BLUE

BLUE
t i g a



...TIGA...


Setidaknya Theo tahu jika Gwen adalah orang yang cepat mengalami perubahan suasana hati. Sekejap gadis itu terlihat sangat bahagia, sedetik kemudian malah muram. Sejak tadi entah berapa kali Theo membuatnya tersinggung.


Theo pikir dirinya gila. Ketika lewat tengah malam, ia malah menyusuri jalanan kota. Harusnya Theo sudah tidur dua jam yang lalu. Ia masih tak percaya, dirinya melakukan hal ini hanya demi mengambil sebuah jepit rambut.


Theo memutar setir ke kanan. Pasar malam memang sudah tutup, tapi beberapa petugas masih tampak di sana. Ia memarkirkan mobil, kemudian mengirim pesan pada si badut. Theo pun menunggu di luar sembari duduk di atas kap mobil.


Sekitar lima belas menit berlalu, seseorang akhirnya menghampiri.


"Halo, dengan Tuan Theo?" ucapnya menyapa.


Melihat orang di balik badut ini, mulut Theo seketika terkatup diam. Jantung cowok itu berdebar, suaranya pun tercekat. Bukannya menjawab sapaan orang itu, pikiran Theo malah melanglang buana entah ke mana.


Di balik kostum badut kelinci itu ternyata seorang gadis, dan ia terlihat tidak asing. Theo seperti pernah melihatnya di satu waktu. Tingginya mungkin sepantaran Gwen jika tidak menggunakan heels. Rambutnya hitam lurus sedada. Bibir plum merah mudanyalah yang paling akrab dalam ingatan Theo.


"O-oh." Theo merasa gugup. "Lo badut tadi, 'kan?"


Gadis itu menyunggingkan senyum, dan mengangguk. "Iya, kostum saya ada di sana," katanya. Ia menunjuk ke arah pintu masuk pasar malam. Sebuah kostum badut kelinci putih abu-abu tampak di sana.


"O-oh."


"Ini ...  jepit rambutnya." Ia mengulurkan tangan, memberikan jepit rambut Gwen pada Theo. "Saya pikir ini emang barang berharga. Jadi, secepatnya saya menghubungi Anda. Saya nggak nyangka Anda akan menjemputnya sekarang."


"Makasih. Gwen emang nanyain jepit ini."


"Jadi, nama gadis tadi itu Gwen, ya?" tanya gadis itu, "Boleh minta tolong, nggak? Saya pengin menyampaikan permintaan maaf, karena nggak bermaksud menyakitinya. Sungguh."


"Nggak apa-apa. Dia baik-baik aja sekarang. Permintaan maaf lo nanti gue sampaikan."


Gadis itu tersenyum. "Baiklah, terima kasih."


"Nama lo siapa?"


"Eirene." Gadis itu tersenyum lagi. "Eirene Marsya."


Setelah Theo memerhatikan lekat-lekat, gadis bernama Eirene ini memang persis dengan badut kelinci yang kapan waktu hadir dalam mimpinya. Apakah dirinya telah mengalami semacam vivid dream? Theo tak begitu yakin.


"Kalau gitu saya akan pulang sekarang. Permisi," pamit Eirene berniat meninggalkan Theo.


Namun, tangan Theo secara refleks menahan tangan Eirene. "Ah, maaf," katanya canggung, langsung melepaskan genggaman, "Gue anterin lo pulang, ya?"


"Eh, nggak perlu," tolak Eirene, "Saya belum ketinggalan bus terakhir, kok."


"Nggak apa-apa, gue aja yang antar." Theo bersikeras. "Anggap aja balas jasa karena mengembalikan jepit rambut ini."


Eirene menyambut niat baik Theo dengan senyuman. Cowok itu berlari kecil menghampiri kostum badut miliknya. Awalnya ia merasa tak enak hati hingga berusaha mengambil kostumnya dari tangan Theo, tapi tentu tak berhasil, sebab cowok itu membawa sendiri kostum tersebut ke bagasi mobil.


"Maaf kalau saya merepotkan Tuan."


"Jangan panggil tuan ... Theo aja. Bicaralah lebih santai," kata Theo seraya menutup pintu bagasi.


"Ba-baiklah ... Theo." Eirene merasa gugup. "Makasih."


"Ayo!" Theo menuntun Eirene menuju pintu depan.


...*****...


