BLUE

BLUE
t u j u h



...TUJUH...


Ibunya Danny bilang, Gwen harus lebih banyak mengingat kenangan indah di hidupnya. Supaya dapat mengingat hal tersebut dalam kurun waktu lama, ibu Danny memberinya tugas untuk menuliskan apa pun yang berkesan dalam sebuah buku bersampul biru azure, dengan gambar lima ekor domba yang bulunya mirip bentuk awan.


Ibu Jane, begitu Gwen kecil menyebutnya. Wanita paruh baya itu diperkenalkan oleh ayahnya—Aiden—beberapa hari lalu.


Pagi itu tampak seperti pagi pada umumnya. Bibi Sally baru saja selesai memasak dan segera menata santapan di atas meja makan. Sementara itu, singlet Pak Anton tampak basah, karena sepertinya beliau baru saja selesai menyiram kebun anggrek milik Sandra di halaman belakang.


Gwen cilik berusia sepuluh tahun, pun menuruni tangga dengan boneka anjing pudel hitam. Tangan-tangan mungilnya memeluk erat benda berbulu itu, seolah mewaspadai siapa pun yang berniat merebut. Ia segera menuju meja makan, menghampiri kursi miliknya. Kursi bercat fuchsia milik Gwen tampak nyentrik di antara perabotan ruang makan yang didominasi warna hitam keabuan.


"Pagi, Gwen," sapa Aiden seraya mengacak-acak puncak kepala putrinya, "Kamu udah siap buat ketemu teman baru hari ini?"


Gwen mengangguk lalu memasukkan sebuah wortel rebus yang ditaburi bubuk oregano ke dalam mulutnya. Ia kembali fokus pada piring sarapan. Jemari mungil Gwen tampak memilih-milih bingung antara kentang, brokoli dan wortel, bakal giliran yang akan dimakan berikutnya.


Di sisi lain, Bibi Sally tergopoh-gopoh dari arah ruang tengah. Ia menuju ke arah Aiden yang sedang menyesap kopi hitam sembari membaca koran.


"Nyonya Jane sudah datang, Tuan," ujar Bibi Sally. Mendengar hal itu, Aiden pun menutup lembaran koran tersebut dan meletakkannya di atas meja.


"Ayo, Ibu Jane sudah datang," kata Aiden. Tangan kekar pria tersebut menarik kursi fuchsia milik Gwen, membawa putrinya ke dalam gendongan.


Sandra yang baru kembali dari kebun menyapa mereka. Wanita itu mengelus lembut puncak kepala putrinya yang berposisi lebih tinggi.


"Mama dengar kamu kedatangan teman baru hari ini. Semoga kamu menyukainya, Gwen." Sandra mengulas senyum.


"Aku akan mengantar Gwen, kamu sarapanlah dulu," kata Aiden lembut, dibalas anggukan oleh Sandra.


Aiden melanjutkan langkah menuju ruang tengah. Di sana Ibu Jane dan seorang remaja laki-laki tanggung tampak menunggu. Mereka menyambut Gwen yang kini duduk di pangkuan ayahnya.


"Selamat pagi, Gwen. Apa mimpimu indah semalam?" tanya Ibu Jane. Suaranya yang mengalun lembut membuat Gwen merespons dengan anggukan tipis.


"Bagus," puji Ibu Jane tersenyum, "Kalau begitu, ayo, kita mulai belajar. Sini, Ibu akan menggendongmu."


Kedua tangan Ibu Jane mengulur, merengkuh tubuh mungil Gwen. Setelah berpamitan singkat pada Aiden, Ibu Jane membawa Gwen menuju ke ruang belajar dan bermain yang terletak di dekat kebun belakang, diikuti remaja tanggung tadi.


Mereka akhirnya sampai di sebuah ruangan dengan dominasi warna pastel ceria. Di sisi kiri dekat jendela, sebuah lukisan jerapah yang kepalanya menyentuh plafon tampak menjadi ikon utama. Ruangan ini cukup luas sebagai tempat belajar dan bermain. Di tengah-tengah ruangan juga terdapat tenda indian mini yang di dalamnya dipenuhi mainan balok.


Ibu Jane menurunkan Gwen, sementara si remaja tanggung tadi mengambil meja lipat yang diletakkan tak jauh dari lukisan jerapah.


"Hai," sapa remaja tadi sembari menata meja. Sedangkan Ibu Jane tampak sibuk menyiapkan materi pelajaran untuk Gwen.


Bukannya membalas sapaan remaja tadi, Gwen malah mengawasinya waspada. Ia sangat asing. Remaja itu memiliki iris biru yang mencolok, tampak serupa dengan bola mata Ibu Jane. Namun menurut Gwen, tatapan si remaja tak selembut guru privatnya tersebut.


"Namaku Danny. Namamu siapa?" tanya remaja itu setelah memperkenalkan diri.


