BETTER THAN THIS

BETTER THAN THIS
Episode 5



“Halo, Bang Leooo! Apa kabar?”



Leo hanya memandangku aneh. Satu alisnya terangkat dan menghilang ke balik rambut ikalnya. Ekspresinya seperti menghadapi orang asing yang sok akrab menanyakan kapan dia menikah. Padahal aku hanya menanyakan kabarnya. Ya ya ya, aku tahu betapa anehnya tingkahku ini. Pertama, aku terus-terusan memanggilnya ‘bang’ sejak kemarin. Kedua, aku menanyakan kabarnya. Padahal siapa yang peduli dengan kabarnya? Dia mau pindah kewarganegaraan besok juga aku tidak peduli.



“Jadi, kapan mau ngajarin gue materi yang kemarin? Udah janji lho, ya!”



Sebenarnya aku jijik melakukan ini. Ini bukan gayaku. Mana pernah aku menyapa cowok dengan nada secentil ini? Bicara dengan cowok sambil mengedip-ngedipkan mata seperti ini lebih masuk akal kalau Morrie yang melakukan. Bukan aku. Mungkin, sampai rumah aku harus mandi kembang tujuh rupa untuk membuang sial.



“Lo sakit, ya?” tanyanya pendek.



Ya ya, kurasa aku memang sakit.



“Alhamdulillah, gue sehat. Makasih banget udah peduli, Bang. Tapi gue beneran butuh belajar nih.”



Panji yang berdiri di sebelahku langsung mengeluarkan suara seperti orang tercekik. Aku menoleh dan melotot padanya seolah mau bilang: ‘Diem lo! Jangan ganggu gue!’



“Lo juga harus belajar gimana supaya nggak ngerepotin orang lain,” sahut Leo.



Oh. Manis sekali mulut penjahat satu ini.



“Tapi Bang Leo mau ngajarin, kan?”



Aku muka tembok, aku muka tembok, aku muka tembok!



Leo melirik jam tangannya. “Gue mau ketemu Pak Budi. Lo tanya temen lo aja,” jawabnya sambil mengedikkan bahu pada Panji.



“Apa? Panji? Yah, boro-boro dia ngerti! Bang Leo nggak lihat, pas kuliah kemarin dia malah tiduran di belakang?”



Panji menendang tulang keringku. Aku nyengir lebar.



“Tunggu kuliah selanjutnya dan silakan tanya ke Pak Budi.”



Leo sudah mau pergi ketika aku refleks memasang kakiku sehingga dia tersandung dan nyaris terjungkal. Sumpah, ini di luar kemauanku. Sepertinya gerak refleksku memang diciptakan untuk menyerang orang ini. Itu bukan salahku, kan? Namanya juga gerak refleks. Itu kan terjadi di luar kesadaranku.



Leo menatapku dengan ekspresi seolah ingin memakanku hidup-hidup. “Lo nggak cuma harus belajar hukum tata negara, tapi juga belajar bersikap kepada orang lain.”



Tanpa memberiku kesempatan untuk membela diri, Leo meninggalkanku, setelah sebelumnya menepuk-nepuk pundaknya, seperti sedang membersihkan debu. Sialan. Memangnya aku ini debu?



“Pake ngajarin bersikap baik sama orang lagi! Dia pikir dia Mamah Dedeh?!” decak Panji ikut emosi.



Aku hanya memandangi punggung yang semakin jauh itu. “Biarin ajalah. Yuk! Laper gue.” Kuseret tangan Panji memasuki kantin yang hanya tinggal beberapa meter lagi. Menahan emosi memang bikin lapar.



“Lagian lo gitu banget sih PDKT-nya? Norak!” komentar Panji. “Kayak cewek murahan!”



Aku tidak menanggapi. Enak saja Panji bilang begitu. Membantu berpikir, tidak, mencela usahaku, iya. Orang seperti itu tidak perlu ditanggapi. Lebih baik aku segera mengisi perut dengan gado-gado favoritku.



Sialnya, Morrie si nenek lampir berambut cokelat buatan dan ber-high heels datang mengacaukan kenikmatan gado-gadoku. Melihat Morrie, Panji buru-buru ke toilet, pura-pura kebelet pipis. Dasar tidak setia kawan!



