
" Jadi setelah kecelakaan pesawat itu bukannya mati. Malah jiwa kita terjebak di tubuh anak perempuan kembar tiga seperti kami." ucap Alina mengambil kesimpulan.
Alana dan Aluna menggangguk kepalanya membenarkan kesimpulan Alina. Juga Alana dan Aluna tidak bisa menyembunyikan ekspresi cemberut nya karena dari mereka bertiga hanya Alina saja yang bisa berbicara lancar tanpa cadel.
" Iya itu benal." ucap Alana sambil tersenyum tipis.
Alina yang mendengarnya menghela nafas lega setidaknya mereka tidak terjebak secara terpisah. Meskipun Alina merasa sedikit kecewa karena tidak jadi bertemu dengan kedua orang tuanya.
Aluna yang memperhatikan tingkah Alina hanya menepuk bahunya berusaha memberikannya kekuatan. Aluna tahu bahwa sebenarnya dari mereka bertiga Alina sangat merindukan ayah dan ibu nya.
" Cenanglah cuatu hali nanti cita acan beltemu dengan daddy dan mommy lagi." ucap Aluna sambil tersenyum berusaha membuat suasana hati Alina membaik.
Alina menggangguk kepalanya sebelum kemudian memeluk Aluna. Alana yang melihatnya tersenyum sebelum kemudian bergabung memeluk kedua saudarinya dan berjanji kali ini ia akan melindunginya.
Setelah itu Alana, Alina, dan Aluna mengganti piyama putih yang sudah lusuh dengan gaun biasa sama seperti pakaian tidur mereka. Mereka bertiga meyakini bahwa sekarang hidupnya sangat miskin bisa dilihat tempat tinggalnya.
Tapi mereka bertiga tidak mau berkomentar lebih dan memilih untuk keluar dari kamar dengan menggunakan sepatu hitam sudah sobek karena lantai rumah masih beralas tanah.
Di dapur mereka bertiga melihat seorang wanita berambut cokelat dengan punggung yang kurus sedang menyiapkan sarapan.
Menyadari kedatangan mereka bertiga wanita membalikan badannya sambil tersenyum hangat.
" Akhirnya kalian sudah datang mari Liliy, Astoria, dan Ana kita sarapan terlebih dahulu. Sebelum kemudian pergi ke hutan untuk mencari bahan makanan." ucap nya sambil menyuruh ketiganya untuk makan.
Alana, Alina, dan Aluna saling melirik satu sama lain karena mulai sekarang nama mereka berubah.
Menjadi Liliyana, Astoria, dan Anastasia sudah menanam di dalam hati ketiganya.
Mereka dari ketiganya hanya Anastasia saja yang sebelumnya Alina bisa berbicara lancar, Tapi dalam hati dirinya meringis karena sekarang dia adalah sang bungsu.
Kemudian Liliyana, Astoria, dan Anastasia mulai menaiki duduk di kursi sambil melihat meja makan. Tapi yang membuat mereka meringis hati adalah di meja makanan itu hanya ada empat mangkuk sup saja tanpa tambahan apapun.
Wanita yang tahu arti tatapan ketiga puterinya hanya bisa menundukkan kepalanya sedih.
" Maafkan ibu karena hanya makanan ini saja yang bisa di hidangkan." ucap wanita itu sambil memalingkan wajahnya merasa malu tidak bisa memberikan kehidupan yang baik bagi ketiga puterinya.
Liliyana, Astoria, dan Anastasia saling melirik satu sama lain sebelum kemudian turun dari kursi. Kemudian memeluk wanita itu.
" Tidac macalah mom, Lily tetap cenang bica macan buatan mommy." ucap Lily sambil memeluk sosok ibu yang sudah hilang di benak nya.
" Toli juga tidac macalah sup mommy enac." ucap Astoria sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi nya yang ompong di tengah nya terlihat menggemaskan.
" Mereka benar mommy, Ana juga mau memakan masakan mommy yang enak." ucap Anastasia sambil tersenyum tipis.
Wanita yang mendengar ucapan ketiga puterinya meneteskan air matanya haru merasa senang dan bahagia karena anaknya mau memakan masakan nya.
Sedang si Triplets saling menatap satu sama lain seolah sedang berkomunikasi lewat mata.
" Kami akan merubah takdir mu, mommy....
Countine....