
Verawati adalah seorang gadis remaja seperti pada umumnya. Yang rasa penasaran juga rasa ingin tahunya begitu tinggi. Memiliki nama yang cukup singkat tapi tak membuatnya berkecil hati. Karena menganggap itu adalah pemberian orang tuanya.
Meski sebenarnya dia paham bahwa dirinya tak terlahir dari keluarga berada yang kaya raya. Yang dilimpahi materi berlebih.
Dirinya hanyalah anak dari pasangan suami-isteri yang sederhana. Yang menggantungkan hidupnya dari usaha berjualan bakso dan Bapak seorang makelar (perantara penjualan), bisa motor, mobil, rumah, tanah, dan lain sebagainya.
Vera adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Adik pertamanya perempuan bernama Irmawati. Adik keduanya laki-laki dan mereka kembar bernama Hendri dan Hendra. Alasan orang tuanya memberi nama yang pendek karena tidak mau repot mencari nama yang panjang, yang terpenting adalah doanya. Itu yang dikatakan Bapaknya.
Pun begitu, masa remaja adalah masa yang bisa dikatakan rawan bagi banyak anak muda. Pandai bergaul bisa berakibat dua hal, baik atau buruk. Jika mendapatkan pendampingan yang tepat maka akan baik. Dan begitu pula sebaliknya.
Dan itulah yang dialami Vera. Semenjak kecil orang tuanya sibuk bekerja mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk menyambung hidup. Sehingga sedikit lalai akan tugas membimbing anaknya. Atau bisa jadi si anak yang susah untuk diatur.
Banyak hal-hal positif maupun negatif yang pernah dilakukannya. Mulai dari menuruti perintah orang tua juga guru, juga berbohong, sedikit judes cuek dan sedikit sombong. Meski sebenarnya bila sudah mengenalnya maka mereka pasti akan bertahan, karena semenyenangkan itulah Vera. Dan mau bergaul dengan siapa saja tanpa memandang status.
Vera juga pernah mengambil uang orang tuanya tanpa sepengetahuan orang tuanya, pernah menggunakan uang tabungan teman-teman sekelasnya, pernah berpacaran dengan pemuda yang jauh di atasnya, pacaran padahal dilarang,
Dan saat ini adalah masa akhir dari Vera menuntut ilmu di jenjang SMK. Yup, Vera bersekolah di salah satu SMK Negeri favorit di kota J. Meski sebenarnya Vera berdomisili di kota K. Vera memilih bersekolah di sana karena kepopuleran sekolah tersebut juga karena akses yang terbilang cukup mudah dijangkau.
Masa sekolahnya diisi dengan banyak hal. Dari hal baik juga hal buruk. Menjadi anak yang cukup bisa masuk rank 10 besar tapi juga menjadi anak yang sering dipanggil ke BK ( Bimbingan Konseling ).
Beruntung baginya Tuhan masih memberikan kesempatan baginya untuk berproses. Dapat melalui masa sekolah meski ada beberapa hambatan tapi masih bisa terselesaikan. Meski Vera belum juga menyadarinya.
Iming-iming godaan lebih menggoda baginya dibandingkan kesadaran akan kesalahan yang dilakukan.
Vera sebenarnya berharap dia bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Tapi apalah daya, orang tuanya sudah mengatakan tak sanggup untuk membiayai pendidikannya di perguruan tinggi.
Vera yang mau tak mau harus menerima akhirnya memutuskan untuk mencari kerja. Berbekal informasi dari kakak sepupunya yang telah lebih dulu bekerja di kota M, Vera berencana mencari kerja di kota tersebut.
Pekerjaan apapun akan dia lakukan selama itu tidak melanggar hukum. Sudah cukup baginya sering menyusahkan orang tuanya semasa sekolah. Kini saatnya Vera membantu kedua orang tuanya.
