BETTER THAN THIS

BETTER THAN THIS
Episode 8



Perfilma adalah satu-satunya organisasi yang kuikuti karena mengikuti Panji yang pada saat itu sedang mengikuti seorang cewek cantik yang ditaksirnya. Panji gila, aku juga gila. Karena itulah kami terjebak di musyawarah besar ini.



Perfilma sendiri adalah organisasi yang tidak berhubungan dengan hukum, seperti klub debat Leo itu. Ini adalah tempatnya mahasiswa Hukum penggila seni. Meskipun aku menyukai fotografi, aku tidak suka ikut organisasi. Aku tidak suka terikat. Lagi pula, kegiatan rutin selalu membuatku bosan. Mungkin itu sebabnya aku sering tak lulus mata kuliah. Sementara Morrie kegirangan karena dipercaya menjadi project officer alias ketua panitia sekaligus presidium musyawarah besar ini, aku dan Panji sibuk bergantian main Burger di HP-ku untuk menghilangkan bosan. Kami—aku maksudnya— juga sedang harap-harap cemas menantikan kedatangan Leo. Sudah setengah hari ini aku uring-uringan. Udara dingin puncak ternyata tidak bisa menurunkan suhu tubuhku yang terbakar emosi.



Aku bahkan tidak berani menghubungi Leo untuk memastikannya datang ke vila sekarang. Aku tidak berani memastikan apa pun. Aku hanya mengandalkan keajaiban bahwa siapa tahu tiba-tiba Leo muncul di pintu. Dengan wajah tidak menyenangkan juga tidak masalah, yang penting dia datang. Hingga kemudian aku menemukan game burger di HP-ku dan bertekad menjadikannya pengalih perhatian. Tapi, memangnya siapa yang akan teralih perhatiannya hanya dengan game cupu yang membuat kita membuat burger sepanjang permainan?



Sementara itu kurasa Morrie sudah tiga kali menanyakan kapan aku akan memenuhi tantangannya dengan bahasa halus: Leo datang jam berapa? Aku hanya menjawab, dengan dagu terangkat sok-sok percaya diri, bahwa Leo sedang ada bimbingan skripsi dan berjanji akan mengusahakan untuk datang. Padahal aku sendiri mulai depresi.



“Tapi, dia datang, kan?” tanya Morrie dan aku yakin melihat sorot kemenangan di matanya.



“Kita lihat saja nanti.”



Itu jawaban yang paling aman. Mati-matian aku menenangkan diri. Mencoba bersikap sewajar mungkin dalam forum untuk menyembunyikan lirikan mataku ke pintu setiap lima menit sekali. Hanya Panji yang tahu bahwa di balik tawaku, mataku tidak pernah lepas dari pintu. Hanya Panji yang tahu bahwa aku nyaris meledak karena tidak bisa melakukan apa pun untuk memenangkan taruhan ini.



Confirmed. Aku selesai kali ini.



Tidak satu pun konten rapat malam itu yang masuk ke kepalaku. Aku sibuk menatap layar ponselku dan lima menit sekali menatap pintu, mencoba berilusi bahwa sosok Leo berjalan melewatinya. Ilusiku semakin parah ketika aku merasa Panji menepuk pundakku dan mengatakan bahwa Leo baru saja datang. Dengan wajah bodoh aku menatap Panji dan bertanya apakah dia baru saja mengatakan sesuatu padaku. Panji berdecak dan mengatakan bahwa udara dingin dan burger-burger kampungan itu membuat otakku beku.



Aku merasa sudah gila ketika melihat Leo duduk di sebelahku, lalu menyapa dengan semacam kata ‘hai’ atau ‘halo’. Aku pasti sudah benar-benar gila. Kuketuk-ketuk dahiku dengan jari sambil memejamkan mata, berharap kewarasanku kembali.



“Wah, selamat datang untuk para senior. Bang Bernard, Mbak Cintya. Wah ada Bang Leo juga, halo!”



Sontak aku membuka mata. Tunggu, sepertinya aku mendengar Morrie menyebut nama Leo. Aku menoleh ke samping lagi. Dan ternyata Leo masih di sana. Melambai pada Morrie dan kembali menatapku dengan alis terangkat.



Aku mencubit lenganku sendiri. Lalu, nyaris bersorak ketika merasakan sakit di kulitku. Sebenarnya aku juga berniat mencubit Leo. Tapi, aku ngeri dia ambyar seperti busa sabun dan hilang. Kutatap sekelilingku, rapat sedikit tertunda karena kedatangan beberapa senior seperti Leo, Bernard, dan beberapa yang lain. Kutatap Morrie yang duduk di seberangku. Pandangannya menyipit, seolah tidak rela bahwa Leo benar-benar hadir. Aku tersenyum kecil. Ternyata Leo memang nyata, bukan hanya imajinasiku semata.



