
...DUA...
Theo duduk di atas kap mobil sembari menunggu Gwen membeli dua tiket masuk.
Theo melirik arlojinya sekilas, kemudian memeriksa ponsel, berpikir barangkali sang ibu menghubungi, sebab ia keluar bersama Gwen. Benar saja, beberapa pesan masuk dan menghiasi kolom notifikasi. Apalagi kalau bukan kata-kata selebrasi heboh ala ibu-ibu arisan. Theo menebak, sebentar lagi ia pasti akan menjadi buah bibir di antara kenalan ibunya.
Sebagai anak semata wayang, Theo berusaha berdamai dengan sikap sang ibu, meskipun perempuan tua itu ingin mengambil alih sebagian hidup—atau sudah berhasil mengambil alih seluruh hidupnya. Perjodohan dengan Gwen adalah bukti.
Di kejauhan Gwen tampak berlari-lari kecil, menghampiri Theo dengan dua lembar kartu di tangan. Mulanya Theo hanya melirik gadis bersepatu ankle bot dan bergaun brokat sebetis ini, namun pandangan itu berubah menjadi perhatian yang lebih intens. Gadis itu tidaklah seburuk bayangan Theo di awal perkenalan. Kala itu Gwen merupakan gadis kaku pemuja kesempurnaan.
"Ayo!" Gwen berseru, menyadarkan lamunan Theo yang masih saja memperhatikannya. Sadar dengan tatapan cowok itu, Gwen pun tertawa. "Ngapain lo liat gue sampai segitunya? Udah mulai jatuh cinta, ya?"
Setelah berdecut, Theo pun meraup kasar tiket di tangan Gwen. "Mimpi!" sentaknya mendahului gadis itu.
Gwen mengejar, lalu menggandeng lengan Theo. "Jangan menolak!" serunya sebelum cowok itu menghindar.
"Terus kita ngapain, nih?" tanya Theo terdengar ketus. Mereka melewati pintu masuk, kemudian disambut sederet stan makanan di sisi kiri dan kanan.
"Em ... sebenarnya gue pengin banyak hal malam ini," jawab Gwen bingung sembari melihat-lihat ke sekeliling, "Kalau lo mau apa?"
"Apa aja yang penting gue bisa cepetan pulang, nggak terjebak lama-lama sama lo."
"Lah, bukannya lo bakal kejebak selamanya sama gue? Ingat, kita bakal menikah, Theo." Ekspresi Gwen begitu ceria dengan senyum lebar terlukis di wajahnya.
"Senang banget lo ngeliat gue tersiksa," rutuk Theo sebal.
"Lo cuma butuh berdamai dengan hidup lo, Theo. Toh, rupa dan penampilan gue nggak ngebuat lo malu, 'kan? Seenggaknya gue masih pantas dibawa ke acara-acara besar yang dihadiri relasi orang tua kita," kata Gwen.
"Lo juga mesti ingat kalau gue nggak pernah suka sama lo, apalagi cinta," balas Theo menatap Gwen tajam.
Gwen menghentikan langkah, praktis membuat Theo mengikutinya—karena tautan lengan mereka. Raut muka gadis itu berubah datar hingga Theo pun mengernyit heran. Apa karena pernyataannya tadi? Namun, ekspresi Gwen yang tiba-tiba semringah lagi, jelas menyulut keterkejutan Theo. Calon istri pilihan orang tuanya ini normal, 'kan?
"Gimana kalau makan taco?" tanya Gwen kembali ke pembahasan awal, di mana mereka sempat bingung hendak melakukan apa.
Belum sempat Theo menjawab, Gwen menarik tangannya, membawa ia beberapa langkah ke depan menuju penjual taco. Ia memesan satu porsi taco dan segelas susu stroberi.
"Kita bagi dua aja, oke?" ucap Gwen meminta persetujuan.
"Kenapa gue mesti berbagi kalau gue bisa beli taco sekalian sama kedainya?" tanya Theo terdengar sombong.
