By My Side

By My Side
Bab 11 Pikir panjang



Antara kesal juga gemas, rasanya Vera ingin memukul Joni dengan pentungan, supaya sadar apa yang dilakukannya itu salah menurut versi perempuan.


Tanpa ba-bi-bu mengajak berpacaran tanpa ada awalan. Harusnya pendekatan dulu, kenali lebih dulu, cari tahu tentang si perempuan. Apa yang disuka, apa yang dimau, tak asal bunyi yang akhirnya membuat ilfill.


Vera merasakannya, meski tak bisa membohongi, hatinya tertarik pada sosok Joni. Tipe badboy yang memiliki sejuta pesona di dalamnya.


Tapi Vera tak mau asal menerima, mungkin karena ada rasa tak percaya pada diri sendiri. Bagaimana mungkin Joni bisa tertarik padanya.


Vera memang merasa dirinya tak kalah cantik bila dibandingkan dengan cewek-cewek lain. Tapi jelas, rasa kurang percaya diri pasti ada.


Karena sebagian perempuan pasti akan merasa ada yang kurang dengan dirinya.


Bukan, bukan berarti tak mensyukuri, ini semacam sifat alamiah.


Sama seperti perempuan yang seringkali mendahulukan hati ketimbang akalnya.


Sama seperti perempuan yang seringkali merasa cemburu yang berlebihan jika menyangkut pasangannya.


Vera memilih diam sambil menatap Joni lekat-lekat. Sekedar meyakinkan diri juga hati akan keputusan yang diambil.


Tarik nafas, keluarkan, tarik lagi, keluarkan, jangan sampai lupa, bisa bahaya nantinya.


" Kenapa diem? ga mau jawab? diem aku anggap mau dan setuju ya? " cecar Joni.


" Enak aja, mana bisa gitu? diem bukan berarti iya loh, aku lagi mikir. "


Sambil mengerutkan keningnya, Joni berkata " mikir apa lagi? jawab iya gitu, ngapain pake mikir lagi? aku tau kamu ada rasa sama aku. " ucapnya lagi.


Makin menyipit lah mata Vera, sambil bibirnya menyebik komat-kamit, macam baca mantra.


" Heh,,mana bisa langsung jawab aja tanpa mikir? ntar kalo kamu cuma PHP aja gimana? enak di kamu dong, nah aku zonk, emang ya cowok tuh maunya grasak-grusuk aja, ga tau apa gimana perasaan kami para cewek-cewek yang di- PHP in? sembarangan aja kalo ngomong, iiihh nyebelin banget tau. " semprot Vera panjang lebar.


Joni hanya menanggapi dengan menggaruk pelipis, juga pura-pura menata rambutnya yang pirang. Ternyata bisa cerewet juga nih cewek, batinnya.


Dengan mengatakan Vera tak perlu langsung menjawab saat ini juga. Vera bisa mikir sepuas-puasnya, sampai nanti ada jawaban yang pasti.


***


Setelah berkeliling alun-alun, mereka pulang, tak lupa mengambil pesanan terang bulan. Yang tentunya mendapatkan lagi bonus martabak dari Fikri.


Teman-teman Vera dengan senang hati menerima, maklum anak kost, yang gratis lebih menggoda.


Vera pun senang gratisan, tapi tak mau jika ada embel-embel di belakangnya.


Vera makin takut untuk menghadapi Fikri secara langsung. Secara, Fikri pernah terang-terangan berkata ingin berkunjung ke kost mereka. Tentunya ingin bertemu Vera, dan ingin mendapat kepastian.


Apa yang harus dipastiin coba? mulai aja belum, batin Vera.


Joni masih setia mengikuti Vera dkk pulang. Tanpa menghiraukan pandangan Fikri yang cukup tajam padanya.


Bodo amat, kita bersaing secara fair, sebelum Vera kasih jawaban, semuanya sah, batin Joni.


Haaaahhh, alamat makan telat lagi ini sih, kalo si curut satu ini masih ngintilin ke kost, batin Vera.


Yang dimaksud Vera tentu saja Joni, siapa lagi memangnya.


Apakah semua laki-laki akan seperti itu, jika sedang mengejar gadis incarannya? mungkin ada sebagian yang seperti itu, ada pula yang tidak.


Cukup diam saja, para bunga akan merapat, begitu istilahnya kan?


Ternyata sampai kost, Joni langsung berpamitan pulang. Alasannya, ada temannya yang datang ke rumahnya.


Akhirnya Vera dkk bisa menikmati makanan mereka dengan tenang. Dan bisa menikmati pulau kapuk dengan nyaman karena perut tak lagi kosong.


Bersambung dulu lah...