
Malam itu, perjamuan di kediaman keluarga Hayashi berlangsung meriah dan anggun. Mai terlihat amat cantik dengan mengenakan kimono panjang buatan tangannya sendiri, sehingga membuat para pemuda dari keluarga terhormat manapun ingin segera meminangnya.
Semenjak beberapa generasi sebelum Mai, keluarga Hayashi memang terkenal dengan usaha pembuatan kimono dan pakaian sehari-hari yang nyaman, indah, dan berkualitas tinggi.
"Cantik sekali. Aku ingin dia membuatkan pakaian untukku dan menjadikannya milikku." bisik para pemuda di tempat itu kepada keluarga mereka masing-masing.
"Nona Mai. Bisakah anda duduk di tengah ruangan agar kami dapat mengamatimu dengan lebih seksama?" ucap orang tua dari salah seorang pemuda terhormat yang diundang.
Mai sedikit terkejut mendengar permintaan tersebut. Namun, para tetua memaksanya agar menurut dengan isyarat tubuh.
Mau tidak mau, Mai beranjak dari tempat duduknya dan duduk di atas alas yang segera disediakan oleh para pelayan di tengah ruangan.
"Wow.. benar-benar cantik." semua pemuda itu amat terpukau oleh pesona Mai.
Dilihat dari dekat, Mai memang sempurna. Kulitnya putih mulus, rambut berwarna hazel sebahunya dibiarkan tergerai, suara dan pembawaan dirinya amat elegan dan manis.
Duh.. aku benar-benar tidak suka diperhatikan dengan tatapan seperti ini.. -- batin Mai, namun terus menahan diri.
"Nah, selanjutnya, Nona Mai akan bernyanyi untuk kita semua. Ya kan, para tetua?" kata seorang pemuda, dengan bangkit berdiri.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa--" Mai menolak, namun..
"Lakukan, Mai." sanggah Yayoi, seorang dari para tetua yang selalu mengintimidasi dan memerintah seluruh keluarga Hayashi.
"...." Mai tidak dapat menolak, ia pun mulai bernyanyi dengan tidak senang hati.
Para pemuda itu bersorak ria, sementara Masashi sedari tadi mengamati Mai dari sudut lain ruangan itu.
Hmm. Kau memang mengagumkan, Mai. Suaramu tetap merdu meski menyanyi dengan terpaksa. Malam ini aku harus memilikimu. -- batin Masashi licik, sambil meminum arak.
Waktu pun berlalu dan perjamuan itu selesai. Para pemuda tersebut bahkan tidak membiarkan Mai beristirahat dan langsung mencoba berbicara dengan gadis itu.
"Nona Mai. Apakah kamu tidak tertarik padaku?" tanya Nagi, yang tergolong pemuda paling tampan dibandingkan para pemuda yang lain.
"Jangan hiraukan dia. Nona Mai, apakah kamu bersedia menemaniku malam ini? Aku akan menjadikanmu milikku dan mencintaimu selamanya." ucap Keishi, seromantis mungkin.
Sebelum Mai sempat menjawab, para pemuda itu malah bergantian berbicara kepadanya.
"Hmm.. kasihan sekali Nona Mai. Pasti berat baginya." ucap Natsuko pelan, sambil terus mengawasi Mai dari kejauhan.
"Bicara apa kau? Tentu saja neechan beruntung." ucap Jun, adik laki-laki Mai.
"Ah, Tuan Muda. Maaf, saya telah lancang."
"Bibi memang dekat dengan Mai neechan. Namun, kami adalah saudara kandungnya. Tentu saja, kami mengharapkan yang terbaik untuk neechan." tegas Jun.
"Tentu. Saya mengerti, Tuan Muda." balas Natsuko dengan hormat.
Sementara mereka sedang berbicara, tiba-tiba..
PLAKK
Mendengar suara keras dari tengah ruangan, semua orang pun menoleh. Rupanya Mai telah melayangkan sebuah tamparan keras terhadap Masashi.
"Kau-- apa yang telah kau lakukan?!" seru Hiromu Hyuuga, ayah dari Masashi.
"Maaf. Namun, saya tidak pernah mengizinkan pria manapun menyentuh saya secara sembarangan." kata Mai, dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Apa? Gadis kecil ini, memangnya putraku menyentuhmu?! Apa kau punya saksi?"
Celaka. Tadi aku tidak terlalu memperhatikan karena sedang berbicara dengan Tuan Jun.. -- batin Natsuko, mengkhawatirkan Mai.
"Benar! Dia.. menyentuhku. Perbuatan Tuan Masashi sungguh tercela. Bukankah seharusnya--"
PLAKK
Sebelum Mai menyelesaikan perkataannya, Yayoi beranjak dan menamparnya dengan keras.
"Diam, dasar sembarangan! Beraninya kau menuduh seorang pemuda terhormat yang pernah menjadi kekasihmu? Jika orang miskin itu tidak muncul, kau seharusnya sudah menikah dengan Tuan Masashi!"
