
Astoria yang mendengarnya mengepalkan tangannya dengan raut wajah kesal dirinya tidak suka di rendahkan.
Liliyana yang melihat Astoria terbawa emosi langsung menepuk bahunya pelan. Membuat Astoria menatapnya sebelum kemudian menggangguk kepalanya.
" Baiklah, jika anda meragukan kami, kita akan membuat kesepakatan dimana jika dalam waktu lima menit kami sudah merasa bosan atau membuat keributan anda boleh mengusir kami dari sini. Tapi jika tidak anda harus membiarkan kami terus datang dan membaca semua buku di sini. Apa anda setuju." ucap Liliyana membuat kesepakatan.
Perempuan yang merupakan penjaga perpustakaan itu berpikir sejenak seperti nya tidak ada salahnya membiarkan mereka membaca, lagipula aku tidak yakin bahwa mereka akan bertahan lebih dari lima menit pikirannya yang masih merendahkan Liliyana dan Astoria.
" Baiklah akan saya izinkan asalkan jangan berisik terutama tidak boleh merusak buku-buku di sini atau kalian akan menerima akibat nya." ucap pengurus perpustakaan dengan nada mengancam.
Liliyana menggangguk kepalanya setuju sebelum kemudian menarik tangan Astoria untuk pergi. Karena dirinya tahu sekarang Astoria sangat marah dan benar saja setelah sudah sedikit jauh dari pengurus itu ia mengejeknya.
" Dasar wanita tua bengkok, enak saja menghina dan merendahkan kita. Aku harap dia tidak mempunyai jodoh." ucap Astoria mengumpat dengan raut wajah nya merah padam marah.
" Jangan berisik terpenting sekarang kita bisa masuk dan kita harus membuktikan nya bahwa kita bocah yang berisik." ucap Liliyana sambil tersenyum.
Tapi Astoria tahu bahwa Liliyana menahan amarahnya dengan baik. Satu hal yang diketahui nya bahwa kakak nya suka menyembunyikan emosi dan perasaannya.
Astoria menggangguk kepalanya sambil berjalan menelusuri rak-rak besar mencari buku yang mereka inginkan.
Begitu juga Liliyana yang juga menelusuri lorong-lorong dimana ada tiga rak besar penuh dengan buku. Tapi mengapa Liliyana merasa ada aura aneh di tempat dirinya berdiri. Seakan dia merasa jauh dari Astoria yang berjalan di rak-rak buku tidak jauh di depan nya.
Memang tempat sekarang Liliyana berada dibagian pojokan dimana suasana terlihat suram, juga ketika melihat buku-buku nya sangat tidak terurus banyak sekali debu-debu menempel.
Tetapi ketika Liliyana melihat salah satu sampul buku dirinya merasa tertarik ketika membaca judulnya.
Liliyana ingin mengambil buku itu sebelum suara Astoria mengurungkan niatnya.
" Lihatlah, Lily aku menemukan nya." ucap Astoria sambil menunjukkan buku yang mereka cari.
Liliyana menurunkan tangannya yang tadi berniat untuk mengambil buku tadi.
" Wah...ini bagus Tori, ayo kita baca sekarang dan kita harus membuat rencana bagaimana bisa bertahan hidup di sini." ucap Liliyana dengan nada suara yang antusias.
Astoria yang mendengarnya menggangguk kepalanya. Tetapi tiba-tiba saja pikiran nya tertuju pada Anastasia.
" Lily, apa tidak terjadi sesuatu pada Ana dan Ibu?" tanya Astoria.
" Tenang saja meskipun Anastasia sedikit tidak antusias, Pastinya ia akan senang juga dan sudah berapa kali aku bilang biarkan dia untuk membuat dirinya." ucap Liliyana dengan nada sedikit mengomel.
Astoria hanya tersenyum kecil sebelum kemudian menyuruh Liliyana untuk duduk di tempat yang sudah disediakan.
Mereka berdua duduk secara berdampingan sebelum kemudian memulai membuka halaman pertama buku itu.
Halaman pertama memperlihatkan sebuah istana yang besar dengan beberapa kastil menjadi tiang nya.
Liliyana dan Astoria yang melihatnya sedikit bingung maksud dari gambar tersebut.
Countine....