BLUE

BLUE
l i m a



...LIMA...


Gwen menatap kotak kaca besar yang memajang busana sepasang pengantin. Ia mengerjakan proyek ini selama beberapa bulan, hingga akhirnya siap untuk ditampilkan di depan Theo; bahwa ini adalah pakaian yang akan mereka gunakan ketika menikah nanti. Namun, sayangnya semua tak berjalan seperti rencana Gwen. 


Beberapa saat lalu Theo berpamitan jika pagi ini ada hal yang harus dikerjakan di kantor. Gwen sudah mencoba menahan si calon suami, dan pastinya tidak berhasil. Sementara itu, Pak Anton tampak menghampiri Gwen karena sebelum itu ia sempat meneleponnya. 


"Ada apa, Nona?" tanya Pak Anton. Pria tua dengan setelan jas hitam rapi ini berdiri di sebelah meja dengan vas bunga anyelir yang dibawakan Theo tadi. 


"Pak ... Bapak bisa nolongin aku nggak?" tanya Gwen tanpa melihat Pak Anton. 


"Soal apa?" 


Gwen pun berbalik. "Aku ingin tahu kegiatan Theo hari ini. Bapak bisa melaporkan tiap detailnya, 'kan?" 


Pak Anton terdiam, tapi Gwen dapat melihat keraguan pada raut muka pria tua itu. Sempat berpikir beberapa detik, Pak Anton pun mengulas senyum. "Baik," katanya singkat. 


"Makasih, Pak," ucap Gwen lega, "Tapi, Bapak jangan bilang sama Mama dan Papa kalau aku nyuruh gitu, ya." 


"Tentu, Bapak akan melaporkan setiap detail dan menjaga rahasia ini. Kalau begitu, Bapak permisi." Pak Anton undur diri untuk melaksanakan tugas dari Gwen. 


Di saat bersamaan, Sam terlihat membawa ponsel milik Gwen yang sempat tertinggal di lantai satu. Gadis itu menyerahkan benda pipih tersebut, dan bergumam bahwa Danny yang menelepon. 


"Halo," sambut Gwen setelah mendekatkan ponselnya ke telinga. 


"Halo, Gwen, lo di situ?" tanya Danny di seberang telepon, memastikan. 


"Iya, ada apa?" 


"Jadi gini, gue barusan dapat brosur. Ada pembukaan bar baru di dekat rumah sakit. Mau ikut ke sana nggak?" tanya Danny. 


"Ngapain? Gue 'kan nggak boleh minum bir," sahut Gwen. 


"Ya, kalau sama gue boleh, segelas doang tapi," kata Danny terdengar bergurau, "Gimana? Entar gue traktir gelato deh pas di jalan." 


"Ya udah, gue ikut buat nemenin lo aja." 


"Oke, siap! Nanti jam delapan gue jemput. Dandan yang cantik, Gwenlyn!" 


Sambungan telepon pun terputus. Sejurus kemudian, Gwen melirik Sam yang ternyata lancang menguping pembicaraannya dengan Danny. Bukannya merasa bersalah, Sam malah menyernyih, memamerkan sederet gigi dan wajah tanpa dosa. 


"Maaf, Nona. Aku nggak sengaja," kata Sam. 


Gwen mendengus. "Kamu sengaja, Sam." 


"Ya, habisnya, Anda lebih cocok dengan Tuan Danny daripada cowok yang tadi itu," ungkap Sam merujuk pada Theo, "Udah dingin mirip es batu, terus kayanya dia juga nggak terlalu suka sama Nona. Beda banget dengan Tuan Danny. Udah tampan, baik, perhatian lagi." Tanpa sadar ia malah me-roasting calon suami majikannya.


Gwen mengangkat salah satu alis. "Gimana kalau kamu aja yang pacaran sama Danny?" tanyanya, yang entah kenapa bisa muncul pertanyaan seperti itu. 


Sam tersentak, praktis menyilangkan kedua tangan di depan dada. Gadis itu menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Aku terlalu muda untuk berpacaran." 


"Bukannya umurmu sudah dua puluh dua, ya?" 


"Masih muda, 'kan?" tanya Sam dengan polosnya. 


Gwen lagi-lagi mendengus. "Harusnya udah menikah, sih." 


"Nona sendiri yang lebih tua dariku enam tahun belum menikah—oops! Maaf, Nona Gwen, aku nggak sengaja. Kalau gitu aku permisi, pekerjaanku belum selesai." Sam segera undur diri sebelum Gwen memarahinya. 


