
"dari data ini, ini tahun pertamanya bekerja disini mr. ” lucas memberikan sebuah file dan meletakkan nya di meja kebesaran sean.
“tahun ini dia tepat berusia 23 tahun.”ucap lucas kemudian.
“allura wijaya, dari divisi pengembangan, wanita ini, cari tahu semua tentang diri nya dan kakaknya juga”
"menurut data, nona allura saat ini sedang tidak menjalin hubungan dengan siapa-siapa, tapi kakaknya adalah tunangan theo kusuma, ceo muda dari kusuma corp yang tahun lalu baru menggantikan ayahnya yang telah wafat."
"theo kusuma? maksudmu pria yang kemarin baru memperbarui kontrak saham dengan kita?"
"benar mr. "
"jadi fakta itu valid adanya?" ucap sean lirih
"ya mr. ?" lucas menjawab sean dengan bingung
"ah tidak "
"cepat sambungkan aku dengan ceo muda itu, aku ingin memberikan dia penawaran yang menarik untuknya"
“dan lagi panggil nona muda itu untuk menghadapku setelahnya. ”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"dengan nona allura?" suara itu mengejutkan ku saat tengah membuat kopi di pantry, hari ini aku begadang untuk presentasi upcoming produk baru, jadi aku sedikit mengantuk dan membuat kopi, tapi alhasil kopi itu sedikit tumpah dan merembes kemana-mana, karena kecerobohanku.
"ah iya benar, ada apa ya?" balas ku dengan nada sopan setelah meletakkan poci kopi itu diatas meja lalu berjalan mendekat dengan sopan.
"saya sekertaris tuan ceo, nona allura bisa ikut saya sebentar? tuan ingin berbicara kepada anda" kening ku berkerut bingung, tuan? ceo perusahaan ini ada perlu apa kepadanya yang hanya seorang pegawai biasa di sini, dan apa-apaan pemanggilan pribadi ini?seingatku, aku tidak melakukan kesalahan apapun yang merugikan perusahaan.
"ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan"
aku semakin menyerngitkan keningku kebingungan.
lalu untuk apa dia memanggilku?ada urusan apa? ck,merepotkan! tapi dia bosku, tidak mungkin aku menolaknya, lebih baik aku cari aman saja.
"baiklah"
tak lama, aku menaiki lift untuk sampai ke lantai paling atas tepatnya lantai 20 dimana ruangan dari ceo, aku merasa sedikit takjub saat melihat bangunan-bangunan dari bawah sini, benar-benar beda level ceo ini! dan sampailah aku dan tentu saja bersama tuan sekretaris, karna untuk kelantai paling atas membutuhkan akses, khusus untuk orang-orang penting dan pejabat tinggi di perusahaan ini yang memilikinya, pegawai sepertiku hanya serpihan debu, jadi jangan ditanya.
didepan ku telah terpampang sebuah pintu besar berwarna coklat tua yang megah, aku lalu mengetuknya dan mengagguk kepada tuan sekretaris isyarat untuk berterima kasih dan dibalas anggukan kembali oleh tuan sekretaris, sampai sebuah suara mengintruksiku.
"masuklah." titah suara bariton itu kepadaku, lalu aku masuk dengan sopan, didalam aku disambut dengan interior ruangan yang sangat mewah dan tersusun rapi, rak-rak buku itu sangat besar dan meja kekuasaan tuan ceo itu sangat indah, disana aku melihat tuan duduk membelakangiku di kursi kebesarannya.
"permisi, apa bapak memanggil saya?" aku berusaha dengan sangat tenang dan sopan agar suaraku keluar dengan normal dan tidak tercekat.
"jadi anda nona allura, dari divisi pengembangan dan ini tahun kedua anda bekerja disini?" tuan muda itu membalikan kursinya lalu menatapku dengan tatapan yang tidak bisa di tebak, lalu setelah itu tersenyum ramah, tuan muda ini... wajah nya memang benar-benar tampan seperti yang orang-orang katakan, tetapi kenapa aura nya sangat mematikan seperti ini?aku merasa akan ditelan hidup-hidup oleh nya saat ini juga melihat tatapannya yang sangat mendalam itu.
"nona allura?apakah anda mendengar saya?"
"y-ya?" tak kusadari aku tenggelam dengan aura nya yg sangat mengintimidasiku, pria ini, aku sangat yakin dia pria berbahaya, instingku selalu benar.
" a-ah benar pak, ini tahun kedua saya berada di perusahaan ini " aku sedikit tergagu saat menjawab pertanyaan, dan tiba-tiba pria itu tersenyum kecil, tidak itu bukan senyuman, itu seringai yang sangat tidak bisa di artikan, aku melihatnya!
tiba-tiba dia berjalan mendekat kearah ku lalu berhenti tepat di depanku sambil menatapku dari ujung kaki hingga kekepalaku, dan pergerakan selanjutnya membuat mataku terbelalak, ia menyentuh ujung rambutku dan menciumnya selagi berkata,
"berapa harga mu?"