
Aku tidak pernah paham dengan obsesi-tak-masuk-akal Morrie padaku. Seolah aku adalah satu-satunya orang yang bisa menjatuhkannya menjadi batu tak berharga di jalan-jalan. Dan dia harus setengah mati mempertahankan posisinya untuk terus di atasku dengan membuatku menjadi pecundang.
Yah, seolah aku belum pecundang saja selama ini.
Asal tahu saja, di awal-awal mahasiswa baru, Morrie itu menempel padaku. Dia mengekoriku ke sana kemari dengan gaya sok akrab. Dia juga sering bertanya padaku soal materi di kelas, padahal dia tahu aku lebih banyak tidur di kelas atau merecoki dosen dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting. Tapi, sejak akhir semester satu dan nilainya melesat di atasku, tiba-tiba saja si nenek lampir itu menarik diri dan mulai menatapku bagai kecoa yang mengganggu pemandangan. Apalagi setelah dia menyadari bahwa Panji, sahabatku sejak SMA yang dia taksir dari awal kuliah, ternyata antipati padanya. Memangnya salahku kalau Panji tidak membalas cintanya?!
Jika Morrie membenciku karena aku pintar, kurasa dia salah alamat. Sudah kubilang bukan bahwa nilai Morrie sangat jauh di atasku? Aku bahkan tidak sepenuh hati berada di fakultas hukum universitas nomor satu di negeri ini. Sementara Morrie sudah melalang buana ikut lomba akademik untuk mempercantik CV, aku sibuk menikmati kebebasan bersyarat yang kudapat dari Ayah saat memulai kuliah dahulu. Ayah memperbolehkanku melakukan apa saja, termasuk fotografi, asalkan aku masuk fakultas hukum. Jika Morrie paham bahwa aku masuk jurusan ini hanya agar aku bisa melakukan apa pun yang kusukai, pasti Morrie akan mengerti jika aku tidak berminat merebut posisinya sebagai calon mahasiswa berprestasi. Apalagi mengingat sudah dua mata kuliah yang harus kuulang selama empat semester kuliah ini. Morrie jelas tidak punya alasan untuk takut aku akan melampaui prestasinya.
Jika Morrie membenciku karena aku cantik, anggun, elegan, berkelas, seperti model, dia lebih salah alamat lagi. Bukannya aku merasa tidak cantik. Beberapa orang juga mengatakan aku cantik. Beberapa orang yang kusebut di sini adalah kedua orang tuaku, keluarga besarku, Panji, dan Riza yang beberapa kali menyapa ‘hai cantik’ padaku—astaganaga, rasanya aku selalu hilang kesadaran setiap kali dia mengatakan itu. Tapi, lihat saja penampilanku. Sementara Morrie selalu stylish dengan tema-tema pakaian yang kukuh ia pegang, aku lebih sering memakai apa pun yang ada di baris paling atas lemariku karena aku selalu bangun kesiangan. Jika Morrie terlihat sebagai perempuan terpelajar dan penuh gaya serta populer, aku lebih sering terlihat sebagai mahasiswi pemalas yang sering menghabiskan waktu di perpustakaan untuk tidur.
Jika Morrie membenciku karena aku digilai cowok-cowok sehingga membunuh kesempatannya untuk dekat dengan cowok yang ia suka, sumpah, ini sungguh tidak masuk akal! Selama hampir dua puluh tahun hidupku, aku belum pernah punya pacar. Dan satu setengah tahun terakhir, kuhabiskan waktuku dengan mencintai diam-diam dokter muda yang praktik di pusat kesehatan mahasiswa. Bagusnya lagi, dokter itu tidak membalas perasaanku.
Aku tetap tidak mengerti kenapa Morrie repot-repot bersaing denganku. Jelas hasilnya sudah terlihat, Morrie si calon mahasiswa berprestasi Fakultas Hukum bermasa depan cerah, baik dari segi akademik maupun pergaulan sosial. Sementara aku, Saras, mahasiswa malas yang tidak tahu kapan akan lulus Pengantar Ilmu Hukum (PIH) dan SHI, serta tidak punya teman selain Panji, mahasiswa hukum yang sama suramnya.
Tapi, jika sudah menyangkut dokter muda yang duduk di depanku ini, Morrie benar-benar mencari masalah.
“Kamu kayak adik saya,” begitu kata dokter Riza satu setengah tahun yang lalu, setelah aku nyaris setiap minggu datang ke PKM dengan berbagai keluhan yang kadang mengada-ada—sebenarnya tidak mengada-ada juga, aku memang merasakan berbagai keluhan tidak enak badan, yang biasanya menghilang setelah aku bertemu dokter Riza. Baru kali itu aku percaya bahwa penyakit rindu itu ada. “Adik saya juga suka paranoid tentang kesehatan. Ada keluhan dikit aja bisa bikin dia stres. Sebenernya itu malah bahaya, lho.”