“Ehm! Jangan lupa datang ke pesta gue, yaaa!” teriaknya sok merdu di dekat telingaku. “Dan jangan lupa bawa pasangan. Karena pesta gue temanya couple!”



Ah, dia benar-benar jahat.



“Nggak lupa, kan? Sabtu malam!”



Jahat dan menyebalkan.



Ingin rasanya aku mengguyurkan saus kacang gado-gadoku ini ke wajah Morrie supaya dia diam. Tapi, setelah kupikir-pikir, sayang juga uang yang sudah kukeluarkan kalau aku malah membiayai treatment mandi kacang Morrie. Dan sayang juga tenaga yang kukeluarkan untuk meladeni gangguan norak perempuan ini.



“Ehm,” Morrie berdeham sok anggun lagi. “Gue ada ide, supaya taruhan kita jadi lebih asyik.”



Mataku menyipit. Kurang asyik apa taruhan ini memangnya? Aku mempertaruhkan sahabatku demi orang yang sudah menolakku dan akan segera meninggalkanku?



“Lo ingat kan acara Perfilma kita minggu depan? Yang di Puncak? Yap! Lo hadir, kan? Ah, lo harus hadir.” Morrie menyeringai licik. “Kalau lo berhasil dengan tantangan gue yang pertama, ingat?” Lantas dia tertawa kecil. “Jangan kira gue bego bisa percaya gitu aja. Gue perlu bukti.”



Apa maksudnya?



“Gue pengen lihat kalian kissing di hadapan semua orang. Bisa?”



“Apa?!”



“Lo pengen jadi fotografer, kan? Nah, kalau lo berhasil, gue akan kenalin lo sama Jerro Atma. Dengar-dengar lo ngefans banget sama dia, kan? Dia bisa jadi jalan buat lo wujudin cita-cita lo itu, kan?”



Aku tidak menjawab. Terlalu kaget dengan keluarnya nama Jerro Atma dalam ucapan Morrie.



“Tapi, kalau lo gagal, selain lo harus menjauh dari Panji, lo juga harus mengabdi ke gue selama seminggu. Gimana? Keren kan tawaran gue? Lo pasti setuju. Oke sip? Sip!”



Tanpa menunggu jawabanku, Morrie pergi setelah mengibaskan rambutnya dengan begitu ekspresif, membuat aroma sampo-entah-apanya itu mengusik hidungku sampai aku bersin-bersin. Tak lama kemudian Panji datang lagi dengan wajah datar. Entah tadi dia bersembunyi di mana.



“Pokoknya, gimanapun caranya, lo harus menang taruhan itu! Gue nggak mau tahu!” kata Panji mengulangi kalimatnya yang kemarin.



Aku berdecak. “Makanya jangan mencela mulu kalau gue usaha! Lagian lo kenapa sih? Morrie kan cantik. Nggak malu-maluin kalau diajak jalan.”



“Lo rela gue pacaran sama dia?”



“Ng ... nggak sih.”



“Nah!”



Aku meringis. Memangnya aku segila itu membiarkan sahabatku pacaran dengan musuhku? Kalau mereka saling cinta sih, tidak apa-apa. Tapi, mengingat Panji pura-pura kebelet pipis setiap kali Morrie muncul, aku bisa membayangkan betapa suram hubungan mereka. Baru sadar, betapa aku akan merasa bersalah jika nanti Panji tertekan secara mental karena harus berpacaran dengan Morrie akibat perbuatan bodohku.



“Kenapa lo nggak jujur aja sama si Leo?” tanya Panji.



“Jujur gimana?”




“Lo gila, ya?!”



Memangnya aku tidak pernah nonton FTV? Kan sering ada cerita dua orang, sebut saja si A dan si B, yang sudah saling mencintai jadi berpisah gara-gara yang si A ternyata sedang taruhan dengan teman-temannya untuk mendapatkan si B. Walau si A sudah mengaku kalau dia benar-benar jatuh cinta dengan si B dan sudah melupakan taruhannya dengan teman-temannya jauh-jauh hari, tetap saja si B tidak mau tahu. Si B sudah telanjur sakit hati walau sebenarnya dia juga mencintai si A. Ya walaupun akhirnya A dan B juga tetap bersatu sih. Tapi, kalau yang saling mencintai saja bisa pisah gara-gara taruhan, apalagi yang nyaris musuh seperti aku dan Leo?