"Nggak pernah kencan, ya? Ini seni berkencan. Lo harus berbagi sama pasangan lo," kata Gwen setengah mengejek, "Gue pikir lo itu playboy benaran. Masa gini aja nggak ngerti."
Theo menarik napas panjang. Ejekan Gwen tadi cukup membuat tensi darahnya meningkat.
Tak lama, si penjual pun memberikan pesanan mereka. Gwen mendelik Theo. Ia pun menanggapi dengan menaikkan salah satu alis seolah bertanya, Apa lagi?
"Lo pengin beli kedainya, 'kan?" tanya Gwen memberi kode supaya membayar pesanan itu.
Sementara Theo mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompet, Gwen mendahuluinya menuju deretan meja-meja yang disediakan untuk makan di tempat. Setelah itu, Theo bergegas menghampiri. Gwen mulai memakan taco menggunakan tangan. Cukup jauh dari kesan anggun yang biasa disaksikan ketika makan malam bersama keluarga; makan menggunakan cutlery.
"Thanks ya, udah mau nganterin gue," kata Gwen setelah menelan dua gigitan taco dan meminum susu stroberinya, "Suasana di sini masih sama kaya terakhir kali gue datang. Mungkin lebih dari dua puluh tahun lalu."
"Jadi, lo nyeret gue ke sini hanya demi nostalgia?"
"Gue nggak punya cukup keberanian buat datang sendiri," sahut Gwen kembali menggigit taconya, lalu membuang muka ke arah lain.
"Lo itu cewek sempurna. Kenapa lo mau aja dijodohin sama gue, sih?" tanya Theo, "Lo 'kan tahu masa lalu gue, apalagi soal playboy dan Katy."
"Gue punya alasan."
"Soal harta?"
"Gue masih mampu beli barang-barang bermerk tiap hari bahkan tanpa lo nafkahi, Theo."
Theo membenarkan ujung jas biru kelasinya yang sempat terlipat. "Iya, gue lupa. Itulah alasan orang tua gue milih lo, soalnya kita setara."
Gwen mengulurkan tangan, mengarahkan taco tepat di depan mulut Theo. Ia berisyarat menawari, lalu berkata, "Seenggaknya kita harus meninggalkan kesan romantis saat berpacaran, 'kan? Meski lo benci sama gue, nggak cinta sama gue."
Theo menggigit ujung taco, mengunyahnya perlahan. Saat Gwen hendak menarik tangan, ia memegang pergelangan gadis itu, dan memakan taco tersebut sekali lagi. Theo sempat menatap Gwen yang memberinya tatapan tak percaya akan perlakuan tadi. Gadis itu tampak kikuk, hingga Gwen pun meletakkan sisa taconya di atas meja.
"Ayo pulang!" ajak Gwen seraya berdiri.
"Nggak pengin coba naik wahana?" tawar Theo.
Gwen berdecut. "Katanya lo nggak mau lama-lama sama gue."
"Ya udah sih, mumpung di sini, gue bakal ngerelain waktu berharga gue demi nostalgia calon istri yang nggak dikehendaki ini," terang Theo ikut berdiri. Ia meraih tangan Gwen, menautkan jari-jemari mereka hingga saling mengepang.
Theo berjalan menyusuri ramainya pasar malam bersama Gwen. Banyak wahana yang menarik, seperti komidi putar, rumah hantu, kora-kora dan bianglala. Ia pun membawa Gwen menuju komidi putar, terletak cukup jauh dari beberapa wahana yang telah mereka lewati. Namun, sebelum sampai di wahana tersebut, Gwen malah menahan tangan Theo.
"Pulang aja, yuk," kata Gwen. Rautnya berubah lagi—mulanya sempat semringah karena ajakan tak terduga dari Theo.
Theo terdiam. Ia memperhatikan warna muka Gwen yang pucat. Tangan gadis itu juga terasa basah, layaknya keringat telah diproduksi dua kali lipat lebih cepat. Ia dapat merasakan usaha Gwen yang ingin menariknya menjauh dari wahana komidi putar itu.
