BETTER THAN THIS

BETTER THAN THIS
Episode 10



Bisa dibilang Riza adalah cinta pertamaku. Dan hari ini, cinta pertamaku berangkat ke Prancis. Pesawatnya terbang dua jam yang lalu dan aku tak tahu kapan bisa bertemu dengannya lagi. Mungkin dua tahun, atau tiga tahun, atau lima tahun lagi, atau malah tidak pernah sama sekali. Siapa tahu dia telanjur mencintai Prancis dan enggan kembali ke Indonesia.



Kami sempat bertemu sekali sebelum dia berangkat hari ini. Bodohnya, bukannya memberi tahu Riza soal perasaanku, kami malah membahas soal obat tradisional untuk mengatasi nyeri haid. Selama ini aku sering ke Pusat Kesehatan Mahasiswa saat nyeri haid dan dia memberiku obat pereda nyeri. Lalu, begitu saja kami berpisah. Tidak lupa, kami saling mendoakan kesuksesan dan pesan terakhir Riza supaya aku berhenti mengandalkan obat pereda nyeri dan beralih ke gaya hidup yang lebih sehat dengan ramuan tradisional.



Aku tak tahu bagaimana patah hati orang lain, namun kepergian Riza membuatku semakin malas ke kampus. Yang kulakukan seharian adalah membersihkan kamarku.



Tumben-tumbennya aku peduli pada kamarku. Biasanya Mbak Mila yang akan membersihkan kamarku. Itu pun ketika Ibu sudah berteriak mengeluhkan betapa kamarku seperti bangsal pengungsian.



Tapi, hari ini aku sedang rajin. Mengganti seprai, menyapu lantai, menyusun ulang lemari bajuku, membersihkan sarang laba-laba sampai ke sudut-sudut tersembunyi, dan menyusun ulang rak bukuku—yang lebih banyak terisi kaset DVD daripada buku. Tidak lebih dari tujuh buku di rakku. Dua buku kuliah setebal kitab suci, sebuah KUHP yang nyaris tak pernah kubuka, dua novel pemberian Riza, dan satu agenda lawas bersampul hitam.



Agenda itu adalah catatan harianku yang ditulis Ayah dan Ibu. Mengerti maksudku, kan? Sepertinya kedua orang tuaku menganggap kelahiranku sebagai berkah luar biasa, sampai mereka menuliskan setiap hari pertumbuhanku hingga aku berusia sepuluh tahun. Buku itu akhirnya kuterima sebagai hadiah ulang tahun yang ke-17. Tapi, aku hanya membacanya beberapa halaman awal. Aku memang tidak suka membaca.



Aku sedang menyeleksi sepatu Kedsku yang tidak-terlalu-perlu-dicuci dan yang-wajib-banget-dicuci ketika sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponselku.



Hi, ini Jerro. Lg ada pameran fotografi kan di Balairung UI? Tertarik utk dtg?



Aku susah mengetik pesan balasan berisi penolakan, namun sesuatu muncul di pikiranku. Ini Jerro! Fotografer keren yang mungkin bisa menjadi kunci dari cita-citaku. Dalam kurun waktu seratus tahun, kira-kira ada berapa kemungkinan Jerro Atma akan mengajakku bertemu lagi dan membahas soal foto? Apa faedahnya jika aku menolak ajakan Jerro sekarang hanya demi memuaskan kesedihanku atas kepergian cinta pertamaku?



No, aku tidak sebodoh itu. Entah bagaimana orang lain mengatasi patah hatinya, yang jelas aku ingin semua ini berjalan dengan cepat. Dunia tidak kiamat setelah Riza terbang ke Eropa.



***



Jerro kemudian menyuruhku untuk membawa foto-fotoku ke kantor Portrait, sebuah perusahaan yang bergerak di dunia fotografi. Portrait memiliki dua produk utama. Majalah Space yang fokus pada street photography—beberapa edisinya kumiliki—dan situs www.portrait.com yang menyediakan foto-foto berbayar untuk keperluan bisnis ataupun komersil. Dapat dibilang Portrait adalah Shutterstocknya Indonesia. Dan Jerro Atma adalah sosok di balik kesuksesan Portrait.



