
Kurasa Morrie sudah gila. Serius.
Mungkin kekalahan dariku di taruhan itu membuat otaknya terganggu dan mendorongnya melakukan hal-hal yang di luar kenormalan. Sore ini, dia mendatangi meja pojok di kantin, yang menjadi tempat nongkrong favoritku bersama Panji, dan langsung menarik tanganku. Kemudian, ia menyeretku keluar dari kantin dan sekarang dia memaksaku masuk ke dalam mobilnya.
“Lo mau bawa gue ke mana sih? Eh! Si Panji lihat ya, lo bawa gue kayak tahanan gitu! Dia nggak mungkin diam aja! Dia pasti bakal lapor polisi! Lagian lo apa-apaan sih pake nyulik gue segala?! Childish, tahu! Kalah ya kalah aja, nggak usah resek!” Aku mengomel panjang lebar, sambil mencomot permen mint di kotak permen di dashboard mobil Morrie.
“Berisik,” kata Morrie datar, memakai sunglasses-nya untuk melindungi mata dari matahari sore yang sedikit terlalu terik.
Daripada mengobrol dengan Morrie yang sedang kehilangan setengah kewarasannya, kuputuskan untuk membiarkan saja dia membawaku ke mana pun dia mau. Sebenarnya, aku ingin berterima kasih pada Morrie yang menculikku karena baru saja Riza mengirimiku pesan ajakan makan siang bersama. Aku masih kesal karena Riza akan pergi ke Prancis dan aku bahkan baru diberi tahu. Ya memang aku tidak punya hak untuk marah. Tapi, patah hati itu hak segala bangsa, bukan? Aku tak ingin bertemu Riza. Karena aku tak tahu apa yang akan terjadi saat aku bertemu dengannya. Mungkin aku akan menangis karena patah hati dan itu sangat memalukan. Jadi, untuk sekarang, lebih baik aku mengurangi pertemuanku dengannya. Toh pada akhirnya dia akan pergi juga. Anggap saja sekarang aku sedang latihan.
Ternyata Morrie membawaku ke sebuah kafe mewah. Apa dia berniat mentraktirku? Memangnya dia berulang tahun hari ini? Atau dia berniat memberiku kado ulang tahun dengan mentraktirku di kafe mewah? Tapi, ulang tahunku masih bulan April nanti. Lagi pula, sejak kapan Morrie peduli pada ulang tahunku?
Morrie berhenti di depan sebuah meja, menoleh padaku, dan mengedikkan dagu ke depan. Pada seorang pengunjung kafe yang duduk di meja di hadapan kami itu.
Demi Panji yang selalu penuh kecurigaan, itu Jerro! Jerro Atma! Aku tidak mungkin salah lihat! Dan tak mungkin juga hanya melihatnya di majalah atau televisi atau dari jauh! Itu benar-benar Jerro Atma di hadapanku! Jerro Atma idolaku! Jerro Atma pahlawanku!
“Bang, nih fotografer amatiran yang ngebet mau kenalan sama lo nih!”
Apa? Barusan aku mendengar Morrie memanggil Jerro Atma dengan sebutan ‘bang’? Atau aku hanya salah dengar? Seakrab apa memangnya mereka? Apa Jerro juga alumni FH kampus kami? Kok aku tidak pernah dengar.
“Sori, gue telanjur janji mau ngenalin dia sama lo. Jadi, lo sabar-sabarin aja ya kalau dia agak bego!”
Kali ini aku tak peduli Morrie yang sedang berusaha menjatuhkan namaku. Di hadapanku, berdiri Jerro Atma yang ternyata jauh lebih tampan dari yang kulihat di majalah-majalah seni, tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya.
“Hai!” sapanya ramah.
Astaga, aku terpesona! Jerro jangkung, kurasa hampir 180 sentimeter. Kulitnya putih dan matanya agak sipit. Rambutnya lurus gondrong sepundak berwarna kemerahan dan saat ini sedang diikat, mungkin karena terlalu sering berpetualang sering hunting foto. Jerro benar-benar mirip dengan Abimana Aryasatya, artis yang dulu bernama Robertino itu.
Aku menyesal sering menghina fans k-pop yang terlalu heboh saat bertemu idolnya. Ekspresiku saat ini pastilah jauh lebih norak. Seperti kerbau dicocok hidungnya, aku membalas jabat tangan Jerro dengan ekspresi bodoh. Seperti seorang penggemar yang tidak pernah menyangka akan diajak makan siang oleh artis idolanya. Pantas Morrie tertawa penuh kemenangan. Lalu, dengan gaya memuakkan, ditepuknya pundakku.
“Dijaga tuh ekspresinya. Norak banget! Gue balik dulu, ya!” katanya padaku. Lalu, Morrie kembali menatap Jerro Atma. “Jangan diladenin kalau dia mulai modus. Dia udah ada pacar. Lo juga jangan keganjenan, Bang. Bilangin Mama, hari Minggu gue ke sana.”
Morrie meninggalkan kami tanpa menoleh lagi. Sementara aku masih berusaha meyakinkan diri bahwa Morrie baru saja menyebut-nyebut kata ‘Mama’ di percakapannya dengan Jerro Atma. Mama itu sebutan untuk wanita yang melahirkan kita, kan?
