By My Side

By My Side
bab 2 Panggilan



Pagi ini diawali dengan keriuhan para penghuni kost. Sibuk dengan kegiatan masing-masing, sambil menunggu giliran untuk menggunakan kamar mandi.


Ada yang duduk melamun sambil menikmati matahari pagi, ada yang sarapan terlebih dahulu, ada yang memakai lulur, ada juga yang mengomel lantaran yang di kamar mandi lama sekali tak kunjung keluar.


Vera dan Yuni santai saja sambil menikmati sarapan mereka. Vera sudah mandi saat adzan subuh berkumandang, sengaja agar tak perlu mengantri. Sedangkan Yuni, seperti biasa masuk siang jadi bisa sedikit lebih santai.


Sedang asyik mengobrol santai, tiba-tiba ponsel Vera berbunyi karena adanya panggilan masuk. Gegas Vera mengangkatnya meski nomor tersebut tak tersimpan dalam memori ponselnya.


" Assalamualaikum.."


" Wa'alaikumsalam..hallo, apa benar ini dengan saudari Verawati? " suara di seberang terdengar.


" Benar, saya sendiri. " jawab Vera.


" Apakah anda bisa datang untuk melakukan interview di toko kain Semua Warna hari ini pukul 9 pagi? " suara tersebut terdengar lagi.


" Bisa..bisa, saya akan datang nanti pada jam yang sudah ditentukan. " jawabnya dengan rona bahagia yang terpancar dari wajahnya.


" Baik kalau begitu, kami tunggu kehadiran anda, selamat pagi. "


" Selamat pagi, baik ... baik, terimakasih banyak. " jawabnya kemudian dengan senyuman mengembang di wajahnya.


" Alhamdulillah mbak aku dipanggil interview. " ceritanya kepada Yuni di sampingnya.


" Alhamdulillah, semoga nanti lancar ya Ra. "


" Aamiin mbak. "


Tak lama berselang, ponsel Vera berbunyi kembali. Segera Vera mengangkat panggilan tersebut.


" Assalamualaikum..."


" Wa'alaikumsalam... selamat pagi. "


" Pagi. " saut Vera.


" Apa benar saya sedang berbicara dengan saudari Verawati? " suara tersebut terdengar kembali.


" Benar, ada keperluan apa ya? "


" Apakah hari ini saudari Vera bisa datang untuk melakukan interview di swalayan P pada pukul 11 siang nanti? "


" Insyaa Allah saya bisa. "


" Baik kalau begitu kami tunggu kehadiran saudari nanti siang, selamat pagi. "


" Pagi, terimakasih. "jawab Vera kembali dengan raut wajah bahagia di wajahnya yang manis.


" Yaa Allah mbak, mimpi apa semalam? ini panggilan interview kok bisa barengan gini? " cerita Vera kembali pada Yuni dengan antusiasnya.


Wajah bahagia disertai senyuman yang mengembang di bibirnya bisa diartikan bagaimana bahagianya yang Vera rasakan saat ini.


Yuni ikut tersenyum melihat kebahagiaan dari adik sepupunya itu.


" Ya udah, sekarang cepetan siap-siap, nanti takut terlambat. Saat interview itu kita harus memberikan kesan baik Ra. Jangan sampai membuat kesalahan yang akhirnya merugikan diri sendiri. " nasehat Yuni panjang lebar.


" Iyaaaaaa mbakku sayang, Yaa Allah aku deg deg an gini ya,, " ucap Vera masih dengan senyum yang mengembang.


Setelah selesai bersiap-siap, Vera segera berangkat untuk melakukan interview pertamanya. Vera menggunakan kemeja putih lengan pendek beserta rok hitam di bawah lutut sedikit.


Vera yang sejatinya tidak feminim sama sekali, harus rela menjadi sasaran Yuni untuk di make-up.


Maklum, Yuni bekerja sebagai SPG kosmetik, yang pastinya pandai menggunakan make-up.


Untuk sepatu, Vera tak memiliki sepatu fantopel yang biasa digunakan untuk bekerja. Pun dengan sepatu berhak, Vera tak bisa menggunakannya karena takut kakinya nanti akan terkilir saat tak bisa mengimbangi sepatu.


Jadi, Yuni dengan sukarela meminjamkan sepatu kerjanya untuk dipakai Vera interview.


Setelah berjalan sekitar 10 menit, Vera kini telah sampai di toko kain Semua Warna. Setelah bertanya pada resepsionis Vera diarahkan ke ruangan tempat interview dilakukan.