“So?” Leo bertanya dengan alis terangkat.



Aku menyuruhnya diam ketika presidium yang terhormat mengetuk palu, tanda rapat akan segera dimulai lagi.



***



Sungguh, kadang aku benci pada dunia yang menempatkan perempuan di dapur. Dalam acara semacam ini, selalu saja ada tim logistik dibebankan begitu saja pada perempuan dengan alasan lo-kan-cewek-pasti-ngerti-soal-makanan. Halo? Lomba memasak di televisi saja didominasi oleh pria.



Siapa yang tidak kesal jika sementara para perempuan ribut di dapur, berdebat mana yang harus masuk lebih dulu, apakah bawang ataukah garam ketika memasak nasi goreng, para pria malah asyik berkumpul di ruang tengah, sambil minum kopi dan main kartu. Kurasa Ibu Kartini sedang menangis darah di alam sana.



Namun, aku juga tak seserius itu sih memasak. Tepatnya, aku hanya memperhatikan teman-temanku memasak karena tak seorang pun membiarkanku menyentuh bahan masakan dengan alasan aku akan menghancurkan apa pun yang sedang mereka buat.



“Udah, lo diem aja di situ!” perintah Mala, si penanggung jawab logistik. “Siapin piring aja sana!”



Well, aku senang sih. Paling tidak, tanganku tak perlu bau bawang ataupun cabai. Tapi, karena tidak punya kerjaan selain mengelap piring, aku jadi gelisah memikirkan bagaimana caranya melakukan tantangan Morrie. Sebentar-sebentar aku menatap Leo yang asyik ngobrol dengan senior-senior angkatan atas di ruang tengah sambil merokok. Sumpah demi Tuhan, aku akan lebih mencintai John Locke jika ia mampu memberiku teori bagaimana cara mencium Leo tanpa dianggap murahan. Tapi, yah, John Locke kan sudah lama mati. Apa yang bisa kuharapkan?



Leo tersenyum lebar, sambil tak sengaja menatap dapur, dan menemukanku sedang memandanginya dengan ekspresi merana. Dia mengangkat alis bertanya. Aku tak menjawab dan menunduk memandang piring-piring yang kutata. Namun, lima menit kemudian aku lagi-lagi menatap Leo. Dan lagi-lagi Leo kebetulan menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan dan berhenti di dapur, menatapku. Lagi-lagi alisnya terangkat. Aku memaki kecil dan lagi-lagi menunduk.



“Hei.”



Aku mendongak. Dan Leo sudah berdiri di pintu dapur.



“Apa?” tanyaku sok tidak paham. Padahal aku yakin Leo mendatangiku karena aku terus-terusan menatapnya.



Benar saja, Leo mengerutkan dahi. Tapi, kemudian dia melambaikan tangan, memintaku mendekatinya, sementara dia mendahului berjalan keluar dari dapur. Aku berdecak kecil.




Aku menoleh dan menyengir lebar. “Gue juga, Mal. Percayalah.”



Kuletakkan serbet putih dan piring yang kupegang, lalu berjalan dengan langkah terseret menemui Leo yang teras belakang vila. Di sana, Leo duduk sambil merokok. Astaga, aku tidak siap. Di mana Panji? Kenapa dia tidak muncul di saat-saat darurat hidupku? Eh, tapi kenapa juga aku mengharapkan Panji muncul? Memangnya dia bisa menggantikanku untuk mencium Leo? Kalau bisa, mungkin aku rela menjadi pembantu Panji seumur hidupku.



“Ngapain curi-curi pandang begitu?” tanya Leo begitu melihatku.



Yaiks! Jadi, begitukah kelakuanku di matanya? Curi-curi pandang? Sungguh memalukan.



Aku berdeham. “Nggak apa-apa,” jawabku sambil duduk di sebelahnya. “Ehm .. ehm...” Aku kembali berdeham.



Leo menoleh padaku dan mengerutkan dahi. Selanjutnya pria itu malah mengulurkan botol air mineral bersegel dibawanya. Aku meringis, tapi kuterima juga air mineral itu. Pasti dia mengiraku batuk. Padahal aku sedang gugup setengah mati.



“Jangan keseringan ngelihatin gue. Nanti naksir,” kata Leo dengan nada datar.



