
Tak terasa sudah hampir satu pekan Vera bekerja di swalayan itu. Hari-harinya diisi dengan kumpul-kumpul sesama penghuni kost, kadang jalan-jalan, selain bekerja tentunya.
Beberapa karyawan laki-laki di swalayan P, seringkali menggoda Vera, mungkin Vera dianggap semacam barang atau mainan baru ya.
Hari ini, hari Selasa, dan esok Rabu adalah jatah libur untuk Vera. Tanpa ada yang menduga, tiba-tiba Ari, karyawan yang mengurusi air minum mineral merk A, baik gelas, botol maupun galon, mendatangi Vera.
" Ver, besok kamu jatah libur kan? "
" Iya, mas, kenapa ? "
" Hhmm....kamu ada rencana ke mana besok? "
" Ga ada rencana sih mas.. pengennya sih tidur aja istirahat gitu di kost. "
" Hhmm...ga pengen pulang ke ortu gitu? ato pengen jalan-jalan gitu? "
" Hhmm..ga pulang dulu mas, nunggu gajian, hehehe ngirit dulu, jalan-jalan juga skip aja dulu. "
" Kalo misal aku ajak jalan-jalan, mau ga Ver? " tanya Ari untuk kesekian kalinya, " ga jauh-jauh kok, deket-deket sini aja, muter-muter....mau ya? "
" Hhmm.. gimana ya, harus jawab sekarang kah? " jawab Vera bimbang.
Bukan jual murah nih, ini kan baru kenal kan ya, ya kali langsung gas aja jalan-jalan, mana Vera kan masih awam daerah sana. Kalau misal ada kejadian yang tidak diinginkan, gimana coba?
Ari memperlihatkan wajah sendunya, sambil menjawab, " ya udah, kamu pikir-pikir dulu gapapa, nanti kabari aku ya,,," kata Ari sambil menyerahkan kertas bertuliskan nomor ponselnya, yang entah kapan dia persiapkan.
" Jangan lupa ya, Ver...." kata Ari lagi, sambil berlalu pergi ke stand-nya.
Vera menatap bergantian antara kertas dan punggung Ari yang menjauh, sambil berpikir cara meminta izin kepada Yuni.
Tau kan kalau Vera tuh di kota M sudah dititipkan ke Yuni. Dan orang tua Vera pasti akan mengintrogasi Yuni saat mereka ada kesempatan pulang nanti.
Vera tak mau dianggap cewek centil, gegayaan yang mau-mau saja diajak cowok ke sana-sini.
****
Malam hari setelah pulang bekerja, tanpa mengganti seragam kerjanya, Vera diajak teman-temannya satu kost untuk mencari makan atau camilan. Mereka sudah merencanakannya sedari pagi.
Jadilah sekarang mereka berjalan kaki menuju arah alun-alun kota, yang tak terlalu jauh dari tempatnya bekerja.
Mereka berhenti di penjual martabak dan terang bulan. Melihat interaksi mereka, sepertinya teman-teman Vera dan penjualnya saling mengenal dengan baik.
Kalau Vera jangan ditanya, sudah pasti diam-diam saja sambil menyimak obrolan mereka. Meski Vera sedikit risih, karena salah satu penjualnya, terlihat selalu melirik ke arahnya secara terang-terangan.
Setelah memesan, mereka melanjutkan langkah menuju alun-alun. Pesanan akan mereka ambil saat perjalanan pulang nanti.
Alun-alun kota ini lumayan luas, alun-alun ini berbentuk seperti persegi. Jadi ada empat pintu masuk di masing-masing sisi. Masing-masing pintu masuk dihubungkan dengan jalan aspal, yang jika dilihat dari atas akan membentuk seperti tanda tambah ( + yang ini maksudnya ).
Diantara jalanan aspal dalam alun-alun ditanami rumput, yang juga bisa berfungsi sebagai lapangan. Di sudut kiri pintu masuk utama, ada semacam playground untuk anak-anak. Di sudut kanan pintu masuk utama, lapangan dengan rumput tipis, biasa digunakan bermain bola.
Sudut selanjutnya, dilapisi paving blok, jadi seperti area bersih. Dan sudut terakhir berupa tanah yang bercampur pasir dengan sedikit rumput, biasa digunakan main bola sepak atau voli.
