Dionysus

Dionysus
4. Sang bakkheia.



Author Point Of View


sesaat allura masih belum sadar, lalu setelah kesadaran nya kembali ia dengan cepat menampar pipi sean dengan keras. beraninya pria itu.


"dasar brengsek, kau sebut aku apa?!" allura lalu berjalan menjauh dan kembali berkata, "apa-apaan kekurang ajaran mu ini tuan? saya tidak percaya ini, anda benar-benar pria bajingan, hari ini saya akan menyerahkan surat pengunduran diri saya, ini benar-benar pelecehan!" saat allura ingin keluar dari ruangan itu tiba-tiba sean mengatakan sesuatu yang membuatnya tiba-tiba membeku ditempat.


"ah xelisa sialan itu ku kira dia meninggalkan putri nya dengan sifat yang sama sepertinya, sama-sama -- " sean menggantungkan ucapannya selagi melihat reaksi terkejut allura saat mendengar nama ibunya di sebut.


"murahan" ucap sean datar selagi mengusap pelan ujung bibirnya yang bengkak karna tamparan keras allura, dari sini jelas terlihat ekspresi terkejut allura, wanita itu pasti terkejut setengah mati mendengar nya, apalagi itu bersangkutan dengan ibunya.


allura naik pitam, ia hendak menendang kuat rahang kokoh sean yang berbicara tak sopan itu, jangan anggap allura lemah dia adalah pemegang sabuk hitam di taekwondo, tetapi ia tahan semua itu karna mungkin saja ia akan terkena masalah, melihat situasi ada cctv dimana-mana, ditambah dia adalah orang paling tinggi kekuasaannya disini.


"jaga ucapan anda tuan, saya bahkan baru bertemu dengan anda tetapi apa-apan semua ketidak sopanan ini?"


"kau bisa tanyakan semua ini kepada wanita itu, yap xelisa ibu kandungmu yang menghilang 10 tahun lalu." sean tersenyum sambil berjalan mundur dan duduk di kursi kekuasaannya.


wanita itu lagi? kenapa dia bisa mengenal nama wanita sialan itu? wanita yang telah mencampakkan anak-anaknya dan suaminya. bahkan aku muak mendengar namanya. batin allura.


sean hanya memandang nya datar dan melihat allura tidak perduli lalu kembali duduk di kursi nya, dan menatap allura yang wajah nya terlihat ingin segera mengetahui maksud sean tentang ibunya.


" aku akan menghacurkan kau terlebih dahulu, ah tidak kakakmu yang cantik itu dulu baru kau, dan yang paling terakhir adalah ibu mu. " sean menatap allura lamat-lamat, ekspresi allura saat ini sangat menarik karna wajahnya yang panik itu, membuat sean terkekeh pelan.


"kau tidak waras! aku bahkan baru bertemu dengamu, dan apa-apaan semua ancaman ini? kau bagaimana bisa mengenal wanita itu? dan aku peringatkan jangan pernah menyentuh kakakku! dia tidak ada hubungannya dengan semua ini!"


"xelisa aditama, dia adalah alasan dari hancurnya kehidupan keluargaku, tahu kah kau? dan kalian! kalian adalah anaknya! kalian pantas menerima apa yang telah ibu kalian lakukan!"


"a-apa maksudmu?k-kau sebenarnya siapa kau?!!" allura berteriak kencang lalu tiba-tiba sebuah telepon berdering, itu adalah milik allura.


"aku rasa kau harus mengangkat telpon itu, itu pasti sangat penting, ingat, aku sudah memperingatimu sebelumnya." sean tersenyum kecil lalu melihat allura yang sedikit tergesa-gesa mengangkatnya.


"h-halo, ah ya ini dengan saya sendiri."


"saya dari rumah sakit nona, saudara zevana di temukan tak bernyawa di kediaman anda dengan bersimpuh darah, diduga beliau bunuh diri."