BLUE

BLUE
Chapter 8 : Cara Berkomunikasi



Tak terasa, hari Sabtu di akhir bulan Oktober telah tiba. Akhirnya, Raon mengajak berkumpul dan menceritakan semua yang dilihatnya dalam mimpi kepada Tsukasa dan Sakuto.


"Maaf, sebelumnya aku sibuk sekali. Untung hari ini kita dapat berkumpul di rumahku." ucap Raon.


"Tidak apa-apa, kami paham. Lagipula, pekan ujian sekolah akan segera dimulai. Ngomong-ngomong, benda apa yang akan kau buat, Raon-chan?" balas Sakuto.


"Mm.. kurasa sebuah kalung. Saat ini aku masih memikirkan desainnya."


"Ah, tidak usah terlalu repot, Raon-chan. Kamu dapat membuat sesuatu yang sederhana saja." kata Tsukasa.


"Tapi.. bukankah kalung ini untuk Mai-san?" ujar Raon, ragu.


"Ah.." akhirnya, Tsukasa pun paham.


Kalung yang dibuat oleh Raon akan menjadi sebuah medium untuk Mai dapat berkomunikasi dengan Tsukasa. Akan tetapi, Tsukasa perlu meningkatkan indera roh dan kemampuan spiritualnya terlebih dahulu.


Apa yang dimaksud dengan naik level? Aku hanya dapat berkomunikasi dengan Mai setelah naik level? Bertapa? Hmm.. aku harus segera memecahkan teka-teki ini. -- pikir Tsukasa.


Sementara mereka sedang berpikir dan berdiskusi, tiba-tiba..


KRIINGG


Telepon di rumah Raon berbunyi.


"Maaf, aku akan segera kembali." Raon pun bangkit berdiri dan keluar dari ruangan menuju lorong depan untuk menerima telepon.


"Silahkan." kata Sakuto dan Tsukasa secara bersamaan.


Raon mengangkat telepon dan berbicara selama beberapa saat, sementara Tsukasa dan Sakuto menunggu dengan hening.


Beberapa menit kemudian, Raon kembali dan melanjutkan diskusi itu lagi.


"Raon-chan, siapa yang tadi meneleponmu?" tanya Sakuto tiba-tiba karena penasaran.


"Ah.. itu.. ibuku." jawab Raon, kurang bersemangat.


"Ibumu? Apa yang dikatakan olehnya?" Tsukasa turut bertanya.


"Hmm.. dia menyuruhku pulang ke rumah saat tahun baru." kata Raon.


"Oh. Lalu, mengapa kamu terlihat kurang senang, Raon-chan?"


"Sebenarnya.. hubunganku dengan ayah kurang baik. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara menghadapinya, bahkan saat perayaan tahun baru nanti."


Karena Raon terlihat murung, Sakuto berhenti bertanya dan berkata; "Begitu ya. Kalau begitu, bicarakanlah dengan ibumu saat tahun baru nanti."


Raon mengangguk pelan.


"Setidaknya, cobalah berbicara dengan ayahmu." sahut Tsukasa tiba-tiba.


"Eh.." Raon dan Sakuto sedikit terkejut.


"Ayahmu jugalah alasan kamu terlahir di dunia ini. Jangan biarkan hubungan dengan ayahmu menjadi semakin renggang. Suatu saat kamu akan menyesalinya. Jangan jadi anak manja."


DEG


Mendengar perkataan Tsukasa, mata Raon langsung berkaca-kaca.


"Se-sensei, mengapa harus berkata seperti itu? Bukankah itu sedikit keterlaluan?" protes Sakuto.


"Hmm. Aku tahu kau pasti akan membela gadis ini. Akan tetapi, pikirkanlah baik-baik, Raon-chan. Kamu akan menyesal jika--"


"Hentikan, sensei!" seru Sakuto tiba-tiba.


Karena merasa sedih dan canggung, Raon hanya tertunduk diam.


"Maaf menyanggah. Namun, sensei belum tahu apapun mengenai hubungan keluarga Raon-chan. Semenjak kecil, ayah Raon selalu bekerja dan tidak memperhatikan keluarganya. Ketika pulang, dia hanya marah-marah, bahkan menyalahkan istri dan anaknya. Padahal dialah yang berselingkuh dan melukai perasaan mereka. Jadi, tolong jangan menyimpulkan secara sepihak.." jelas Sakuto.


"Begitu.. maaf, Raon-chan." kata Tsukasa, merasa resah karena salah berbicara.


"Tidak apa-apa, sensei." jawab Raon, kembali tersenyum.


".. Sebenarnya, aku hanya teringat akan ayahku." kata Tsukasa.


"Sensei.."


"Sejak dulu, hubungan ibu dan ayahku juga tidak baik. Saat aku masih kuliah, ibuku membawa lelaki lain ke rumah dan berkata bahwa ia akan meninggalkan kami. Walau begitu, ayah selalu menunggu agar ibu kembali. Sayangnya, penantiannya itu tidak pernah terwujud.. Sejak saat itu, aku tidak ingin jatuh cinta. Memiliki perasaan tak berbalas seperti itu terlihat menyakitkan. Namun, suatu hari aku bertemu dengan Mai, seorang gadis yang berbeda dari para gadis lain yang telah kutemui. Aku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Dia terlalu sempurna untukku. Oleh karena itu, banyak yang menentang hubungan kami, termasuk ayahku. Kami melalui banyak hal.. aku bahkan menentang ayahku dan menjalin hubungan dengan Mai. Kurang lebih 2 tahun kemudian, bukannya menikahi Mai, aku malah mengalami kejadian itu.."