Sandra nyaris histeris kala mendapati ruang inap Gwen dalam keadaan berantakan. Vas bunga yang semula berada di nakas telah luluh lantak di lantai. Begitu pula dengan segelas air dan beberapa biji obat yang sempat disiapkan perawat untuk dosis malam.


Gwen tak kalah berantakan dari kondisi kamarnya. Selang infus tampak menggantung. Jarumnya bukannya menancap pada nadi Gwen, tapi malah menyentuh lantai. Ia memunggungi ibunya, menatap jendela dengan bantal yang menutupi kepala.


"Gwen," lirih Sandra. Ia melangkah hati-hati, mendekati sang anak yang meringkuk.


"Mama," gumam Gwen.


"Kamu yakin akan meneruskan semua ini?" tanya Sandra.


"Tentu. Gwen 'kan udah sembuh," sahut Gwen terdengar bahagia. Sungguh bertolak belakang dengan kondisi fisiknya. "Gwen mencintai Theo, Ma."


"Mama tahu. Maafin Mama karena meragukanmu." Sandra berusaha mengulas senyum. Tangannya menepuk-nepuk pundak Gwen, layaknya seorang ibu menidurkan bayi.


"Maafin Gwen karena hari ini gagal mengendalikan diri. Gwen janji nggak akan mendekati tempat itu. Semua ini salah Gwen, Ma. Gwen salah," kata Gwen dalam sekejap sudah terisak.


Sandra segera memeluk putrinya. "Nggak, Gwen, kamu nggak salah. Mama ngerti, kamu pengin mengingat kenangan bersama Theo."


Gwen menyingkirkan bantal yang menutupi kepalanya, lalu berbalik. Ia menatap sang ibu yang menatap sendu dirinya.


"Mama menyayangimu," kata Sandra memberikan Gwen pelukan, seolah mentransfer sejumlah energi positif pada putrinya.


...*****...


Merasa bosan diselimuti keheningan, Theo pun akhirnya menyetel musik jazz.


Theo mengangguk. "Sebenarnya musik genre ini ngebantu gue ngilangin penat."


"Hahaha ... benar juga. Sesekali aku juga suka dengerin, kok. Apalagi kalau bisa ditemenin champagne dan berendam di air hangat."


Theo melirik Eirene yang menatap ke depan. Seolah mereka pernah kenal, gadis itu seperti tahu kebiasaan Theo. Bahkan beberapa saat lalu, sebelum menemui Eirene hal tersebut baru saja ia lakukan.


"Wah, sama dong! Sering?" tanya Theo kembali fokus pada kemudi.


"Pernah, tapi satu kali. Pas banget aku dapat traktiran dari teman waktu kelulusan SMA. Kalau seringnya sih ... aku cuma bisa ngedengerin musik jazz aja lewat ponsel. Aku nggak punya cukup uang buat beli minuman mahal, apalagi bermewah-mewah berendam di air panas."


"Oh ...."


"Em ... nggak apa-apa nih kalau kamu nganterin aku? Apalagi ini udah malam. Pacar kamu entar curiga loh."


"Ah, nggak usah dipikirin. Gue nggak sedekat itu juga sama dia." Theo terkikik kecil.


"Hah? Maksudnya?" Eirene praktis mengangkat alis dan melihat ke arah Theo.


"Kami dijodohkan," jelas Theo, "Semacam hubungan yang nggak gue kehendaki."


"Aah ...." Eirene mengangguk-angguk paham.


"Nanti lo ada waktu nggak?" tanya Theo.


"Kebetulan hari ini aku libur, pengin istirahat. Aku juga masih syok sama kejadian tadi," jawab Eirene.


"Kalau jalan sama gue, mau?"


"Eh, apa?" Eirene pikir ia salah dengar.


"Kebetulan gue mau pergi ke pembukaan bar teman gue," sahut Theo menegaskan, "Ada penampilan grup jazz juga nantinya. Ah! Nanti gue traktir minum champagne sekalian, gimana?" tawar Theo.


Eirene terdiam sesaat.


"Eirene?" tegur Theo menyadarkan lamunan Eirene, "Gue harap lo nggak nolak sih."


"Gimana, ya?" Eirene terkikik pelan karena merasa canggung. "Aku baru aja kenal sama kamu. Terus, kamu udah punya pacar lagi."


