By My Side

By My Side
Bab 5 Judulnya Kencan



Akhirnya Vera mengiyakan ajakan Ari untuk sekedar jalan-jalan. Jalan-jalan bagi Vera, tapi tidak bagi penghuni kost lain. Mereka sibuk meledek Vera yang akan pergi kencan. Huh, kencan, kencan darimana? pacaran aja belum, batin Vera.


Jelas ini bukan kemauan Vera, tapiiiiii banyaknya desakan dari orang di sekitarnya, mau tak mau, suka tak suka akhirnya Vera mengirim chat pada Ari tanda persetujuannya.


" Yang mau ngedate kok mukanya ga semangat gitu sih, Ra? " tanya Fenty teman sekamar Anik.


Kata-katanya sih biasa saja, tapi kesannya seperti meledek gitu. Kan jadi makin bete Vera-nya.


Vera tak menjawab hanya mengulas senyum tipis saja.


" Ga boleh kayak gitu lah Ra, kasian tau si Ari-nya, dia udah yang berharap banget loh,,,,kan cuma jalan-jalan aja sebentar, ga lama, paling siang udah bisa pulang,,," nasehat Anik yang diangguki Yuni.


" Iya, Ra, anggap aja penjajakan, siapa tau cocok, ya kan mbak? " kata Heni meminta pendapat Anik dan Yuni.


Dan parahnya mereka semua menganggukkan kepala tanda setuju. Jadi makin makin sebal saja Vera.


Jam 9 pagi, Ari mengirim chat pada Vera yang mengatakan bahwa dirinya sudah di depan kost menjemput Vera.


Jangan bayangkan Ari menjemput dengan kendaraan yang ada dalam imajinasi kalian. Karena itu tidak mungkin. Bukan..bukan Vera berekspektasi tinggi yang inginnya diperlakukan bak putri. Atau mengharapkan dijemput dengan kendaraan wah, tidak, hanya saja sebagai perempuan setidaknya dirinya ingin diistimewakan, minimal pakai motor lah. (hihihi aku kali ya yang gitu).


Dengan berjalan kaki, mereka menyusuri trotoar jalan. Yang kata Ari akan membawanya ke area sekitar sungai besar, yang biasanya digunakan untuk jalan santai, lari, bersepeda atau olahraga lain. Yang saat malam, akan berubah menjadi deretan tempat nongkrong pinggir sungai, yang dipenuhi pedagang.


Sepanjang perjalanan, Ari banyak bertanya tentang Vera, yang intinya semua ditanyakan, termasuk pacar. Yang jelas saat ini Vera sedang jomblo alias tak punya pacar.


Mereka mampir makan di warung yang di sekitar sungai, makan minum sebentar. Saat Ari mengajak pergi ke lain tempat, Vera menolak halus dengan beralasan ingin segera beristirahat. Keduanya berjalan arah pulang ke kost Vera.


" Ver, kamu beneran belum punya pacar? " tanya Ari kesekian kalinya.


" Nggak ada, mas. "


" Hhmm..kalo aku bilang, aku suka kamu dan pengen jadi pacar kamu, gimana Ver? "


Vera langsung menoleh ke Ari, sedikit terkejut, tapi mengerti karena tandanya sudah kelihatan jelas sekali.


" Kalo kamu masih bingung, nggak usah jawab sekarang Ver, nggak apa-apa, kamu pikir aja dulu. " lanjut Ari.


Sebenarnya bingung tak bingung, Vera baru mengenal Ari, seminggu loh ini. Mau langsung menolak juga kesannya kejam sekali. Akhirnya Vera diam saja sampai tiba di kost.


***


Vera menceritakan perihal Ari kepada Yuni dan Anik, yang dianggap Vera seperti kakaknya sendiri, maklum Vera kan anak pertama, mana punya dia kakak kandung.


Dengan bijak, mereka berdua memberi nasehat pada Vera, jangan berlarut-larut, jika memang Vera tak suka, katakan saja, jika suka juga jangan jaim alias gengsi.


Vera tak memandang lelaki dari apa yang dia punya, hanya saja Vera tak merasakan kenyamanan saja. Bukankah kenyamanan itu penting?


Malam hari, Vera mengirim chat pada Ari, yang intinya menolak Ari karena masih ingin fokus kerja dahulu.