Saat itu, aku yang masih mahasiswa baru, hanya mengangguk-angguk seolah memahami perkataannya, padahal aku hanya sedang mengagumi kacamata minus yang dipakainya.
Bagaimana bisa dia setampan itu, ya Tuhan? Orang berkacamata kan biasanya cupu!
“Tapi, kalau adik saya punya alasan sih. Dia punya masalah dengan jantungnya sejak masih anak-anak. Ayah dan ibu saya melakukan penjagaan ekstra pada adik saya, dilarang ini itu. Mungkin itu juga yang bikin dia jadi paranoid, dia sadar kalau dirinya nggak sehat.” Dia terdiam sebentar, menatapku lama. “Dia juga seumuran kamu. Sembilan belas, kan?”
“Kuliah di sini juga, dok?” tanyaku, waktu itu. Mungkin aku bisa mendekati adiknya untuk memperlancar jalan mengencani kakaknya. Yeay!
Dokter Riza menggeleng. “Dia meninggal di usia empat belas. Kalau masih hidup, ya mungkin kalian akan menjadi teman.”
Sejak saat itu dokter Riza selalu mengenaliku ketika aku datang ke PKM dengan berbagai keluhan. Suatu saat ketika aku datang sebagai pasien terakhirnya sebelum jam praktiknya berakhir, ia mengajakku makan bersama. Kami jadi sering menghabiskan waktu bersama.
Seharusnya aku senang, kan? Iya, seharusnya aku senang. Jika saja ia tidak memintaku memanggilnya ‘Kak’ karena aku mengingatkannya pada adiknya yang sudah meninggal. Paham kan kenapa aku menyebut mencintai Riza adalah buang-buang waktu? Tentu saja, apa sebutan bagi mencintai habis-habisan pria yang hanya menganggapmu sebagai pengganti adiknya?
“Knock, knock?”
Suara itu menghentikan lamunan nostalgiaku. Di hadapanku, Riza tersenyum. Sama manisnya dengan satu setengah tahun lalu ketika aku pertama kali melihatnya dan langsung terpesona.
Refleks aku tersenyum lebar. Melihatnya ada di depanku, makan siang denganku saja, aku sudah sangat senang. Meski saat ini dia hanya menganggapku adiknya, setidaknya aku sudah mendapatkan perhatiannya. Aku hanya perlu berusaha lebih keras lagi, kan?
“Terus gimana kalau udah tiga kali absen gitu? Nggak boleh ikut ujian?”
Sontak senyum lebarku lenyap digantikan ekspresi cemberut. Kenapa dia harus merusak situasi yang sudah sedemikian menyenangkan ini dengan pembahasan mengenai kegagalanku di kelas Pengantar Hukum Indonesia sih? Sekadar info, aku sudah gagal sekali di mata kuliah paling dasar bagi mahasiswa hukum itu karena persoalan kehadiran. Dosennya adalah seorang profesor tua yang sangat peduli dengan kehadiran. Tiga kali absen, silakan keluar dan ambil lagi semester depan. Terlambat lebih dari lima belas menit, silakan mengikuti kuliah dari luar. Dan aku tidak pernah bisa belajar dari kesalahan. Kurang pecundang apa?
Namun, seperti yang sudah-sudah, perubahan ekspresiku selalu membuatnya tertawa. Dan melihat tawa lebarnya yang dilengkapi dengan lesung pipit di pipi kiri itu, aku jadi ikut-ikutan tertawa. Ya, aku sadar betapa absurd tingkahku ini. Kalau Panji tahu kelakuanku saat bersama Riza, kurasa dia akan menertawaiku sampai tahun depan.
“Yaaa … ngulang semester depan,” jawabku sambil garuk-garuk kepala.
“Waduh. Semester depan lulus, ya? Jangan sampai nggak lulus. Apalagi cuma gara-gara kehadiran. SHI juga ngulang, kan?”
Oh, terima kasih, sekali lagi diingatkan bahwa sudah dua mata kuliah yang harus kuulang semester depan. Untung aku sayang padanya.
Sebelum aku menjawab sindiran Riza, ekor mataku menatap sosok-sosok tak asing yang baru saja memasuki restoran. Yang satu cowok oriental, dengan kulit putih, rambut hitam lurus tipis, mata sipit, dan senyum ramah yang ceria. Yang satu lagi adalah pria Indonesia asli, tinggi tegap walau kurus, kulitnya juga putih walau tak seputih yang pertama, rambutnya lumayan ikal. Wajahnya terlalu serius. Yang pertama adalah Bernard, seniorku angkatan 2010. Dan yang kedua adalah temannya yang bernama Leo, orang yang tak perlu dibahas.