"Jadi, lo nolak?" Theo menarik kesimpulan. Tersirat nada kesal dan tersinggung di dalamnya.


Eirene menanggapi dengan senyum sumbang. Theo yang melihat senyum itu kemudian menepikan mobil. Eirene pun mengernyitkan dahi, sebab ia merasa belum sampai di tujuan. Terlintas di benaknya, mungkin Theo berniat menurunkan ia di tengah jalan karena jawaban tadi.


"Sorry, aku nggak maksud nyinggung kamu," sesal Eirene, "Aku cuma nggak pengin ganggu hubungan orang lain."


Theo membuang napas sebal. Ia menatap Eirene yang kini melihat dirinya. Tanpa disangka-sangka, Theo begitu saja mendekatkan wajahnya ke wajah Eirene.


Eirene merasakan embusan napas cowok dengan bibir tipis itu di hidungnya. Mata mereka saling bertemu satu sama lain, begitu dekat, sampai-sampai Eirene merasa hilang kewarasan. Entah kenapa dadanya tiba-tiba berdegap kencang. Dalam perutnya pun seperti diserbu ribuan kupu-kupu, nyaris membuat ia kegelian.


"Gue jemput lo nanti, dan ini ... maksa," bisik Theo kembali menarik wajahnya menjauh.


...*****...


Theo pikir dirinya konyol karena begitu dikuasai rasa yang ditimbulkan dari vivid dream itu. Saat mendekatkan wajah pada Eirene, ia tahu jantungnya tidak berdetak normal. Theo sangat ingin merasakan bibir itu, seperti dalam mimpinya. Beruntung ia masih dapat mengendalikan diri sebelum hal memalukan terjadi. Theo jelas tak mau meninggalkan kesan buruk di awal perkenalan dengan si badut cantik itu.


Beberapa menit sebelum pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan menggosok gigi, ibunya mengirim pesan yang berisi alamat di mana Theo dapat menemui Gwen. Ia dibuat merasa konyol untuk kedua kalinya pagi ini. Sesuai pesan ibunya semalam, ia membawa buket bunga untuk Gwen, dan ... lihatlah ke mana alamat ini membawa Theo.


Theo memarkirkan mobil di halaman sebuah gedung lantai tiga yang didominasi warna putih. Di lantai dasar bagian depan, tulisan QUEEN FLORIST terpampang besar dengan cat keemasan.


"Bodoh banget gue bawa bunga buat penjual bunga," rutuk Theo sembari turun dari mobilnya. Meski merasa lucu, ia tetap membawa buket bunga yang telah dibelinya. Tak lupa jepitan rambut milik Gwen yang sudah dikemas dalam kotak perhiasan merah dengan tutup bening.


Theo menuju pintu kaca berdaun ganda. Dari luar toko ini tampak megah. Berbagai bunga warna-warni terpajang di balik jendela kaca besar-besar. Bunyi denting lonceng menandai kedatangan pelanggan. Wangi semerbak menyambut Theo ketika pertama kali masuk, juga seorang cowok dengan tinggi sekitar seratus delapan puluh yang berjalan ke arahnya.


Theo berhenti sejenak kala melihat orang itu. Mata keduanya saling bertemu. Cowok itu tersenyum, menyapanya sekilas dan segera berlalu. Theo pun menghampiri Gwen yang sedang sibuk memotong tangkai bunga mawar.


"Siapa dia?" tanya Theo seraya duduk di salah satu kursi.


"Kayanya bilang selamat pagi lebih masuk akal, deh," sindir Gwen tanpa melihat Theo.


"Huft ... iya, iya. Selamat pagi, Gwen," dengus Theo seolah malas berdebat, "Siapa dia?"


Gwen meletakkan gunting serta bunga mawarnya. "Teman gue."


"Em ... lo emang suka bergaul sama orang tinggi," kata Theo ketika menyadari orang itu sejajar dengan postur tubuhnya.


"Ngapain lo ke sini pagi-pagi?" tanya Gwen.


"Ini." Theo menunjukkan kotak perhiasan yang ia bawa. "Lo nyari ini 'kan, Gwen?"


Pandangan mereka saling bertemu. Gwen pun mengulas senyum, membuat Theo tertegun untuk sejenak. Ia harap tak mengalami vivid dream untuk yang kedua kali. Namun Gwen, gadis itu seperti mengingatkan Theo pada seseorang di masa lalu.[]