BETTER THAN THIS

BETTER THAN THIS
Episode 1



Kupandangi ujung sepatu Converseku yang saling beradu, seperti sedang meminiaturkan perdebatan antara aku dan Panji ini. Daripada perdebatan, sebenarnya lebih tepat bila disebut Panji memarahiku habis-habisan. Sementara aku tak punya nyali untuk membela diri. Kesalahanku ini memang lebih merugikannya daripada merugikanku.



“Lo jadiin gue barang taruhan?! Otak lo ditinggalin di mana sih?!”



Kali ini aku sibuk menatap sekelilingku. Apa pun, selain pria yang berdiri di hadapanku. Sementara itu, Panji yang jangkung tengah menunduk memandangku dengan pandangan yang seolah-olah dia ingin memukulku. Seperti kakak laki-laki yang memergoki adiknya mencuri uang dari dompet Ayah. Kupikir Panji sedikit menua. Aku bersumpah pernah menemukan uban di rambutnya.



Tepat saat itu, segerombolan cowok-cowok satu angkatan lewat di depanku. Ada yang kusut, ada juga yang semringah.



“Ras! Entar malem dukung mana nih Chelsea sama MU? Cepek cepek bolehlah?” tawar Bagus, salah satu di antaranya yang rambutnya cepak.



Aku langsung bersemangat. “Wah, boleh tuh! Gue pegang Chelsea—”



“Saras!”



Aku yang sudah melangkah untuk bergabung dengan gerombolan cowok-cowok pencintabola untuk membicarakan taruhan selanjutnya, terpaksa berhenti. Tergopoh-gopoh aku kembali ke hadapan Panji yang masih murka luar biasa.



“Hobi taruhan lo udah kebangetan! Lama-lama diri sendiri juga lo bikin taruhan, tahu!”



Aku berdecak. “Lo kayak baru kenal gue, Ji? Taruhan itu seru! Semacam uji nyali tapi nggak pakai seram-seram gitu. ”



“Dan semua ini lo lakuin cuma buat dokter gila itu? Tega!”



“Gue bukannya tega, tapi gue nggak punya pilihan! Lo kan tahu Morrie ngeselinnya kayak apa.”



Panji menyumpah-nyumpah emosi. Aku meringis kecut, lalu menunduk dalam-dalam. Oke, aku mulai menyesal sekarang. Mungkin Panji benar, aku keterlaluan. Seandainya saja aku tidak terlalu maniak pada taruhan. Seandainya saja aku tadi tidak terburu tersulut emosi saat Morrie menggangguku seperti biasa.



Tapi, kali ini masalahnya berbeda. Bukan sekadar ketertarikan-tak-masuk-akalku pada taruhan, ataupun sekadar permusuhan-tak-masuk-akalku dengan Morrie, tapi menyangkut perasaan-tak-masuk-akalku kepada dokter yang kata Panji gila itu. Mana mungkin Panji berpikir aku akan diam saja kalau Morrie



mulai mengusik Riza? Morrie boleh mengambil semua cowok keren di dunia ini, aku tak peduli. Tapi Riza … itu lain soal.



“Coba sekarang jelasin kenapa lo bisa nggak punya pilihan,” perintah Panji masih dengan nada-nada tinggi yang membuat kami menjadi perhatian mahasiswa yang menunggu kelas Hukum Tata Negara.



Morrie dan aku, jangankan tidak ada apa-apa seperti ini, sedang ada perang darurat pun, tidak mungkin kami berada di pihak yang sama. Aku juga tidak tahu kenapa cewek sok cantik itu begitu membenciku dan hobi mencari masalah denganku. Padahal, menurutku, aku adalah orang yang cukup baik. Aku tidak pernah mengusili orang selain Panji.



Beberapa hari yang lalu aku sempat melihat si cantik artifisial itu bersama Riza. Panji tahu pasti seberapa dalam perasaanku pada dokter muda itu walaupun sampai sekarang perasaanku belum berbalas. Lalu, si Morrie datang menyerobot? Enak saja!



