BETTER THAN THIS

BETTER THAN THIS
Episode 6



“Cuma Tuhan yang tahu hal gila apa lagi yang bakal lo lakuin. Jangan harap gue mau dijadiin tumbal terus!”



Kalimat Panji yang menohok kemarin benar-benar terpatri dalam pikiranku. Ekspresinya yang serius membuatku merasa benar-benar menjadi sahabat yang bodoh dan jahat. Siapa yang mau berteman denganku? Orang egois yang tega mempertaruhkan sahabatnya sendiri demi kepentingan pribadi? Seharusnya orang-orang sepertiku tak usah dilahirkan!



Masalahnya, Panji adalah satu-satunya sahabat yang kupunya sejak SMA. Temanku banyak. Tapi, sahabatku hanya Panji. Aku bisa menghabiskan waktu bersenang-senang dengan banyak orang, tapi aku hanya membagi kesedihanku dengan Panji. Aku bisa berpura-pura menjadi yang cool tak terganggu di depan semua orang. Tapi, hanya di depan Panji aku bisa menangis, mengeluarkan segala rasa yang kusembunyikan.



Kok bisa sih aku malah melakukan hal yang menyakiti dia? Kalau aku gagal memenangkan taruhan ini dan Panji benar-benar meninggalkanku, kepada siapa aku bisa menceritakan semua masalah-masalahku? Aku mau lari pada siapa kalau sedang menanggung kesedihan tak tertangguhkan dan ingin menangis? Siapa yang mau kusiksa dan tetap menjadi sahabatku selain Panji?



Sebenarnya, kalau aku sedang sekacau saat ini, aku bisa menelepon Panji dan memintanya menghiburku, bukannya malah main basket sendirian di lapangan selarut ini.



Ah, ini semua gara-gara Morrie! Semuanya tidak akan seburuk ini jika saja dia tidak selalu suka menggangguku. Memangnya apa sih salahku? Aku kan tidak pernah mengganggunya! Kalau saja aku tidak pernah mengenal Morrie! Kalau saja aku tidak pernah mengenal Leo! Kalau saja hanya Panji orang yang kutemui di dunia ini pasti semuanya akan berjalan sempurna.



Kuputuskan untuk mengakhiri permainan basket-sendirian-dan-malam-malamku ini. Mungkin hanya orang gila dan orang yang sedang stres berat yang mau bermain basket sendirian di lapangan kampus pada jam sembilan malam begini. Dan benar, kan? Aku memang sedang stres akut, setengah jalan menuju gila.



“Mas Panji ke mana, Neng?” tanya Pak Kus, penjaga lapangan kampus, ketika aku mengembalikan kunci lapangan. “Kok tumben sendirian?”



Aku menyengir kecut. “Nggak tahu, Pak. Lagi asyik kencan sama pacar-pacarnya kali.”



Kalau bukan karena Pak Kus, tidak mungkin aku bisa main basket kapan pun yang kami mau. Harus izin ini itu dengan surat bertanda tangan resmi untuk menggunakan lapangan basket kampus ini. Tapi, sepertinya Pak Kus terlalu menyayangi aku dan Panji yang sering menemaninya minum kopi dan menonton wayang. Jadi, selama lapangan tidak terpakai oleh yang memiliki izin resmi, kami bisa main basket kapan pun.



Ketika aku memasuki mobil, bersiap memutar kunci, dan menyalakan mesin, ponselku yang tadi kutinggalkan di mobil berbunyi nyaring. Ada panggilan dari nomor yang tidak kukenal.



“Halo.”



“Gue Leo.”



Aku nyaris menjatuhkan ponselku saat mendengar siapa orang yang meneleponku malam-malam begini. Buru-buru aku menata emosiku. Dengan nada sebiasa mungkin aku bertanya.



“Ya. Ada yang bisa gue bantu?” tanyaku sok cool.



“Sori soal tadi.”



“Soal apa?”



“Soal tadi siang. Maaf, gue emang kelewatan.”



Barusan Leo bilang apa? Maaf? Dia minta maaf? Si Tuan sok paling benar itu minta maaf padaku? Setelah tadi siang dia mengata-ngataiku tolol?



“Lo memang selalu kelewatan.”



“Well, sori….”



“Ya. Dimaafin,” jawabku akhirnya. Aku bukan tipe orang yang susah memaafkan. Prinsipku adalah, memaafkan, iya. Melupakan, tidak akan semudah itu.



“Makasih.”