Bernard melihatku, lalu melambai dan menyapa dengan ramah. Terlalu ramah, sampai membuat beberapa orang menoleh padanya. Sebaliknya Leo, hanya melihatku sekilas (mungkin karena Bernard begitu heboh menyapaku) lalu melengos, dan pura-pura tak pernah melihatku. Sebenarnya tidak akan terjadi apa-apa jika kami berpapasan seperti ini. Karena aku akan segera menggembungkan pipiku, menatap lurus ke depan, pura-pura tidak pernah mengenal orang yang berpapasan denganku. Sedangkan Leo, dia memang tidak pernah menganggapku ada selain dalam arena pertengkaran-pertengkaran kecil kami. Leo menyapaku seperti Bernard? Haha. Itu lebih mustahil daripada potensi hujan salju di daerah khatulistiwa. Jangankan menyapa, melirik pun tidak.
Aku sudah berniat mengabaikannya dan kalau bisa menghapus memoriku bagian aku bertemu Leo di resto ini. Tapi, kemudian aku teringat tantangan Morrie. Sudah dua hari berlalu dan aku belum berbuat apa-apa. Malam Minggu tinggal tiga hari lagi dan hanya itulah kesempatanku untuk menjadikan Leo sebagai pacar. Tapi, bagaimana caranya? Leo menatapku saja enggan, apalagi menjadi pacarku? Tapi aku juga tidak sudi pacaran dengan Leo! Tujuh turunan pun tidak sudi!
“Kamu kenapa, Ras?”
Aku menatap Riza. Mungkin dia bingung melihatku curi-curi pandang ke arah Leo dan Bernard yang duduk di meja yang dekat pintu. Sekitar empat meja dari mejaku dan Riza.
Kuembuskan napas panjang. Kita tidak akan pernah tahu sebelum mencoba, bukan? “Bentar, ya,” pamitku pada Riza, bangkit, dan mulai berjalan mendekati meja kedua seniorku itu.
“Tampang lo kayak orang bingung,” komentar Bernard, ketika aku begitu saja duduk di sebelahnya.
Aku meringis kecut. “Iya, lagi bingung gue,” kataku. Lalu, aku mengubek isi tasku, seiring dengan ide yang baru saja muncul di kepalaku. “Gue bingung nih, Bang Leo. Belom ngerti sama yang lo jelasin di kelas tadi.” Asal saja kubuka bukuku.
Ketika aku memanggilnya ‘Bang’, Leo, yang duduk di depanku, menyipitkan mata seolah bertanya ‘Tumben amat lo manggil gue bang?’.
“Jadi yang ini maksudnya gimana?” tanyaku, tak mengacuhkan wajahnya yang sama sekali tidak ramah.
Leo menatapku dengan pandangan menyebalkan. Seolah mau mengatakan ‘Sori ya, gue nggak nerima pertanyaan di luar jam mengajar’ atau kalau bukan begitu, mungkin dia mau mengatakan ‘makanya, kalau kuliah perhatiin dosen! Jangan ngobrol mulu!’. Kalau nanti waktu skripsi aku mendapat dosen pembimbing seperti Leo, mungkin aku pilih untuk wisuda tahun depannya asal boleh ganti dosen pembimbing.
“Gue nggak pernah bahas bab itu,” jawab Leo singkat, setelah melirik sekilas halaman buku yang kutunjukkan.
Leo berdecak meremehkan. Aku nyengir lebar. Aku tahu kok, betapa aku terlihat begitu bodoh sekarang ini. Bodoh dan malas. Tapi, sepertinya di mata Leo, dua predikat itu sudah menjadi nama tengahku, sekeras apa pun aku mengembalikan harga diriku.
“Lo pasti tidur ya di kelas?” tuduh Bernard semena-mena.
“Enak aja!” protesku. “Gue bukannya tidur. Tapi, gue lagi nggak konsen!”
Masih dengan tampang soknya yang tidak pernah punya rasa bersalah, Leo berkata, “Mungkin lebih baik lo pindah jurusan.”
Kurang ajar. Dia pikir dirinya itu siapa sampai menyarankan aku pindah jurusan segala? Ingin rasanya aku menyiram kopi panas Bernard ke wajah Leo. Tapi, karena aku sedang dalam misi mahapenting, aku hanya tersenyum-senyum saja. Seolah kata-kata Leo sama indahnya dengan kalimat ‘kamu cantik’.
“Ya kan Bang Leo itu tutor yang recommended banget nih. Jadi nggak apa-apa dong kalau gue minta tolong? Gue kesulitan belajar.”
“Gue bilang, lo pindah jurusan aja, nggak usah susah-susah belajar. Percuma.”
