
“Gue harus apa dooong?”
Panji berkelit menghindariku sambil tangannya lincah mendribel bola. Ketika Panji hendak menembak ke ring, aku meloncat, dan bola itu kembali berada di tanganku. Kali ini aku yang berlari menghindari Panji.
“Lo beneran suka sama itu Kang Foto?” tanya Panji, berusaha merebut bola dari tanganku.
Aku tidak segera menjawab. Kulempar bola ke sisi kiri Panji, saat itu juga aku berkelit ke kanan, menangkap kembali bola yang kulempar, melewati Panji, lalu melempar bola dengan tembakan three point. Masuk.
“Yeay! Terlepas dari soal itu, masa gue harus selamanya menyandang predikat pacar Leo?” jawabku, sambil mengejar Panji yang sudah mulai menuju ring yang satunya.
“Ya … kan lo sendiri yang bikin,” kata Panji. Dia menembak dan kali ini masuk.
Bersamaan dengan itu tenagaku habis. Aku mengempaskan diri di tengah-tengah lapangan basket. Berbaring di atas semen yang keras dengan napas terengah-engah. Pertandingan satu lawan satu kali ini berjalan lebih lama. Lampu lapangan membuat mataku silau. Panji ikut-ikutan berbaring di sebelahku. Kalau ada yang melihat kami, pasti akan jadi pemandangan menarik.
“Mana bisa gue cari pacar kalau gue menyandang predikat ‘pacar Leo’ di mata orang-orang? Yang ada gue jadi cewek jalang yang doyan selingkuh!”
“Iya sih.”
“Lo lihat aja ekspresi Morrie tadi, heboh banget pas tahu gue jalan sama kakaknya. Pasti dipikirnya gue ini lagi genit-genitan sama Jerro di belakang Leo.”
“Bukannya emang iya?”
Kutendang kaki Panji keras-keras. Panji tergelak-gelak. Setelah kuancam akan memberi tahu Lina, pacarnya, tentang keberadaan Rafina, pacarnya yang lain, barulah
Panji mau diam.
“Gampang ajalah. Ada pacaran ada putus.”
“Maksud lo?”
“Lo kan kemarin pura-pura pacaran sama Leo. Terus kenapa nggak pura-pura putus sekarang?”
Aku terdiam sejenak, memandang lampu sorot lapangan yang membuat mataku perih, mencoba memahami kalimat Panji. Sejenak kemudian aku tersentak bangkit.
“SIALAN, LO GENIUS AMAT, JI!” teriakku keras-keras, sampai membuat Panji terbangun dan menutup telinganya kuat-kuat.
“Budeg kuping gue!”
“PANJI, GUE SAYANG SAMA LO!” tambahku lagi sambil
bangkit dan menari-nari keliling lapangan. “LO ORANG TERCERDAS YANG PERNAH GUE KENAL!”
“Lo aja yang bego, kali. Masa begitu aja nggak kepikiran.” “SUMPAH GUE AKAN TULIS NAMA LO DI HALAMAN TERIMA KASIH SKRIPSI GUE!”
“Di thanks to buku nikah juga kalau bisa. Kan ini hubungannya dengan kisah percintaan.”
“AYO, MAIN SEPUTARAN LAGI! GUE SEMANGAT NIH!”
Panji kembali menggeletak di lantai. Pura-pura mati.
***
Aku tidak menunggu lama-lama untuk melaksanakan rencana Panji. Statusku dengan Leo ini hanya merugikanku saja. Bagaimana aku bisa move on dari Riza jika usahaku mencari cinta baru terbentur hanya karena aku pura-pura pacaran dengan Leo?
Maka, siang ini, setelah aku memastikan Leo ada di kampus, aku mendatanginya di tengah-tengah kantin tempat dia biasa nongkrong. Dia sedang berada di tengah-tengah komplotannya. Mungkin gerombolan mahasiswa tua itu punya jadwal bimbingan yang sama. Karena biasanya hanya Leo yang masih sering berkeliaran di kampus.
“Weitset! Ada Saras Sini! Sini! Duduk sini!” kata Bernard sambil menggeser duduknya dan memaksa Williams, seniorku yang lain, untuk pindah. Maka, dia memberiku tempat di sebelahnya, yang berarti di sebelah Leo karena William sudah pindah sambil menggerutu.
Aku tersenyum tipis. “Nggak lama kok, mau ketemu Leo aja.”
“Udah, sini duduk dulu! Mau ikut main futsal nggak? Entar sore?”
“Gue nggak bisa futsal.”
“Bola aja jago, masa futsal nggak bisa?” celetuk William yang pindah ke ujung meja sambil membawa piringnya.
Aku menyengir. “Kapan-kapan aja deh.” Lalu, aku langsung menuju pada Leo. “Mau ngomong bentar dong, Bang,” kataku.
Leo yang sedang makan gado-gado hanya menoleh singkat. “Ngomong aja.”
“Manggilnya masih ‘Bang’ masa?” celetuk William lagi-lagi. Yang langsung ditanggapi oleh Bernard dengan pertanyaan ‘harusnya apa?’ dan ditanggapi lagi oleh Arif dengan kalimat ‘Sayang kek, apalah. Kayak manggil tukang gorengan pakai Bang’ dan Bernard langsung menyambar lagi ‘Eh, angkatan bawah kan manggil kita pakai ‘Bang’? Berarti kita semua tukang gorengan dong?’.
