
Bibit tanaman yang diterima oleh Tsukasa langsung berubah menjadi sebuah pohon besar berdaun rimbun, setelah ditanam dan disirami air seperti tanaman biasa.
Tsukasa, Sakuto, dan Raon terkejut melihat hal yang belum pernah terjadi itu. Mereka mengamat-ngamati pohon itu dengan seksama. Anehnya, pohon itu hanya dapat dilihat dan disentuh oleh mereka.
"Sudah pasti ini pohon ajaib. Apakah sensei akan segera mencoba bertapa di bawah pohon ini?" ucap Sakuto.
"Hmm.. Mau tidak mau, aku harus melakukannya." kata Tsukasa.
Begitu Tsukasa duduk di bawah pohon, tiba-tiba..
SRIINGG
Cahaya terang menyelimuti tubuh Tsukasa, lalu wujudnya berubah.
"Se-Sensei?" panggil Sakuto dan Raon secara bergantian, karena sejenak tidak dapat melihat apa yang terjadi.
Begitu membuka mata, dilihat oleh mereka wujud asli Tsukasa yang bertelanjang dada dan mengenakan pakaian asing berupa celana panjang bermotif.
Tsukasa pun terkejut karena dapat melihat dirinya kembali, apalagi wujud manusianya!
"Ternyata benar.." gumam Sakuto.
"Tentu saja. Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bocah?" balas Tsukasa jutek.
"Sensei, apa yang sebenarnya terjadi?" Raon terlihat kebingungan.
"Hmm.. Nampaknya, pohon ini adalah pohon roh yang mampu mengembalikan wujud mahkluk yang telah mati. Oleh karena itu, nantinya pohon ini akan dapat menandakan level roh dan membuatku dapat berubah ke wujud sempurna." jelas Tsukasa, entah darimana ia mendapatkan pemahaman tersebut.
"Kalau begitu, aku juga akan berusaha agar dapat membantu sensei." kata Raon, sementara ia merencanakan pembuatan kerajinan tangan sebagai medium untuk Tsukasa.
Tiba-tiba, terpikirkan olehnya untuk membuat kalung dan cincin berbatu seperti kristal. Raon langsung menggambar sketsa kedua benda pada sebuah kertas.
"Apa yang sedang kau gambar, Raon-chan?" tanya Sakuto.
Mereka pun melihat gambar itu dan setuju. Timbul juga dalam hati Raon untuk membuat kalung dan cincin itu masing-masing dua buah dengan desain yang sama.
"Entah apakah akan berguna, namun kuharap kedua macam benda ini akan cukup untuk membantu sensei." kata Raon.
"Terima kasih, Raon-chan. Namun, kalian berdua tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk membantuku. Bukankah kalian harus belajar untuk pekan ujian akhir, serta mengikuti perayaan tahun baru bersama keluarga kalian?" balas Tsukasa.
"Itu benar.. Namun, kami tetap akan membantu sensei." tegas Raon.
Sebenarnya, Tsukasa sedikit penasaran mengapa kedua anak remaja ini begitu tulus membantunya. Apakah anak-anak muda ini memang baik hati? Ataukah itu semua karena dulunya Tsukasa sering membantu orang lain, sehingga ia menerima balasan dari langit?
Semua hal yang telah terjadi dan akan terjadi benar-benar misteri. Tsukasa hanya akan mengikuti bagaikan arus. Dalam hati Tsukasa percaya bahwa yang berkuasa akan menuntun apapun yang harus dilaluinya, jika ia melakukan bagiannya.
Harapan Tsukasa hanyalah bertemu dan berkomunikasi dengan Mai dan Reita dari hati ke hati, walau hanya sekali. Tujuan Tsukasa adalah menguatkan mereka agar dapat melanjutkan hidup tanpa kehadirannya, juga karena ia pergi dengan begitu tiba-tiba.
"Bagaimana keadaan Mai saat ini ya..? Bila tiba waktuku untuk dapat berbicara dengannya, aku pasti akan memeluknya dan mengatakan bahwa aku sangat mencintainya." ucap Tsukasa.
Sakuto dan Raon hanya terdiam dengan prihatin. Kemudian, Tsukasa mulai memejamkan mata dan mencoba mengosongkan pikiran di bawah pohon ajaib itu.
Tak lama setelah menutup mata..
DEG
Tiba-tiba, seluruh indera Tsukasa seperti terbuka dan satu per satu menjadi jauh lebih tajam. Ia mulai dapat melihat bayangan-bayangan, serta berbagai roh yang berada di sekeliling dan yang berada jauh dari mereka.