Walau kutahan mati-matian, aku bisa merasakan keruhnya wajahku. Apalagi ketika Bernard kesulitan menyembunyikan tawanya. Ini keterlaluan. Si Leo ini memang layak disiksa dunia akhirat.
“Baik hati banget ya, Bang Leo ini,” kataku sambil nyengir kecut ke Bernard. “Tapi, gue yakin sih, dia pasti mau membantu mahasiswi yang kesulitan belajar kayak gue. Soalnya kata anak-anak sih dia orangnya baik hati dan gemar menolong. Besok ya, Bang? Oke oke? Sip!”
Leo menatapku seolah-olah aku menyatakan cinta padanya. Namun, aku tidak menunggu jawaban Leo yang sudah tentu lebih menyakitkan lagi. Aku buru-buru pamit untuk kembali kepada Riza, my charming prince yang lebih menyenangkan.
“Mukanya jelek banget,” ledek Riza begitu aku kembali ke meja dengan tampang cemberut.
“Itu tuh! Si sengak ngeselin banget!” dengusku.
“Leo?” tanya Riza dengan senyum geli. Aku mendengus, siapa lagi memangnya?
“Kamu tuh nggak bosen apa musuhan sama orang udah hampir dua tahun begini?”
“Ya salah sendiri dia sengak!”
Riza masih saja tertawa-tawa. Dia tahu soal perselisihanku dengan Leo dan entah kenapa, Riza selalu merasa itu lucu. Mungkin aku membuatnya teringat kehidupan mahasiswanya yang menyenangkan.
Tak lama kemudian dia pamit untuk membayar dan kembali lagi sambil menyodorkan es krim vanila.
“Nih, obat,” katanya.
See? Betapa manis sekali pria ini, menghafal kebiasaanku yang memerlukan secangkir kopi atau es krim vanila ketika suasana hatiku terganggu. Aku tak tahu apakah dia selalu membelikan es krim pada pasiennya yang sedang bad mood. Yang jelas, seluruh perlakuannya itu membuatku baper. Benar-benar baper!
“Serius Kak Riza nggak mau jadi pacarku aja?” tanyaku tak tahan lagi.
Sayangnya, seperti yang sudah-sudah, dia hanya tertawa dan mengacak poniku.
Padahal aku serius! Kenapa sih semua orang mengira aku cuma bisa bercanda? Panji bilang aku bercanda saat ingin cepat-cepat lulus kuliah dan jadi fotografer. Ayah bilang aku bercanda ketika bilang mau indekos saja di dekat kampus. Dan sekarang saat menyatakan perasaan pada cowok yang kusuka pun, dia mengira aku bercanda. Sebal!
“Udah jangan bercanda mulu. Ayo, balik kampus.”
Aku berdadah-dadah kecil ketika melewati meja Bernard dan Leo. Bernard melambaikan tangannya dan mengangguk kecil kepada Riza. Sementara temannya yang merasa sehebat presiden itu, hanya melirik sedikit lalu kembali sibuk dengan ponsel pintar di tangan. Aku mendengus keras-keras, sampai Riza yang berjalan sedikit di depanku menoleh.
“Udah sih, Ras,” katanya dengan nada geli. “Jangan benci-benci amat sama orang. Nanti jadian tahu rasa lho.”
Aku bergidik ngeri. “Iyuh. Mending kita aja deh yang jadian, yuk?” tawarku sambil membuka bungkus es krim. Siapa tahu kan keberuntunganku besar kali ini.
Riza terkekeh kecil. “Ya boleh sih. Tapi, habis itu kita LDR. Mau?”
“LDR? Kok?” tanyaku.
Aktivitas membuka es krimku langsung terhenti. Riza menoleh dan tersenyum lebar.
“Aku belum bilangkah? Aku ambil program spesialis di Sorborne. Awal bulan depan berangkat.”
“Sorborne? Prancis?” tanyaku memastikan.
Riza mengangguk. “Yup, Prancis. Negerinya Zidane. Jadi, kupikir ini bukan waktu yang tepat untuk jadian dengan seseorang,” tambahnya sambil tertawa lebar.
Sial. Jadi, aku ditolak?
“Kapan itu kamu pernah nanya kenapa aku pilih menjomblo, kan? Ya itu. Susah kalau harus LDR-an beda negara,” terang Riza tanpa diminta.
Aku tersenyum terpaksa. Mendadak es krim vanilaku tidak menarik lagi. Orang di depanku masih sama. Sama manisnya dan sama menyebalkannya. Bagaimana mungkin dia akan pergi ke Prancis dalam waktu yang lama (atau sangat lama?), sementara aku sudah mempertaruhkan satu-satunya sahabatku untuknya?
***