BLUE

BLUE
e n a m



...ENAM...


Eirene tak tahu berapa uang yang dihabiskan Theo untuk mentraktirnya beberapa potong pakaian di mal. Meski tak banyak, tapi pakaian ini memiliki merk tingkat menengah sampai terbaik yang mampu menghabiskan satu hingga dua bulan penghasilan Eirene.


Theo tampak membantu Eirene mengemas mini dress yang ia gunakan sebelumnya ke dalam sebuah paper bag. Kini Eirene menggunakan pakaian yang dipilihkan oleh cowok itu. Rasa tidak nyamannya bertambah dua kali lipat—setelah sebelumnya berurusan dengan orang suruhan Gwen. Eirene juga kesulitan dan tidak terbiasa dengan sepatu bot ber-heels yang menutupi kakinya hingga ke lutut.


"Cantik," puji Theo singkat, tapi dapat mengenyahkan beban ketidaknyamanan Eirene sebanyak delapan puluh persen.


"Kayanya kamu berlebihan deh sampai beliin aku sebanyak ini," kata Eirene sembari membenarkan helai rambutnya ke belakang telinga.


"Udah nggak usah lo pikirin, nggak banyak, kok. Gue juga nggak keberatan. Malah gue senang," sahut Theo, "Sini biar gue yang bawa." Ia mengambil paper bag dari tangan Eirene sebelum gadis itu kerepotan.


Eirene terlihat sungkan, apalagi setelah Theo mengangkat siku, memberitahu supaya menyelipkan tangan di antara lengan kekarnya.


"Aku lebih nyaman jalan sendiri, Theo," ujar Eirene menolak dengan halus.


Namun, Theo meraih tangan Eirene, membawa jemari lentik itu memegang lengannya. "Udah nyaman, 'kan?" tanyanya tersenyum, membuat Eirene salah tingkah.


Melangkah pelan, Eirene pun menyesuaikan langkah Theo. Karena heels dari sepatu botnya, Eirene jadi dapat menyaksikan rupa Theo lebih intens, apalagi dengan posisi sedekat ini. Cowok itu memang tampan tak tercela.


Tanpa sadar Eirene menyandarkan kepalanya pada lengan atas Theo. Cowok itu sempat melirik si gadis sekilas, namun sepertinya Theo tidak risi dan terkesan membiarkan. Eirene juga tak malu, sebab mal yang memajang serangkai produk premium ini tak begitu ramai.


Namun, tiba-tiba saja Theo berhenti di depan sebuah toko pakaian.


"Kenapa?" tanya Eirene, melepaskan tautan tangan mereka. Padahal ia kadung nyaman bergandengan seperti itu.


"Tunggu di sini," kata Theo serta-merta masuk ke dalam toko tersebut.


Eirene menuju railing balkon kaca di depan toko itu. Tubuhnya menyandar di sana. Eirene sempat melihat-lihat suasana mal di lantai bawah, sebelum akhirnya pandangannya beralih kembali pada Theo yang berbicara dengan seorang SPG. Cowok itu tampak menunjuk blus yang dipajang pada manekin di sebuah kotak kaca depan toko. SPG tersebut melayaninya ramah. Theo juga menyerahkan sebuah kartu hitam, benda yang sejak tadi diketahui Eirene digunakan sebagai alat pembayaran.


Tak lama, SPG tersebut kembali menghampiri Theo dengan sebuah paper bag sedang. Setelah itu, cowok tersebut memarani Eirene.


"Yuk!" ajak Theo.


Eirene menyambutnya dengan senyum. Namun, matanya segera menangkap jika Theo memisahkan paper bag tadi dengan paper bag milik Eirene, sedemikian sehingga kedua tangannya memegang tas-tas belanja itu.


"Untuk Gwen, ya?" tanya Eirene.


"Iya," jawab Theo singkat.


"Oohh ...." Eirene mengangguk-angguk kecil, begitu saja mendahului Theo.


Entah kenapa dadanya terasa sesak. Eirene tak pernah merasa seperti itu sebelumnya. Ia jadi mengingat kejadian beberapa saat lalu di mobil, ketika Theo melarangnya membahas orang lain.


Eirene mencubit lengannya. Ia meringis pelan. Rasa sakitnya membuat Eirene bertanya-tanya, apakah ia cemburu pada Gwen karena gadis itu juga mendapat perhatian Theo? Memang mustahil. Eirene baru saja mengenal Theo, tidak mungkin perasaan lebih tumbuh secepat itu. Lagi pula wajar jika Theo membelikan Gwen pakaian, sebab gadis itu adalah calon istrinya.


"Lo kenapa?" tanya Theo.


Eirene tersentak tatkala Theo menautkan jari-jemari mereka. Cowok itu tersenyum padanya. Tidak, ini terlalu manis bagi Eirene. Di saat bersamaan, ia juga dilanda rasa takut. Takut akan jatuh cinta pada cowok yang nyatanya telah dimiliki orang lain ini.