“Hmm,” aku bergumam. Kupikir Leo akan segera menutup telepon, tapi ternyata tidak. “Ada lagi?” tanyaku, setelah tiga detik berlalu tanpa pembicaraan.



“Soal Morrie gimana?”



“Apanya yang gimana?”



“Masih butuh bantuan?”



Aku terdiam. Apa-apaan ini? Barusan Leo menawariku bantuan, kan? Ini dia sedang bercanda atau bagaimana sih? Apa jangan-jangan dia sedang teler di sebuah club dan mulai meracau yang tidak-tidak?



“Masih nggak?” Leo bertanya lagi karena aku tak kunjung menjawab.



“Kalau lo cuma mau ngerjain gue, gue sumpahin lo jomblo seumur hidup!”



“Hitung-hitung sebagai permintaan maaf gue. Dan,” Leo berhenti sejenak, sebelum melanjutkan, “acara makan gratis terlalu sayang kalau dilewatin.”



“Gue malah ngerasa aneh kalau lo mendadak baik gini. Tadi pulang dari kampus lo nggak kecelakaan, kan?” tanyaku, memastikan.



Leo tertawa kecil. “Nggak.”



Ini bukan ilusi. Apalagi mimpi. Leo, si manusia dengan satu ekspresi itu baru saja tertawa. Tertawa padaku!



“Jam berapa besok?” Leo bertanya lagi. “Tujuh,” jawabku.



“Gue jemput?”



“Nggak usah. Ketemu di depan kampus aja.”



“Kayak mau kuliah.”




Leo tertawa lagi, membuatku tergoda untuk mengambil handycam dan mengabadikan tawa kecil Leo untukku. Hei! Ini benar-benar kejadian langka, lho! Belum tentu bisa seratus tahun sekali terjadi. Biasanya kan setiap bertemu denganku, Leo akan memasang wajah dingin, datar, atau pura-pura aku bagian dari udara yang tak kasatmata.



Setelah Leo menutup telepon, aku langsung mengirim WhatsApp pada Panji, mengabarkan kabar bahagia ini. Tapi, tak ada balasan. Mungkin benar dia sedang kencan dengan pacar-pacarnya yang sudah tak terhitung lagi itu. Kesal sendiri, akhirnya aku menarik persneling mobil dan mulai mengendarai mobil seperti sedang balapan.



***



Taruhan. Morrie tidak pernah mengira bahwa aku akan datang ke pestanya sore ini. Apalagi datang bersama Leo sambil bergandengan tangan. Taruhan. Morrie tidak pernah memikirkan kemungkinan kalah taruhan denganku. Di saat aku sedang menahan tawa mati-matian, Morrie melengos kesal. Mengatakan supaya aku menikmati pestanya, lalu segera pergi meninggalkan kami yang sudah melirik-lirik penuh arti pada meja penuh makanan di dekat kami.



Morrie kalah. Hari ini aku makan gratis.



“Girls.” Leo berdecak dengan nada tidak menyenangkan. “Penting banget ya taruhan?”



Aku mengedikkan bahu sambil mengambil sepiring salad buah. “Tanya deh sama itu nenek lampir. Dia nggak pernah mau kalah sama gue.”



Leo mengambil segelas wine. “Tapi, lo juga ngikut aja,” ledeknya dengan seringai geli. “Sama-sama tolol.”



Aku sudah membuka mulut hendak mendebat kata-kata sadis Leo dengan kalimat yang tidak kalah sadisnya seperti debat-debat tolol kami yang biasa. Namun, dengan segera aku ingat bahwa kami sudah baikan. Lebih tepatnya, aku ingat taruhan ini belum berakhir. Dan, aku benci mengatakan ini, tapi memang nasibku sepenuhnya bergantung pada Leo. Aku harus pintar-pintar mengatur emosi agar suasana hati Leo tetap baik, setidaknya sampai akhir musyawarah besar Perfilma minggu depan.



“Tapi, seenggak-enggaknya lo nggak pernah pake baju begituan,” kata Leo kemudian, menunjuk kepada Morrie yang sedang mengobrol dengan beberapa orang. “Itu baju jenis apa sih?”



Aku melirik. Pakaian Morrie kali ini memang benar-benar heboh. Aku tidak tahu apa yang sedang dipakainya itu. Semacam selendang yang dililit-lilitkan yang membuat punggung dan dadanya terbuka. Aku heran kalau dia tidak masuk angin setelah acara ini berakhir.



“Well, akhirnya ada juga nilai plus gue di mata lo, ya?” sindirku, sambil mengunyah salad. “Terhormat sekali.”