Namun, tanpa disangka-sangka, ketika Gwen berbalik, ia malah menabrak seseorang hingga dirinya nyaris tersungkur. Untung saja Theo masih memegang tangannya, sedemikian sehingga cowok itu menahan bobot tubuh si calon istri.
Belum sempat Gwen menjawab, ia berteriak histeris tatkala mendapati seseorang berkostum badut kelinci turut menolongnya. Badut itu juga tampak sedang meminta maaf, sebab telah menyenggol Gwen.
Kepanikan Gwen itu ternyata menarik perhatian pengunjung. Mereka yang mulanya berjalan-jalan biasa sontak berhenti. Beberapa dari mereka berbisik-bisik, menyangka orang di balik kostum badut inilah yang menyakiti Gwen.
Gwen menangis keras, memeluk Theo ketakutan. Wajahnya ia benamkan di dada Theo. Sementara itu, si badut melepas kostum kepalanya. Ia juga tampak panik mengetahui kondisi Gwen. Namun, seorang pengunjung menarik si badut menjauh dari Gwen yang kini berusaha ditenangkan oleh Theo. Situasi makin menegang saat Gwen masuk dalam kondisi tak sadarkan diri.
Petugas keamanan pasar malam menghampiri insiden itu. Beberapa dari mereka mengamankan pengunjung yang makin berkerumun penasaran, sedangkan yang lain berusaha menghubungi ambulance. Tak lupa si badut tadi juga digiring ke pos keamanan.
Theo akhirnya menggendong tubuh Gwen menggunakan dua tangan di depan dada, membawa gadis itu keluar dari keramaian.
...*****...
Sandra tak dapat berkata-kata setelah mendengar penjelasan Theo. Ada rasa ingin memarahi si calon menantu, karena ia tidak menjaga putrinya dengan baik. Tapi di sisi lain, Sandra juga tak dapat melakukan hal tersebut. Apapun yang terjadi malam ini memang berawal dari idenya Gwen.
Belum sempat Theo bertanya lebih jauh soal keanehan Gwen tatkala bertemu badut kelinci, Evelyn malah menyuruhnya pulang. Ibunya bilang, mereka akan menjaga Gwen di rumah sakit.
Theo tidak terlalu ambil pusing, dan memutuskan patuh pada perintah Evelyn. Ia juga berencana melupakan insiden tersebut. Sebagian dirinya menganggap Gwen hanya mengada-ada demi menarik perhatian. Apalagi setelah terang-terangan Theo mengakui jika dirinya tidak mencintai Gwen. Ini mungkin bagian dari rencana mereka demi mendulang rasa ibanya.
Theo memasuki apartemen dengan langkah gontai. Tungkainya begitu saja membawa ia menuju sofa. Tubuhnya dihempaskan ringan di atas bagian empuk itu.
"Lucy, nyalakan lampu!" perintah Theo, dan lampu pun menerangi ruang tengah, "Lucy, lebih redup!" Mengikuti seruan, pencahayaan mulai meredup perlahan.
Theo mencoba memejamkan mata. Hari ini cukup melelahkan, sebab banyak kejadian dilewati. Belum lagi soal pergolakan masa lalu, pun turut terungkit. Seolah segar dalam ingatan, bayangan Katy kembali membayangi benaknya.
Kira-kira gimana keadaan Katy yang udah lebih dari setahun nggak ada kabar?, batin Theo bertanya-tanya.
"Lucy, siapkan air hangat!" perintah Theo lagi, seraya bangkit. Rupanya bayang-bayang Katy mampu mengalahkan rasa lelah dan kantuknya.
Sembari menunggu air hangat dalam whirlpool terisi penuh, Theo menuju dapur. Ia mengambil sebotol air dari lemari pendingin. Ponsel yang berdenting dua kali di ruang tengah membuat Theo menghampiri benda tersebut.