Sebelumnya, Jerro juga menyarankanku untuk mengirim beberapa fotoku ke seleksi pameran foto di Sekolah Seni Indonesia (SSI), tempat dia mengajar. Tapi, aku memilih untuk membawanya ke Portrait untuk dimuat di majalah Space. Pikirku gampang saja kan, jangkauan majalah Space dan pameran foto di SSI itu kan beda. Space jelas lebih luas. Jadi, sebagai seorang amatir, aku mau juga karyaku dilihat banyak orang.



“Semakin banyak yang melihat, semakin banyak kemungkinan dikritik,” kata Jerro dengan senyum tipis ketika kuutarakan alasanku.



Aku hanya mengedikkan bahu, malas berpikir lebih jauh. Aku malah sudah tertarik untuk jalan-jalan mengelilingi kantor Portrait yang memikatku sejak langkah pertama ini. Kantor ini tidak seperti kantor-kantor dalam bangunan kotak tinggi putih yang membosankan. Kantornya adalah sebuah rumah yang sederhana yang ditata dengan unik. Bagaimana aku tak terpikat? Aku menemukan sosok-sosok bercelana pendek dan kaus oblong biasa di kantor itu. Astaga! Itu kan kostum kerja impianku! Oh Tuhan, belum-belum aku sudah memimpikan tempat ini sebagai kantorku kelak.



“Kalau mau kerja di sini, di CV harus ada apa aja, Jer?” tanyaku tak mau mati penasaran.



Jerro yang sedang meneliti foto-foto yang kubawa menoleh sedikit. “Lo mau kerja di sini?” Dia balas bertanya. Apa pertanyaanku kurang jelas? “Apa, ya?” Lalu, Jerro tertawa. “Yang penting bisa foto aja sih.”



“Berarti kalau gue udah bisa motret, gue udah memenuhi kualifikasi dong?” tanyaku super ngarep.



Jerro tertawa kecil. “Coba gue cek dulu ya portofolionya,” jawabnya sambil membolak-balik foto yang kubawa. “By the way, kenapa lebih suka pakai kamera analog?”



Aku mengedikkan bahu. “Lebih klasik aja. Senang banget rasanya kalau lagi di studio, nyetak foto gitu.”



“Emang iya sih. Beda rasanya motret dengan kamera digital dan analog. Cuma dengan analog, kita bisa memilih nuansa dalam foto. Setiap film entah itu Kodak atau Fuji punya tonal warna yang berbeda.”



Aku mengangguk setuju. Sebenarnya, aku punya dua kamera. Yang pertama kamera DSLR Nixon D5300 yang kudapatkan dari Oma saat aku lulus SMA. Dan yang kedua adalah Canon Canonet QL17 keluaran tahun 1960-an yang kubeli setelah menabung berdarah-darah selama satu setengah tahun.



“Eh, ini keren nih!”



Aku menatap foto yang ditunjuk Jerro. Sebuah foto hitam putih yang menampilkan seorang pria yang mengenakan baju safari empat saku, menyandar di suatu tiang sambil merokok. Latar hitam yang berasal dari bak truk besar membuat asap rokoknya terlihat jelas. Dari rokoknya keluar asap yang jika diperhatikan sekilas terlihat seperti peta Indonesia. “Itu bapak-bapak yang gue temuin di terminal,” jawabku.



Jerro mengangguk-angguk. “Kalau ini? Lucu juga.”



Kali ini Jerro menatap foto yang juga hitam putih, menampilkan seorang anak laki-laki kecil dengan seragam SD, bersiap menyeberang jalan yang ramai. Wajah anak itu terlihat seperti anak tersesat. Menatap ragu ke sekelilingnya, orang-orang dewasa yang berlalu-lalang.



