BETTER THAN THIS

BETTER THAN THIS
Episode 3



“Leo tuh,” ujar Panji saat kami berjalan di koridor Gedung H untuk mengikuti kelas Hukum Adat.



Aku melirik sedikit dari layar ponsel yang sedang kuperhatikan. Dari arah berlawanan dengan aku dan Panji, Leo berjalan dengan ransel di pundak kanan.



“Buruan ajakin pacaran!” desak Panji lagi.



Kutatap sahabatku yang sedang memainkan permen karet di mulutnya itu, lalu kugelengkan kepala.



“Jangan gila. Ya nggak sekarang juga kali,” jawabku. “Gue nyiapin mental dulu,” tambahku, dengan sedikit malu.



Panji berdecak. “Sampai tahun 2030 juga gue nggak yakin mental lo siap,” sindirnya.



Aku tidak menjawab. Karena aku pun tak tahu harus menjawab apa. Bagaimana caranya membuat Leo jadi pacarku dan pergi ke acara Morrie malam Minggu nanti adalah misteri terbesar abad ini bagiku. Aku belum tahu bagaimana memecahkannya.



Jadi, aku kembali menunduk menekuri ponselku dan membiarkan Leo melintas di sebelahku dengan damai. Seolah-olah kami adalah orang asing yang belum pernah bertemu sebelumnya.



“Cemen banget!” ledek Panji.



Aku diam, tidak mau terprovokasi. Biar saja Panji ngomong sesuka hatinya. Aku akan jadi orang bijak kali ini.



Leo itu … tidak ada kata yang sepadan untuk menyatakan seberapa menyebalkannya orang itu. Kurasa ini menjadi koreksi bagi KBBI agar menambahkan kosakata baru yang artinya ... yah, orang semenyebalkan Leo ini.



Ada yang tak adil kalau kita membicarakan Leo. Dia itu anomali yang belum pernah terjadi di fakultas ini. Tidak pernah sebelumnya seorang mahasiswa S1 yang bahkan belum lulus, mendapat kepercayaan dosen untuk membantunya mengajar. Nyaris semua asisten dosen di sini minimal sedang menempuh S2. Namun, Leo ini, entah terlampau pintar atau apa aku juga kurang paham. Awalnya, dia hanya masuk kelas untuk mengabarkan bahwa dosen Hukum Tata Negara, alias Pak Budi yang kabarnya adalah pembimbing skripsi Leo, tidak bisa mengajar. Tetapi, mahasiswa harus tetap mengumpulkan tugas yang telah diberikan. Lama-kelamaan, ketika Pak Budi tidak bisa hadir, kelas berubah menjadi kelas tutorial. Mahasiswa akan bertanya jika menemui kesulitan dan Leo akan menjawab. Walaupun Leo tidak memberikan materi baru, dia sering dianggap semi asisten dosen oleh teman-temanku. Aku sendiri menganggapnya sok tahu. Dan semakin lama bila kuperhatikan, wajahnya semakin mirip dengan KUHP.



Apakah aku membencinya karena dia mahasiswa terlalu berprestasi sementara aku mahasiswa suram? Tentu tidak. Aku punya banyak alasan untuk membencinya, meski harus kuakui, di awal pertemuan kami aku sempat terjebak dalam pesonanya juga. Terlebih, aku merasa familier saat melihatnya pertama kali. Rasa tidak asing membuatku berpikir barangkali Leo itu salah satu kakak kelasku di SMA, SMP, atau SD. Barangkali TK. Makanya aku sudah berharap akan aman semasa ospek dan bersikap sok akrab padanya. Tapi, tidak kusangka dia justru lebih jahat dibanding senior-senior lainnya. Aku mencoret kemungkinan Leo adalah kakak kelasku. Mana mungkin. Barangkali dia malah tidak pernah sekolah sebelumnya, sampai sekejam itu pada mahasiswa baru. Terutama aku.



Aku benar-benar tak habis pikir mengapa seorang ketua DPM sepertinya bisa ikut campur dalam proses ospek. Aku juga tidak paham kenapa semua orang seolah membiarkan Leo berbuat semaunya dan menghukumku dengan begitu mudahnya. Setahuku DPM hanya bertindak sebagai pengawas dan akan menyelesaikan masalah bila penyelenggara ospek mahasiswa yang sebenarnya, yaitu BEM atau Badan Eksekutif Mahasiswa, tidak bisa menyelesaikannya. Jadi, menurutku, tidak ada alasan lain bagi Leo untuk repot-repot menghukumku kalau dia memang tidak benci padaku dari awal.



Perseteruanku dengan Leo ini sudah terkenal ke mana-mana dan masih terbawa sampai sekarang. Mungkin karena itu juga Panji terlihat sangat syok ketika tahu aku harus pacaran dengan Leo untuk memenangkan taruhan itu. Well, aku juga syok. Aku punya banyak alasan untuk membenci Leo. Dan aku juga punya banyak alasan untuk menyesali taruhanku dengan Morrie ini. Karena kalau dihitung dengan ilmu statistik tingkat lanjut pun, probabilitas Leo menjadi pacarku tidak mungkin lebih dari 1%.



Kulirik Panji yang sibuk menyapa cewek-cewek di sepanjang koridor. Kalau aku gagal dalam taruhan ini, kira-kira apa Panji benar-benar akan berhenti jadi sahabatku?



