
...Sebiru hamparan cakrawala, sebiru dalamnya samudra....
...Sebiru kebahagiaan, serta trauma....
...Biru berarti kepedulian, juga keegoisan....
...Biru itu kesedihan, dan kegembiraan....
...Kamu adalah biruku....
...Kita terlahir dan saling bertemu....
...Di bawah langit yang sama, untuk saling mencinta....
......................
...Masa lalu adalah kekuranganku, namun mencintaimu adalah akhir dari kesempurnaan. - Gwen...
...Orang-orang datang dan pergi, namun aku tak bisa merasakan dirimu, pun saat aku menyelami mimpi. - Theo...
...Seumur hidupku adalah sandiwara kesedihan, tapi ternyata kamu bukan tirai yang mengakhirinya. - Eirene...
...Jika menjaga jodoh orang lain itu mengasyikkan, maka aku akan memastikan dia bahagia setiap hari. - Danny...
...****************...
...PROLOG...
Ketukan sepatu pantofel Theodore Elray Wijaya memecah keheningan malam. Komidi putar yang semula bergerak sontak berhenti ketika ia menaikinya. Sesekali ia celingukan melirik sekitar. Suasananya cukup aneh dan berkabut. Lampu-lampu permainan di dalam pasar malam menyala—kelap-kelip warna-warni—namun tiada pengunjung sejauh mata memandang. Hanya embusan angin yang menggelitik telinga serta ceruk leher Theo.
"Halo!" Suara Theo menggema. Sekejap kemudian, komidi putar tersebut kembali bergerak serta melantunkan lagu ceria khas anak-anak.
Theo bergidik ngeri. Ia berjalan sambil memegang tiang-tiang penyangga tunggangan kuda-kudaan, bermaksud turun dan menuju pintu keluar. Sejurus kemudian, tepat beberapa langkah di depan, Theo malah melihat badut kelinci yang menaiki salah satu kuda-kudaan. Padahal sebelumnya ia yakin badut tersebut tidak ada di sana.
Mata Theo menyipit. Suasananya menjadi sedikit menyeramkan, namun ia berusaha tenang.
"Hai!" Theo berteriak memanggil si badut.
Badut itu pun menoleh, lalu melambaikan kedua tangannya pada Theo.
"Siapa lo?" tanya Theo.
Si badut memiringkan kepala, kemudian melepas topeng kelinci berbulu putih abu-abu. Theo tersentak tatkala menyadari jika yang berada di balik topeng tersebut adalah seorang gadis.
Gadis itu pun tersenyum ketika menghampiri Theo, kemudian berbisik, "King." Memang nyaris tak terdengar, tapi Theo melihat gestur bibir plum gadis ini.
Tunggu, bagaimana ia tahu soal King—nama kecilnya?
"Gimana lo bisa tahu nama—em ...."
Belum sempat menyelesaikan ucapan, si gadis malah mendaratkan bibir plum-nya di bibir Theo. Kedua tangan yang terbungkus kostum menyentuh pipinya, menimbulkan sensasi geli dari bulu-bulu di kostum tersebut.
Theo menyambut kecupan itu. Tangannya memegang kedua pundak si gadis. Matanya terpejam menikmati manis bibir padat berisi. Setelah beberapa saat, si gadis mendorong dada Theo, mengisyaratkan supaya melepas tautan.
"Kenapa?" protes Theo.
"King, kita nggak bisa kaya gini. Maafin gue," kata si gadis seketika berbalik.
Komidi putar semula bergerak pelan, pun makin terasa cepat. Theo berusaha mengejar, tapi langkahnya begitu berat. Si gadis badut kembali menaiki tunggangan kuda-kudaan tadi. Ajaib sekali, sebab ketika Theo berusaha mengejar, komidi putar ini kian cepat bergerak, seolah-olah hidup dan ingin membawa si gadis pergi sejauh mungkin.
"Hai, tunggu!" Sekuat tenaga Theo berteriak, tapi tak terdengar bahkan di telinganya sendiri.
Langkah Theo mengambang. Maksud hati ingin berlari, tapi mungkin ia hanya terdiam. Tangan-tangannya menjulur, berusaha meraih si gadis yang kini hilang dari pandangan mata.
"Theo."
Kemudian, Theo mendengar suara lain yang tak asing.
"Theo."
Theo berbalik, melihat ke belakang. Ternyata seseorang tengah berdiri melihatnya dengan pandangan sayu.
"Gwen," gumam Theo.
"Theo," ucap gadis itu untuk ketiga kali, lalu menangis begitu saja. Tanpa sepatah kata lagi, Gwen meninggalkan Theo dan hilang di balik kabut.[]
...****************...
...SATU...
