
Hari-hari Vera sekarang diwarnai dengan chat dengan RBT. Nama kok RBT? nanti ada jawabannya, tunggu saja.
Ada saja chat absurd dari RBT, sepertinya RBT ini pandai membangun percakapan. Kadang hanya sekedar bertanya sudah makan belum, atau sedang apa, atau yang cukup gila, RBT menuduh Vera rindu padanya.
Cukup gila, bertemu saja belum, sudah dibilang rindu. Apakah bisa seperti itu? entahlah, tapi jika aku, tentu saja harus melihat orangnya terlebih dahulu baru bisa merasakan rindu.
Tetapi, sebagian dari kita juga bisa merindukan seseorang hanya karena typing an, hanya karena suaranya, hanya karena perhatiannya, tanpa harus melihat wujudnya.
*****
Hari ini, di tempat kerjanya, Vera masih dipusingkan dengan Ari. Vera yang merasa sudah tak ada masalah lagi, rupanya belum bisa terbebas sepenuhnya.
Meski hubungan mereka seperti baik-baik saja saat ini. Kembali berteman seperti biasa. Terkadang Ari masih saja menyentil Vera dengan kata-kata, apalagi masalahnya jika bukan karena penolakan Vera.
Ari masih berharap, Vera tau itu, tapi Vera tak mau menanggapi. Pasalnya Edis, sepertinya sudah menaruh harapan untuk bersama Ari. Vera tak mau jika nantinya Edis salah paham padanya. Jadi Vera berusaha untuk tak terlalu menanggapi Ari.
Masalah Ari belum selesai, ada muncul masalah baru. Tami, teman akrab Edis, sebenarnya sudah menikah dan mempunyai anak. Suami dan anaknya baik, pernah datang berkunjung ke swalayan P.
Ternyata Tami ini juga berhubungan dengan Amir. Amir ini teman Gino yang tinggal di swalayan tersebut.
Ada 6 orang tinggal di swalayan tersebut, mereka adalah Amir(bag.dapur), Gino(bag.Snack/makanan), Supri dan Fandi(bag.gudang), Yuli(bag.air mineral merk A bag.gudang pusat) dan Siti(bag.penitipan tas dan kue).
Si Amir ini sering menggoda Vera, meski Vera tak menanggapi, tapi Tami melihatnya lain. Tami merasa Vera lah yang menggoda alias tebar pesona kepada Amir.
Serba salah kan? tak jawab salam sapaan dikira sombong, balas senyum disangka tebar pesona.
Alhasil ya Vera sering mendapatkan lirikan mata sinis plus tajam dari Edis dan Tami. Terkadang jika Vera membutuhkan bantuan mereka, dengan entengnya mereka menjawab agar Vera mencari dan mengerjakannya sendiri .
Mau mengadu pun tak bisa, sudah bisa dipastikan Vera kalah, karena supervisor lebih percaya pada Edis dan Tami dibanding Vera yang dianggap anak kemarin sore.
Vera hanya bisa bercerita pada Anik atau Heni. Tapi mereka hanya mengatakan agar Vera bersabar dan tak terlalu ambil pusing dengan sikap mereka.
Sebenarnya, apa yang diucapkan Anik dan Heni benar. Tak seharusnya kita memusingkan hal-hal yang dapat membuat kinerja kepala beserta isinya semakin berat. Ini hanya masalah sepele, masih banyak di luar sana yang memiliki masalah yang jauh lebih rumit dibandingkan yang sedang dihadapi Vera.
Tapi sekali lagi, berucap itu lebih mudah daripada melakukannya bukan? menasehati lebih mudah daripada mempraktekkannya sendiri.
****
Pulang kerja, Vera dan teman-temannya berniat ke alun-alun kota. Seperti biasa, membeli makanan, camilan atau hanya sekedar berjalan-jalan melepas penat. Agar otak dan pikiran sedikit lebih waras.
" Mas Fik...pesan terang bulannya satu ya..tapi kita tinggal dulu ya, biasa mau ke alun-alun dulu,,, cuci mata,,, bikinnya nanti aja pas kita mau balik ya mas..biar enak masih anget gitu.. " dengan gaya khasnya Anik berucap panjang lebar. Menerangkan tanpa perlu ditanya terlebih dulu. Bisa dibilang gayanya centil tapi bukan centil yang berniat menggoda. Memang pembawaan Anik seperti itu.
Sambil terkekeh Fikri menjawab dengan anggukan. Tanpa menanyakan rasa apa yang dipesan, karena sudah khatam.
Fikri menyempatkan melirik ke arah Vera. Vera pura-pura tak memperhatikan, dengan sengaja menoleh agar tak bertemu tatap dengan Fikri.
Vera tahu Fikri menyukainya, tapi Vera tak ingin memberikan harapan. Takut menyakiti hati orang lain. Darimana Vera tahu? tentu saja Anik yang mengatakannya.
Setelah memesan mereka berjalan lagi, tak disangka-sangka mereka bertemu Joni bersama teman-temannya. Sepertinya juga akan ke alun-alun, karena mereka muncul dari arah gang perkampungan di belakang ruko.
Melihat adanya rombongan Vera, Joni bergegas mendekat. Sedikit basa-basi, langsung mengajak Vera bicara dan jalan berdua. Karena itu memang tujuan Joni.
" Hei... gimana kabarmu, Ver ?"
" Seperti yang keliatan, aku baik-baik aja. "
Joni menanggapinya hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Kamu ga nanyain kabar aku kah? ga kangen gitu sama aku? " tanya Joni kemudian setelah beberapa saat terdiam.
Vera mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan pertanyaan Joni. Sambil menoleh untuk melihat bagaimana wajah Joni saat mengatakannya. Tampak meyakinkan, Vera jadi berpikir. Apa Joni suka sama aku ya? batin iVera. Digelengkan kepalanya beberapa kali, membuang pikiran over yang tiba-tiba melintas.
" Nggak jawab, malah geleng-geleng kepala, mau dugem kah? " Joni berkelakar sambil menyeringai.
" Nggak.. nggak..aku ga pernah dugem, lagian juga pasti dilarang sama ortu. " jawabnya.
" Ngapain juga aku kangen sama kamu, ntar yang ada pacarmu ngamuk loh.." lanjut Vera.
" Mana ada, aku loh jomblo, ga ada pacar, tapi kalo kamu mau jadi pacarku, ya nanti aku ga jomblo lagi, gimana? " jawab Joni.
Nih orang ngajak pacaran kok kayak nawarin jualan aja, setres memang, tapi dia cakeeeepp, ngeselin banget, tapi aku suka, gimana siihh,,, batin Vera perang ceritanya.
" Kok nggak jawab lagi sih? mau ya jadi pacarku ?"
" Iiiihh, kok gitu sih? nembak kok nggak ga ada romantis-romantisnya? asal bunyi aja? " heran Vera, sudah mode galak lagi.
disambung nanti lagi