
Aku menghela napas, mencoba menguatkan diri sendiri. Lalu, perlahan-lahan kutepuk pundak Leo yang sedang duduk membelakangiku.
Leo menoleh, dengan segera aku memasang senyum manis yang aku yakin palsu. Ini interaksi pertama kami di kampus setelah ‘pacaran’. Aku terpaksa melakukan ini untuk menegaskan bahwa kami benar-benar pacaran, supaya Morrie tidak curiga. Bukannya apa-apa, kalau ketahuan kan malunya minta ampun. Ngomong-ngomong tentang kecurigaan Panji semalam, kupikir tidak mungkin Morrie menipu. Maksudku, kenapa juga dia mau menjatuhkan harga dirinya sendiri untuk hal ini?
“Sendirian aja?” tanyaku, sambil mengambil tempat di sebelahnya.
“Jadi, sekarang makan siang gue ditemenin pacar?” kata Leo tanpa ekspresi. Kadang aku bingung. Apakah ada penyakit yang membuat orang tidak bisa berekspresi sedikit pun?
Aku mencibir. “Udah bagus kan gue mau nemenin? Jadi, makan siang lo nggak sepi-sepi amat.”
Sisi baiknya, setidaknya hubunganku dengan Leo sudah jauh lebih baik. Bagaimanapun, gawat kalau dia memengaruhi Pak Budi agar tidak meluluskanku. Leo kan kesayangan Pak Budi.
“Sudah makan?”
“Wah! Gue ditraktir?”
“Seingat gue, nggak ada kata ‘traktir’ di kalimat gue barusan.”
Aku menatapnya putus asa. Aku memesan lontong sayur dan kubayar dengan uangku sendiri. Kurasa, berharap Leo menjadi baik hati adalah harapan paling tolol sedunia. Aku heran kenapa banyak perempuan tergila-gila padanya.
“Lo vegetarian?” tanya Leo ketika makananku datang.
Aku mengangguk.
“Kenapa?” Dia bertanya.
Aku menyengir. “Kasihan binatangnya.”
Sejujurnya aku jijik melihat daging. Saat aku masih TK, sekolahku pernah mengadakan kunjungan belajar ke peternakan ayam. Namun, tidak ada yang memberitahuku kalau ada penyembelihan ayam juga di sana. Aku masih ingat bagaimana pembunuhan ayam berlangsung di depan mataku dan bagaimana aku langsung muntah-muntah. Sejak saat itu, aku tidak pernah sanggup makan daging ayam maupun daging yang lain. Setiap daging-daging itu tersaji di depan mata, bayangan ayam yang lehernya putus di peternakan juga kembali menghantuiku.
“Lagian daging tuh sumber kolesterol, tahu. Hipertensi, serangan jantung, dan obesitas.”
“Kata dokter kesayangan lo itu?”
Aku melotot. Dengan potongan lontong di dalam mulutku, aku bertanya bagaimana Leo bisa tahu aku sering bersama Kak Riza padahal kami hanya bertemu satu kali di kafe. Maksudku, bagaimana dia tahu Kak Riza itu dokter. Apa jangan-jangan dia juga salah satu penggemar Dokter Riza yang rutin mengunjungi Pusat Kesehatan Mahasiswa?
Namun, sebelum aku protes, aku sadar ada persoalan lain yang lebih penting untuk dibahas saat ini. Ketika aku melihat sekelilingku, kusadari bahwa seluruh mata yang ada di dalam kantin, yang kebetulan sedang tidak terlalu ramai, menatap kami berdua. Aku menatap Leo dengan salah tingkah. Namun, yang kutatap sedang menyalakan rokok, terlihat sama sekali tidak terganggu dengan gunjingan itu.
“Kenapa sih?” tanyaku tidak mengerti. “Gue nggak salah kostum, kan?”
“Bukan lo. Kita,” jawab Leo santai, dengan nada datarnya yang khas.
“Kita?”
“Ya kita. Kalau lo jadi mereka, lo nggak heran lihat kita duduk berduaan begini? Nggak pake berantem-berantem? Apalagi kalau gue begini,” tangan Leo terulur mengusap bagian belakang kepalaku dengan lembut, “dan gue ngelihat lo begini.” Leo menundukkan kepalanya dan menatap tepat di kedua mataku dengan sudut bibir yang terangkat membentuk sebuah senyum manis. Tatapan Leo kali ini terkesan lembut dan manis dan ... penuh cinta? Astaga, apa aku baru saja menyebut kata ‘cinta’? “Apa ini pemandangan yang biasa, Saras?”