Mama
Gwen udah siuman. Besok bawain dia buket bunga. Oke, Baby?
Theo menutup pesan ibunya tanpa membalas. Salah satu alisnya terangkat ketika melihat pesan lain dari nomor tak dikenal.
Nomor Tak Dikenal
Selamat malam, maaf mengganggu Anda. Saya badut di insiden tadi. Bisakah kita ketemu? Jepitan rambut milik pasangan Anda ada pada saya sekarang.
Nomor Tak Dikenal
Melihat pesan itu, Theo berakhir mengunci layar ponselnya. Orang-orang memang suka mengganggu, hingga terbersit penyesalan mengapa dirinya meninggalkan kartu nama di pos keamanan pasar malam. Toh, apa pun barang yang tertinggal tak akan jadi masalah. Apalagi jepitan rambut murahan seperti itu. Gwen bisa membeli lagi dalam jumlah besar saat ia kehilangan satu.
Setelah mengambil sebotol champagne serta sebuah gelas, Theo pun menuju kamar mandi untuk berendam. Memang tak ada yang lebih baik daripada berendam di air hangat. Apalagi ditemani alunan jazz dan champagne dingin.
Tapi, tentu saja pengganggu tak akan membiarkan Theo santai. Belum lima menit, ponsel yang ditinggalkan di dapur berbunyi keras, menandakan sebuah panggilan masuk.
"Sial, gue lupa silent!" rutuk Theo, "Lucy, sambungkan telepon!"
Layar lebar televisi di hadapan jacuzzi-nya menampilkan panggilan video. Seorang yang jauh di sana malah tersenyum tatkala melihat Theo berendam, dan ia segera menyadari hal itu.
"Kenapa lo nggak pingsan aja sampai besok, hah?" tanya Theo sengit.
"Kalau gue pingsan, gue nggak bakal punya kesempatan lihat lo berendam sekarang," sambut Gwen yang sepertinya sama sekali tak tersinggung dengan kesengitan cowok itu.
Theo bersandar pada sandaran jacuzzi, lalu memejamkan mata. Ia tak begitu malu, sebab masih mengenakan celana pendek.
"Mau apa?" tanya Theo tanpa melihat Gwen di layar, namun terdengar menuntut.
"Ngapain buru-buru? Biarin gue ngelihatin lo dulu," jawab Gwen.
Theo membuang napas kasar. "Bukannya kita bakalan nikah? Paling nggak sebulan lagi lo bakal puas kok mandang gue tiap detik."
"Em, bakal beda rasa memandangi orang yang lo suka sebelum dan sesudah dimiliki seutuhnya. Ngomong-ngomong, lo nggak pengin nanya soal keadaan gue gitu?"
"Buat apa? Lo cuma sandiwara, 'kan? Sorry, tapi trik kaya gitu nggak mempan sama gue."
Bunyi bip sontak membuat Theo membuka mata. Layar televisi itu menghitam, menandakan Gwen memutus sambungan telepon. Tapi ... serius? Secara sepihak?
Theo segera beranjak dari dalam jacuzzi. Buru-buru ia mengambil ponsel di atas konter dapur, dan kembali menelepon Gwen. Namun, tanpa disangka-sangka, gadis itu menolak panggilan suara Theo. Sejurus kemudian, Gwen malah mengirimkan sebuah gambar.
Ini 'kan jepit rambut yang dibilang badut itu, pikir Theo.
Theo meletakkan ponselnya kasar. Demi Tuhan, untuk apa peduli pada Gwen? Ia berniat berendam lagi, tidak mengacuhkan jepit rambut murahan itu. Namun, baru dua langkah, Theo kembali mengambil ponselnya. Ia malah mengirim pesan pada nomor tak dikenal tadi.
^^^Saya^^^
^^^Kirim alamat, aku akan mengambilnya.^^^
Theo jadi bertanya-tanya, apa mungkin ia telah menaruh hati pada Gwen? Tapi ... tidak mungkin! Theo harap itu tidak pernah terjadi.[]