Alter Ego: Another Me {BL}

Alter Ego: Another Me {BL}
Chap 8 : Pacar Hantu



Aku sedikit tersentak mendengar perkataan Blaine. Tubuhku tiba-tiba diam membeku, seperti tak bisa bergerak. Blaine mendekatiku, ia menatap lekat wajahku.


"Kau benar-benar mirip dengannya. Hanya saja sifatmu berbeda dengannya. Lyon, dia adalah nama Alter Ego Rion saat itu. Lyon dan Rion, Rion dan Lyon." Ujarnya.


"A... apa... maksudmu?" Tanyaku, tidak mengerti.


"Kau adalah Lyon, Alter Egonya Rion. Dan Rion, adalah Alter Egomu. Dan kau… kau adalah reinkarnasi Rion." Jawab Blaine, matanya berkaca-kaca.


"Ah?" Aku tidak mengerti. Aku juga tidak tau bahwa reinkarnasi itu nyata.


Blaine mencium keningku, kemudian menghilang. Aku kembali menggerakkan tubuhku yang semulanya tidak bisa bergerak.


Aku menyentuh keningku. "Aku ini... Rion?"


.


.


.


"Lyon... Lyon!" Seseorang memanggilku. Aku membuka kedua mataku.


"Lyon, bangun. Ini waktunya untuk pergi ke sekolah!" Ujar Varel padaku.


"Ahh, jam berapa sekarang?" Tanyaku.


"Jam setengah tujuh, Ly! Kita telah!!!" Serunya. Mendengar ucapannya, aku sontak membuka mataku. Dengan cepat aku pergi ke kamar mandi.


Aku mencuci mukaku, kemudian segera mengganti pakaianku. Ketika keluar dari kamar mandi, aku baru sadar kalau sekarang ini adalah hari Sabtu, dan Varel mengenakan pakaian santainya.


"Sialan..." gumamku. Varel terlihat tertawa terbahak-bahak. Aku mengepalkan tanganku dan memukul keras kepalanya.


...***...


"Hiks... kamu jahat banget sih." Ujar Varel sembari menirukan gaya orang yang sedang menangis.


"Suruh siapa ngerjain orang, padahal niatnya aku mau bangun siang tau!" Balasku.


Om Adit terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, dan Tante Risa tertawa kecil melihat tingkah kami berdua.


"Jadi, bagaimana sekolah kalian akhir-akhir ini?" Tanya Tante Risa.


"Baik-baik saja sih, hanya saja... sebentar lagi ujian. Dan itu artinya aku harus belajar setiap hari." Jawab Varel, mengeluh.


"Aku juga baik-baik saja, tak ada masalah." Jawabku.


"Syukurlah kalau begitu. Lyon, nanti kamu bantuin Varel belajar ya? Dia kan susah diatur." Kata Tante Risa yang aku balas dengan senyum kecil.


...***...


Seminggu lagi, ulangan semester akhir. Aku harus belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus. Aku membuka buku pertama, kemudian membacanya.


Tiba-tiba, seseorang memelukku dari belakang. Ia juga mencium puncuk kepalaku.


"Lagi belajar?" Tanyanya, nadanya terdengar lemah lembut.


"Humm... ia aku lagi belajar. Seminggu lagi ujian." Jawabku.


"Andai saja aku tak jadi hantu penasaran, pasti sekarang aku sedang belajar bersama denganmu." Ujarnya.


"Hmmm, iya." Balasku.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi saja. Aku tak ingin menganggumu." Katanya.


"Tidak! Kau disini saja! Temani aku." Ucapku. Blaine terlihat tersenyum lebar. Kemudian ia duduk di kasurku dan memperhatikanku.


Aku membawa buku-buku ku dan duduk di atas kasur, memutuskan untuk membaca di dekatnya.


"Blaine..." panggilku. Aku menyenderkan kepalaku diatas bahunya.


"Hmm?"


"Apa benar, kalau aku ini pacarmu?" Tanyaku.


"Kau... entahlah, dulu kau memang pacarku. Tapi sekarang, sepertinya bukan." Jawabnya.


"Kalau sekarang kita pacaran gimana?" Tanyaku lagi.


"Hmmm... aku mau, itupun jika kau mau." Jawabnya.


"Aku mau tuh. Tapi, kita ini sama-sama laki-laki kan?" Ujarku.


Blaine memegang daguku, ia mendongakkan kepalaku.


"Lalu? Apa itu masalah untukmu?" Tanyanya.


"Bukan... itu bukan masalah bagiku." Jawabku, tersenyum tipis.


Blaine membelai lembut kedua pipiku, kemudian mencium lembut bibirku. Beberapa detik kemudian, ia melepaskannya. Aku tersenyum senang.


"Lyon, suatu hari jika aku menghilang... tolong ingatlah diriku." Ujarnya, ucapannya membuat senyumku luntur seketika.


...***...


T.B.C