Tadi pagi nenek lampir itu mencegat langkahku dan memancing perang dunia. Secara terang-terangan, Morrie mengaku bahwa dia tertarik kepada Riza. Ini aneh. Tipe cowok Morrie adalah tipe cowok yang dikagumi nyaris semua cewek di kampus. Kalau bukan anak band, ya atlet. Kalau dia sampai tertarik kepada Riza yang cupu, itu patut diperhatikan.



Lalu, Morrie bicara dengan salah satu pengikutnya yang selalu berusaha mengenakan apa yang dikenakan Morrie.



“Kayaknya gue udah bosan nih sama anak-anak band. Hidupnya nggak jelas. Kalau dokter kan masa depannya jelas, ya?”



Bagaimana aku tidak terbakar emosi? Apa maksudnya dia bicara seperti itu? Lalu, kubilang padanya supaya jangan sok cantik banget, padahal cantik saja juga tidak. Lalu, Morrie malah mengatakan kalau aku yang sok cantik.



Aku akan berpikir jernih untuk meninggalkan saja Morrie dengan segala omong kosongnya kalau saja hari ini mood-ku tidak sedang hancur. Baru saja aku diusir dari kelas Sejarah Hukum Indonesia (SHI) gara-gara absenku yang sudah kelewat batas. Mengulang mata kuliah SHI semester depan sama dengan mengulang momen-momen membosankan yang membuatku tidur di kelas. Itu jugalah yang membuatku sering diusir dari kelas, hingga tidak bisa ikut ujian seperti ini. Morrie pasti tahu bahwa aku sudah mengambil kuliah dasar itu dua kali dan akan menjadi tiga kali semester depan. Mungkin karena itu dia sengaja mengonfrontasiku. Untuk menambah penderitaanku pastinya.



“Morrie, nggak semua orang harus berpenampilan aneh kayak lo untuk bisa cantik. Lo tahu, kan?” Semanis mungkin kukatakan ini kepada Morrie, supaya dia berpikir ulang untuk mencari gara-gara denganku. “Ada orang-orang yang memang cantik tanpa harus berusaha keras.”



Sengaja kutatap Morrie dari ujung rambut hingga ujung kaki untuk mengintimidasi. Rok sepan ketat sepuluh senti di atas lutut, kemeja tipis ketat yang dua kancing teratasnya terbuka, dan sepatu hak tinggi. Juga rambutnya yang terlihat sebagai hasil olahan salon setiap pagi. Belum lagi make-up-nya yang mungkin jika diukur bisa untuk make-up satu kontingen teater. Benar-benar bukan gayaku.



Aku sudah mau pergi meninggalkan Morrie saat dia mengeluarkan tantangannya.



“Kalau lo emang secantik yang lo yakini, lo pasti berani terima tantangan gue!” teriaknya.



“Apa?” Aku berbalik. “Sumpah, gue lagi nggak minat lomba dandan.”



“Kalau lo berhasil, gue janji nggak akan gangguin dokter lo.



Janji gue bisa dipercaya.” Morrie tertawa anggun.



Aku ingin menjawab, tapi Morrie sudah memotong ucapanku, “Kalau gue—”



“Kalau lo gagal,” kini senyuman anggun itu berganti dengan senyuman licik, “sepanjang hidup lo, lo harus mastiin Panji bisa jadi pacar gue.”



Barulah aku mengingat sebuah kenyataan besar. Bahwa cewek sok seksi itu selalu mengejar-ngejar Panji, sahabat karibku yang menyebalkan. Akhirnya aku paham duduk persoalannya. Selera Morrie belum berubah. Masih cowok-semi-berantakan-yang-suka-musik-dan-olahraga seperti Panji. Sekarang aku mengerti, dia mendekati Riza hanya untuk membuatku marah. Sekaligus mencari celah untuk mendekati Panji.



