisa yang jelas-jelas begitu disegani.


Ia pikir mungkin karena status Shopia sekarang berbeda meski masih tersembunyi. Dia memiliki dukungan yang kuat di belakang layar ketika terjadi masalah besar nantinya.


"Istirahatlah, kau pasti lelah," ucap sang nenek kepada Shopia.


Gadis itu menurut, beranjak pergi ke kamarnya. Meninggalkan dua orang yang saling berhadapan dengan raut wajah berbeda. Nenek menatap ibu Shopia dengan lekat, beribu pertanyaan yang muncul dalam benak membutuhkan jawaban.


"Apa kalian sering mendapatkan perlakuan seperti ini?" Pertanyaan yang dilontarkan Nenek membuyarkan lamunan Ayunda.


"Biasanya tidak pernah seperti ini, tapi sekarang berbeda. Mungkin karena Shopia merasa ada dukungan di belakangnya," ucap Ayunda sembari mengingat-ingat kembali masa-masa di mana Shopia hanya diam dan tak pernah bicara.


Nenek menghela napas, menggelengkan kepala pelan.


"Bukan! Kau salah, semua itu karena Shopia merasa sudah waktunya untuk melawan dan berhenti berdiam diri saat ditindas. Shopia sebenarnya tidaklah lemah, dia hanya tidak percaya diri untuk melakukan itu."


Ayunda tercenung, mematri tatapan pada sang ibu yang baru saja berujar. Ia lantas menunduk, menghela napas. Ikut berpikir mungkin yang dikatakan wanita tua di hadapan ada benarnya.


"Yang perlu kita lakukan saat ini adalah, mendukung sepenuhnya Shopia agar kepercayaan dirinya tumbuh kembali. Kau sebagai ibunya berperan sangat penting dalam hal itu," tutur Nenek menatap lekat putri semata wayangnya yang menunduk.


Ayunda kembali menghembuskan udara, mengangkat wajah bertatapan dengan manik tua di depannya.


"Ibu benar." Ia tersenyum, mengangguk pasti untuk keberhasilan Shopia melawan kelemahannya. Mereka berdua harus menjadi kekuatan bagi Shopia, menjadi dorongan untuknya kembali meraih kepercayaan diri.


****


Beberapa hari setelah kejadian tersebut, kabar tentang akan kedatangan sang pemilik yayasan pun disebarkan kepada seluruh penghuni kampus. Ada banyak mahasiswa berbakat dikumpulkan untuk membuat sebuah acara penyambutan meriah pada saatnya nanti.


Termasuk di dalamnya Alisa, masing-masing berlatih untuk acara besar itu. Ini adalah kali pertama pemilik yayasan datang langsung ke kampus karena biasanya hanya mengirim utusan saja. Tidak ada yang tertinggal untuk memeriahkan acara tersebut, kecuali Shopia.


Siswa yang dikucilkan, tidak terkenal, dan tidak dilirik sama sekali oleh sebagian besar penghuni tempat tersebut. Namun, kabar yang sampai ke telinga Shopia, tidak serta merta membuatnya marah. Ia terlihat biasa saja, dan terus berlatih menurunkan besar badan.


"Kau tidak apa-apa?" tanya sang nenek cemas, pasalnya kabar itu pun terdengar olehnya.


"Tidak apa-apa, Nek. Aku sudah terbiasa dengan hal itu. Lagi pula aku tidak tertarik untuk turut andil dalam acara seperti itu," jawab Shopia sembari mengelap keringat di wajahnya yang bercucuran.


Ia baru saja diizinkan beristirahat untuk sekedar membasahi tenggorokan sebelum kembali melanjutkan latihan. Awalnya Shopia mengeluh, tapi semakin lama semakin terbiasa dan tidak bisa berhenti.


"Sudah ada perubahan?" tanya Nenek kepada pelatih Shopia.


"Belum signifikan, Nyonya," jawabnya sembari melirik Shopia yang beberapa kali kedapatan melanggar pantangan.


Gadis itu meringis, melengos dan berpamitan pergi meninggalkan mereka. Lirikan mata pelatihnya itu begitu tajam dan tak enak dilihat. Ia bergidik ngeri, terus berjalan menuju lantai satu.


"Ada apa?" tegur sang ibu yang tengah menyiapkan makan siang bersama para asisten rumah tangga saat Shopia tiba di dapur.


"Tidak ada apa-apa, Bu." Mata Shopia menjegil melihat menu yang sama setiap hari yang disiapkan Ayunda untuknya.


"Bu, sesekali jangan seperti ini terus. Aku bosan," keluhnya sembari menunjuk aneka sayur yang hanya direbus.


Ayunda tersenyum, menepuk bahu sang anak. Sebenarnya, ia pun tidak tega. Namun, harus bagaimana lagi, demi Shopia mencapai tujuannya ia harus melakukan semua yang diperintahkan Nenek dan pelatih Shopia.


"Ingat tujuanmu, sayang. Waktunya tinggal sebentar lagi, jangan mengeluh. Ibu yakin, kau akan berhasil," ucap sang ibu memberinya dukungan.


Shopia mendengus, tapi tak urung jua enggan untuk mengeluarkan protes. Bagaimanapun dia memiliki tujuan kenapa mau melakukan itu semua.