
Setelah menghabiskan waktu bertiga Liliyana, Astoria, dan Anastasia kembali ke rumah.
Ketika sampai di dalam rumahnya mereka bertiga melihat Petunia sedang merajut sesuatu.
Perlahan Astoria menghampiri Petunia dengan tatapan pelan.
" Ibu, apa yang cedang cau lacucan?" tanya Astoria sambil memiringkan kepalanya ke samping.
Petunia tersenyum sambil menunjukkan sebuah rajutan yang berbentuk seperti syal.
" Ibu mendapatkan benang wol murah di kota tadi, Jadi Ibu membelinya mengingat sebentar lagi musim dingin tidak ada salahnya untuk membuat syal kalian. Lihat ini cantikan." ucap Petunia sambil menunjukkan syal berwarna merah kepada si triplets.
Mata Liliyana, Astoria, dan Anastasia berbinar sambil menggangguk kepalanya sudah lama sekali tidak ada yang mempedulikan mereka.
Petunia yang senang langsung memasangkan ketiga syal sudah jadi kepada Liliyana, Astoria, dan Anastasia.
Liliyana yang melihatnya hanya bisa terdiam dengan pandangan haru bisa dilihat bahwa ada nama L dibawah syal nya mengartikan itu miliknya.
Begitu juga Astoria dan Anastasia yang juga terharu dengan mata berkaca-kaca.
" Ini sangat hangat." batin ketiganya merasakan bertapa hangatnya syal rajutan itu.
Petunia tersenyum puas melihat hasil buatan nya dipakai ketiga puterinya.
" Jadi bagaimana apa kalian suka?" tanya Petunia sambil tersenyum.
Liliyana, Astoria, dan Anastasia menggangguk kepalanya sebelum kemudian memeluknya Petunia.
" Kami sangat menyukainya." ucap ketiganya sambil tersenyum lebar penuh kebahagiaan.
Sepertinya menjadi si kembar tiga jahat tidak buruk karena akhirnya mereka bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu.
Lilyana yang tidak bisa tertidur hanya membuka matanya sambil menatap langit-langit terbuat dari kayu. Ia sedang berpikir apa rencana selanjutnya untuk bisa menghindari takdir buruk nya dan kedua saudarinya.
Sampai sekarang Liliyana masih tidak bisa mempercayai bahwa kecelakaan pesawat itu mengakibatkan jiwa nya serta kedua saudarinya terjebak di dalam tubuh si triplets seperti mereka.
Karena setelah memejamkan matanya tidak bisa akhirnya Liliyana memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan membiarkan kedua saudarinya tertidur pulas dengan senyuman di wajah masing-masing.
Hari ini Liliyana merasa bahagia karena mendapatkan hadiah syal buatan Petunia ibunya sekarang. Meskipun itu cuma hadiah sederhana entah kenapa seakan syal sangat berharga baginya dan saudarinya. Mengingat selama kematian kedua orangtua nya ia sudah terbiasa dalam cuaca dingin tanpa syal maupun jaket.
Stars shining bright above you,
Night breezes seem to whisper "I love you."
Birds singing in the sycamore tree,
Dream a little dream of me.
Liliyana mendengar suara nyanyian merasa penasaran dan memutuskan untuk mengikuti asal suara tersebut.
Ketika Liliyana sambil di halaman rumah ia melihat Petunia ibunya sedang bernyanyi sambil memandang bintang.
Just hold me tight and tell me you’ll miss me
While I’m alone and blue as can be
Dream a little dream of me
Stars fading but I linger on dear
Still craving your kiss
Now I’m longin’ to linger till dawn dear
Just saying this
Petunia terus bernyanyi sambil memejamkan matanya.
" Ibu." Ucap Liliyana yang memanggil Petunia.
Membuat Petunia menghentikan nyanyian nya sebelum kepalanya menoleh ke belakang.
" Lily mengapa kau belum tidur sayang?" tanya Petunia sambil mengulurkan tangannya.
Liliyana tersenyum sebelum memeluk Petunia dengan erat.
" Lily, cidak bisa tidul." ucap Liliyana dengan suara anak kecilnya.
Petunia hanya tersenyum sebelum kemudian bernyanyi lagi.
Stars fading but I linger on dear
Still craving your kiss
I’m longin’ to linger till dawn dear
Just saying this
Sweet dreams till sunbeams find you
Leave the worries behind you
But in your dreams, whatever may be
You’ve gotta make me a promise, promise to me
You’ll dream, dream a little dream of me
Liliyana mendengar suara ibunya tanpa sadar memejamkan matanya sebelum kemudian tertidur dengan perasaan damai. Bahwa sekarang ia ada dalam perlindungan ibunya.
Countine...