"Hai, Samantha! Tunggu!" 


"Aku akan menyuruh Agnes menyiapkan baju terbaik untuk nanti malam!" pekik Sam sembari menuruni tangga. 


Gwen tersenyum menahan tawa. Sam memang seperti itu, suka bergurau dan menggodanya. Apalagi gadis itu kerap kali menjodoh-jodohkan Gwen dengan Danny, padahal Sam tahu jika mereka hanya sebatas sahabat saja. Meski begitu, Gwen tidak pernah merasa marah ataupun direndahkan. 


Karena bagaimana pun, Theo adalah satu-satunya cowok yang mampu mengisi relung hati Gwen. 


...*****...


Eirene berusaha yakin dengan penampilannya malam ini. Koleksi pakaian terbaik yang ia miliki tidaklah terlalu buruk. Eirene pikir, setidaknya tidak akan membuat Theo malu jika jalan beriringan dengannya.


Dalam balutan mini dress hitam berlengan sesiku, Eirene menuju tempat di mana Theo akan menjemput. Tadi sore cowok itu memberitahu kalau akan menjemputnya lebih awal, entah apa tujuan Theo.


Tak lama sebuah mobil SUV tampak menyalakan lampu sein, tepat beberapa meter dari jarak Eirene berdiri. Ia mengernyit, Apa mungkin itu Theo?, sebab seingat Eirene, ketika mengantarnya kemarin Theo memakai mobil jenis sedan. 


Mobil hitam doff dengan label RUBICON di bagian samping kapnya, pun berhenti tepat di depan Eirene. Mesin mobil masih menyala, tapi ia tahu seseorang turun dari kemudi dan menghampirinya. 


"Sorry, gue telat," sambut Theo. 


"Ah, nggak, kok. Aku juga baru sampai." 


"Kalau gitu kita ke mal dulu, ya." 


"Hah, ngapain?" tanya Eirene. 


"Udah, ikut aja," jawab Theo. Ia segera membukakan pintu mobil, menuntun Eirene masuk. Gadis itu agak kesulitan karena mobil ini lumayan tinggi, belum lagi pakaian yang ia gunakan cukup pendek. 


Di dalam mobil, Eirene sesekali mencuri pandang ke arah Theo yang fokus pada kemudi. Ia baru menyadari jika cowok ini begitu tampan. Kemarin Eirene melihatnya dalam balutan setelan jas, dan hari ini Theo memakai pakaian kasual—kaos putih dibalut varsity cokelat fawn berlengan hitam, bawahan jeans hitam, serta sepatu skate platform. 


Sejurus kemudian, Eirene merasa minder. Bisa-bisanya ia menerima ajakan cowok ini. Dari penampilan dan kendaraan, Eirene kira Theo bukan cowok yang berasal dari keluarga sembarangan. Belum lagi soal fakta jika cowok ini sudah memiliki tunangan. Kenapa aku bisa selancang ini?, pikirnya.


Eirene menyampirkan helai anak rambut ke belakang telinga. Ia begitu kikuk, apalagi dalam balutan keheningan. Hatinya bergolak, barangkali cowok bernama Theo ini menyesal setelah melihatnya untuk yang kedua kali. Karena Eirene yang tak sesuai harapan, makanya tak satu pun untaian kata terlontar.


"Eirene ... udah makan?" tanya Theo dengan pertanyaan klise.


"Udah, kok. Kenapa?" 


"Nggak, hehehe ...." Theo juga terdengar canggung. "Kok diam aja dari tadi?" 


Eirene hanya tersenyum. 


"Lo nggak suka, ya, jalan sama gue?" tanya Theo. 


"Bukan begitu." Justru yang mestinya nanya gitu itu aku, batin Eirene. 


"Terus?" 


"Aku cuma ngerasa ini salah aja, Theo." 


"Salah? Soal apa?" 


"Soal pacar—"


Eirene terdiam lagi. Ia kemudian menyadari jika Theo sejak tadi selalu melirik spion, seperti terganggu akan sesuatu. Eirene praktis melihat ke belakang. Sebuah mobil sedan hitam berada di belakang mereka, yang menurutnya itu bukan hal aneh.


"Kayanya ada yang ngikutin kita," ujar Theo seolah menjawab ketidaktahuan Eirene. 