Yang benar, ini hanya alasan saja, jika Vera mengatakan tidak nyaman dengan Ari, maka akan lebih menyakiti bukan? dan kenapa lewat chat? kenapa tak langsung bicara saat besok bertemu di tempat kerja? Vera tak mau jadi bahan ledekan teman-temannya. Ingat kan Vera masih muda dan labil, yang baginya dengan hanya mengirim chat, masalah selesai.


Ternyata Vera salah, Ari berubah, yang tadinya ramah jadi dingin dan kaku, macam kulkas. Vera inginnya berteman seperti biasa, tapi nyatanya Ari berubah.


Vera bukannya kecewa karena Ari tak lagi ramah padanya, tapi Vera kecewa karena sikap kekanak-kanakan Ari. Yang notabene Ari ini lebih dewasa daripada Vera, seharusnya dia tak bersikap seperti itu.


" Wah, parah nih Vera, masa Ari nya ditolak? mana lewat chat pula? " sindir Edis dan Tami.


Teman kerja yang lain memperhatikan dengan wajah penuh tanya. Bisa dibilang kepo, ingin tau kebenarannya.


Sedikit menunduk, Vera hanya tersenyum masam, dan berlalu dari mereka. Tak mau menanggapi yang nantinya akan makin panjang urusannya.


" Ver, gimana kemarin jalan-jalannya sama Ari? " tanya Gino anak bagian makanan teman baik Ari. Tapi Gino sepertinya lebih dewasa dalam menyikapi masalah.


Akhirnya Vera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Ari. Dan Gino berkata akan membantu membuat Ari mengerti, dan tak lagi bersikap seperti itu.


Keesokkan harinya, Ari masih sama saja seperti hari yang lalu, bahkan sekarang Ari mendekati Edis. Vera tak cemburu, bahkan bersyukur jika memang mereka bisa bersama. Setidaknya itu akan mengurangi rasa bersalah Vera pada Ari.


Saat istirahat makan siang, Gino mengatakan dirinya sudah memberi pengertian pada Ari, hanya saja sepertinya Ari masih butuh waktu. Gino berharap Vera bersabar dulu dengan keadaan ini.


Yah.. it's okay.. Vera mencoba untuk bersabar, daripada dibuat beban, yang ada, Vera yang akan pusing sendiri.


Kalau kata pepatah, guguk menggonggong kafilah berlalu. Anggap saja tak dengar tak lihat apapun. Keep calm kalau dalam bahasa jawa. Stay waras kalau kata temanku. (hihihi yang ini ngarang)


Malam harinya, keadaan swalayan cukup ramai, banyak pengunjung maksudnya. Tak dinyana tak diduga, lelaki rambut pirang muncul. Vera sedang asyik menyusun beberapa parfum yang kosong di rak pajangan.


" Mbak, mbak,,, mau nanya dong parfum apa yang bagus n cocok buat saya? "


Sedikit terkejut karena tiba-tiba ada suara di dekatnya. Tapi Vera mencoba tenang dan bertanya.


" Biasanya, mas nya pakai parfum yang seperti apa? " ini si Vera malah balik nanya. " Nanti saya coba kasih rekomen. " lanjut Vera.


Vera belum lihat ke arah pembelinya ini. Makanya masih santai kayak melantai. Kalau lihat bisa langsung dag dig dug nih. (hihihi hiper banget)


" Kalo mbak nya sukanya parfum yang kayak mana? " tanya nya lagi makin aneh.


Sambil menoleh Vera berkata, " Loh, kok nanya kesukaan saya? kan yang mau pakai mas....nya...." jawabnya sambil melongo.


Deg deg... deg deg... deg deg... duh berasa sport jantung aku nya eh Vera maksudnya.


Senyumnya bikin melting sih ini, ingat lap iler Ver. Sambil mengerjap, Vera tersadar dan tersenyum kaku, menyadari keterpesonaannya pada makhluk Tuhan yang aduhai di depannya ini. Semoga wajahnya tak terlihat bodoh, batin Vera.


" Hai..."


" Ha..hai.." sambil senyum Vera menjawab.


" Ketemu lagi kita, gimana kabarnya? "


" hhmm..baik mas,,"


Sambil tersenyum kecil, Joni berkata, " Ayo, pilih parfum mana yang kamu suka. "


Merasa aneh dengan perkataan Joni, Vera menoleh sambil mengernyit penuh tanya.


Masih senyum Joni menjawab, " Apa yang kamu suka, aku pasti juga suka. "


Bersambung dulu lah..capek akunya hihihi✌️