Tidak tahan dengan tatapan Leo, aku menunduk dan mengaduk-aduk lontong sayurku yang tinggal kuahnya saja. Demi apa pun, ternyata Leo punya ekspresi lain selain ekspresi bosan, datar, dan mengernyit karena merasa terganggu. Ekspresi yang … berbahaya!
Leo berdecak penuh kemenangan. “Lo bisa salah tingkah juga, ya?” tanyanya dan lagi-lagi mengusap kepalaku. Kesal, aku menepis tangan Leo. “Lho, kenapa? Sekarang kita pacaran, kan?” tanyanya dengan alis terangkat sebelah.
“Tapi, nggak gitu-gitu juga kali,” jawabku. “Lo kalau pacaran main fisik, ya?” sindirku.
“Lo nggak suka main fisik?”
“Gue sukanya main basket.”
“Kapan-kapan boleh juga kita tanding basket satu lawan satu, ya.”
Kutatap Leo dengan mata melebar. Yang kutatap balas menatapku dengan kening berkerut.
“Kenapa? Mau apa nggak?” tanya Leo dengan nada bingung.
Jelas mau! Inilah bukti bahwa pertolongan Tuhan datang tanpa terduga. Inilah cara terbaik untuk menjalankan tantangan Morrie, yaitu membawa Leo ke acara Musyawarah Besar Perfilma.
Aku berdeham, pura-pura santai. “Boleh sih. Tapi, pakai taruhan, ya. Biar seru,” jawabku sok tidak butuh. “Kalau gue menang, lo harus ikut gue ke acara Perfilma di Puncak minggu depan. Deal?”
“Ngapain gue ikut Mubes? Gue bukan anggota Perfilma.” Aku mengibaskan tangan tidak sabar. “Udah ikut aja.
Senior berprestasi kayak lo selalu diundang kok.”
Leo mengedikkan bahu. “Gue emang keren banget sih, ya,” katanya. Aku tidak menanggapi. Orang ini memang selalu terserang sindrom pamer setiap berada di depan mahasiswa suram sepertiku.
“Oke? Deal, ya?” desakku.
“Buat apa sih?”
Aku menyengir. “Nemenin gue.”
“Lo nggak kelihatan tipe pacar manja?”
Kali ini aku merengek-rengek. Sedikit mendramatisir keadaan dengan menambahkan bahwa itu adalah puncak show off kami dari hubungan ini agar Morrie dan yang lain percaya. Akhirnya, walau mengatakan tidak janji dan harus melihat jadwal kuliahnya, Leo bersedia datang.
“Kalau lo kalah?” tanyanya.
“Gue nggak mungkin kalah!” jawabku percaya diri. “Kalau lo kalah, gue dapat apa?”
Aku diam sebentar memprediksikan kemampuan basket Leo. Aku tidak pernah melihat maupun mendengar kalau Leo mahir bermain basket sebelumnya. Kalau dia memang mahir basket, dia pasti sudah menantangku sejak dulu-dulu seperti para atlet basket kampus lain. Dia kan hobi menjatuhkanku. Lagi pula, dari segi tampang, Leo lebih cocok menjadi penjaga perpustakaan daripada pemain basket.
“Kalau gue kalah, lo boleh ngajuin satu permintaan deh,” jawabku akhirnya.
Leo mengangkat sebelah alis. “Apa aja?”
“Serius nih? Gue catat di jurnal gue, ya?”
“Tapi, gue nggak mungkin kalah!” tambahku buru-buru.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat ekspresi lain di wajah Leo. Seringai tipis yang licik. Aku tidak mungkin kalah, kan?
***
Lap basket kampus, jam 5.
Pesan WhatsApp dari Leo itu kuterima ketika aku sedang berusaha menamatkan level terakhir dari game Plant vs. Zombie. Pukul setengah lima kurang lima menit. Akibatnya, aku harus lari-lari ke kamar mandi untuk bersiap-siap dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi demi mengejar waktu. Sampai di lapangan basket kampus, Leo sedang asyik memainkan bola basket dengan jari telunjuknya.