Setelah mempersiapkan segalanya, Vera berangkat ke kota M, sendirian. Ya, Vera termasuk anak pemberani dan mandiri. Mungkin hal tersebut yang membuat Vera berani mencoba melakukan hal-hal yang membuatnya penasaran. Sekaligus memberikan dampak buruk baginya.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2jam Vera telah sampai di kota M. Dan saat ini dia tinggal di indekost yang sama dengan sepupunya.
" Kamu mau kan tinggal di sini bareng mbak? sebenarnya banyak kost-kostan di daerah sini, tapi mbak suka di sini karena selain tak terlalu mahal juga tempatnya bersih meski kita nggak boleh masak di sini, mencegah kotor juga bahaya kebakaran." jelas Yuni panjang lebar tentang kondisi kost mereka.
" Iya mbak." jawabnya singkat.
" Air akan dibuka ibu kost tiap pagi dan sore jadi sebisa mungkin kamu kalau bangun yang pagi ya, biar nggak tabrakan sama anak kost lain, dan nggak antri panjang." jelasnya lagi.
" Iya mbak." jawabnya lagi.
Mereka masuk melalui pintu samping dan bisa naik langsung ke lantai dua di mana kamar kost mereka berada.
" Kamu udah nyiapin semuanya belum?" tanya Yuni, sepupu Vera.
" Udah mbak..." jawabnya.
" Kamu jadi ngelamar ke mana aja?" tanya Yuni kepada Vera.
" Seperti yang mbak kasih tau waktu itu mbak, dua swalayan sama satu toko kain, doain semoga keterima ya mbak." jawabnya lagi.
" Pasti didoain, tapi kalau misal belum keterima jangan menyerah ya tetap semangat, siapa tau nanti di tempat mbak ada lowongan."
" Iya mbak, terimakasih."
Mereka mengakhiri percakapan karena hari telah larut malam. Dan besok saatnya menata hari mewujudkan masa depan.
***
Keesokan paginya, Vera bersiap untuk pergi melamar pekerjaan setelah menyelesaikan sarapannya bersama kakak sepupunya.
Vera pergi diantar Yuni ke salah satu swalayan terbesar di sana sebelum dirinya berangkat bekerja. Setelah dari swalayan M mereka melanjutkan perjalanan ke toko kain Semua Warna untuk mencoba peruntungan. Dan terakhir mereka ke swalayan P. Yang mana menurut cerita orang tua Vera, dulu sewaktu muda mereka pernah bekerja di sana.
Setelah lelah berkeliling, mereka pulang ke kost saat waktu menunjukkan waktu Dzuhur dan makan. Jadi mereka memutuskan membeli makanan sebelum mereka pulang.
" Sekarang kan udah taruh lamaran kerja, tinggal tunggu aja hasilnya, semoga saja bisa diterima di salah satu tempat tadi. Karena setahuku tiga tempat tadi memberikan gaji yang lumayan buat karyawannya. Semoga aja rejekimu ada di salah satu tempat tadi Ra." panjang lebar Yuni memberikan nasehat.
" Aamiin mbak.. semoga aja ya."
" Selama di sini dan belum bekerja, kamu harus hemat Ra, jangan boros dan beli ini itu yang ga penting loh Ra. Inget ini semua belum ada kepastian. Aku bisa bantu dikit soal makan, jadi ga usah khawatir. Kita saling jaga di sini ya." lanjut Yuni kemudian.
" Iya mbak, aku ngerti kok." sambil memulas senyum Vera menjawab.
" Ya udah, mbak mau berangkat kerja, kamu hati-hatilah, nggak usah keluyuran keluar ga jelas kalau ga perlu ya." pamit Yuni.
Tak menjawab, Vera hanya menanggapinya dengan anggukan kepala sambil tersenyum simpul.
" Ya Allah.. semoga ada rejekiku di sini, agar aku bisa membantu meringankan beban bapak dan ibu." doanya dalam hati.
Karena lelah Vera memejamkan matanya mengistirahatkan mata tubuh dan pikirannya yang mulai mendapatkan beban, untuk kemudian menyambut apa yang selanjutnya terjadi dalam hidupnya.
selamat membaca.. semoga suka🤗🤗