“Nggak! Nggak! Begini aja udah parah, apalagi kalau gue ngaku!” tolakku mentah-mentah.



“Siapa tahu aja Leo jadi terharu kalau lo cerita soal permasalahan lo yang sebenarnya.”



“Terharu apaan?!”



“Jadi, ceritanya lo minta tolong sama dia. Nggak mungkin kalau lo mau pake pesona lo buat deketin dia. Lo nggak punya pesona. Kalaupun ada, dia udah enek duluan sama lo.”



Ucapan Panji ada benarnya juga walau sangat menyakiti hati.



“Berarti, gue ... curang dong?”



“Nggak juga. Morrie kan nggak bilang lo nggak boleh ngasih tahu Leo soal taruhan ini,” jawab Panji lancar. “Lo nembak Leo, tapi lo sertain tuh alasan lo kenapa nembak dia.”



Aku mengangguk-angguk paham. “Tapi, kalau dia tetep nggak mau, gimana?”



Panji mengernyit sedikit. Lalu, dengan ekspresi menyesal dia bilang, “Lo mesti nyari temen baru. Cuma Tuhan yang tahu hal gila apa lagi yang bakal lo lakuin. Jangan harap gue mau dijadiin tumbal terus!”



Aku tak mampu membalas omelan Panji. Sepertinya menerima tantangan Morrie memang suatu kesalahan besar.



***



Hari ini sudah hari Jumat. Besok kuliah libur. Aku tidak tahu nomor HP Leo. Apalagi alamat rumahnya. Kesempatanku untuk menjadikannya pacar hanya tinggal hari ini. Itu pun harinya pendek. Aku ada kuliah sampai jam sepuluh. Aku juga tidak tahu apa hari ini Leo ada kuliah atau tidak. Aku hanya mengandalkan keberuntunganku saja dengan mencarinya di sekretariat klub debat, karena aku tidak menemukannya di mana pun.



Kalau aku beruntung, Leo ada di sana dan melupakan kemarahannya padaku kemarin, lalu bersedia membantuku. Kalau aku sial, Leo mungkin tidak ada jadwal kuliah hari ini dan tidak berminat ke kampus. Kalau aku sangat sial, Leo ada di sana, tapi menolak bertemu denganku atau malah memaki-makiku di hadapan banyak orang.



Sekretariat klub debat terletak di bangunan deretan belakang kampus. Berseberangan dengan kantin fakultas yang berbentuk setengah lingkaran. Ruangan kecil itu selalu penuh orang. Aku juga tidak tahu apa yang mereka cari di sana. Memangnya tidak cukup belajar dan berdebat di kelas?



“Woi, Ras! Tumben? Ada angin apa nih?” sapa seorang cowok dengan kepala plontos.



Aku menjawabnya dengan tawa. Sebenarnya aku ingin balas menyapa, tapi jujur aku tak tahu siapa namanya. Walau aku tidak pernah ikut organisasi, aku cukup dikenal di kalangan mahasiswa hukum. Dari teman seangkatan sampai senior-senior angkatan atas. Mungkin karena sejarahku dengan Leo yang terkenal itu. Mungkin juga karena cuma aku yang sering lupa mengganti sandal jepitku dengan sepatu sebelum berangkat kuliah yang sering membuatku diusir dari kelas.



Dan barangkali cuma aku yang pernah dua kali mengikuti kuliah PIH dan SHI, dan masih harus mengulang juga. Astaga, aku baru sadar kalau alasan kenapa aku terkenal sama sekali tidak membanggakan.



“Nyari siapa?” tanya seorang cowok berpenampilan rapi dengan kemeja dan celana kain yang duduk di sofa dekat dengan pintu. Aku yakin dia senior tingkat atas. Mungkin sudah alumni. Tapi, kuharap dia tidak mengenaliku karena aku pun lupa siapa namanya. Ada tidak sih penyakit yang membuat seseorang sulit mengingat nama orang? Kalau ada, aku pasti salah satu pengidapnya.



“Leo ada nggak, Bang?”



“Ada kok.” Si senior langsung melongok ke dalam. “Leo! Dicari Saras nih!”