Ah, sudahlah. Tak ada gunanya mengikuti permainannya. “Hei! Seriusan nih?” teriak Morrie saat aku beranjak meninggalkannya tanpa menjawab apa-apa. “Anyway, dokter itu bilang gue mengingatkan dia pada mantan pacarnya!”




“Apa tantangannya?” putusku akhirnya.



Setelah kupikir-pikir, bukan mustahil Morrie akan benar-benar mendekati Riza jika aku tak menghentikannya dari sekarang. Perempuan ini kan punya kecenderungan menginginkan semua yang kumiliki. Ya, oke. Riza memang tidak kumiliki. Tapi, dia pasti tahu aku menginginkan dokter itu setengah mati.



“Lo tahu kan, Sabtu malam gue ngadain pesta?” Morrie kembali tertawa dengan gaya anggun yang, demi Tuhan, sungguh memuakkan. “Bawa Leo ke pesta gue,” kata Morrie yakin. “Yes, Dear. Leo angkatan 2010. Sebagai pacar lo.”



***



Panji masih belum mau bicara denganku lagi sejak masuk kuliah Hukum Tata Negara sampai sekarang kuliahnya berakhir. Kalau aku mendekatinya dan mengajaknya bicara, Panji akan pura-pura sibuk bicara dengan yang lain. Atau kalau kebetulan di sampingnya tidak ada orang, dia akan pura-pura aku adalah bagian dari udara yang tidak perlu dianggap ada.



Karena tidak ada teman yang bisa kuajak bicara selama perkuliahan berlangsung, aku terpaksa menghabiskan kuota internetku untuk membuka Twitter dan Instagram Jerro Atma, fotografer muda yang kuidolakan setengah mati. Seperti biasa, apa pun yang dia posting membuatku ternganga. Meski hanya sekadar foto cangkir kopi paginya, Jerro Atma selalu bisa membangkitkan semangatku untuk segera lulus dari fakultas ini dan banting setir ke bidang fotografi. Setiap kali membuka akun media sosial Jerro, aku selalu miskin mendadak. Karena selain tampan, Jerro juga murah hati soal berbagi ilmu. Dia sering membuat video berisi ulasan ataupun tips. Misalnya, bagaimana mengoptimalkan kinerja shutter speed dan aperture saat memotret dengan kamera. Ilmu luar biasa berfaedah seperti ini mustahil kulewatkan begitu saja.



Tapi, karena Panji tidak segera membaik mood-nya, aku mulai tidak sabar. Ketika aku melangkah masuk ke kelas berikutnya dan Panji berada tepat di belakangku, aku sengaja menjegal kakinya. Panji kemudian menabrak pintu kelas, menimbulkan suara berdebam.



“Apa-apaan sih lo?!” bentaknya kaget bercampur kesal. “Itu bukti kalau gue kasatmata,” jawabku datar, sambil melenggang masuk kelas.



“Lo nggak ngerti caranya minta maaf?” Panji mengekoriku ke bangku-bangku di deret paling belakang. Bagus, setelah seharian dia menganggapku tidak ada, kini dia mengejar-ngejarku. Aku memang hebat. “Setelah lo merusak masa depan gue dengan taruhan itu, sekarang lo mau merusak wajah gue, gitu?”



Aku mencibir. Sebagai cowok, Panji benar-benar cerewet. Gaya bicaranya mengingatkanku pada peran mertua menyebalkan di sinetron yang ditonton Ibu setiap malam. Aku heran mengapa banyak cewek tergila-gila padanya. Lagi pula, apa maksudnya aku merusak masa depannya? Memangnya seburuk itu pacaran dengan Morrie? Ya … walaupun kalau aku jadi Panji, lebih baik aku mati saja.



“Oke. Maafkan saya ya, Tuan. Maaf telah merusak masa depan Tuan yang terang benderang itu,” kataku, lebih untuk membuat Panji diam.