Sumpah, aku bisa gila kalau lama-lama berada di antara gerombolan rusuh ini. Jadi, aku memutuskan untuk tidak menanggapinya dan berkonsentrasi penuh untuk mengeluarkan Leo dari lingkaran setan itu.
“Ngomong di sini aja. Gue lagi makan,” kata Leo.
“Nggak mungkin.”
“Nggak mungkin kenapa?” “Soalnya … ini rahasia.”
Leo tertawa kecil, sedikit meremehkan. “Biasa aja sama mereka. Anggap aja nggak ada.”
Aku menggaruk keningku yang mendadak gatal. “Serius nih boleh ngomong di sini?” tanyaku sekali lagi.
Leo mengangguk. Dengan mulut penuh gado-gado.
“Yakin lo?” tanyaku sekali lagi, memperhatikan sekeliling kami yang ramai dan teman-temannya yang mencuri-curi dengar percakapan kami.
Leo menepuk tempat kosong di sampingnya. “Sini, duduk sini. Biasanya lo seneng nemenin gue makan?”
Aku mendengus kesal. Sepertinya Leo sedang kambuh stresnya. Namun, aku menurutinya juga untuk duduk di sebelahnya. Kalau sampai Leo mendadak memesankan makanan untukku, aku benar-benar yakin Leo memang benar-benar gila. Untungnya tidak.
“Kenapa?” tanya Leo, meneruskan acara makannya.
Aku menghela napas sebentar lalu mengatakan maksudku. “Kita putus.”
Lingkaran setan itu langsung senyap. Yang tadi sibuk ceng-cengin aku dan Leo sekarang hanya melongo. Begitu juga dengan Leo yang langsung berhenti mengunyah. Dia mendongak, menatapku dengan pandangan tak mengerti. Aku menyengir tipis dan melempar pandangan yang kira-kira berarti ‘gue-udah-bilang-ini-masalah-sensitif ’.
“Putus?” ulangnya.
Aku mengangguk. “Iya, kita putus aja.”
Leo meletakkan sendoknya, lalu mengusap rambutnya ikalnya. Sepertinya dia menyesali keputusannya untuk menyuruhku bicara di tengah teman-temannya. Dari matanya seolah dia mau bilang ‘apa-apaan sih lo?’. Kujawab dengan cengiran kecut yang kira-kira berarti bukan-gue-yang-mau-ngomong-disini. Salah sendiri. Aku sama sekali tidak berniat mempermalukan dia seperti ini. Dialah yang berniat mempermalukan dirinya sendiri. Namun, jika dia memang benar pintar seperti yang digembar-gemborkan dosen itu, seharusnya dia segera menjawab ‘oke’ dan mengakhiri semua ini dengan mulus.
Di luar prediksiku, Leo masih mengusap-usap rambutnya, tertawa kecil, lalu menghadapku sepenuhnya. Ah, lama! Ayolah, cepat bilang ‘oke’! Apa susahnya sih?!
“Kenapa?” tanyanya masih dengan alis terangkat.
“Hmm....” Ini pertanyaan yang belum pernah kupikirkan.
“Kalau gue nggak mau putus, gimana?”
“Eh....” Yang ini apalagi.
“Ada masalah apa sih? Gue salah apa? Mana boleh lo main putus gitu aja. Harus ada kesepakatan,” kata Leo serius. “Dan gue nggak sepakat.”
Leo mencekal tanganku. Lalu, bangkit dan menyeretku keluar dari kantin, meninggalkan teman-temannya yang masih menatap kami tak percaya. Well, aku juga tak percaya. Dengan tingkah Leo kali ini, maksudku. Tapi, aku harus mengakui bahwa akting Leo benar-benar sempurna. Mungkin aku perlu menyarankannya untuk ikut casting FTV.
Setelah jauh di luar kantin, aku melepaskan cekalan tangan Leo yang mulai terasa sakit di pergelangan tanganku. “Udah deh, udahan aktingnya. Gue ada kelas sebentar lagi. Makasih bantuannya selama ini!” kataku, melambaikan tangan dan siap meninggalkan Leo.
Tapi, Leo malah menarik tanganku lagi dan menahanku tetap di tempat. “Mana bisa lo main putus gitu aja?”
Aku mengangkat sebelah alisku tinggi-tinggi. Kenapa tidak bisa? Kenapa tidak bisa putus? Bukankah kata Panji, ada pacaran berarti ada putus?
“Le ... maksudnya—”
“Lo nggak berharap gue lepaskan dengan mudah setelah lo cium gue begitu aja, kan?”
“Hah? Tapi—”
“Pacaran beneran dulu,” Leo mengernyitkan dahi sedikit, “baru minta putus.”
“Hah?
“Jadi, Saras….” Tangan Leo yang tadi mencekal pergelangan tanganku, kini meraih jemariku dengan lembut. Matanya menatap dalam-dalam ke mataku. Mendadak, aku merasa udara setingkat lebih dingin dari sebelumnya. “First of all, we should be better than this. Kita memulai dengan caramu, tapi sekarang kita pakai caraku.”
“Hah?” Kenapa mendadak dia memakai aku-kamu begitu?
“I love you. Kamu mau jadi pacarku beneran?”
Aku tahu, betapa bodoh tampangku sekarang. Sesungguhnya aku merasa ada bagian sarafku yang belum tersambung. Atau mungkin, saraf Leo yang sedang eror. Sementara udara di sekitarku semakin dingin saja. Melihat cara Leo menatap mataku membuatku benar-benar merinding. Seharusnya tidak begini.
Kenapa Panji tak pernah mengajariku cara pura-pura mati sih?
***