Menggunakan gunting berlapis perak, Gwen mengambil beberapa anggur hijau segar yang tersaji di tengah meja. Bibirnya mengulas senyum tatkala meletakkan buah-buahan tersebut di atas piring milik Theo.
"Thanks," ucap Theo setelahnya.
Sementara itu, perilaku Gwen tadi ternyata membuat empat paruh baya lainnya menatap gadis ini bangga.
"Kamu melayani calon suamimu dengan baik, Gwen," puji ibu Theo, lalu memasukkan sepotong daging steik wagyu ke dalam mulut.
"Tentu. Dia menuruni keanggunanku, Evelyn," imbuh ibu Gwen, mengundang gelak bahagia kedua keluarga ini.
Kecuali, Theo. Cowok itu tertawa hambar.
"Gimana desain cincin tunangan kalian, kamu suka, Gwen?" tanya ayah Theo.
Gwen mengangguk. "Iya, Pa, Gwen suka, kok."
"Apa? Papa? Sejak kapan lo pakai sebutan kaya gitu?" tanya Theo terkejut.
Evelyn menyiku lengan putranya, dan mendelik, Apa-apaan kamu ini?
"Sejak Papa menyuruhnya," sahut ayah Theo menimpali, "Kenapa kamu kaget gitu? Dua minggu lagi kalian akan tunangan, 'kan? Itu berarti Gwen akan menjadi anak kami, sebab dia adalah istrimu."
"Maafin dia, ya," kata Evelyn pada orang tua Gwen.
"Apa mungkin kita mengadakan pertunangan ini terlalu cepat?" tanya ayah Gwen, tiba-tiba mengubah suasana menjadi lebih serius, "Kelihatannya Theo masih keberatan dengan rencana ini."
"Ah, nggak kok, Aiden. Theo nggak keberatan. Cuma ... ya, kupikir Theo kaget, soalnya seumur hidup belum pernah menjalin hubungan serius," papar ayah Theo, sedikit mengarang di bagian hubungan tidak serius.
Theo terdiam sembari menghela napas, kemudian memposisikan sendok serta garpunya sejajar arah jam dua belas; bahwa ia telah selesai makan. Theo berdiri, membuat kelima orang lainnya menadah.
"Terima kasih, makan malam hari ini cukup berkesan," ujar Theo tersenyum, "Tapi, maaf, aku akan pergi lebih dulu karena ada urusan yang mesti kuurus. Permisi." Theo mengaitkan kancing jas, ekspresinya dratis berubah, dan beranjak dari tempat ini. Ia tak mempedulikan lagi tatapan sang ibu yang ingin memarahinya saat itu juga.
"Aku akan menyusulnya," ucap Gwen seraya berdiri. Setelah berpamitan singkat, ia berjalan cepat untuk menyesuaikan langkah lebar Theo.
"Mau ke mana?" tanya Gwen ketika mereka telah sampai di lorong menuju lift.
"Bukan urusan lo," jawab Theo sembari memasuki lift.
Mulanya Theo ingin mendorong Gwen supaya gadis itu tak lagi membuntuti. Tapi, ternyata ia cukup cekatan. Cepat-cepat Gwen mendahului, dan mengambil posisi di belakang Theo.
"Gue ikut!" seru Gwen segera berpegangan pada selusur lift, sebagai bentuk antisipasi jika Theo berniat menyeretnya ke luar.
"Terserah!" kesal Theo melirik Gwen sekilas. Telunjuknya tampak menekan tombol B1.
Setelah hening sesaat, Gwen berujar pelan, "Theo?"
"Lo benci banget, ya, sama gue?"
"Nggak," sahut Theo sekadarnya, dominan nada berdusta.
"Tapi, kenapa lo kelihatan nggak suka sama gue?"
Theo berbalik menghadap Gwen, hingga gadis itu menahan napas tatkala sepasang obsidian menatapnya intens. Tangan kanan Theo menggenggam tangan Gwen yang terbungkus lengan gaun berbahan brokat, dan yang lain berpegangan pada selusur lift.
"Siapa yang bilang?" tanya Theo penuh penekanan. Ia makin erat mencengkeram tangan Gwen, membuatnya makin mengimpit dinding.
"Apa lo nggak sadar, gimana ekspresi lo saat gue manggil Om Aiden dengan sebutan papa?" tanya Gwen sembari menahan nyeri di tangan yang makin menjadi, "Kayanya itu cukup membuktikan kalau lo emang nggak suka sama pertunangan ini."
"Menurut lo gimana? Emangnya lo suka cara kuno kaya gini?"
Mulut Gwen terkatup diam. Mungkin ia akan menjawab iya jika orang itu bukan Theo. Sial sekali, sebab sejak pertama melihat Theo, Gwen telah menaruh hati pada cowok ini.
