BLUE

BLUE
e m p a t



...EMPAT...


Penggambaran pagi dalam kebanyakan buku mungkin terlalu indah bagi Gwen. Tidak ada mentari yang menyinari melalui celah jendela, atau tawa bahagia ketika sarapan padahal sudah terlambat ke sekolah. Gwen terjaga sejak subuh. Ia menatap jendela yang tertutup gorden hijau laurel. Sementara itu, seorang petugas kebersihan tampak sibuk merapikan kekacauan kamar inap Gwen, dan ibunya—Sandra sedang duduk di ruang tunggu pasien sembari menyantap sarapan.


Petugas kebersihan yang telah selesai pun mengemas peralatannya. Ia juga mengganti vas bunga yang sempat dipecahkan Gwen semalam. Seseorang tampak meletakkan sejumlah tangkai bunga aster di sana, setelah sempat menunggu petugas kebersihan menyelesaikan tugas.


"Pagi, Gwen," ucap orang itu seraya duduk di kursi dekat ranjang pasien, "Apa lo mimpi indah semalam?"


"Iya ... gue rasa," sahut Gwen datar, lalu beringsut bangun, menyingkap selimut hingga kedua kakinya tampak. Kepalanya terasa sedikit pusing. Refleks saja ia memegangi kening.


"Bagus. Gue bawain lo bunga aster supaya merasa lebih baik lagi."


"Thanks, Danny."


Cowok dengan jas putih panjang itu mengulas senyum. Tag namanya menunjukkan jika ia seorang dokter yang bertugas di rumah sakit tempat Gwen dirawat.


"Mama masih di luar?" tanya Gwen. Matanya melirik ke arah ruangan kecil di balik pintu kamar inap yang terbuka.


"Baru aja pulang. Gue bilang bakal gantiin beliau jaga lo di sini," jelas Danny, "Oh ya, sarapan lo ada di luar. Gue ambil bentar, ya."


Danny menuju ke ruang tunggu untuk mengambil satu nampan menu pagi yang diletakkan petugas gizi di atas meja kopi. Ia membuka tudung saji, membawa mangkuk bubur ke dalam genggaman sebelum akhirnya kembali duduk.


"A ...." Danny mengarahkan satu sendok penuh bubur tepat di depan mulut Gwen. Gadis itu pun menyambutnya.


"Emangnya lo libur?" tanya Gwen setelah menelan suapan pertama.


"Hehehe ... nggak juga. Gue udah absen di depan terus langsung ke sini. Pasien gue hari ini datang sekitar jam sepuluh," jawab Danny.


"Jadi ... gue nggak termasuk pasien lo, ya?"


"Pasien juga, sih. Cuma lo ada di tingkatan berbeda, jauh ... jauh di atas garis istimewa. Triple VIP!" Cowok dengan potongan rambut side part itu terkekeh. "Terus, apa rencana lo hari ini?"


"Ke toko tentu aja," jawab Gwen. Kini ia meraih sendok bubur yang awalnya dipegang Danny.


"Lo yakin? Belum pulih total, loh."


Gwen mengangguk. "Ada pesanan dekorasi resepsi hari ini. Gue cuma punya dua karyawan desain, mau nggak mau ya mesti bantuin mereka."


"Berarti bisnis lo berkembang baik," puji Danny.


"Itu juga karena lo, Dane. Lo yang punya ide buat beli gedung itu terus pindah dari tempat lama. Huft ... kayanya buka lowongan kerja bukan ide buruk, deh."


"Kalau lo butuh, gue bisa bantu. Gue ahli dalam milih orang yang cocok sama lingkungan lo."


Gwen tersenyum. "Iya, gue tahu. 'Kan emang lo ahlinya."


"Lo udah bawa pakaian ganti belum, atau mau gue beliin?" tanya Danny.


"Eh, nggak usah! Mama udah ngehubungi Pak Anton buat bawain."


Tak berselang lama, ketukan pintu pun terdengar. Seorang pria tua berusia sekitar enam puluhan menggeser pintu ruang inap Gwen. Bibir keriputnya menyunggingkan seulas senyum.


"Selamat pagi, Nona, Danny." Pria itu pun menyapa.


Ia adalah Pak Anton. Boleh dikatakan pria tua ini merupakan tangan kanan Aiden—ayah Gwen. Aiden sudah menganggap Pak Anton seperti seorang kakak. Umur mereka memang terpaut tak begitu jauh. Pak Anton pun juga menganggap Gwen seperti putrinya sendiri.


"Saya udah bawain pakaian sama perlengkapan yang Nona Gwen minta," jelas Pak Anton seraya meletakkan sebuah paper bag besar di atas kasur Gwen.


"Kalau gitu, gue pergi dulu. Satu jam lagi gue balik. Entar gue yang nganter lo ke toko," terang Danny.


"Eh, nggak usah. Biar Pak Anton aja. Lo 'kan nggak libur hari ini," tolak Gwen.