Interview yang pertama ini belum memberikan kabar gembira bagi Vera. Lantaran pihak staf penerima calon karyawan mengatakan akan menghubunginya lagi setelah keputusan diambil.


Tak berkecil hati, setelah keluar dari toko kain Semua Warna, Vera melanjutkan langkahnya menuju swalayan P di mana dirinya juga dipanggil untuk interview.


Sekitar 10 menit berjalan sampailah Vera di swalayan tersebut. Tanpa membuang waktu lagi, Vera masuk dan langsung bertanya kepada petugas yang berjaga di tempat penitipan barang.


Vera diantar langsung menemui manager swalayan P. Karena peraturan di swalayan tersebut mengharuskan calon karyawan baru akan diinterview langsung oleh manager swalayan.


Setelah melalui interview beberapa saat, Pak Sholihin selaku manager meminta waktu sebentar untuk berdiskusi dengan pemilik swalayan beserta supervisor dan staf kantor swalayan.


Vera diminta untuk menunggu. Sekitar setengah jam berlalu, akhirnya Pak Sholihin datang sekaligus memberikan kabar bahwa Vera diterima bekerja dan bisa memulai pekerjaannya keesokan harinya.


Dengan perasaan yang bahagia, semangat Vera menjabat tangan pak Sholihin sedikit kencang. Yang mana hal itu membuat Pak Sholihin ikut tertawa akan ulahnya.


Kegembiraan masih terlihat jelas di wajahnya. Yang mana hal itu terpancar dengan jelas melalui senyuman di wajah manisnya yang tak luntur, bahkan setelah sampai di kostnya.


" Assalamualaikum...semua..." sapanya riang.


" Wa'alaikumsalam..." jawab penghuni kost serempak yang siang itu sedang berkumpul menikmati istirahat siang mereka.


" Widiiihhh.... kayaknya lagi bahagia nih, ada kabar bagus ya Ra? " celetuk Elly, salah satu teman kostnya.


Sedangkan penghuni lain menatap Vera dengan raut penasaran akan penyebab Vera begitu terlihat bahagia.


" Alhamdulillah..iya nih mbak, ada kabar gembira. " jawab Vera dengan senyuman lebar.


" Apa..apa kabar gembiranya? jangan jangan kamu diterima kerja ya? " tanya Sofi.


" Iya mbak, bener, alhamdulilah aku diterima kerja di swalayan P, dan besok aku mulai kerja. " jawab Vera dengan antusias.


" Alhamdulillaaaaah...." jawab mereka serempak.


" Selamat ya Ra..." ucap mereka bersautan.


" Iya mbak.. terimakasih. " jawab Vera.


" Ra, udah makan belum? ayo kita makan sama-sama. " ajak Yuni.


Vera menatap Yuni dan penghuni kost yang lain dengan tampang cengo. Vera lupa membeli makan siang, karena saking senangnya diterima kerja.


Sambil menyeringai Vera menjawab " aku lupa beli makan mbak. "


Mendapat jawaban itu Yuni menepuk jidatnya pelan sedang yang lain tertawa puas karena kebodohan Vera.


" Ya udah aku beli makan dulu sebelum kehabisan menu. "


Gegas Vera menuruni tangga untuk pergi membeli makanan. Maklum saja jam istirahat siang pasti banyak yang membeli makanan. Dan bisa dipastikan menu pilihan akan cepat habis.


" Adikmu itu lucu ya Yun. " kata Sofi kepada Yuni.


" Apanya yang lucu mbak, oneng kali mbak. " jawab Yuni sambil tertawa kecil.


" Maklum lah Yun, adikmu kan baru lulus sekolah, masih belum banyak pengalaman, beda lah sama kita-kita yang udah faseh. " kata Sofi lagi.


" Tapi aku seneng sama Vera, dia itu ga jaim anaknya, mau aja bantuin buat piket bersih-bersih kost. " kata Ani menimpali sambil cengengesan.


" hehehe iya. " jawab Yuni singkat.


Sebenarnya Yuni sebal karena Vera suka sekali membantu penghuni kost lain untuk piket membersihkan kost. Meski itu perbuatan baik, tapi hal itu bisa membuat penghuni lain akan seenaknya meminta bantuan adiknya lagi.


Bukan tanpa sebab Yuni berpikir demikian, karena Yuni sempat melihat Vera membantu Sofi yang terkena giliran piket tapi bangun kesiangan. Akhirnya Vera berinisiatif untuk membantunya.


Yuni berharap adiknya yang terlihat masih lugu itu tak akan mendapat kesulitan selama tinggal dan bekerja di kota M ini.