Aku menelan ludah. Oke, mungkin aku harus mengadakan audisi untuk mencari seseorang yang tidak mengenalku dan memberinya nobel.



Untung saja sebelum senior itu bertanya-tanya lebih banyak, Leo muncul dari ruang dalam. Dan langsung berdecak dengan nada yang tidak menyenangkan.



“Gue nggak ada waktu ngajarin lo secara privat,” katanya langsung.



Aku cemberut. “Gue bukan mau minta diajari.”



“Lo mau apa?” tanyanya kemudian.



“Gue cuma mau ngomong bentar, Le. Ya? Bentaaar aja. Nggak akan lebih dari lima belas menit.”



“Itu lama.”



“Sepuluh menit deh.” “Gue lagi repot.”



“Lima menit. Plis? Habis ini gue nggak akan gangguin lo lagi.”



Leo menatapku dengan mata menyipit, seolah menilai apakah janjiku layak dipercaya atau tidak. Puji Tuhan! Leo mau keluar dari ruang klub debat itu bersamaku. Aku mengangguk sopan kepada senior yang masih duduk di sofa dekat pintu. Bagaimanapun aku berutang budi padanya. Aku yakin, jika hanya ada kami berdua, Leo tidak akan sudi memberiku lima menitnya yang berharga.



Di tengah-tengah perjalanan Leo mendadak berhenti. “Sebentar, kayaknya akhir-akhir ini lo sedikit terobsesi ya sama gue. Lo nggak naksir gue, kan?”



Aku menelan ludah. “Le, ng ... iya. Jadi pacar gue, ya?”



Seperti yang kuduga, Leo langsung membeku. Matanya melotot dan mulutnya sedikit terbuka. Ekspresi wajahnya terlihat aneh. Seperti terlalu terkejut untuk memberikan respons apa pun. Aku sudah menduganya, demi Tuhan! Aku sudah menduganya! Panji sialan! Apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimana cara membuat Leo amnesia dan melupakan apa yang kukatakan padanya barusan?



“Eh maksud gue ... gini, Bang. ”



Tak punya pilihan lain, aku terpaksa menjalankan saran Panji kemarin. Kubilang kalau Morrie menantangku untuk pacaran dengannya dengan syarat kalau aku gagal, aku harus meninggalkan sahabat baikku satu-satunya. Kubilang saja kalau aku terlalu terbawa emosi sehingga menerima tantangan itu dan malah menyesalinya sekarang. Lalu, kubilang juga kalau Morrie akan mengadakan pesta besok malam. Pesta Morrie sama dengan makan mewah dan enak dan gratis. Terakhir, aku meyakinkan bahwa ini hanya pura-pura dan kujamin aku tidak akan benar-benar jatuh cinta padanya.



Penuh emosi aku bercerita, tapi Leo hanya memandangku dengan ekspresi datar. Aku penasaran apakah Leo punya ekspresi lain selain itu?



“Gue nggak nyangka ... lo setolol itu,” katanya datar.



Aku berusaha menyabar-nyabarkan diri. Ini cuma sementara, Saras, cuma sementara. Lo hanya perlu berbaik-baik padanya sampai waktu taruhan itu berakhir.



“Apalagi kalau lo pikir gue bakalan peduli. Itu lebih tolol lagi.”



Tapi, ternyata aku tak sesabar itu. Menatap kesadisan yang terpancar di matanya yang tanpa ekspresi, membuat emosiku tersulut. Ini sudah keterlaluan. Bagaimana mungkin ada mulut sejahat ini sih?



“Kalau lo nggak mau, bilang aja! Nggak usah ngatain gue tolol!” bentakku tak sabar. “Lain kali ngomong itu pake otak! Tolol itu kalau gue ngatain orang lain tolol tanpa mikirin gimana perasaannya! Tolol itu kalau gue malah maki-maki orang yang ngajak ngomong gue baik-baik!”



Aku berbalik untuk pergi. Namun sebelumnya, karena kesalku benar-benar tidak tertahankan, kuinjak kaki Leo dengan kekuatan ekstra. Leo meraung kesakitan. Bodo amat! Dia pikir aku peduli? Orang seperti dia harusnya dideportasi dari negeri apa pun di bumi ini! Kurang menyakitkan kalau cuma injak kaki!



***