“Kalau maaf aja cukup, penjara nggak ada gunanya!” katanya gusar, menirukan dialog Tao Ming Tse di serial Meteor Garden yang terkenal itu.



“Lo maunya apa sih? Tadi nyuruh minta maaf. Gue udah minta maaf, masih ngomel juga!” protesku kesal.



“Gue mau, lo harus menang taruhan itu!” ucap Panji menggebu-gebu.



“Caranya?”



“Ya bodo amat! Pikirin aja sendiri!”



Aku berdecak kesal. Panji meninggalkanku tanpa penerangan. Memintaku melakukan sesuatu yang teramat besar, namun tidak memberitahuku caranya. Aku tahu aku bersalah padanya. Tapi, sebagai sahabat, seharusnya dia mau memaafkan dan membantuku dong. Dia kan tahu bahwa manusia itu tempatnya salah dan lupa.



“Kenapa harus Leo sih?” tanya Panji dengan gusar.



“Emang kenapa kalau Leo?!” balasku tidak kalah gusar.



Panji mengacak rambutnya frustrasi. “Ya kali lo bisa pacaran sama tuh cowok! Akur aja nggak pernah!”



Aku tertegun. Astaga, iya. Ke mana otakku saat menyetujui tantangan Morrie? Mana mungkin aku bisa membawa Leo ke pesta Morrie sebagai pacar? Boro-boro pacar. Hubunganku dengan Leo tidak lebih baik dari hubunganku dengan Morrie.



“Lo dengerin gue ya, Ras,” Panji duduk di sebelahku, setelah mengusir Yudha yang lebih dulu duduk di sana, “gue tahu lo ngelakuin ini demi si dokter gila itu.”



“Dia nggak gila. ”



“Gue belum kelar ngomong!” bentaknya. Aku langsung diam. “Coba lo pikir, ada manfaatnya nggak? Lo bikin si Morrie jauh-jauh dari dia, tapi lo yakin nggak dia suka sama lo? Lo yakin nggak kalau Riza akan membalas cinta-nggak-masuk-akal lo itu kalau lo nyingkirin Morrie? Dan demi itu lo tega naruhin temen lo sendiri? Ck, ck, ck.” Panji menggeleng-gelengkan kepala. “Egois!”



“Makanya bantuin gue!” jawabku sewot. “Jangan cuma marah-marah mulu! Bantuin mikir gimana caranya bikin si Leo jatuh cinta sama gue!”



“Gimana mau dibikin jatuh cinta? Leo benci banget sama lo!” bentak Panji. “Dan lo benci banget sama dia,” tambahnya, kali ini dalam desisan yang didramatisir, membuatnya semakin mirip dengan tokoh sinetron.



Tepat saat itu aku menoleh ke depan, mendapati Leo sudah masuk kelas. Dan sekarang sedang menatap padaku dan Panji yang masih mengoceh panjang lebar.



Aku mencoba memperingatkan Panji yang masih terus bicara. Tapi, si Leo tampaknya sudah menangkap beberapa kali namanya disebut dalam kalimat Panji karena suara Panji yang super stereo. Kini dia mendekat. Kutendang kaki Panji, lalu kuarahkan pandanganku ke depan. Aku bersumpah akan membunuh Panji setelah kelas ini berakhir.



“Kalian ngobrolin apa?” tanya Leo dengan nada sok cool-nya yang biasa.



Panji langsung diam. Leo menoleh padaku. Wajahnya sengak tak tertolong. Dengan alis terangkat, dia meminta jawaban. Ya aku tahu, dari awal pertanyaan itu memang ditujukan padaku. Walau Panji yang mengoceh panjang lebar. Sudah jelas, apa pun yang dilakukan oleh siapa pun, akulah yang bersalah di hadapan Leo.



Jadi, kumajukan tubuhku. Sambil bertopang dagu, kutentang kedua mata Leo yang songong itu. “Rahasia,” jawabku datar dan final.



Aku tahu dia benci padaku. Tak mengapa. Karena aku juga benci padanya.



***