"Pak, nanti biar saya aja yang nganter Gwen, ya?" Danny buru-buru meminta izin pada Pak Anton, dan lelaki tua itu hanya mengangguk. Tentunya hal itu disambut senyum semringah oleh Danny.


"Ya udah, cepetan ganti! Ntar gue jemput, oke?" Danny memberikan tanda ibu jari di kedua tangannya dan segera berlalu di balik pintu.


...*****...


Di depan cermin Gwen menyisir rambut lurus sebahunya. Ia juga memoleskan lip tint terakota di bagian tengah bibir sebagai sentuhan terakhir gaya ombre. Dalam balutan atasan rajut cokelat muda, jeans pensil hitam dan sepatu bot senada, Gwen tampil segar. Sama sekali tak tampak seperti pasien yang sempat mengamuk dan baru saja keluar dari rumah sakit.


Tepat satu jam berlalu, Danny menepati janji. Cowok beriris biru itu mengetuk pintu dan masuk ke ruang inap Gwen tanpa menggunakan seragam profesinya. Mata cerahnya kian berbinar di kala menyaksikan penampilan Gwen yang menggambarkan pagi di musim gugur.


"Udah siap? Yok, kita jalan!" ajak Danny.


Gwen segera menghampiri. Danny pun mengangkat siku. Ia memberi kode pada gadis itu supaya menggandeng lengan kekarnya.


"Lo nggak ingat? Gue udah punya calon suami."


"Nggak ada salahnya, 'kan? Gue sahabat lo, Gwen," sahut Danny yang kini menarik tangan Gwen supaya berpegangan di sikunya.


"Meskipun gitu, pengagum lo pasti gunjingin gue sepanjang lorong," dengus Gwen.


"Tenang aja, gue bakal jaga lo biar tetap aman."


Gwen menghela napas panjang. Ia mengikuti lagkah lebar Danny menuju lift yang berjarak beberapa meter dari ruang inap. Selama menggandeng lengan cowok itu, Gwen merasa tidak enak dan malu. Ia tahu Danny adalah salah satu dokter yang paling dikagumi di rumah sakit ini. Bagaimana tidak? Pesona iris birunya tentu membuat siapa pun terpikat.


Setelah turun melalui lift dan sampai di tempat parkir, Danny membukakan pintu mobil untuk Gwen; bahkan membantunya menggunakan sabuk pengaman. Cowok itu juga memastikan Gwen senyaman mungkin sebelum akhirnya menuju ke bagian kemudi.


"Buat diri lo nyaman," ujar Danny mulai menjalankan mobilnya.


Sepanjang perjalanan mereka diliputi keheningan. Sebagai gantinya, Danny memutarkan Piano Sonata karya Mozart. Kepala Gwen tampak bersandar pada jendela menikmati alunan piano itu. Pandangannya mengarah ke luar, melihat setiap mobil yang berpapasan dengan mereka.


"Bibi Sally? Kok, Bibi ada di sini?" tanya Gwen sesudah menghampiri mereka.


"Iya, Bibi ditugaskan membantu Nona Gwen hari ini," sahut perempuan tua dengan seluruh rambut yang telah beruban. Bibi Sally adalah istri Pak Anton.


"Halo, Nona Gwen." Salah satu gadis dengan suara nyaring menyambutnya. "Kudengar Anda dirawat di rumah sakit semalam. Apa sekarang Anda baik-baik aja?"


"Tentu. Makasih karena udah peduli padaku, Sam." Gwen tersenyum. "Dane, yuk masuk!" ajak Gwen, teringat pada Danny yang sempat terabaikan untuk sesaat.


"Oke, deh. Kalau gitu, gue mampir bentar buat minta secangkir teh," sahut Danny terkekeh pelan.


"Aku akan membuatkan teh untuk kalian," sahut gadis lainnya yang bernama Agnes.


Mereka kemudian masuk ke dalam toko. Sam dan Bibi Sally kembali mengerjakan rangkaian hiasan bunga pesanan acara resepsi. Sementara itu, Gwen menuju meja lain menggantikan Agnes memotong tangkai bunga mawar, diikuti Danny yang mengekor di belakangnya.


"Gue suka suasana di sini," ujar Danny sambil duduk, "wangi dan segar."



"Lo boleh, kok, sering-sering mampir kalau pengin atau kebetulan lewat."


Agnes tampak meletakkan dua cangkir teh dengan kelopak bunga mawar di atas meja. "Silakan tehnya."


Danny mengambil salah satu cangkir, menyesap aroma teh mawar tersebut, lalu meminumnya.


"Tentu, gue bakal sering mampir buat minta ini," kata Danny sambil menunjukkan cangkir teh miliknya.


"Lain kali gue nggak bakal beri secara gratis, loh," gurau Gwen tertawa pelan, ditimpali Danny.


Cowok itu kemudian melihat arlojinya. "Kayanya gue mesti balik, deh. Kalau ada apa-apa telepon aja, oke?"