***



[2012]



“Ini apa?” tanya pria itu, sambil mengerutkan dahi. Kedua alis tebalnya nyaris bersatu di tengah. “Dan ini apa?” tambahnya lagi sambil mengangkat selembar kertas kusut bekas struk pembelian di minimarket.



Kusingsingkan lengan baju dan kutentang dengan berani pandangan Leo. Aku yakin apa pun yang kulakukan hari ini, dan apa pun jawabanku, sebuah hukuman paling mengada-ada sudah menunggu. Jadi, sekalian saja kubuat kesalahan yang besar. Biar sepadan.



“Ini adalah gado-gado. Made by Ibu kantin,” jawabku, sambil menunjuk plastik berminyak yang berisi bungkusan makanan. “Dan ini,” kutunjuk struk minimarket, “adalah surat cinta kepada senior. Tugas ospek yang dikasih kemarin.”



Aku heran bagaimana senior-senior ini memaknai perpeloncoan. Katanya ospek tahun ini tidak ada perpeloncoan. Tapi masih saja ada tugas membuat surat cinta kepada senior yang sudah ditentukan melalui undian. Apa coba faedahnya? Itu belum seberapa. Aku yakin mereka berkomplot untuk menyiksaku dengan sengaja memberiku nama Leo. Membuat surat cinta untuk senior setan itu? Oh, jangan harap.



Jadi, kuambil salah satu struk pembelian yang ada di dompetku. Kemudian, di halaman kosong di balik nominal pembelian, kutulis sepenggal syair lagu Gugur Bunga yang sering kunyanyikan saat SMA.



Dear Bang Leo,



Betapa hatiku takkan pilu




Betapa hatiku takkan sedih



Hamba ditinggal sendiri…



Siapakah kini pelipur lara



Nan setia dan perwira



Siapakah kini pahlawan sejati



Pembela bangsa sejati



With love, Saras



Leo menarik napas panjang. Senior-senior lain mulai berkumpul. Jika saja tak takut dihukum, aku yakin maba-maba itu akan ikut membuat lingkaran di sekitar kami juga. Aku benci momen ini. Sejak ospek hari pertama, mereka memperlakukanku seperti tontonan gratis. Aku, yang dipelonco habis-habisan oleh si setan DPM ini.



“Pertama, menu hari ini adalah nasi goreng ayam dengan bentuk hati,” ujar Leo datar, namun penuh tekanan. “Dan kedua, ini yang kamu sebut surat cinta?”



“Pertama, saya nggak makan ayam. Apa saya harus maksa makan ayam dan masuk rumah sakit hanya karena menu hari ini adalah nasi goreng ayam berbentuk hati?” jawabku dengan pertanyaan. Tak lupa, ku-setting wajah polos tak berdosa. “Dan kedua, saya mengagumi kepahlawanan Bang Leo lho. Bang Leo itu sosok yang dibutuhkan bangsa ini di masa depan. Itu keren banget!” tambahku dengan nada bersungguh-sungguh.



Masih dengan ekspresi lempengnya, Leo bertanya, “Menurutmu, jawaban itu masuk akal?”



Aku mengangguk dengan pasti. “Masuk akal, Bang. Tapi ada satu hal yang menurut saya kurang masuk akal.”



“Apa?”



“Bang Leo kan ketua DPM. Apa nggak capek kalau ikut campur di ospek juga? Lagi nggak ada kerjaankah, Bang?”



Kerumunan di sekitarku mulai berdengung. Beberapa menunjuk-nunjukku dengan frontalnya. Sungguh aku benci momen ini. Sengaja aku menyinggung soal posisinya sebagai ketua DPM, yang tak seharusnya ikut campur dalam ospek. Kuharap setelah ini Leo akan semakin marah dan menyegerakan hukumannya sehingga aku tak perlu berlama-lama menjadi tontonan.



Bersamaan dengan senyum tipis yang terukir di bibir Leo, aku tahu doaku akan segera terkabul. Namun, dengan cara yang sangat tidak menyenangkan.



“Memang capek. Kamu mau bantuin saya?”



Perasaanku tidak enak.



Tanpa menunggu jawabanku, Leo memanggil salah seorang senior yang aku lupa namanya. Mereka bicara dengan nada pelan selama beberapa detik, kemudian Leo kembali menatapku dengan senyum. Suasana semakin mencurigakan.



“Sebentar lagi agendanya adalah dewan pengajar mengenai aksi mahasiswa. Harusnya saya jadi moderator. Tapi, karena saya capek banget, kamu bisa gantiin saya, kan?”



Aku sudah tahu sejak awal, bahwa senior yang diidolakan banyak orang ini sebenarnya punya bakat menjadi psikopat keji. Hukuman darinya tidak akan pernah se-mainstream berdiri di depan kelas, push up, ataupun scott jump. Hukuman darinya tidak akan terlihat seperti hukuman. Tapi, efeknya lebih mematikan.



Hari itu, aku, yang tak punya pengalaman apa pun dan baru tiga hari menjadi mahasiswa, diharuskan menjadi moderator diskusi yang diikuti oleh ratusan mahasiswa baru dan dewan pengajar serta orang dekanat. Sampai sekarang, aku masih ngilu jika mengingat momen itu. Betapa buruknya penampilanku dan betapa habisnya mukaku di hadapan semua orang.



***