Bunyi lift berdenting menyita perhatian keduanya. Theo melepas cengkeraman di tangan Gwen kasar. Ia meninggalkan gadis itu menuju mobil yang terparkir beberapa blok dari lift. Sebelum sempat mengunci pintu mobilnya, Gwen berhasil merangsek masuk, dan duduk di sebelah kemudi.
"Mau nggak jalan-jalan sama gue?" tanya Gwen sambil memakai sabuk pengaman.
Theo lagi-lagi mengembuskan napas. "Nggak! Tolong keluar dari mobil gue, Gwenlyn Jovia Aditya! Sekarang ... juga!"
Bukannya merasa takut pada suara Theo yang meninggi, Gwen malah tersenyum. "Lah, lo udah hapal aja sama nama gue."
"Ketidaksengajaan karena mama setiap hari bilang, sampai gue eneg dengarnya."
"Gimana kalau kita ke pasar malam?" tanya Gwen.
"Sama lo?" Theo berdecut. Matanya menyisir raga Gwen dari ujung ke ujung. "Ke pasar malam berpenampilan acara makan malam mewah? Nggak, makasih! Kalaupun lo pakai pakaian pantas, gue juga nggak bakal pergi."
Gwen memicingkan mata. Tangannya beringsut naik, meraih ritsleting gaun dan menurunkannya cepat. Hal tersebut membuat Theo terbelalak, karena secara kebetulan sepasang orang melewati dan melirik mereka di mobil. Segera ia menghentikan Gwen dengan memegang tangan gadis itu.
"Heh, lo mau ngapain?"
"Ngelakuin adegan panas sama lo! Lagi pula nggak mau ngajak jalan juga, 'kan?"
"Hah, lo gila?"
"Kenapa? Toh, kita 'kan akhirnya akan menikah."
"Oke, Gwen, oke! Gue nyerah! Ya udah, kita ke pasar malam sekarang." Theo pun menyalakan mesin mobil. "Tutup cepetan!" serunya memberi isyarat menggunakan anggukan dagu.
Theo mengemudikan mobil ke luar basement. Sementara itu, Gwen tersenyum penuh kemenangan.
Theo akhirnya menemukan sisi lain Gwen, setelah beberapa kali bertemu di acara makan malam keluarga. Ternyata Gwen juga menyukai hal-hal umum, seperti pergi ke pasar malam.
Mereka tidak banyak memiliki waktu bersama. Ini kali pertama Theo mengajak calon istrinya itu keluar. Tentu saja, sejak awal 'kan Theo tidak menyukai perjodohan ini. Ketinggalan zaman dan merepotkan, menurutnya.
Hal itu juga menyebabkan Theo jadi kurang menyukai Gwen. Kesan pertama gadis ini sama merepotkannya. Meskipun Gwen itu adalah gadis anggun mandiri yang dibentuk sedemikian rupa oleh didikan keluarga kaya dan terpandang. Ia ahli dalam beretika di acara makan malam, proporsional, pakaian apa pun yang digunakan terasa sah-sah saja membalut tubuhnya. Gwen juga merupakan perempuan cerdas, sebab beberapa kali sudah melakukan uji coba memimpin perusahaan sang ayah.
Sempurna. Tapi, Theo belum dapat mengenyahkan rasa tidak sukanya. Tiap kali melihat Gwen, Theo merasa tertekan. Selayaknya Gwen adalah lukisan mimpi buruk Theo secara harfiah.
"Lah, ini lo yang siapin?" tanya Gwen, mengambil sebuah amplop biru azure dari atas dashboard, kemudian membukanya. Isi amplop tersebut berupa selembar kartu undangan berwarna senada.
"Nyokap lo sama nyokap gue lebih tepatnya," sahut Theo.
"Undangan pertunangan Theodore Elray Wijaya dan Gwenlyn Jovia Aditya. Putra Marcus dan Evelyn Wijaya, putri Aiden dan Sandra Aditya."
"Harus banget, ya, lo baca keras-keras kaya gitu?"
Gwen melihat Theo dan mengulas senyum. "Ngomong-ngomong gue suka warnanya. Tekad, ambisi, kepuasan, ketenangan, kestabilan. Kaya rumah tangga yang diidamkan semua orang."
"Dan, lo pikir kita bisa kaya gitu?" tanya Theo melirik Gwen sinis.
"Of course. Kenapa engga? Gue sama lo bakal mewujudkan rumah tangga kaya gitu."
"Gimana caranya? Kita mulainya aja dari garis yang salah. Jangan ngarep ketinggian, deh. Entar jatuh, sakit loh."