Aku membungkukkan badan, mengendalikan napasku yang ngos-ngosan. Sementara Leo menatapku tidak peduli, tidak merasa bersalah kalau janji yang dia buat secara super mendadak itu nyaris merenggut nyawaku karena menyetir mobil di atas 70 kilometer per jam.
“Lain kali kalau bikin jadwal yang nyantai dong!” protesku setelah napasku lebih teratur. “Dari kemarin-kemarin kek!”
Namun, sebelum napasku benar-benar pulih, Leo sudah melempar bola basket ke arahku dengan senyum tak berdosa.
“Ayo, mulai! Keburu malem,” katanya.
“Lo nggak punya perasaan, ya?!” protesku menerima bola dari Leo. “Sebentar dulu!”
“Gue minjam lapangan cuma sampai jam enam. Lo telat setengah jam.”
“Ah, gampang itu,” kilahku, sambil terus mendribel bola.
Namun, Leo sudah mulai mengincar bola di tanganku. Tidak mau membuatnya mendapatkan bola dengan mudah, aku berkelit dan mulai mendribel bola.
“Wasitnya mana nih?” tanyaku di sela-sela mendribel bola. “Gue nggak mau ada yang curang mengandalkan kecerdasan, ya!”
Leo mengulurkan tangan, mencoba menghalangi langkahku dan merebut bola di tanganku. “Bernard.”
Dengan ekor mataku aku menangkap Bernard berdiri di pinggir lapangan sambil menatap jam tangannya. Berikutnya aku mendengarnya berteriak bahwa permainan akan berjalan selama lima belas menit. Aku tertawa kecil, mengatakan lima belas menit itu terlalu sebentar. Bertepatan dengan tawaku dan terpecahnya konsentrasiku, Leo berhasil merebut bola dari tanganku dan membawanya ke arah berlawanan. Lalu, dengan mudah, ia memasukkan bola ke ring. Sementara aku masih berdiri dengan sisa tawa di tengah lapangan.
“Mana? Katanya jago?”
Kutiup poniku yang berjatuhan ke dahi sebagai tanda aku mulai tertantang.
Permainan basket singkat itu berjalan alot. Aku harus mengakui bahwa ternyata diam-diam Leo punya skill yang bagus dalam bermain basket yang selama ini tidak pernah dia tunjukkan. Gerakannya benar-benar gesit, membuatnya dengan mudah melingkar, berkelit, dan melompat.
“Mana sih Saras yang katanya jago banget main basket?” tanya Leo ketika aku terengah-engah di tengah lapangan. “Apa gue salah denger?”
Tuhan, Kau ke manakan kemampuan basketku yang terkenal itu?
***
Suasana Cheesy Romance sedikit sepi malam ini. Aku dan Panji adalah satu-satunya pengunjung yang sudah satu jam berada di kafe bergaya retro ini walau hanya memesan segelas lemon tea untukku dan secangkir cappuccino untuk Panji. Kami sudah berada di sini sejak aku pulang dari kampus dengan kekalahan total.
“Jadi, lo kalah?”
Aku menjawab pertanyaan Panji, yang sudah tiga kali dia tanyakan, dengan embusan napas yang kudramatisir. Mengingat soal pertandingan tadi sore membuatku kembali emosi.
Bayangkan saja, bagaimana ceritanya Leo yang tidak pernah kulihat memegang bola basket, yang kutahu hanya suka baca dan mengkritik orang, bisa mengalahkanku dengan skor telak. Aku merengek-rengek minta lima belas menit lagi pertandingan dan tetap saja kalah. Setelah dua kali lima belas menit berakhir—bahkan aku tidak bisa mengejar angkanya, orang itu, dengan ekspresi datarnya yang menyebalkan, mengingatkan bahwa dia akan menagih janji hak satu permintaan yang dia punyai.
Setelah itu dia meninggalkan lapangan, sementara aku terkapar di tengah lapangan basket yang mulai gelap, sibuk mempertanyakan janji Tuhan untuk menolong orang-orang teraniaya. Beruntung Bernard masih ada di sana dan bersedia mendengarkan sumpah serapahku karena kekalahan ini.
“Leo emang udah jago dari bayi, Ras!” kata Bernard tadi sore. “Tapi dia suka males tanding-tanding begitu. Paling main sama gue di lapangan deket kosannya.”