“Duduk, Saras.” Suara Jerro membangunkanku dari keterpanaan.
“Eh ... ng ... apa kebetulan Kak Jerro sama Morrie sodaraan?” Aku memutuskan bertanya langsung.
“Yap.”
Aku bisa membayangkan bagaimana ekspresiku saat ini. Mata membulat, mulut ternganga, dan tidak ada cantik-cantiknya. Wajar kalau Jerro tertawa geli. Oh, bagus, Ras, membuat kesan yang begitu bagus di pertemuan pertama dengan Jerro Atma. Orang kedua yang kucintai setelah Dokter Riza.
***
Panji menatapku dengan wajah datar. Tidak setimpal dengan bagaimana aku begitu menggebu-gebu dan ekspresif menceritakan pertemuanku dengan Jerro Atma beberapa jam yang lalu. Si kutu kupret tidak setia kawan itu hanya melongo saja, sebelum kemudian kembali sibuk dengan gadget-nya yang baru. Membuatku ingin merebut ponsel canggihnya dan memasukkannya ke dalam mangkuk es campur yang baru kumakan setengah.
“Lo kapan sih nyenengin dikit kalau diajak curhat?!” sindirku kesal.
Panji hanya menatapku sebentar. “Lah, emang gue harus gimana? Lari-lari keliling kafe sambil nyiumin cincin? Emangnya gue Fransisco Totti?”
“Dengerin kok, gue dengerin. Ya … syukur deh kalo Morrie bisa nepatin janji.”
Sudah kubilang bukan, tidak mungkin Morrie hanya mengada-ada soal Jerro Atma. Aku tahu betapa tinggi gengsinya orang itu. Hanya ‘ngomong doang’ jelas akan merusak harga diri yang dia puja habis-habisan itu.
“Lo pasti nggak percaya, Morrie nggak cuma kenal sama Jerro Atma,” kataku setengah melamun. “Mereka sodaraan.”
“Kakak-adik gitu?”
“Orang tua mereka cerai dari waktu Morrie masih SMP. Morrie ikut bokapnya, Jerro ikut mamanya.”
“Serius lo?”
Aku mengangguk.
Tanpa kuduga, Panji tertawa terbahak-bahak. Dan baru berhenti ketika aku mengancam akan menceburkan ponsel barunya ke dalam es campur.
“Gue cuma lagi ngebayangin gimana waktu Morrie denger lo nge-fans ampun-ampunan sama kakaknya!”
Aku mengerucutkan bibir. Ya siapa yang tahu kalau idolaku ternyata kakak dari musuhku? Astaga. Terdengar seperti judul FTV. Tapi, kurasa Morrie tidak menceritakan yang jelek-jelek tentangku kepada Jerro. Perlakuan Jerro sangat ramah. Kupikir fotografer setenar dia tidak akan begitu saja meladeni fotografer wanna-be-nggak-kesampaian sepertiku ini. Namun, pria itu justru bersemangat mendengar cerita pengalaman memotretku. Bahkan Jerro meminta untuk membawa hasil jepretanku ketika kami bertemu lagi nanti.
Demi apa pun, dia mau bertemu lagi denganku!
“Gue rasa cabutnya Riza ke Paris udah bukan masalah lagi nih, ya? Ck. Gitu dulu lo bilang Riza itu cinta sejati lo. Pret! Ada yang bagusan dikit, langsung pindah ke lain hati.”
Aku menatap Panji yang bahkan tidak mengangkat mata dari gadget-nya ketika mengatakan itu. Mendengar nama Riza disebut, hatiku jadi sakit. Aku jadi teringat chat terakhirnya sore tadi yang belum kubalas sampai sekarang.
Semoga aku salah, tp Saras agak diem sjk kita makan di Bakmi Roxy kemarin. Saras marah krn aku baru ngasih tau soal Sorborne?
Memangnya aku harus menjawab apa? Kalau kujawab ‘iya’, pasti dia akan menuntut alasan kenapa aku marah. Memangnya aku siapanya? Aku kan bukan orang sepenting itu sampai dia wajib memberitahuku lebih awal. Kalau kujawab ‘nggak’, rasa-rasanya itu seperti keputusan untuk menyembunyikan perasaanku seumur hidup. Menjawab ‘nggak’ artinya aku memilih untuk jadi orang bodoh karena membiarkan orang yang kucintai pergi tanpa tahu apa-apa soal perasaanku.
Namun, setelah pergulatan panjang itu, yang membutuhkan waktu nyaris setengah hari untuk memikirkannya, kupilih opsi yang kedua.
Sowryyyy, Kak, tadi seharian sibuk ktmu sama idola. Ga marah kok, why should I? Hehehe
Oke sip. Aku baru saja mendeklarasikan kebodohanku.
“Ya elah. Nggak usah pasang muka mellow begitu, Ras. Nggak cocok,” ledek Panji dengan kejamnya.
Aku menghela napas panjang. “Bentar lagi dia berangkat, Ji.”
“Dan ciuman lo sama Leo nggak ada gunanya lagi.”
Brengsek!
***