Yayoi terus menghardik Mai di depan para tamu dengan emosi, sehingga membuat Mai tertunduk dengan wajah memerah dan air mata yang hampir mengalir.
"Nona Mai..! Tolong izinkan saya membawa Nona Muda, Ibu Yayoi." seru Natsuko, dengan segera menutupi wajah Mai dengan sehelai kain dan membawa gadis malang itu kembali ke kamarnya.
Setibanya di dalam kamar, air mata Mai langsung tumpah.
"Nona.. maafkan saya karena tidak dapat berbuat apapun untuk anda." ucap Natsuko dengan sedih dan iba.
"Tidak.. kamu selalu mendampingi dan menolongku, Natsuko. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi jika kamu tidak membawaku kemari. Terima kasih."
Sementara itu, di luar kamar Mai..
"Hmph. Begitu saja menangis. Memangnya pria miskin itu tidak pernah berbuat cabul kepadamu?" ejek Masashi.
DEG
"Kau.. !" mendengar suara pria itu, Mai langsung mengepalkan tangan. Pria itu melangkah masuk ke kamar Mai tanpa berbasa-basi.
"Malam ini kau akan menjadi milikku."
"Apa yang kau lakukan?! Beraninya kau memasuki kamarku!" bentak Mai.
"Tuan.. jangan--" seru Natsuko, melindungi Mai.
"Keluar kau, nenek tua! Saat ini, aku hanya memerlukan wanita bertubuh indah ini!" bentak Masashi kasar, dengan merentangkan kedua tangan sambil berjalan mendekati Mai. Masashi mendorong tubuh Natsuko hingga wanita itu keluar dari ruangan.
"Hentikan! Kurang ajar sekali kau, Masashi!" amuk Mai.
"Menyerah saja dan jadilah istriku." Masashi semakin mendekati Mai, lalu menangkap pinggul wanita itu dengan paksa.
"Tidak--! Hentikan! Tidaaakk! Tolong!!"
Mai berseru-seru keras meminta tolong, namun semua orang dengan kejam mengabaikannya. Di luar pintu kamar, Natsuko telah dihadang oleh beberapa pengawal Masashi dan dibawa ke tempat lain.
"Hentikannn..!! Masashi... ! Kumohon.. hiks.. hentikann!!" Mai terus meronta dan menangis karena tubuhnya digerayangi.
Yayoi yang mengetahui niat Masashi malah membiarkan semua itu terjadi dan menyuruh para pelayan yang bertugas di sekitar kamar pribadi Mai pergi begitu saja.
"Tidaaakkk...!! Tsukasa-kun!" seru Mai dengan tangisan nyaring.
"Cih! Kau masih saja berani menyebut nama pria itu! Dasar wanita bodoh! Akan kubuat kau sadar!"
BRAKK
Tiba-tiba, seorang pria dengan pakaian serba hitam, serta wajah yang disembunyikan dengan masker dan topi hitam menerobos masuk.
"Siapa kau? Beraninya--!"
BUKK
Pria itu bahkan tanpa segan meninju perut Masashi hingga membuatnya pingsan seketika. Tanpa mengatakan apapun, pria itu keluar dari kamar dengan meninggalkan secarik kertas di samping Mai.
- Lari. Tinggalkanlah keluarga ini. -
Sementara Mai masih bingung membaca pesan singkat itu, Natsuko telah kembali.
"Nona Mai..!" serunya sambil berlari, setelah berhasil kabur dari penjagaan ketat tadi.
"Na-Natsuko.."
"Maaf, saya akan lancang." ucap Natsuko, seraya memeluk Mai.
"Tidak apa-apa.. hiks." isak Mai yang masih syok.
"Kertas apa yang sedang anda pegang, Nona?" tanya Natsuko.
Setelah melihat tulisan itu dan bertanya-tanya, Natsuko akhirnya berkata; "Mungkinkah Ken yang menolong Nona? Saya tidak berani menyimpulkan. Namun, satu-satunya orang yang kuat dan berani melawan siapapun demi Nona Mai hanyalah Ken."
Mai terdiam sejenak. Sementara ia melihat ke arah Masashi yang tergeletak di lantai, pikirannya berkata bahwa pemuda itu bukan Ken, seorang pengawal setia yang dikenalnya.
"Yang penting, kita keluarkan dulu orang bejat ini. Orang sepertinya tidak pantas berada di tempat ini." Mai memerintahkan beberapa pengawal yang telah kembali untuk memulangkan Masashi.
Para pengawal yang tadinya berjaga meminta maaf dan mengaku bahwa Nyonya Besar, yakni Yayoi-lah yang telah menyuruh mereka meninggalkan Mai.
Baik Mai maupun Natsuko benar-benar tak habis pikir akan perbuatan Yayoi. Namun, mereka lebih penasaran akan pemuda yang tadi menolong Mai. Mereka tidak dapat menemukan pemuda itu walau dicari dimanapun.
- bersambung -