"Nggak apa-apa. Memangnya kenapa?" Eirene menjadi canggung sekali. Ia tidak kuat harus menatap obsidian Theo yang memesona. Dunia seketika jungkir balik dibuatnya.


"Lo cemburu, 'kan?" tanya Theo disertai tawa kecil. Cowok itu memang menangkap raut cemberut di wajah cantik Eirene.


Eirene menunduk. Perasaannya melebur menjadi satu; malu, kesal, marah, tidak tahu diri. Bisa-bisanya Theo terang-terangan bertanya seperti itu.


"Tapi, nggak apa-apa. Berarti gue berhasil," ujar Theo setelah beberapa saat.


"Berhasil untuk apa?" tanya Eirene tidak mengerti.


"Ngebuat lo jatuh cinta sama gue."


...***** ...


Demi apa pun yang indah di muka bumi ini, Theo sangat menyukai semu merah di pipi Eirene ketika dirinya memergoki gadis itu cemburu.


Selama perjalanan menuju bar, Eirene menundukkan kepala, tampak enggan meliriknya. Theo merasa geli karena hal ini begitu menggemaskan. Adegan dalam vivid dream-nya kembali membayangi Theo. Ia mengingat bagaimana gadis dalam mimpi—yang begitu mirip Eirene—melumat bibirnya. Theo mencuri-curi pandang pada Eirene yang kini membuang muka ke arah berlawanan.


"Nggak apa-apa, 'kan, kalau lo pulang larut malam ini?" tanya Theo seolah memecah atmosfer canggung yang melanda, terutama pada diri Eirene.


"Iya, nggak apa-apa. Aku tinggal sendiri, jadi nggak terikat aturan," sahut Eirene.


"Orang tua lo ke mana?"


"Aku nggak punya keluarga. Belum lama ini, secara harfiah aku emang hidup sendiri." Eirene tersenyum, tersirat kesedihan di sana. "Beberapa bulan lalu saudara angkatku meninggal, terus disusul ayah angkat," lanjut Eirene bercerita.


"Ah, sorry. Gue nggak maksud mengungkitnya," sesal Theo.


"Nggak apa-apa. Aku pikir, kamu juga perlu tahu tentangku, 'kan?"


Theo memutar setir, membawa mobilnya menuju tempat parkir. Setelah mematikan mesin, ia melepas sabuk pengaman. Namun, Theo mengurungkan diri untuk turun saat menyaksikan Eirene hanya diam saja.


"Theo," ujar Eirene, "Apa hari ini menjadi hari terakhir kita ketemu?"


"Aku mikirin hal ini dari tadi. Kamu punya pacar dan akan menikah, tapi sekarang kamu malah jalan sama cewek lain," jelas Eirene terdengar bimbang. Raut wajahnya juga begitu jelas menggambarkan kebingungan. "Aku bakal anggap ini sebagai jalan-jalan dengan teman biasa, bukan kencan. Kamu lagi ngehibur aku karena kejadian semalam. Jadi, aku bisa mewanti-wanti diri supaya nggak mengharapkan sesuatu yang lebih."


Theo menahan rasa ingin tertawanya. Eirene begitu naif. Tapi, ini lucu dan menggemaskan.


"Kalau lo anggap lebih, gue juga nggak keberatan," timpal Theo, dan ia tahu Eirene menjadi semakin bimbang, "'Kan gue udah bilang, kalau lo jatuh cinta sama gue, berarti gue berhasil."


"Lalu, gimana dengan Gwen?"


Theo mengedikan bahu. "Gue nggak peduli. Perjodohan itu sesuatu yang kuno. Jadi, udah gue putuskan buat bodo amat. Selama gue suka jalan sama lo, gue terusin."


"Theo—em ...."


Eirene terkejut bukan main. Cowok itu begitu saja menempelkan bibirnya di bibir Eirere. Sementara itu, Theo menyeringai. Tidak, ini hanya kecupan saja. Tentu ia tidak ingin Eirene mengalami serangan jantung apabila Theo begitu saja ******* bibir plum itu.


"Lo lebih cantik kalau diam dan nggak bahas soal Gwen," bisik Theo sesaat setelah melepas kecupannya, "Yuk, turun!"


Theo turun lebih dulu, terlihat enteng dan tak terbebani. Disusul Eirene dengan keadaan sebaliknya. Gadis itu memegangi bibirnya, tapi segera ia sembunyikan kegugupan itu tatkala Theo menghampiri.


Lagi-lagi Theo menautkan jari-jemari mereka. "Gue juga suka kalau kita bisa berpegangan kaya gini untuk waktu yang lama."


Mereka berjalan bersebelahan. Theo merasakan kepala Eirene kembali menyandar di lengannya. Ia berusaha menyelami perasaannya. Theo pikir ia juga mulai jatuh hati pada Eirene. Gadis ini cantik dan naif, tapi ekspresi cemasnya sering kali membuat Theo gemas. Eirene juga sepertinya haus akan perhatian, sebab merasa cemburu ketika Theo membagi perhatian pada Gwen.


Eirene sungguh menggambarkan seekor kelinci peliharaan.