Tapi itu penampakan saat pagi hingga siang menjelang sore saja. Saat sore hingga malam hari maka tampilannya akan berubah. Yakni di setiap area alun-alun seluruhnya akan terisi para pedagang, baik di dalam alun-alun maupun di luar pagar.
Banyak yang diperdagangkan di sana, dari mulai makanan, minuman, pakaian, kaset DVD ( bajakan tapi ya ), sandal sepatu hingga pernak-pernik lucu seperti ikat rambut, topi, bando, boneka dan lainnya.
Saat mereka sedang berkeliling, tak sengaja Vera melihat seorang laki-laki. Yeah, cukup tampan dengan rambutnya yang dicat kuning. Seperti bule tapi versi lokalnya. Entah mengapa lelaki tersebut bisa mencuri perhatian Vera, sehingga fokusnya terpecah.
Tapi Vera tak mau terlalu percaya diri, merasa bahwa dirinya sedang diperhatikan. Tapi memang begitu adanya, keduanya saling melirik sambil tersenyum kecil.
Setelah cukup berkeliling juga membeli makanan minuman, mereka sepakat untuk pulang. Tetapi tak disangka, lelaki rambut pirang tadi mengikuti langkah mereka.
Saling berbisik, para gadis itu membicarakan lelaki rambut pirang. Ada yang mengatakan, jika dirinya pernah melihat lelaki itu di sekitaran jalan M, yang notabene di mana pertokoan bertebaran di jalan tersebut.
Tak lupa mereka mengambil pesanan martabak terang bulan. Saat akan membayar, penjualnya mengatakan bahwa itu gratis, sebagai salam perkenalan karena ada anggota baru diantara mereka, Vera maksudnya.
Karena merasa sungkan, mereka menolak halus niat penjual tersebut, meski si penjual juga ngotot dengan niat awalnya. Akhirnya disepakati yang dibayar martabaknya dan terang bulannya gratis. Tapi ya ada embel-embelnya. Apalagi kalau bukan minta berkenalan dengan anggota baru. (kalau aku diposisi Vera berasa ngartis sih ini)
Si mas penjual martabak, yang akhirnya Vera ketahui bernama Fikri ini, terang-terangan mengatakan niatnya untuk bertandang ke kost mereka. (ini ga pake ijin dulu sih jatuhnya, kesannya harus mau nerima tamu gitu )
Sepanjang jalan pulang, mereka meledek Vera yang dalam waktu singkat langsung jadi primadona dadakan. Jangan lupakan kejadian Ari yang mengajaknya jalan-jalan esok, itu pun tak luput menjadi bahan ledekan untuk Vera. Vera hanya bisa tersenyum masam.
Belum sampai kost, eh lelaki rambut pirang tadi, mendekati rombongan anak gadis. Basa-basi dikit, ujung-ujungnya minta kenalan. Tapi lelaki ini kenalan ke semua sih, tak tahu hanya modus atau memang benar-benar ingin kenalan sama mereka semua.
Joni namanya, iya itu nama lelaki rambut pirang tadi. Namanya lumayan keren juga, sesuai sama wajahnya yang cukup tampan ( ini batinnya Vera yang ngomong ). Dan Joni ini rumahnya ya masih di sekitaran tempat ini, hanya beda gang saja. Maklum sih, di sana terdapat cukup banyak gang.
Setelah berkenalan, Joni tadi pamit pulang. Dan jadilah sekarang Vera kembali menjadi sasaran ledekan para seniornya.
" Enak juga nih kalo tiap hari kita dapat gratisan terus. " ucap Ani.
" He em, enak banget lah, bisa ngirit ongkos belanja kita. " Ami menimpali.
" Hehehehe... besok-besok, kita harus bawa Vera tiap jajan, bisa dapat gratisan terus. " Anik ikut berkata.
Yang lainnya tertawa senang, hanya karena hal kecil seperti ini saja bisa membuat hati bahagia.
" Eh..enak aja, adikku mau kalian jadikan tameng, awas aja ya kalian. " ucap Yuni (mode garang tapi sambil tertawa senang )
Vera hanya menanggapi dengan senyuman.