“Itu. ” Aku lupa mengambil gambar itu di mana. “Entah. Gue lupa.”



Jerro tidak menanggapi. Dia terlihat syahdu menatap gambar itu. Astaga. Kalau sebentar lagi dia menangis, aku pasti akan dapat nobel.



“Kenapa?” tanyaku penasaran.



Jerro menatapku sebentar, lalu kembali pada foto. “Ini yang dialami semua orang,” jawabnya. “Manusia yang tersesat. Manusia yang tidak pernah tahu kenapa dia hidup dan dari mana dia datang. Lo nggak pernah tahu kan kenapa lo dilahirkan? Dengan segudang tanggung jawab yang masa depan yang lo nggak pernah tahu.” Jerro mendongak lagi. “Pernah dengar Jean-Paul Sartre? Filsuf Perancis?”



Lalu, dimulailah sebuah kuliah filsafat yang panjang.



Baru kemarin aku menyadari bahwa Jerro dan Panji memiliki ketertarikan yang sama pada filsafat. Apa aku dikutuk untuk selalu berhubungan dengan orang-orang njelimet ini? Mana mungkin sebuah foto simpel bisa menjelaskan suatu teori filsafat yang sedemikian berat? Aku tak paham lagi. Kalau toh Jerro hanya membual, aku juga tak akan paham.



“By the way, Morrie bilang apa waktu mau ngenalin gue?” tanyaku buru-buru saat Jerro terdiam sebentar, mungkin sedang memikirkan teori filsafat lainnya. “Pasti yang jelek-jelek, ya?”



“Nggak ada. Dia cuma bilang ada temennya yang tertarik mendalami fotografi.”



Teman? Apa baru saja Jerro berkata adiknya—si mak lampir menyebalkan itu—menyebutku sebagai teman? Bukan musuh?



“Dia juga ngancem gue, mau bunuh diri kalau gue nggak menyediakan waktu buat ketemu lo.” Jerro tergelak. “Katanya ini demi harga diri dia. Nggak ngerti lagi gue sama harga diri anak muda zaman sekarang.”



Aku ikut tertawa. Benar kan kataku? Morrie ini gengsinya ampun-ampunan banget. Mana mungkin dia membual akan mengenalkanku pada Jerro Atma jika dia tidak benar-benar mengenalnya.



“Lo pasti sayang banget sama tuh nenek lam—ng, Morrie, sampai lo rela ngeladenin fotografer amatiran kayak gue?” tanyaku.



“Adik gue bukan orang yang gampang ditolak sih kalau udah punya mau. Dia bisa menghantui seumur hidup gue kalau gue nggak nurutin apa mau dia.”



Kalau itu aku setuju banget. “Maaf ya, kalau gue jadi beban,” kataku.



“Nggak juga. Karena ternyata lo cukup berbakat. Kalau nggak, mungkin gue akan mikir lo cuma fans gue yang cari-cari alasan pengen ketemu dengan memperalat adik gue.”



Demi apa pun, aku memang itu! Aku memang fans berat Jerro yang akan melakukan apa pun—seperti mencium Leo si KUHP berjalan itu—untuk bertemu dan mengobrol secara langsung dengannya. Astaga, aku benar-benar menyedihkan. Tapi, yah, untung aku berbakat. Si berbakat yang menyedihkan. Keren.



***




Panji yang sedang menunduk di atas puzzle yang sedang disusunnya mendongak.



“Apaan?”



“Jerro! Jerro Atma!”



“Oh.”



Apa aku sudah pernah bilang bahwa Panji adalah kutu kupret tidak setia kawan yang tidak pernah menyenangkan bila dijadikan teman curhat? Kesal sendiri, aku menumpahkan puzzle yang sedang disusun Panji, yang langsung disambut dengan lolongan menyedihkan Panji. Seolah-olah aku mengacaukan sistem peredaran darahnya.



“Jauh-jauh lo dari hidup gue, Ras!” jerit Panji. “Kena kutuk apa sih gue berurusan sama nenek sihir macam lo?!”



