
huufftt
Sejenak Vera menghela nafas, sampai poninya sedikit tertiup. Sebenarnya, tubuhnya telah lelah karena seharian bekerja. Jika harus ditambah beban untuk hati, entah apakah Vera masih bisa waras.
Mau tak mau akhirnya Vera duduk bersebelahan dengan Joni di halaman kost. Di sana disediakan kursi kayu panjang dan dua kursi rotan yang keadaannya tak juga lebih baik. Alias sama-sama usangnya, tapi masih bisa digunakan.
" Ngapain masih di sini??!! " ketus Vera pada Joni.
Tak langsung menjawab, Joni justru mengumbar senyum di wajah tampannya. Kan, meleleh lagi kan, batin Vera.
" Kan tadi aku udah bilang, mau kenalan lagi sama kamu. "
" Habis kenalan langsung pergi kan? " tanyanya lagi.
" Masa langsung diusir sih? ngobrol dulu lah bentar... janji ga lama, ya ya ya...boleh ya? " jawabnya sambil pasang polos wajah tak berdosa.
Wajahnya terlihat mupeng ( muka pengen dalam arti minta perhatian, bukan arti yang lain loh ya ) sedih gimana gitu, jadi tak enak untuk menolaknya, padahal sepertinya hanya modus.
" Ya udah, kita kenalan lagi, namaku Vera, ga usah nyebutin namamu, aku masih inget, Joni kan?! " kata Vera.
Tuh, makin lebar saja senyumnya Joni. Senang sekali rasanya, namanya masih diingat oleh gadis manis yang menarik hatinya itu.
" Syukurlah kalo masih inget, aku jadi ga enak hati nih, karena lupa namamu. " jawab Joni sambil tersenyum.
" Nggak masalah, santai aja, udah biasa dilupakan kok. " sindir Vera.
Joni yang merasa disindir pun hanya tersenyum simpul. Sesekali Joni melirik gadis manis di sebelahnya itu.
Menurutnya, Vera ini beda dengan gadis yang pernah dia temui. Di awal pertemuan, Joni mengira Vera seperti gadis lain yang akan mengejarnya dengan agresif. Ternyata dugaannya salah, Vera tipikal gadis yang meski mau tapi tak akan langsung menunjukkan minatnya.
Merasa ada yang memperhatikan, Vera menolehkan kepalanya. Disaat bersamaan Joni pun sedang menatapnya. Sempat saling memandang sejenak, akhirnya Vera yang memutus pandangan mereka. Sedikit salah tingkah, sambil memandang ke sembarang arah Vera katupkan bibirnya erat.
" Ngapain ngeliatin terus sih ?! " ketus Vera menutupi kegugupannya.
Degh
Vera sudah sering mendengar kata pujian seperti ini, tapi entah mengapa terasa berbeda saat Joni yang mengatakan.
Tak menjawab, Vera malah tertawa sumbang, kesannya malah tak enak didengar.
Tiba-tiba Anik dan Heni datang setelah membeli makanan dan camilan. Anik sedikit terkejut dengan keberadaan Joni. Heni berbisik-bisik di telinga Anik, apalagi ya membicarakan tentang Joni dan Vera.
Sedikit tersenyum mereka melewati Joni dan Vera, langsung masuk pintu penghubung ke kamar kost.
Tak lama, Anik kembali turun dan memanggil Vera. Dia menyerahkan sekotak terang bulan manis. Anik mengatakan bahwa itu pemberian Fikri, si penjual martabak / terang bulan. Katanya lagi, terang bulan ini khusus buat Vera, yang lain tak boleh mengambilnya.
Akhirnya Vera menyajikan terang bulan itu untuk Joni. Sambil tersenyum Joni berkata.
" ehhmm.. enak banget nih, disuguhi yang manis-manis, kayak orangnya. "
Bukannya tersipu, Vera malah merasa kesal mendengar ucapan Joni. Vera mendengus sebelum akhirnya menjawab.
" Enaklah, orang gratisan kok,," meski tak berniat menyindir, Joni merasa tersentil.
Joni hanya senyam-senyum saja mendengar ucapan Vera yang terkesan ketus. Semakin tertantang pula dirinya untuk mengenal lebih dekat lagi sosok Vera.
Joni yang notabene supel, pandai membuat mood Vera yang tadinya kesal jadi lebih baik. Dan mereka mengobrol lumayan lama sekitar sejam lebih, sampai Anik mengirim chat. Isinya apalagi jika bukan mengingatkan agar tak terlalu malam.
Peraturan kost sebenarnya melarang tamu lebih dari jam 10 malam. Dan mereka malah melanggarnya, lihat, ini salah satu sisi buruk jika kita memilih untuk mandiri, harus bisa disiplin.
Setelah Joni berpamitan pulang, Vera bergegas naik ke kamar kostnya. Setelah membersihkan tubuh, wajah juga menggosok gigi, Vera langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tak lama Vera langsung terlelap menggapai mimpi.
Vera sendirian di kamarnya, karena Yuni sedang menginap di rumah temannya. Vera sedikit bersyukur, karena tak akan ada interogasi dadakan dari Yuni.
bersambung dulu lah 🚶🚶