Namun, perhatian Theo beralih ketika dengan tanpa sengaja melihat Gwen dari arah berlawanan. Calon istrinya itu tampak bersama seorang cowok yang sepertinya tak asing.


Mata mereka pun saling bertemu satu sama lain.


Cowok itu adalah cowok yang berpapasan dengan Theo tadi pagi di toko bunga milik Gwen. Saat Gwen akan berbalik—menuju ke arah Theo, cowok itu dengan cepat berdiri di depan Gwen; menghalangi.


Theo jadi bertanya-tanya, apa hubungan Gwen dengan cowok itu? Kenapa mereka kedapatan begitu akrab?


...*****...


Danny menutup sesi psikoterapi dengan seorang pria paruh baya yang memiliki keluhan gangguan tidur. Setelah memberikan sebaris dua baris wejangan, pria tersebut pun pamit. Danny akhirnya berkesempatan menghela napas, sebab seharian ini pasien yang datang lebih ramai dari biasanya. Pikirnya, dunia memang sudah gila, jasa medisnya selaku psikiater begitu dibutuhkan. Banyaknya pasien sudah seperti pasien flu di kala pergantian musim.


Jas putih kebanggaan Danny digantung pada stand hanger yang diletakkan di dekat kursi kerjanya. Ia pun kembali duduk, bersandar pada sandaran dengan kedua kaki naik ke atas meja. Sembari memejamkan mata, Danny teringat pada kejadian semalam.


Danny jadi mengingat ucapan Gwen kemarin, saat gadis itu dan Pak Anton saling berbalas pesan. Lalu, ia seperti melihat kembali kejadian ketika menyaksikan Theo bergandengan dengan gadis asing yang tak dikenalinya. Ini mencurigakan karena Pak Anton ataupun orang tua Gwen tak memberitahukan apa pun pada Danny.


Ketukan pintu pun membuyarkan pikirannya. "Masuk!" serunya, kemudian menurunkan kaki dan kembali duduk dengan posisi tegap.


Ternyata Pak Anton yang muncul dari balik pintu, membuat Danny mengernyitkan hidung.


"Pak Anton. Ada apa, Pak?" sapa Danny seraya menghampiri pria tua tersebut.


"Bapak membawa pesan dari Nyonya Sandra yang harus disampaikan secara pribadi," sahut Pak Anton.


"Soal apa, Pak?"


"Soal Nona Gwen dan calon suaminya, Theo."


Danny mempersilakan Pak Anton duduk dengan menarik kursi di seberang kursi kerjanya. Pria tua itu pun duduk, lalu mengambil tablet dari dalam briefcase-nya. Setelah menyentuh beberapa kali pada layar gawai tersebut, Pak Anton menunjukkan beberapa gambar pada Danny.


"Jadi, Bapak emang ngikutin Theo kemarin?" tanya Danny memastikan. Gambar yang ditunjukkan Pak Anton adalah foto-foto Theo bersama dengan gadis yang dilihat Danny.


Pak Anton mengangguk. "Tapi, Bapak melaporkan ini hanya pada Nyonya Sandra, kemudian beliau memerintahkan Bapak untuk memberitahumu."


Danny mengangguk paham, mengingat kembali penjelasan Gwen semalam. Gadis itu memang tidak tahu yang sebenarnya.


"Kemarin saya juga melihatnya, Pak," ungkap Danny.


Pak Anton tampak terkejut, meski pria tua itu tidak berekspresi demikian. Namun, dari sorot mata, Danny tahu.


"Di mana?" tanya Pak Anton setelah tertegun beberapa detik.


"Saat akan ke bar bersama Gwen. Mereka juga pergi ke sana," jelas Danny, "Tapi, Gwen tetap nggak tahu karena saya alihkan perhatiannya."


Pak Anton menghela napas. "Ini rumit. Acara pertunangan tinggal menghitung hari. Gwen mungkin tidak akan bertahan jika tahu calonnya seperti itu."


"Em ... begini, Pak. Bapak tetap lihat perkembangannya sambil nyari tahu soal gadis itu. Sepertinya Theo sedang mencoba memberontak, jadi mencari pelarian lain. Soal Gwen, biar saya yang urus."


"Baiklah, Bapak akan sampaikan ini pada Tuan dan Nyonya Aditya," kata Pak Anton seraya berdiri. Ia segera merapikan gawainya. "Terima kasih, Danny."


Danny mengangguk. "Sama-sama, Pak."


Pak Anton menuju pintu, tapi ia terdiam sebentar ketika tangan keriputnya memegang gagang pintu.


"Terima kasih karena udah ngejagain Gwen selama ini," ujar Pak Anton menegaskan. Danny merasa terenyuh karena menangkap nada keharuan di sana. Ia mengerti, mereka semua telah bekerja keras dalam merangkul Gwen dan mengembalikan semangat hidup gadis itu.


"Iya, Pak, sama-sama." Danny mengulas senyum. "Saya rasa, saya emang dilahirkan untuk menyayangi dan menjaga Gwen, meskipun pada akhirnya saya nggak ditakdirkan untuk memiliki dia."[]