Aku mencibir, lalu duduk di sebelahnya. Sementara Panji memunguti kepingan-kepingan puzzle dengan ekspresi merana, seperti Cinderella yang disuruh memunguti pecahan piring oleh ibu tirinya. Panji memang selalu lebay jika sudah menyangkut puzzle. Dan basket. Dan cewek. Dan segala hal tentang hidup, bla bla bla.



Tak lama kemudian Morrie dan gerombolannya memasuki kelas, membawa wangi sesuatu yang membuatku bersin-bersin. Entah parfum merek apalagi yang dikenakannya. Benar-benar sial di mata kuliah Hukum Adat ini aku harus sekelas dengannya. Yang lebih sialnya lagi, Leo sepertinya juga mulai menjadi kesayangan Bu Farida, dosen mata kuliah Hukum Adat yang sebenarnya. Mungkin Bu Farida dan Pak Budi teman nongkrong, lalu Pak Budi menggosipkan tentang kegeniusan Leo, lalu Bu Farida tergoda untuk memanfaatkannya juga.



Otaknya terbuat dari apa sih si Leo itu? Kok bisa-bisanya dapat nilai A di semua mata kuliah, sementara aku harus keluar masuk kelas yang sama di semester yang berbeda? Kenapa sih dia tidak konsentrasi menyelesaikan skripsinya saja? Kapan dia akan selesai kalau sibuk membantu dosen dan mahasiswa muda? Kapan dia lulus dan pergi dari kampus ini sehingga beban hidupku bisa lumayan berkurang?



“Kemarin lo jalan sama Jerro?”



“Iya,” jawabku tanpa berpikir. Sedetik kemudian, aku mendongak karena sadar bukan suara Panji yang kudengar. Tapi, Morrie yang berdiri anggun di hadapanku, bersedekap, dan sengaja memamerkan tungkainya yang khas model. Kepada Panji, kurasa. “Eh, Morrie. Udah sarapan?” sapaku semanis mungkin. Setidaknya dia sudah berjasa mengenalkan Jerro kepadaku.



“Nggak usah sok akrab!” ujarnya kesal. “Ngapain lo jalan sama abang gue?”



Aku mengedikkan bahu. “Ngomongin foto, Mo. Gue jelasin juga lo nggak bakal ngerti.”



Morrie mendelik. “Cuma ngomongin foto? Nggak sambil ngopi-ngopi cantik atau nonton film atau apa pun yang menjurus ke kencan, kan?”



“Astaga, Morrie. Apa lo ini walinya Jerro sampai gue harus laporan semua yang gue lakuin sama dia?” Aku mengangkat alis. “Ya kalau emang gue kencan sama Jerro, kenapa sih?”



“LO KAN UDAH PUNYA PACAR!”



Suara Morrie menggelegar, menimbulkan angin puting beliung yang meluluhlantakkan kelasku. Ah, oke, itu berlebihan. Tapi, aku harus menutup kupingku demi menjaga kesehatan. Sementara Panji tak sengaja menumpahkan sendiri puzzle yang sedang disusunnya saking kagetnya pada teriakan Morrie.



“Lo nggak perlu ngomong sekencang itu. Kita manusia, bukan kelelawar,” protes Panji sambil memunguti lagi puzzle-nya untuk yang kedua kali dengan nada yang lebih merana.



Tapi, Morrie bahkan tidak memperhatikan keberadaan Panji—sumpah, kali ini aku harus bertepuk tangan—dan tetap menghunjamkan mata bengisnya kepadaku.



“Lo kan udah punya Leo!” tambahnya lagi dengan volume yang lebih rendah, namun tekanan lebih tinggi. “Jangan genit-genitan sama Jerro!”



“Gue nggak genit-genitan sama Jerro.”



“Jangan keluar-keluar sama dia! Pokoknya jangan terlalu dekat sama dia! Jangan bikin dia tertarik sama lo! Belajar foto boleh, tapi jangan belajar yang lain dong!”



