Alter Ego: Another Me {BL}

Alter Ego: Another Me {BL}
Chap 6 : Lyon dan Rion



Jam istirahat akhirnya telah tiba. Aku menunggu Varel di luar kelasnya. Akhirnya setelah beberapa menit menunggu, dia keluar juga dari dalam kelasnya.


"Ayo!" Ucapnya bersemangat. Aku mengangguk. Kami berdua segera bergegas untuk pergi ke perpustakaan.


"Kita mau apa ke perpustakaan?" Tanya Varel. Aku menoleh kearahnya.


"Aku ingin mencaritahu tentang Blaine Van Walter dan Rion Fadh yang kau ceritakan kemarin." Jawabku.


"Ehh? Mengapa tiba-tiba?" Tanya Varel, heran.


"Sudahlah! Diam saja dan turuti saja perintahku!" Kataku.


Kami berdua telah sampai di perpustakaan. Aku dan Varel memasuki perpustakaan itu. Apa yang akan kami lakukan sekarang? Jawabannya adalah, mencari data dan album siswa-siswi 20 tahun yang lalu.


"Kata pustakawan itu album siswa-siswi 20 tahun yang lalu berada paling belakang kan? Pasti sudah usang dan berdebu!" Varel mengeluh. Uhk, saat ini aku ingin menonjok wajahnya itu. Tapi jika aku menonjok wajahnya sekarang, mungkin dia akan marah dan meninggalkanku.


Kami sampai di bagian rak data diri dari siswa dan siswi pada tahun 1980. Aku membuka buku album itu. Buku itu usang dan berdebu. Varel mendekatiku.


"Cepat buka Ly!" Seru Varel. Aku mengangguk dan segera membuka album itu.


Aku membuka satu persatu halaman. Semuanya fotonya hitam putih, itu karena kamera dulu tak secanggih sekarang.


Aku terus membuka setiap halaman. Sampai akhirnya, aku terhenti pada satu halaman. Foto dari orang ini terlihat tidak asing.


"Blaine Van Walter..." gumam Varel di sebelahku, membaca nama yang tercantum di bawah foto itu.


"Hmm, dia lumayan tampan juga. Ya kan Ly?" Kata Varel. Aku diam bergeming, terus menatap foto yang telah usang itu. Meskipun sudah berdebu dan agak kabur, aku masih dapat mengenali wajahnya.


"Hey, Ly? Ly?" Varel menggoyang-goyangkan tubuhku. Aku akhirnya menoleh ke arahnya.


"Ah iya?" Akhirnya aku menjawab.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Varel, dari nadanya, sepertinya ia khawatir.


"A... aku tidak apa-apa." Jawabku, tersenyum kecut.


Aku kembali membuka halaman berikutnya dan terus begitu. Aku berhenti pada foto Rion. Rion tersenyum di foto itu. Senyumannya lebar, tapi aku merasa itu bukanlah senyuman tulus.


"Waahh! Lihat Ly! Dia mirip sekali denganmu! Hanya saja ini versi hitam putihnya." Kata Varel.


"B... benarkah?" Tanyaku. Aku mengusap foto usang itu. Sepertinya memang benar, aku memang mirip dengannya.


"Iya, mirip. Mirip sekali! Seperti kembar." Ucap Varel bersemangat. Kemudian, aku kembali melihat foto hitam putih itu.


"Jangan-jangan, kau ini reinkarnasi darinya. Hehe..." ucapnya sembari menepuk pundak ku.


"Ngomong-ngomong soal foto, mengapa kau ingin melihatnya secara tiba-tiba?" Tanya Varel. Aku menoleh kearahnya.


"Aku... hanya sedikit penasaran." Jawabku, tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu aku mau pergi ke kantin dulu ya? Mau ikut?" Tanya Varel. Aku menggeleng, lalu Varel pamit dan meninggalkanku.


"Hmm... sepertinya kau benar-benar penasaran dengan diriku." Bisik seseorang secara tiba-tiba dibelakang ku.


"Eh?" Aku ber-eh. Aku refleks menoleh ke belakang.


"Ada apa? Kau kaget?" Tanyanya.


"Blaine..." ujarku, pelan.


"Seperti, kau menyukaiku." Kata Blaine, ia menyisir rambutnya kebelakang.


"Hah? Siapa bilang?" Tanyaku. Aku menutup album foto itu, kemudian mengembalikannya ke tempat semula.


"Heh? Benarkah? Kau tadi sedang melihat fotoku kan?" Tanyanya. Ia menyundulkan kepalanya ke lenganku.


"Haahh... aku memang melihat fotomu tapi--" ucapanku terhenti. Aku menoleh kearah Blaine.


"Tapi apa?" Tanyanya.


"Apa kau mengenal seseorang yang bernama Rion? Kau tau... kau sering menyebutku dengan namanya. Aku tau nama kami penyebutannya hampir sama, tapi itu berbeda!" Ujarku. Blaine terdiam untuk sementara.


Blaine tersenyum. Senyumannya terlihat dipaksakan. "Kau akan tau nanti." Jawabnya 5 menit kemudian.


"Hah? Apa maksudmu?" Tanyaku, bingung.


"Ehhm... lupakan itu. Aku tak ingin membicarakannya." Jawabnya, tersenyum kecut.


Aku menatap wajahnya yang tampak sedih. Aku mengangkat tanganku, mencoba untuk mengelus kepalanya. Akan tetapi, tangannya justru memegang telapak tanganku. Ia menarikku.


"Ikut aku." Ucapnya. Aku menurut, menuruti permintaannya.


...***...


Ia mengajakku ke roof top. Untuk apa ia membawaku kemari? Blaine duduk di depan pagar roof top. Aku menyusul, duduk disampingnya.


"Dulu, aku dan Rion selalu duduk disini. Tempat ini tak berubah sama sekali, selalu sepi." Kata Blaine. Aku menatapnya, mendengar apa yang ia ucapkan.


"Apa kau dekat dengannya?" Tanyaku.


Blaine mengangguk. "Cukup dekat, bahkan mungkin sangat dekat." Jawabnya.


"Benarkah?" Tanyaku.


"Iya, kita sangat dekat." Jawabnya. Blaine mendekatiku, aku membiarkannya. Entah mengapa aku sangat menginginkannya.


Blaine semakin mendekatkan dirinya kepadaku. Hidung kami bersentuhan, sentuhan hangat terasa di bibirku. Kami berciuman.


...***...


T.B.C