"A-apa ini?!" serunya, dengan mata yang masih terpejam.
"Sensei?"
Karena Tsukasa nampaknya tidak apa-apa, Sakuto dan Raon membiarkannya, serta bergantian menjaga Tsukasa hingga hari menjadi sore.
Beberapa saat kemudiab, sebuah suara yang tenang dan jelas berbicara kepada Tsukasa melalui dimensi lain.
Suara itu sangat mirip dengan suara Mai, sehingga Tsukasa secara spontan bergerak ke arah suara itu.
"Mai-chan? Kaukah itu? Mai-chan!" panggil Tsukasa dengan suara yang cukup keras.
Tiba-tiba, suara itu perlahan berubah menjadi sebuah sosok di hadapan Tsukasa.
"Mai-chan?!" Tsukasa segera menghampiri orang yang tengah berdiri sambil menundukkan wajah itu.
DEG
Begitu melihat wajah orang itu, Tsukasa langsung melompat ketakutan.
"Huwaaaa!" teriaknya, kemudian langsung terjatuh dan tak sadarkan diri.
"Sensei!" seru Sakuto dan Raon secara bersamaan.
Kedua anak remaja itu tidak dapat meninggalkan Tsukasa seorang diri, sementara harus pulang ke rumah masing-masing. Akhirnya, Sakuto menyuruh Raon pulang dan menjelaskan bahwa keluarganya memperbolehkan Tsukasa untuk tinggal.
5 jam kemudian..
"Ukh.." Tsukasa bangun dan duduk, dengan kepala yang amat sakit.
"Sensei? Apakah kepala sensei sakit? Tunggu, akan kuambilkan obat--" sebelum Sakuto beranjak, tiba-tiba tubuh Tsukasa diliputi cahaya dan wujudnya berubah kembali menjadi mahkluk setengah roh.
Dalam sekejap, rasa sakit pada kepala Tsukasa pun menghilang.
"Sakuto-kun. Apa yang telah terjadi?" tanya Tsukasa, sedikit linglung.
"Sensei telah pingsan dari tadi hingga malam ini. Apakah sensei merasa lebih baik sekarang?" tanya Sakuto cemas.
"Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih karena sudah menemaniku, sampaikan kepada Raon-chan juga. Namun.. aku tidak begitu ingat apa yang telah kulihat tadi."
"Baik. Sensei tidak perlu memaksakan diri untuk mengingat, lagipula sepertinya bukan hal yang baik.. Lalu, apa yang akan sensei lakukan setelah ini?"
"Hmm.. Tentu saja aku harus menyelesaikan tugasku. Hingga aku dapat berbicara dengan Mai dan ayahku, tidak mungkin aku akan berhenti bertapa atau apapun itu. Tidurlah di rumah, aku akan kembali ke pohon itu." putus Tsukasa.
"Tapi, sensei.."
"Tenang saja. Roh-roh yang kulihat tadi tidak akan dapat melukaiku. Aku hanya terkejut karena sesuatu."
"Sensei dapat melihat semua roh itu? Apakah mereka tidak nampak berbahaya?" tanya Sakuto penasaran.
"Hmm. Kamu yang dapat melihat dan bersentuhan dengan roh tidakkah juga dapat melihat mereka?" tanya Tsukasa.
"Tidak.. sama sekali tidak terlihat." kata Sakuto jujur.
"Hmm.. aneh. Mengapa bisa begitu?"
"Mungkin karena mereka berbeda dari roh-roh yang biasa kulihat." jawab Sakuto dengan cukup yakin.
"Begitu ya.."
Entah mengapa, Tsukasa merasa amat terdorong untuk bertapa di bawah pohon itu sesering mungkin. Yang pasti, kerinduannya untuk bertemu dengan Mai dan sang ayah akan segera terpenuhi.
Malam itu, untuk pertama kalinya Tsukasa merasa senang setelah dikirim kembali ke dunia manusia. Tidak ada hal lain yang dapat menghibur Tsukasa selain tercapainya tujuan utama itu.
Sakuto pun dapat merasakan bahwa Tsukasa bahagia. Tsukasa bersikeras bahwa ia akan baik-baik saja dan pasti segera pulang setelah cukup lelah bertapa. Akhirnya, Sakuto membiarkan Tsukasa pergi dan tertidur dengan tenang hingga pagi hari.
- bersambung -