"Siapa?" 


"Mungkin orang suruhan Gwen. Mobil itu terus ngikutin setelah gue menemui Gwen pagi tadi." 


Theo berbelok, memasuki kawasan mal dan langsung menuju basement. Mobil sedan tadi ternyata tetap mengikuti, tapi terlihat menjaga jarak menjadi lebih jauh. Theo pun memarkirkan kendaraannya. Matanya tetap memandang awas ke arah mobil tadi, yang kini terparkir berseberangan dan berjarak empat mobil darinya.


"Tunggu di sini," ujar Theo sembari turun, meninggalkan Eirene begitu saja. 


Eirene pun melepas sabuk pengaman. Tetap diam di dalam mobil, ia mencari-cari keberadaan Theo—melihat ke belakang dan ke mobil tadi secara bergantian. Sementara mobil yang dimaksud belum mematikan mesin—karena lampu depan yang terlihat masih menyala. 


Tanpa disangka-sangka, Theo muncul dari belakang mobil tersebut dan segera mengetuk kaca pintu kemudi, juga memegangi spion kalau-kalau kendaraan hitam mewah itu bermaksud melarikan diri. Rupanya Theo berjalan memutar dan membuat si pengemudi lengah.


Eirene memerhatikan dari kejauhan. Tampak seorang pria tua keluar dari mobil tersebut, kemudian menyapa Theo sopan. Eirene yakin pria tua itu panik karena kepergok, tapi sikap tenangnya berhasil menutupi. 


Mereka berbicara satu sama lain. Terlihat raut muka Theo sangat kesal. Mungkin pria tua itu memang orang suruhan Gwen, seperti dugaan cowok itu. Tak lama pria tua tersebut kembali masuk ke dalam mobil dan sedan hitam itu pun berlalu ke luar basement.


Setelah yakin aman, Eirene turun dari mobil. Ia dan Theo saling menghampiri. 


"Siapa dia?" tanya Eirene cemas. 


"Bukan siapa-siapa," jawab Theo seperti menyembunyikan sesuatu. 


"Kamu bilang dia orang suruhan pacarmu, 'kan?" Eirene memastikan. "Aku emang salah karena milih buat menemui kamu hari ini. Aku emang kehilangan akal sehat. Sorry, tapi aku nggak mau terlibat lebih jauh. Permisi." 


Namun, belum mencapai dua langkah Eirene berhenti. Pergelangan tangannya terasa nyeri. Theo lah yang menahan Eirene. Cowok itu tampak makin marah setelah Eirene mengucapkan tidak akan terlibat lebih jauh. 


"Nggak, gue nggak bakal lepasin lo. Bersiap lah untuk terlibat lebih jauh, Eirene!" 


...***** ...


Danny menangkap kegusaran Gwen kala gadis ini melihat ponselnya. 


"Lo kenapa?" tanya Danny. Karena lampu lalu lintas sedang merah, ia dapat melirik jelas siapa teman mengobrol Gwen. "Pak Anton?" 


Gwen terkejut, segera menoleh ke arah Danny yang keheranan. Cowok itu nyaris terlambat memindahkan persneling saat lampu lalu lintas berubah hijau, sebab belum mendapat penjelasan. 


"Lo ngomongin apa sama Pak Anton?" tanya Danny terdengar tak tenang, meskipun sekarang ia sudah kembali fokus pada kemudi.  


"Bukan apa-apa," jawab Gwen berdusta. 


"Gwen ... cepat atau lambat gue pasti tahu juga, kok. Mending lo bilang ke gue sekarang, deh." Danny tersenyum setelah melirik Gwen. 


"Itu ...." 


"Iya, apa?" tanya Danny. 


"Sebenarnya gue nyuruh Pak Anton buat ngikutin kegiatan Theo hari ini." 


"Em, terus?" 


"Nggak ada yang menarik, sih, sebenarnya. Selepas dia pergi dari toko, Theo ke kantor, terus hadir di rapat dewan direksi. Setelah itu, dia keluar kantor pakai baju biasa langsung ke mal. Udah, gitu aja," jelas Gwen. 


"Tapi, kok, lo cemas gitu?"  


"Nggak tahu, gue ngerasa nggak tenang aja." 


"Ya udah, mending lo minum dulu biar tenang," kata Danny menunjuk kotak konsol di dekat persneling, tempat ia menyimpan tumbler, "Kayanya lo masih trauma gara-gara badut kemarin. Obatnya udah lo minum, 'kan?" 