Kugaruk kepalaku yang mendadak gatal. “Lo pikir gue mau ngapain sama kakak lo sih, Mo? Lagian mana mungkin kakak lo tertarik sama gue? Kakak lo ganteng gitu pasti udah punya cewek. Nggak usah lebay deh.”



“Kalau kakak gue udah punya pacar, gue nggak akan selebay ini, Saras!” bentak Morrie.



Mendadak aku tertarik. “Jerro jomblo?”



Morrie berdecak. “Iya, Jerro jomblo, tapi lo enggak!”



See? Aku sudah lama berpikir bahwa sebenarnya Morrie ini tidak terlalu pintar. Mungkin kepintarannya itu sebagai hasil dari pembacaan buku yang membuat otaknya berbuih-buih. Tapi, tidak cukup pintar menangkap bahwa kemarahannya bisa menyebarkan banyak informasi penting tentang Jerro kepadaku.



Aku menyengir lebar. “Apa barusan lo mengakui bahwa mungkin aja kakak lo tertarik sama gue? Kakak lo, yang fotografer terkenal itu? Ke gue lho, Mo,” aku pura-pura membelalakkan mata tak percaya, “mahasiswi bermasa depan suram ini?”



“Ya siapa tahu! Selera kakak gue rada aneh. Jadi, gue khawatir.”



Aku memajukan tubuhku dan menyangga daguku dengan tangan, semakin memasang ekspresi bingung dan tertarik di saat bersamaan. “Apa barusan lo mengakui bahwa gue adalah selera kakak lo? Bahwa gue cukup menarik untuk mungkin membuat kakak lo tertarik?”



Morrie mendadak salah tingkah.



“Wah, begini lo malah bikin gue jadi berpikir untuk mendekati abang tersayang lo itu.”



“Saras!” Morrie benar-benar menjerit sekarang sambil menyibakkan rambut salonnya ke belakang dengan gaya yang sedikit dramatis. Mungkin dia berniat memamerkan aroma sampo barunya. “Jangan macam-macam lo!”



Saat itu Leo memasuki kelas dengan celana jins dan senyum sok cool-nya yang biasa. Pasti Bu Farida sedang asyik penelitian lagi.



Morrie langsung menatapku tajam. “Gue bilangin Leo kalau lo macem-macem!” desisnya dan segera berlalu untuk duduk di tempat yang telah disediakan oleh punakawannya. Tak lupa sambil mengibaskan rambut panjangnya. Aku dan Panji bertukar pandang, lalu tertawa diam-diam.



Aku sudah bersiap-siap untuk tidur, karena kelas-mendadak-tutorial ini tak pernah menarik minatku. Aku tidak pernah menemukan kesulitan dalam belajar karena aku memang tidak pernah belajar. Ng, ya, kecuali malam sebelum ujian. Sepertinya Leo juga tidak pernah menegurku jika aku tidur di kelasnya. Teman-temanku mengira karena Leo sudah menjadi pacarku, jadi dia membiarkan saja aku tidur di kelasnya saking cintanya padaku. Padahal aku tahu pasti, Leo memang sudah malas menegurku karena tahu dia hanya buang-buang umur jika terus-terusan menegurku.



Namun, diam-diam aku memikirkan kata-kata Morrie tadi. Aku baru ingat bahwa saat ini statusku adalah sebagai pacar Leo. Walau aku hanya pura-pura pacaran dengan Leo, kan semua orang tahunya aku pacaran dengan Leo. Jika aku jalan



dengan cowok lain, orang-orang tahunya aku sedang selingkuh. Astaga. Betapa hebatnya sebuah status. Identitasku, moralku, ditentukan oleh status yang dipahami oleh sosialku.



Aku mendongak, kemudian menatap Leo yang sedang duduk di meja sambil menjawab pertanyaan Shinta. Wajahnya semakin mirip KUHP saja. Ya ampun, kok bisa, aku pernah ciuman dengannya?



***