Leo tersenyum tipis. “Setidaknya malam ini lo beda,” katanya. “Lebih oke dari biasanya.”



Aku menghentikan aktivitas mengunyahku dan refleks menyentuh rambutku walau hingga kini aku kurang paham juga kenapa aku menyentuh rambutku. Leo tidak memperhatikan keterkejutanku karena dia sudah sibuk mengambil sepiring kentang goreng dan steak daging. Tadi dia bilang apa? Aku lebih oke dari biasanya? Apa berarti biasanya aku tidak oke? Tidak cantik? Merusak pemandangan? Mencemari lingkungan?



Malam ini aku memang tampil sedikit di luar kebiasaan. Kebiasaanku adalah memakai celana jins sobek-sobek dan kaus lusuh yang warnanya sudah pudar. Terkadang aku memakai sweter dengan hoodie kedodoran. Atau jika aku sedang malas kuliah, aku hanya akan memakai tanktop di balik jaket Barcelona kesayanganku. Sedangkan malam ini, aku memakai gaun putih yang panjangnya selutut dengan aksen bunga-bunga halus di sekitar pinggang. Gaun putih yang baru kusentuh sejak Ibu membelikannya di usia delapan belas tahun. Rambut sebahuku yang biasanya kuikat ekor kuda atau tersembunyi di bawah kupluk aneka warna, kali ini berjatuhan bebas di bahu, dengan jepitan berbentuk ranting di atas telinga. Panji bisa mati terpana melihat penampilanku hari ini.



“Ya masa gue pake kaus lusuh di pestanya si nenek lampir?” protesku. “Bisa mati kegirangan dia merasa menang dari gue!”



“Kan? Jangan marah kalau gue bilang kalian sama-sama tolol,” kata Leo dengan ekspresi datar.



Oh crap!



***



Sepulang dari pesta Morrie, aku langsung menelepon Panji, menumpahkan semua laharku yang tadi harus tertahan mati-matian selama pesta.



“Lo denger gue nggak sih? Sial! Nadanya tuh seolah-olah gue ini sampah! Nggak bisa banget jadi pacar! Udah berasa siapa dia coba?! Siapa juga yang mau jadi pacarnya! Kalau nggak demi Jerro Atma sama Kak Riza aja nih, udah gue bakar tuh cowok!”



“Jerro Atma?”



“Fotografer yang terkenal itu, Ji! Ahelah! Masa lo nggak tahu sih?”



Panji yang ada di seberang telepon tidak menjawab.



“Cupu banget sih lo, Jerro Atma aja nggak tahu!” decakku.



“Lo nggak nyebut-nyebut soal Jerro Atma sebelumnya?” tanya Panji kemudian. “Oh, ya?”



Aku menggaruk hidungku, kemudian menceritakan taruhan tambahan yang diajukan Morrie beberapa hari yang lalu. Aku juga sedikit mendramatisir dengan menyebutkan Morrie mengancamku akan melakukan segala cara demi mendapatkan Panji, yang langsung tersedak mendengar ini. Selesai aku mengatakan apa yang harus kulakukan dalam taruhan ini, Panji membentak.



“Lo gila?!”



Aku meringis. “Jerro Atma, Ji, Jerro Atma!” kataku membela diri. “Kapan lagi gue punya kesempatan kenal sama Jerro Atma?”



Panji lagi-lagi tidak menjawab. Kurasa dia keasyikan menyusun puzzle. Atau mati tersedak napasnya sendiri. Entahlah. “Gue kan pengen jadi fotofragfer, Ji. Enggak ada salahnya gue usaha. Jerro Atma bisa jadi batu loncatan gue, kan?”



Kali ini Panji tertawa sinis. “Yakin banget lo si Morrie beneran kenal sama Jerro Atma.”



Aku tidak menjawab, membuat Panji yakin aku tidak pernah memikirkan kemungkinan bahwa Morrie hanya mengada-ada soal relasinya dengan Jerro Atma. Astaga. Aku juga baru sadar bahwa aku tidak pernah memikirkan kemungkinan ini.



Panji mulai tertawa dan aku mulai bertanya-tanya sejak kapan aku kehilangan kecerdasan otakku. Bukankah seharusnya kebencianku kepada Morrie cukup membuatku waspada dengan segala keculasan nenek lampir satu itu?



“Kalau Morrie nggak kenal sama Jerro ”



“Dia berhasil ngalahin lo,” tandas Panji. “Telak!”



***