Gwen mengangguk. "Iya, mungkin," sahutnya sumbang kemudian meminum air. 


Mobil Danny memasuki kawasan parkir rumah sakit. Seperti yang ia katakan tadi pagi, mereka akan pergi ke acara pembukaan bar di dekat sana. Jadi, Danny menempatkan mobilnya di sini supaya mereka bisa berjalan kaki sembari membeli camilan kaki lima. 


"Udah mendingan?" tanya Danny memastikan sebelum mereka turun. 


Gwen pun mengangguk. 


"Ayo, turun!" ajak Danny. 


Danny menghampiri Gwen dan terpesona. Dalam balutan kaos hitam lengan panjang dan celana pendek jeans, gadis itu tampak cantik. Ingin sekali Danny memuji, tapi ia hanya bisa mengungkapkannya dengan tersenyum. 


"Kenapa ketawa? Gue kelihatan aneh, ya?" tanya Gwen. 


"Ah, nggak, kok. Lo cantik," sahut Danny pada akhirnya melontarkan pujian. Lagi-lagi ia mengangkat siku, memberi kode supaya Gwen segera menggandeng lengannya. 


"Dane, ingat! Gue udah punya calon suami. Kebiasaan, deh," dengus Gwen seraya mendahului Danny berjalan menuju trotoar. 


"Heh, tunggu, Gwen!" Danny berlari mengejar Gwen yang kini sudah berada di luar kawasan rumah sakit. "Jadi beli gelato, nggak?" tanya Danny kemudian. 


"Jadi! Tapi, sekarang ya? Takutnya entar lo kebablasan minum, terus mabuk, deh." 


Danny menunjukkan kedua ibu jari tangannya sebagai tanda oke. Mereka pun menyusuri trotoar hingga tinggal berjarak beberapa meter dari tempat bar yang baru buka itu. Dari kejauhan saja sudah tampak ramai.


Karena kesepakatan mereka sebelumnya, Danny akhirnya membawa Gwen ke stan gelato yang kebetulan berada di dekat sana terlebih dulu. Gwen memilih gelato rasa red velvet dengan tambahan saus keju, sementara Danny memesan rasa teh hijau. 


Sembari menunggu—dengan Gwen yang tampak antusias—tanpa sengaja Danny melihat Theo yang berjalan dari arah berlawanan. Namun, Theo sepertinya tidak sendiri. Ia terlihat bersama seorang perempuan berambut panjang sepinggang, menggunakan jeans pendek yang dipadukan dengan boyfriend-shirt putih. Tampaknya mereka juga menuju bar itu. 


"Dane, ini gelat—" 


Gwen yang semula ingin memberikan gelato milik Danny sontak terkejut kala cowok itu secara tiba-tiba berdiri di depannya. Ia cengar-cengir, iris birunya juga tampak berbinar. Tubuh dengan dada bidang itu menjulang di hadapan Gwen, sampai-sampai membatasi jarak pandangnya. Gwen jadi bergidik ngeri jika melihat tingkah aneh Danny seperti ini. 


"Lo kenapa?" tanya Gwen heran, "Nih!" Ia pun memberi Danny satu kap gelato teh hijau pesanannya tadi dengan kasar, sampai kap gelato tersebut membentur dada bidang cowok itu. 


Ketika Gwen akan melanjutkan berjalan, Danny malah menghalangi. Gadis itu menghindar ke kanan, ia ikut, begitu pula saat ke kiri. 


"Lo kenapa, sih?" kesal Gwen karena tidak mengerti dengan perubahan sikap Danny. 


"Udah dapat gelato, 'kan?" Danny memastikan, dibalas anggukan Gwen. "Pulang, yuk!" 


"Lah, katanya tadi mau ke bar?" Gwen menjadi semakin heran. 


"Udah, nggak usah! Besok juga bisa. Gue dekat juga dari rumah sakit ke sini," jelas Danny, "Entar gue bisa pergi sama anak-anak koas, sambil traktir mereka." 


"Terserah lo, deh, Dane!" kesal Gwen berbalik meninggalkan Danny. 


Namun Danny ... ia masih berdiri di sana sembari menghela napas lega. Maafin gue, Gwen, ini demi kebaikan lo. Gue nggak mau lo lihat Theo jalan sama gadis lain.[]