Ada ratusan mahasiswa di kampus dan tidak ada seorang pun yang memberitahuku sebelumnya? Pasti ada konspirasi di balik semua ini, pasti!
Demi apa pun, setelah ini aku tidak akan bebas membawa-bawa bola basket ke mana pun aku pergi. Perasaan kalah ini pasti akan mengikutiku seumur hidupku. Leo pasti akan tertawa-tawa mengejek jika aku masih punya nyali membawa-bawa bola setelah dia berhasil mengalahkanku. Ah, mungkin dia tidak akan tertawa. Dia kan memang tidak pernah tertawa. Mungkin dia hanya akan tersenyum miring, mengangkat sudut bibir serta alisnya, dan memandang bola basket yang kupegang seolah ingin mengingatkanku pada kekalahan malam ini.
“Habislah gue kali ini,” keluhku, sambil mengacak-acak rambut frustrasi. “Udah kalah taruhan sama Morrie, habis muka lagi di hadapan Leo. Bunuh gue aja, Ji!”
Panji tertawa menyindir dan mengatakan aku ini suka tidak penting. Panji tidak bisa memahami posisiku kali ini. Dunia memang tidak berakhir jika aku kalah dari Leo. Namun, itu berarti Leo tidak akan datang ke musyawarah kerja Perfilma minggu depan. Arti lebih dalamnya lagi, aku tidak punya kesempatan untuk melakukan tantangan Morrie. Dan jika aku tidak bisa melakukan tantangan Morrie, artinya aku kalah. Lalu, kalahku kali ini berarti aku harus menjadi babu Morrie minimal satu minggu. Lihat, kan? Dunia memang tidak berakhir. Tapi dunia-ku mungkin berakhir.
“Berapa kali sih gue bilang? Jangan suka kepancing sama omongan Morrie! Lo sendiri yang rugi, Ras.”
Aku berdecak kesal “Udah telat. Lo kan tahu gue susah mikir panjang lebar,” kataku membela diri.
“Leo udah tahu belum soal tantangan yang di Puncak itu?” Aku menggeleng. “Dan gue nggak berniat untuk jujur,” tambahku buru-buru.
Panji mengangguk. Mungkin kali ini dia menyetujui langkahku. Mengatakan dari jauh-jauh hari bahwa aku akan menciumnya di hadapan banyak orang, tidak akan membawa kabar baik untukku. Malah mungkin Leo tidak akan pernah mau menginjakkan kaki di vila Puncak itu.
“Sumpah ya, Ras, permasalahan hidup lo tuh nggak ada yang mutu. Sampah semua,” ujar Panji sambil berdecak.
Aku mencibir. Seolah-olah hidupnya adalah hidup yang paling bermutu sedunia. Padahal hidup Panji tidak lebih baik dari hidupku. Dia sibuk memacari cewek-cewek cantik-tapi-tidak-berotak dari fakultas lain dan sibuk menghindari Morrie. Aku bingung mengapa Panji begitu menghindari Morrie sementara pacar-pacarnya selama ini tidak lebih baik dari Morrie. Hmm, ya, Morrie cukup cerdas sih.
“Mending lo bantuin mikirin cara bikin Leo datang ke Puncak deh daripada nyela-nyela hidup gue. Hidup lo nggak kalah sampahnya ketimbang hidup gue,” serangku.
Panji meringis. “Hidup emang sampah, ya? Tapi tetep aja kita hidup.”
Aku mulai menutup wajah. Akhir-akhir ini Panji sering nongkrong dengan beberapa anak Filsafat, membuat terkadang dia suka membahas hal-hal yang tidak kumengerti. Kalau sudah begitu, aku hanya akan membiarkannya mengoceh sendiri. Aku yang terlahir sebagai manusia praktis, tidak bisa menerima pemikiran njelimet filosofisnya Panji yang menurutku tidak bisa membantuku keluar dari masalahku dengan Morrie dan Leo ini.
Aku menunduk, mengaduk-aduk lemon tea-ku yang tinggal seperempat gelas. Baru kali ini aku begitu menyesali ketidakmampuanku untuk berpikir panjang sebelum memutuskan sesuatu. Pada akhirnya, keputusan-keputusan tanpa pertimbangan seperti ini justru akan menjerumuskanku.
Astaga, apa frustrasi memang membuat orang mendadak bijak?
***