Mendengar cerita Tsukasa, keputusan Sakuto dan Raon menjadi semakin kuat.


"Aku akan membuat kalung itu secepatnya. Mari kita pecahkan masalah ini bersama-sama, sensei." ujar Raon.


"Kalian.." Tsukasa sedikit terharu.


"Tidak perlu sungkan, sensei." Sakuto mengingatkan Tsukasa.


"Baiklah, aku akan bertapa atau apapun itu. Terima kasih." kata Tsukasa dengan senyuman canggung.


Kedua anak remaja itu balas tersenyum hangat.


"Sakuto-kun, apa yang sedang kau bawa dalam saku celanamu?" tanya Raon beberapa saat kemudian.


Rupanya, saku celana sebelah kiri Sakuto terlihat amat menonjol, sehingga menarik perhatian Raon.


"Eh..? Sejak kapan ini.." gumam Sakuto heran.


Sakuto mengeluarkan sebuah benda yang mirip biji tanaman besar dari dalam sakunya.


"Aneh sekali.. apa kau mengambil benda seperti itu dalam perjalanan kemari?" sindir Tsukasa.


"Bu-bukan begitu, sensei. Aku benar-benar tidak membawa apa-apa tadi. Maksudku, semua barang bawaanku ada di dalam tas ranselku." jelas Sakuto, yang memang selalu membawa tas ranselnya kemana saja.


"Hmm.."


Mereka mengamati biji itu, lalu..


SRIINGG


Tiba-tiba, biji itu mengeluarkan cahaya terang dan sebuah mahkluk kecil muncul dari dalam biji itu.


"Kamu.. dewi Haru?!" seru Tsukasa terkejut.


"Hai semua, namaku Haru. Aku adalah dewi langit. Senang berkenalan dengan kalian dan senang bertemu denganmu lagi, Tsukasa." ucap mahkluk itu.


"EHHH??" seru Sakuto dan Raon terkejut.


"Tenang saja. Aku sengaja muncul dengan wujud semungil ini agar kalian tidak ketakutan." kata Haru dengan ceria.


"Hmm.. dia mirip seseorang." Sakuto mengamati Haru.


"Ah.." tiba-tiba, wajah Haru merona.


Melihat itu, Raon tiba-tiba berkata; "Dia biasa saja! Ya kan, sensei?"


"Heh?" Tsukasa hanya bingung.


"Manis sekali.." ucap Sakuto terkesima oleh Haru.


Haru hanya tersipu malu, sedangkan Raon terbakar cemburu.


Haha.. bukankah Haru mirip dengan Raon-chan? Apakah hanya aku yang menyadarinya? -- batin Tsukasa.


"Kamu mirip sekali dengan Yukio, manusia tampan. Sekarang, aku akan memulai penjelasan tentang semua yang perlu kalian ketahui. Dengarkan baik-baik." sela Haru.


Meski cemberut, Raon turut menantikan penjelasan itu.


"Yang dimaksud dengan level untuk Tsukasa adalah kenaikan level roh, mulai dari 1 hingga 5. Kalian akan mengetahui apa yang akan terjadi di setiap kenaikan level. Saat ini, Tsukasa belum memiliki level. Hal yang perlu dilakukan olehnya adalah bertapa di bawah pohon dari biji tanaman yang kuberikan ini. Pertama, tanamlah biji ini agar bertumbuh. Kedua, pertumbuhan tanaman ini akan menandakan kenaikan level roh Tsukasa. Semakin besar tunas dan buahnya, semakin mirip dengan level dan wujud Tsukasa yang sempurna."


"Wah.. apakah sensei akan dapat berkomunikasi dengan Mai-san dan Reita-san semudah mungkin setelah itu?" tanya Sakuto dengan penuh harapan.


"Ukh.." Raon semakin cemberut, sehingga membuat Tsukasa meringis.


"Mmm, sayang sekali. Tidak semudah itu, karena mahkluk roh dan manusia tetaplah berbeda dan terpisahkan. Namun, kalung yang akan dibuat oleh Raon akan memungkinkan komunikasi itu secara tidak langsung." jelas Haru.


"Secara tidak langsung? Darimana kau mengetahui tentang kalung itu?" tanya Raon, yang terkadang sedikit lamban berpikir.


"Tentu saja karena dia adalah seorang dewi. Aku juga penasaran. Tolong jelaskan lebih lagi, Haru." pinta Tsukasa.


"Melalui mimpi." jawab Haru singkat.


"Mimpi?" ulang Tsukasa.


Mendadak, Tsukasa dan kedua anak remaja itu menjadi girang. Itu berarti Tsukasa berkesempatan untuk berbicara dengan Mai dan Reita setelah semuanya telah siap.


Haru hanya tersenyum polos, namun dalam hati ia mengetahui suatu hal lain yang tak terkatakan olehnya.


- bersambung -