Gwen tetap tidak merespons. Tangannya malah mencengkeram erat boneka pudel hitam yang sejak tadi enggan untuk ia lepaskan.


"Aaa ... ibuku bilang namamu Gwen. Apa benar?" tanya Danny kembali memancing Gwen supaya merespons, "Nggak usah takut. Aku cuma mau berteman, kok."


"I-iya," gumam Gwen pelan. Meski begitu, hal tersebut berhasil menarik perhatian Ibu Jane. Wanita itu seketika tampak semringah, karena tak mudah bagi Gwen untuk menerima orang baru.


"Bonekamu lucu, siapa namanya?"


"Ciarra."


Gwen menunjuk balok-balok di dalam tenda indian miliknya. Sorot mata Danny mengikuti, dan remaja itu tersenyum. Tangannya praktis menggait tangan mungil Gwen. Ibu Jane yang menyaksikan hal tersebut makin terperangah karena respons gadis cilik itu, sangat tak terduga.


Ibu Jane mengemas kembali buku-buku pelajaran bersifat eksakta yang semula ia persiapkan. Wanita itu akhirnya duduk di dekat rak buku, memperhatikan putranya yang kini bermain di dalam tenda indian bersama Gwen. Sebelum itu, ia juga sempat melihat tugas yang diberikan kemarin pada Gwen—menulis buku harian. Ternyata bukunya masih kosong.


Sembari mengajari cara menyusun balok-balok kayu dalam bentuk unik, Danny menceritakan banyak hal pada Gwen. Ia mengatakan mulai masuk SMP tahun ini. Danny juga memberitahu Gwen jika ia ingin mengikuti kelas percepatan supaya bisa tamat secepatnya dan terbebas dari PR.


Gwen, gadis mungil itu lekat-lekat memperhatikan Danny yang berbicara panjang lebar. Sesekali ia tersenyum tatkala remaja itu menyinggung hal lucu. Ibu Jane yang menonton mereka pun tak luput dari perasaan geli, apalagi mendengar hal-hal alamiah yang diceritakan putranya.


"Kamu tahu, Gwen, aku sebenarnya nggak suka belajar. Tapi suatu hari, aku ngeliat ayah melakukan ini,"—Danny mengambil boneka pudel hitam dari tangan Gwen, dan meletakannya di lantai—"hap, hap, hap ...." Danny melakukan gerakan menekan-nekan pada dada boneka itu.


Gwen memperhatikan dengan saksama.


"Gerakan apa itu?" tanya Gwen.


"Ayah bilang, ini seni menyelamatkan orang."


"Hah, emangnya ada seni kaya gitu?" Gwen terlihat bingung. Sependek yang ia tahu, seni itu berkaitan dengan menggambar, melukis, membuat patung atau bermain drama.


"Ada!" ujar Danny semangat membuat Gwen tersentak, "Ayahku juga melakukan ini,"—Danny melanjutkan dengan meletakkan sebuah balok kayu di dada Gwen, lalu salah satu tangan di telinganya—"Gwen, aku bisa mendengar degap jantungmu."


Gwen memiringkan kepala. "Ayahmu dokter?" tebak Gwen disambut acungan dua ibu jari oleh Danny.


"Aku pengin jadi kaya ayah, itu sebabnya aku nggak boleh malas belajar." Danny menutup cerita dirinya dengan senyum bangga. "Kalau kamu ... apa cita-citamu, Gwen?"


Gwen terdiam sejenak. Tangan mungilnya kembali memeluk boneka pudel hitam yang sempat tergeletak di lantai untuk beberapa saat.


"Bertemu Lucy," gumam Gwen pelan, membuat Danny mengernyitkan dahi.


...***** ...


Hari ini Ibu Jane mengajarkan cara menghitung KPK dan FPB pada Gwen. Gadis cilik itu tampak konsentrasi mengerjakan soal yang diberikan. Ibu Jane juga merasa senang akibat kemajuan signifikan yang ditunjukkan Gwen. Obrolan panjang bersama Danny adalah kali pertama Gwen merespons pembicaraan dua arah sejak dua tahun terakhir.


Sementara Gwen sibuk, Ibu Jane memeriksa buku harian si gadis cilik. Wanita itu tersenyum. Gwen mulai menuliskan kenangan indahnya di halaman pertama. Ibu Jane makin terenyuh tatkala mengetahui jika bertemu dirinya dan Danny menjadi satu kenangan indah bagi Gwen.[]


.......


.......


.... ...


...Gwen's Diary...


...Bagaimana aku mengawalinya, ya? ...


...Aku Gwen, 10 tahun. Ini hari pertamaku menulis diary. Hari ini aku punya teman baru, namanya Danny. Dia baik dan lebih tua 2 tahun dariku....


...Ibu Jane adalah ibu yang baik. Dia datang ke rumah sejak seminggu lalu. Dia orang yang membantuku belajar dan menyuruhku menuliskan hal berkesan di dalam buku ini....


...Tertanda, Gwen....