BETTER THAN THIS

BETTER THAN THIS
Episode 2



[2012]



“Itu yang yang duduk baris nomor dua dari belakang! Kamu tidur?! Bangun! Maju ke depan!”



“Siapa yang nyuruh ngobrol, heh?!”



Kutatap senior dengan pita hitam di lengan yang tengah berteriak-teriak di depan sana. Lama-lama telingaku bisa pecah. Mana, katanya ospek tahun ini tidak ada perpeloncoan? Memang tidak ada, tapi cara senior-senior itu bicara masih sama menyebalkannya.



Kutatap sekeliling. Angkatan 2012 alias para mahasiswa baru, duduk berbaris di auditorium. Baru saja seminar sesi pertama selesai. Masih ada satu acara lagi yaitu pengenalan kegiatan ekstra di kampus. Aku menatap sekeliling, berusaha mencari Panji. Tapi, sahabatku dan kelompoknya berada di ujung ruangan. Jadi, kemungkinan aku ngobrol dengannya adalah nihil.



Sekali lagi kulihat sekitar. Senior-senior yang berkacak pinggang itu benar-benar membosankan. Aku sudah tertidur saat seminar tadi dan berbuah hukuman harus berdiri sepanjang seminar. Jika aku nekat ikut sesi selanjutnya, bisa dipastikan aku akan kena hukuman lagi. Jadi, dengan satu pertimbangan cepat, aku berdiri dan mengacungkan tangan.



“Izin ke toilet, Kak,” kataku.



Senior berambut ala Nicholas Saputra tapi gagal mengangguk. “Ayo cepat, Dek! Acara udah mau mulai!”



Aku mengangguk cepat dan buru-buru keluar dari barisan. Namun, bukannya berbelok ke dalam gedung D tempat toilet berada, aku berjalan lurus. Menyeberangi lobi utama kampus, melewati gedung C yang sepi, lalu masuk ke gedung H. Saking buru-burunya karena ogah ketahuan kabur, aku sempat menabrak tong sampah di gedung H. Demi menghindari jatuh terjerembap ke lantai, tanganku refleks meraih papan pengumuman untuk berpegangan. Sayangnya, aku tak melihat ada paku kecil yang mencuat di sana. Alhasil, paku itu mengenai tanganku, membentuk goresan panjang di telapak tangan yang mengeluarkan darah.



Itu belum seberapa. Terlalu sibuk mengaduh, aku tidak melihat ada orang muncul di depanku. Tak ayal aku menabraknya begitu saja. Ini benar-benar horor. Pertama, darah dari luka di tanganku mengenai baju orang yang kutabrak. Polo shirt putih itu kini berhias noda merah tepat di dada. Kedua, orang yang kutabrak adalah Bang Leo, angkatan 2010, ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa atau DPM yang kemarin sempat diperkenalkan oleh panitia ospek.



“Sori, Kak. Nggak lihat,” kataku buru-buru.



“Itu kenapa tangannya?” Leo bertanya sambil menunjuk tanganku yang berdarah-darah.



“Ini? Kena paku.”



Leo mengamati lukaku sejenak, lalu matanya berpindah ke name tag yang kupakai. Selanjutnya, Leo memberiku isyarat untuk mengikutinya. Aih, kurasa aku benar-benar sial hari ini. Sudahlah rencana kaburku gagal, tanganku cedera pula!



Tiga langkah di depanku, Leo berjalan santai dengan tangan kiri tersembunyi di saku. Kalau aku mau, mungkin aku bisa kabur saja. Namun, entah bagaimana, kurasa kabur dari orang ini bukanlah pilihan yang bijak.



Leo berhenti di Koperasi Mahasiswa yang ada di Gedung C. Tak lama masuk ke dalam, Leo keluar lagi membawa sebotol Rivanol, kapas, Betadine, dan Hansaplast. Dengan isyarat mata, dia meminta tanganku. Aku bilang, aku bisa mengobati lukaku sendiri. Namun, Leo dengan nada datar bertanya, “Lo kidal?”. Dan aku pun tersadar bahwa aku tidak akan bisa mengobati luka di tangan kananku dengan tangan kiriku. Jadi, dengan pasrah kuserahkan tanganku kepada Leo untuk diobati.




“Sakit?” tanyanya.



Aku mengangguk. Seandainya ini di rumah dan yang mengobati lukaku itu Ibu, sudah pasti aku menjerit-jerit kesakitan.



“Kabur dari ospek?”



Malas mencari-cari alasan karena perih di tanganku cukup mengganggu, aku mengangguk saja. “Malas ikut seminar.”



“Lo tahu apa tujuan diadakannya ospek dan penyambutan mahasiswa baru?” tanyanya tiba-tiba.



“Untuk penanda penindasan mahasiswa baru selama enam bulan ini,” jawabku tak peduli. “Dan untuk menegaskan kalau saya junior dan kakak adalah senior. Iya, kan?”



Aku yakin sebuah hukuman sudah menantiku setelah jawaban itu kukeluarkan. Namun, Leo bergeming dan tetap konsentrasi mengoleskan Betadine pada lukaku. Sambil menempelkan plester, Leo bertanya, “Tangan lo yang kena paku, kenapa otak lo yang geser?”



Lalu, dia menatapku. Sebuah senyum lembut terlontar di wajahnya, yang membuatku ikut tersenyum. Kurasa aku mengerti kenapa banyak yang mengelu-elukan orang ini. Mungkin aku bisa jadi salah satu fan girl-nya.



“Lo bisa ikut gue, Sarasvati?” tanyanya kemudian.



Aku mengangguk dan lagi-lagi aku mengikuti langkahnya dengan suka rela. Entah bagaimana, aku masih ingin menghabiskan waktu dengannya. Sampai aku sadar dia membawaku kembali ke auditorium tempat ospek berlangsung. Firasatku mulai buruk saat Leo menginterupsi penjelasan salah seorang ketua organisasi kampus dan mulai bicara di hadapan ratusan mahasiswa baru.



“Ospek yang berisi penindasan sudah nggak zaman lagi. Saat ini, kampus kita menekankan kegiatan ospek yang berguna. Ospek dibuat untuk mengenalkan mahasiswa baru pada kehidupan kampus. Tentang tugas-tugas yang akan luar biasa banyak, tentang aturan di subbag akademik, tentang mencari beasiswa, dan lain sebagainya. Kalau memang ada yang sudah sangat hebat dan merasa tidak perlu info semacam itu seperti Sarasvati ini, silakan pulang dan tidak perlu ikut ospek.”



Di bawah sana, ratusan mata menatapku dengan sorot mata menghakimi. Dalam satu momen, dengan kata-kata yang diucapkan dengan nada nyaris tanpa tekanan, Leo berhasil membuatku terlihat seperti pemberontak sombong yang tidak tahu terima kasih.



Aku benci karena dia bersikap luar biasa baik sebelumnya, kemudian begitu saja mempermalukanku di depan ratusan mahasiswa baru. Aku benci karena dia tidak menghukumku dengan cara-cara biasa seperti mencabuti rumput, lari keliling lapangan, atau membuat pernyataan ‘Saya tidak akan kabur lagi’. Aku benci karena aku sempat terjebak pesonanya dan manut-manut saja ketika digiring ke auditorium utama untuk dihabisi seperti itu. Aku benci, karena aku salah orang dan salah perhitungan.



***