Gwen pun mengangguk. "Oke, hati-hati di jalan, ya."


Danny beranjak menuju pintu. Sebelum sampai di pintu, suara lonceng terdengar. Gwen malah melihat Theo sedang memasuki toko. Cowok dengan gaya rambut two blocks itu tampak membawa buket bunga anyelir putih berukuran besar. Danny juga tampak menyapa singkat calon suaminya itu sebelum akhirnya berlalu.


Theo pun menghampiri Gwen yang berpura-pura konsentrasi pada pekerjaannya.


"Siapa dia?" celetuk Theo serta-merta duduk di salah satu kursi.


"Kalau baru datang, kayanya bilang selamat pagi lebih masuk akal, deh," sindir Gwen tanpa melihat Theo.


"Huft ... iya, iya. Selamat pagi, Gwen," kata Theo menurut karena malas berdebat, "Siapa dia?" Ia mengulang pertanyaannya.


Gwen meletakkan gunting serta bunga mawarnya. "Teman gue."


"Em ... lo emang suka bergaul sama orang tinggi."


Gwen malah menangkap maksud lain dari pernyataan Theo. Tinggi yang dimaksud mungkin mengarah pada kalangan elite, mengingat penampilan Danny yang menggunakan setelan jas hitam. Theo pasti mengira Danny bukan orang sembarangan, meski nyatanya memang demikian.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Gwen.


"Ini." Theo menunjukkan sebuah kotak perhiasan, cukup membuat Gwen tertegun. "Lo nyari ini 'kan, Gwen?"


Itu jepit rambut kupu-kupu milik Gwen, benda yang turut andil membuat ia mengamuk semalam. Gwen harusnya memang tak menelepon Theo karena kondisi yang belum stabil, tapi gadis itu malah nekat melakukannya. Dituduh mengada-ada soal kejadian semalam sangatlah menyulut emosinya.


Gwen hanya merasa ... tak hargai saat itu.


"Thanks," ucap Gwen datar, meski sebagian dirinya tak bisa memungkiri karena merasa begitu bahagia, nyaris ingin melompat. Ia pikir Theo mulai peduli.


"Itu aja?" tuntut Theo. Rautnya seperti orang tak puas. "Ah, gue lupa kalau bawa ini buat lo. Gue nggak tahu lo punya toko bunga sebesar ini. Sebenarnya gue ngerasa bodoh aja karena bawa buket bunga ke toko bunga. Tapi ... gue dengar anyelir putih bagus buat orang yang baru pulih."


"Thanks," ucap Gwen untuk kedua kali, tapi sama datarnya.


"Lo marah?" tanya Theo menyelidik, "Oke, gue minta maaf. Gue nggak maksud nuduh lo gitu semalam, beneran."


Gwen menghela napas. "Ya udah, nggak apa-apa. Lupain! Lagi pula gue udah maafin lo, kok," sahutnya. Bagi orang yang peka, nada dusta ucapan Gwen mungkin sangat kentara.


Gwen kemudian memberi kode pada Agnes untuk melanjutkan pekerjaan. Ia berjalan menuju tangga setelah mengambil buket anyelir yang dibawa Theo. Cowok itu praktis mengikuti langkahnya. Sesampainya di lantai dua, Gwen menuju ke sebuah meja dengan cat keemasan  di tengah ruangan. Ia pun mengganti bunga aster yang melayu dengan anyelir tadi.


"Em ... modiste di dalam florist," gumam Theo, "Lo punya lebih dari satu bakat ternyata."


Mata Theo menangkap sudut demi sudut kondisi ruangan ini. Ada lebih dari satu model gaun yang dipajang menggunakan manekin dan juga beberapa potong setelan jas serta tuksedo di dekat jendela. Namun, sepasang busana pengantin di dalam kotak kaca besar yang paling menarik perhatian cowok itu.


Gwen berbalik, menghadap ke arah Theo yang kini memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Gue ngerasa lebih baik karena melakukan hal yang gue suka."


"Ya, gue pikir lo emang kerja keras buat menghasilkan hal-hal kaya gini." Theo tersenyum.


Tanpa disangka, gadis itu menghampiri Theo. Tanpa ragu Gwen memeluknya, membuat ia tersentak.


"Gue melakukan semuanya demi lo, Theo."


"Demi gue?"


"Bukannya jadi istri itu harus sempurna? Gue berusaha menutupi kekurangan apa pun yang mungkin nggak bisa diterima cowok."


"Lo bahkan terlalu sempurna buat cowok secara umum," kata Theo.


Gwen mengeratkan pelukannya. Walau demikian, Theo sama sekali tak membalas. Tangan-tangan kekarnya lebih memilih bersarang di dalam saku celana, daripada menyalurkan sejumlah rasa positif pada Gwen.


Gwen pikir, dirinya memang tak terlalu berharga bagi Theo. Meski mulut cowok itu terus saja melontarkan soal kelebihan dan kesempurnaan yang dimiliki Gwen.[]