“Idih!”



Namun, baiknya, dengan botol air mineral di antara jari-jariku, aku menjadi lebih rileks. Dan ketika aku rileks, terbukti aku bisa lancar ngobrol dengan Leo. Membicarakan apa pun yang muncul di kepalaku. Aku benar-benar tidak menyangka ada saatnya aku dan Leo bisa ngobrol setenang ini. Bukan dengan nada tinggi dan urat-urat tertarik semua seperti yang dulu-dulu. Hingga akhirnya di satu jeda yang agak lama, Leo tiba-tiba bertanya.



“Lo maksa gue jauh-jauh ke sini, pasti ada tujuannya, kan?” tanya Leo lagi.



Dan kegugupanku kembali dengan sukses. Aih, sial.



Leo memandangku dengan kening berkerut, membuatku semakin salah tingkah. Salahnya adalah, aku belum sempat memikirkan alasan apa yang akan kuberikan kepada Leo atas perbuatan yang mungkin tidak menyenangkan ini karena terlalu sibuk memikirkan bagaimana membuat Leo hadir di Puncak. Kini, setelah Leo ada di hadapanku, aku baru sadar betapa aneh perbuatan yang akan kulakukan ini jika tidak ada penjelasan.



Aku sudah hendak bangkit untuk kabur, namun dengan segera orang-orang yang berjubel di depan jendela tertangkap mataku. Termasuk Morrie. Mampus. Aku tak mungkin kabur. Entah karena Morrie mengundang mereka atau karena aku dan Leo yang berduaan di sini memang mengundang perhatian, aku tidak tahu. Dan sekarang aku sadar, tidak ada waktu untuk memberi penjelasan kepada Leo.



Sedikit canggung, aku menyandarkan kepalaku ke pundak Leo yang langsung mengernyit heran. Lo cuma harus tenang, Saras. Tenang. Senatural mungkin. Jangan terlihat kaku atau dibuat-buat.



“Lo ... sehat?” Leo bertanya heran sambil menunduk menatapku. Untungnya, dia tidak segera mengelak atau menyingkirkan kepalaku dari pundaknya sambil marah-marah. Kalau itu terjadi, fix, aku akan pindah kampus.



Tanpa memindahkan kepalaku dari pundak Leo, aku berbisik. “Apa pun yang gue lakukan, please, ingat, gue terpaksa.”



Beberapa saat kemudian, aku tersenyum kecil dan menegakkan badan, menatap Leo yang masih memandangku heran. Aku tersenyum semanis mungkin dan mendekatkan wajahku kepada Leo yang tiba-tiba membelalakkan mata lebar.



“Jangan bilang—”



Kata-kata Leo terhenti begitu saja. Kutatap bibir Leo dan setengah mati aku membayangkan Riza. Riza. Riza. Riza. Aku merapal mantra. Biar semakin mantap, kurapal mantra yang lain. Jerro. Jerro. Jerro.



Aku tahu pasti yang kulakukan ini sungguh menjijikkan karena Leo seperti tersihir. Setengah speechless dan setengahnya lagi tidak sempat melakukan apa pun. Berakting benar-benar seperti pasangan—aku juga tidak tahu dari mana kemampuan ini kuperoleh—kucium bibir Leo. Kami—tepatnya aku—benar-benar seperti kekasih yang mabuk cinta dan berciuman karena cinta.



Ketika kami menghentikan akting menjijikkan ini, aku bisa merasakan wajahku memerah yang tidak ada hubungannya dengan udara di Puncak yang dingin. Aku berpura-pura asyik melihat langit yang penuh bintang, tidak berani menatap Leo yang juga hanya diam saja. Tadinya kupikir dia akan marah-marah, membentak dan mengataiku tidak sopan dan meninggalkanku sendiri. Tapi, pria itu masih berada di sebelahku. Masih duduk seperti terhipnotis. Pasti dia syok berat dengan tingkahku yang menjijikkan ini!



“Sori, ya.” Aku memberanikan diri, sedikit mengatasi rasa bersalah. “Morrie yang mau. Tapi ini terakhir kok. Suer!”



Leo tidak segera menjawab. Ketika aku menatapnya, pria itu sedang menatap kerikil di halaman. Aku terdiam, mendadak aku merasa benar-benar haus. Ada untungnya juga air mineral pemberian Leo ini. Kububa tutupnya dan kuminum dalam tegukan-tegukan besar.



“Manis,” kata Leo tiba-tiba. “Lo habis makan permen?” Kali ini aku terbatuk-batuk, tersedak air putihku.



***