
Di sebuah kediaman tradisional Jepang yang besar dan megah, di selatan Tokyo..
"Neechan, selamat pagi." panggil seorang gadis kecil.
"Ah, Sayaka-chan. Selamat pagi. Apa kamu lapar?" balas Mai.
"Belum. Wah, apakah neechan akan membuat sesuatu di dapur hari ini?" tanya Sayaka girang.
"Neechan akan membuat mochi. Ichigo daifuku, kesukaan Sayaka." kata Mai, sambil berjalan diikuti oleh Sayaka menuju dapur belakang rumah.
"Horee!" seru Sayaka.
"Hmm.. neechan seharusnya tidak terlalu sering membuatkan makanan kesukaan Sayaka. Bukankah semuanya makanan manis?" ucap seorang gadis lain yang mengikuti mereka secara tiba-tiba.
"Yuka-chan. Kamu juga sudah bangun? Haha, tidak apa-apa. Yang penting kalian semua senang. Selamat pagi." sapa Mai ramah.
"Iya. Aku jadi ikut bangun sepagi ini gara-gara Sayaka yang ribut. Terima kasih, neechan." kata Yuka.
"Huwee.. apa salahku, Yuka-neechan?" rengek Sayaka, si bungsu.
Dalam keluarga Hayashi, terdapat cukup banyak kerabat. Selain itu, para kerabat tersebut terbagi menjadi kerabat dalam dan kerabat luar. Sebagai anak sulung dari 4 bersaudara keluarga Hayashi, Mai seharusnya paling layak untuk menjadi seorang penerus.
"Hoahm.." salah seorang lagi muncul, sambil menguap dan berjalan ke dapur.
"Jun, kau juga sudah bangun?" sapa Mai.
"Iya. Neechan sedang apa?" tanya Jun.
"Sedang membuat mochi."
"Ichigo* ?" (strawberi)
Mai mengangguk.
Sebagai seorang kakak sulung, Mai selalu memberikan yang terbaik untuk adik-adik dan keluarganya. Hanya saja, ia telah melakukan satu hal yang paling ditentang oleh keluarganya.
Suatu hal yang dilakukannya atas dorongan perasaan yang kuat. Perasaan yang baru, dengan orang yang berbeda. Orang itu adalah Tsukasa.
"Apakah neechan sudah melupakan lelaki itu?"
DEG
"Jun! Bicara apa kamu? Jangan mengungkit hal itu lagi!" tegur Yuka.
"Huh, biar saja. Lagipula, orang seperti dia tidak cocok mendampingi neechan yang sempurna. Neechan adalah seorang wanita terhormat dengan berbagai kemampuan dan ekspektasi para tetua. Bukankah seharusnya neechan menikah dengan--"
"Cukup!" sentak Mai tiba-tiba.
Melihat reaksi Mai, adik yang bernama Jun menjadi terkejut dan terdiam.
"Neechan.." ucap Jun, merasa bersalah.
"Cukup! Jangan bicara lagi!" bentak Mai.
Jun semakin terkejut dan berlari keluar dari dapur dengan wajah yang memerah.
"Neechan.." ucap Yuka pelan.
"Kalian semua tunggu di luar saja. Kakak akan segera selesai." perintah Mai.
Mau tidak mau, dua adik Mai yang lain juga meninggalkan dapur dengan khawatir. Yuka pun mengajak Sayaka berjalan ke halaman belakang rumah untuk berbicara.
"Kamu pasti kaget, Sayaka. Tenang saja. Mungkin Mai-neechan sedang emosi. Nanti dia akan kembali seperti biasa." Yuka menghibur adiknya.
"Begitu ya.. neechan tidak marah kepada Sayaka?"
"Tentu saja. Tidak ada yang marah padamu. Kita tunggu hingga Mai neechan selesai membuat mochi, setelah itu pasti kita dapat berbicara dengannya lagi." jawab Yuka dengan sabar.
Sementara itu di dapur..
Ukh.. mengapa aku melampiaskan emosi kepada adik-adikku? Perutku terasa mual.. selain itu aku juga terlambat haid.. -- ucap Mai dalam hati.
"Nona. Kami sudah menyiapkan 3 buah wadah untuk ichigo daifuku buatan anda yang hendak disajikan dalam perjamuan para tetua sore hari ini." ucap seorang pelayan dapur.
"Baik, Nona."
"Ukh.. uhuk uhuk--!" tiba-tiba, Mai merasa semakin mual dan bergegas ke kamar kecil.
"Nona?!"
Pertanda ini.. apakah aku.. -- batin Mai.
"Nona, apakah anda tidak apa-apa?" ucap beberapa pelayan yang mengikuti Mai dengan siaga.
"Tidak apa-apa." balas Mai cepat.