Gwen pun bertanya, "Emangnya lo bisa batalin rencana ini? Atau mungkin ... lo mau selingkuh? Emangnya mampu? Gue dengar pas pacaran sama Katy, lo itu tipe-tipe cowok setia, deh."
Mendengar nama Katy diucapkan, Theo refleks menginjak rem. Ia terkejut tentu saja. Mendengar bunyi klakson bernada emosi saling bersahutan di belakang mobil Theo, pun akhirnya ia menepikan kendaraan beroda empat tersebut.
Theo menghela napas, berusaha supaya tidak meledakkan emosi. "Lo nyari tahu soal gue sampai sejauh itu?"
Gwen mengangguk. "Iya."
"Nggak usah nyebut nama itu lagi. Males banget gue dengarnya."
"Theo, lo marah?"
Ya, terus, lo pikir nggak? Theo berteriak dalam benaknya.
"Mending lo diem, daripada gue turunin terus buang lo di sini."
Theo kembali melajukan mobil. Kali ini hening. Theo fokus pada kemudi dan Gwen menatap ke depan saja.
Suasana hati Theo yang sudah buruk, dibuat makin buruk oleh ucapan Gwen. Sekarang rupa Katy kembali membayang-bayangi benaknya, setelah susah payah ia enyahkan. Ada rasa rindu yang menelisik masuk ke dalam raga Theo.
"Kamu akan dijodohkan?" tanya Katy bergetar, nyaris menangis kala itu.
Theo mengangguk lemah. Sebagai cowok ia merasa tak berdaya. Hidupnya telah direnggut begitu saja ketika tahu akan dijodohkan.
"Lalu, gimana dengan hubungan kita?" tanya Katy terkesan khawatir dan menuntut, "Kita putus? Tapi kamu bilang akan menikahiku, Theo!"
"Maafin aku, Kate." Rasanya hanya kalimat ini yang mampu Theo ucapkan.
"Kalau gitu, ayo kita pergi! Kita bisa hidup di tempat lain dan jauh dari orang tuamu." Katy menggenggam tangan Theo erat, berharap cowok ini akan setuju dengan idenya.
"Itu ide buruk."
Tak sesuai harapan, Katy pun membuang napas kecewa. Genggaman tangannya melonggar. Matanya menatap Theo tidak percaya. Katy tak menyangka jika pacarnya itu tidak senekat yang ia pikirkan.
"Mama nggak akan ngebiarin hal itu terjadi. Kalau aku melakukannya, kita semua akan terluka," kata Theo, "Terutama kamu, Kate. Mama nggak akan ngebiarin kamu hidup. Mama pasti melakukan apa pun demi mencapai tujuannya."
Air mata Katy menggenang di pelupuk mata, dan sebentar lagi akan menganak sungai di pipinya. Ia mencintai Theo, begitu pula sebaliknya. Berlatar keluarga kaya dan berkuasa, Katy tahu jika Theo bukanlah tipe cowok yang akan bertahan dengan satu wanita. Tapi, sejak menjalin hubungan dengan Katy, Theo berubah. Cowok itu tulus dan bertekad kuat meminangnya.
"Aku melakukan ini karena aku sayang kamu. Aku nggak pengin kamu terluka." Kini tangan Theo yang menggenggam tangan Katy erat, seolah tak rela jika tautan itu akan terlepas.
Katy berusaha sadar. Rupa Theo mengabur, sebab matanya kini telah basah. Dalam tangis ia merutuki nasib, karena berasal dari keluarga yang tidak sepadan dengan Theo. Ayahnya hanya pemilik kedai mi biasa. Keluarganya tidak kaya dan berkuasa. Katy juga menyesal telah mengenal Theo, dan mendedikasikan hidup hanya untuk mencintai cowok itu.
Katy menarik tangan, juga dirinya. Ia menelan tangis, berusaha tegar.
"Oke." Katy membuang napas kasar. "Aku mencintaimu, Theo, sangat. Aku juga yakin kamu punya rasa yang sama. Maka dari itu, aku memutuskan untuk melepaskanmu."
Theo terdiam, namun jemarinya tampak bergetar setelah mendengar ungkapan kerelaan dari mulut Katy. Memang ada perasaan lega ketika gadis ini akhirnya menyerah, dan tak mencari masalah dengan keluarganya—terutama Evelyn. Tapi, di sisi lain, Theo tentu merasakan hal berlawanan. Ia marah, apalagi pada ketidakberdayaannya.
"Hubungi aku nanti," gumam Theo pelan, tapi Katy segera menangkap gestur bibir cowok itu.
"Nggak, aku nggak akan ngerusak kebahagiaan kamu di masa depan. Aku harap ini terakhir kalinya kita ketemu, Theodore."
Katy, gadis itu telah mengibarkan bendera putih untuk Theo.[]