
Setelah berkemas dengan keributan yang terjadi akhirnya Alina, Alana, Aluna sudah berada di bandara.
Sejak tadi entah kenapa Alana memiliki firasat tidak nyaman bahkan ketika mereka bertiga sudah duduk di kursi pesawat.
Alina yang melihat kegelisahan saudarinya sontak bertanya.
" Alana, apa kau baik-baik saja?" Tanya Alina yang kebetulan duduk di samping Alana.
Alana yang sedang termenung langsung tersadar sambil mengalihkan pandangannya.
" Aku baik-baik saja mungkin karena kemarin tidak tidur nyenyak. Jadi sekarang aku mengantuk." Ucap Alana sambil menguap.
Alina yang mendengarnya sedikit tidak percaya tapi ia hanya menggangguk kepalanya sebelum kemudian memasang earphone sambil menyandarkan kepalanya di kursi menikmati penerbangan.
Begitu juga dengan Aluna yang perlahan sudah mulai tertidur sambil menyandarkan kepalanya di bahu Alana.
Alana melihat kedua saudaranya mulai santai hanya memperhatikan sebelum mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak ia harapkan.
" Aku harap jika kita mati bersama, kita akan selalu bersama- sama." Ucap Alana sebelum kemudian ikut memejamkan matanya seperti Aluna.
Entah sampai kapan Alana tertidur karena tiba-tiba saja bahu nya di goyangkan berkali-kali membuatnya terbangun dan melihat ekspresi ketakutan Alina dengan matanya berlinang air mata.
" Alina mengapa kau menangis?" Tanya Alana secara refleks bertanya merasa khawatir dengan Alina.
" Hiks...kakak kita akan mati hiks...." ucap Alina sambil menangis menjawab pertanyaan Alana.
Alana yang mendengarnya menyerngitkan dahinya bingung sebelum kemudian ia mendengar ucapan Aluna.
" Pesawatnya akan jatuh." Ucap Aluna singkat sebelum kemudian menggenggam tangan Alana dan Alina seolah memberikan mereka kekuatan.
Setelah mendengar penjelasan dari Aluna langsung saja telinganya mendengarkan suara tangisan dan teriakan semua orang yang panik karena ternyata salah satu mesin pesawat di tumpanginnya mengalami kerusakan.
" Kita akan selalu bersama-sama lagipula sebentar lagi. Kita akan bertemu ayah dan ibu." Ucap Alana berusaha tetap kuat menenangkan kedua saudarinya.
Aluna dan Alina saling menggangguk kepalanya sebelum kemudian memeluk Alana.
" Kita bersaudara." ucap Alina dengan pelan sambil neneteskan air matanya.
" Selalu melindungi suka maupun duka." ucap Aluna yang terlihat tegar menghadapi kematian mereka.
" Bersama-sama selamanya." ucap Alana yang merasa sedih karena tidak bisa mewujudkan keinginannya sebagai seorang chef dan memiliki restoran sendiri.
Sekaligus Alana merasa gagal karena tidak bisa menjaga kedua saudarinya dan membuat mereka bahagia.
" Father dan Mother maafkan Alana yang tidak bisa membuat menjaga Alina dan Aluna. Maafkan kami yang menyusul kalian begitu cepat." batin Alana sebelum memejamkan matanya.
Tidak lama setelah itu pesawat itu hancur jatuh dan meledak dilaut sudah di pastikan semua penumpang tewas.
Sedangkan di sisi lain Alana merasakan sebuah kehangatan memeluknya dirinya merasa sepi dan ingin segera keluar. Tapi dirinya tidak tahu bagaimana caranya.
Di tengah-tengah kesadaran nya Alana bisa mendengar suara samar lembut di telinganya.
" Maafkan aku yang telah menjadi ibu bodoh dan membuat kalian menanggung malu memiliki seorang ibu jahat sepertiku. Tapi jangan khawatir ibu akan melindungi kalian semampu nya dan memberikan kalian kebahagiaan." ucap nya sebelum Alana merasakan ciuman di keningnya.
Tapi Alana tidak tahu siapa mencium keningnya dan siapa suara wanita asing itu. Ia hanya ingin segera menemukan Alina dan Aluna dirinya merindukan kedua saudarinya.
" Alina, Aluna dimana kalian....
Countine...