Beberapa saat kemudian..
"Ini.. benarkah Nona sedang mengandung?" tanya Natsuko, seorang pelayan setia yang telah melayani keluarga Mai selama beberapa generasi.
Natsuko Hijiri bagaikan seorang bibi bagi Mai. Bahkan putranya yang bernama Ken juga telah mengabdikan diri untuk keluarga Hayashi, sebagai seorang butler dan pemimpin para bodyguard.
"Nampaknya benar.. Tolong rahasiakan hal ini dari semua orang, Natsuko." pinta Mai.
"Baik, Nona."
Tidak dapat kupercaya.. Akhirnya aku memiliki harapan. Tsukasa-kun.. terima kasih. Aku amat bahagia.. semua karenamu. Terima kasih, selalu. -- ucap Mai dalam hati.
Meski disembunyikan dengan baik, Natsuko mengetahui isi hati Nona yang dilayani olehnya semenjak kecil itu. Natsuko menjaga rahasia tersebut dan selalu menjaga Mai.
"Syukurlah, Nona. Rupanya cinta Nona dan Tuan Tsukasa akan selalu berlanjut." ujar Natsuko, membesarkan hati Mai.
"Terima kasih, Natsuko. Kamu selalu menjaga dan menyemangatiku." kata Mai ramah.
"Ah, itu sudah merupakan kewajiban dan hal yang sangat saya syukuri, Nona. Semoga bayi anda sehat dan lahir dengan penuh kasih sayang." ucap Natsuko dengan tulus.
Melahirkan seorang anak dari Tsukasa? Tentu saja Mai akan melindungi dan membesarkan bayi itu dengan sepenuh hati. Ia hanya berharap keluarganya tidak akan terlalu menentang atau menentukan masa depan Mai dengan sewenang-wenang lagi.
Sore harinya, sekitar pukul 5:30 waktu setempat..
Rumah megah yang mirip ryokan* (penginapan tradisional Jepang) itu mulai dipadati oleh para pengunjung dan tamu dari para tetua. Beberapa di antara mereka adalah pria muda dari keluarga terhormat, beserta keluarga mereka.
"Silahkan melihat-lihat, Tuan Masashi." sapa seorang pelayan dari keluarga Hayashi.
"Hmm.. Kudengar, saat ini Nona kalian sangat merana setelah ditinggalkan oleh lelaki tidak berstatus itu." kata Masashi, seorang pemuda kaya dari keluarga Hyuuga.
Konon, keluarga Hyuuga memiliki reputasi tertinggi dan paling disegani oleh semua kalangan, termasuk kalangan orang kaya dalam berbagai bidang usaha di Jepang. Semua hal tentang Masashi cukup mengagumkan, selain sifatnya yang angkuh dan dingin.
"...." para pelayan keluarga Hayashi hanya terdiam.
"Rupanya kalian telah dibayar untuk tutup mulut. Dimana Mai? Bicara! Jika tidak, aku akan memaksa kalian." ancam Masashi.
"Bu--bukan begitu, Tuan Masashi. Sebenarnya, saat ini Nona sedang tidak enak badan. Sebaiknya anda menunggu hingga perjamuan dimulai. Nona Mai tentu akan menghadiri perjamuan." jawab seorang pelayan, dengan memberanikan diri.
"Benar juga. Bukankah dahulu kalian adalah sepasang kekasih? Kemana wanita idamanmu itu, Masashi?" pancing Nagi, seorang pemuda kaya dari keluarga Ayano.
"Berisik! Yang penting, malam ini aku akan mendapatkan Mai. Bila perlu, akan kurebut keperawanannya!" seru Masashi kasar.
"Hah, bicara apa kau? Masa lalu adalah masa lalu. Kini, Mai akan menjadi milikku." sahut Nagi, tidak terima.
"Tidak. Dia adalah milikku!" sanggah Keishi, seorang pemuda dari keluarga terhormat lain, yakni keluarga Hayakawa.
Sekitar 10 orang pemuda dari keluarga terhormat yang hadir malam itu bertengkar memperebutkan Mai. Beberapa dari mereka sampai lupa diri ketika melihat kecantikan Mai Hayashi.
"Nona Mai memang sangat cantik. Sayang sekali, Nona hanya akan mencintai seorang pria selamanya." bisik para pelayan perempuan muda yang bertugas.
"Stt. Kalian terlalu banyak berbicara. Kembalilah bekerja." tegur Natsuko, sang pelayan senior.
Para pelayan itu menurut dan kembali bekerja.
Kuharap malam ini tidak terjadi apa-apa. -- batin Natsuko, sambil melirik ke arah Nona mudanya yang sedang menjamu para tamu tanpa mengetahui niat para pemuda kaya itu.
- bersambung -